Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Colhona


__ADS_3

Api tak perlu waktu lama memakan setiap jengkal bangunan yang berisi persenjataan dan bubuk api tersebut. Ketika lidah jingga menjilati dan memamah bangunan itu serta membumbung ke angkasa, para warga di dalam benteng yang lewat berteriak-teriak meminta tolong dan perhatian para pasukan Pranggi. Mereka juga segera menjauh dari tempat kejadian.


Bunyi sempritan akhirnya terdengar. Dua prajurit Pranggi memimpin serombongan tentara pribumi mendatangi bangunan tempat bubuk api dan persenjataan yang terbakar hebat itu. Bunyi lengkingan sempritan dan teriakan prajurit yang ditujukan membubarkan warga agar tak menghalangi ketergesaan mereka segera ditanggapi pula.


Masyarakat yang berkumpul karena penasaran sekaligus takut-takut itu langsung membelah ketika barisan prajurit datang. Sialnya, dua prajurit  bule Pranggi yang memimpin pasukan pribumi itu terhenyak ketika mendapati mayat-mayat prajurit penjaga bergelimpangan di depan bangunan yang terbakar itu.


Perintah menjadi terbagi, antara usaha untuk memadamkan api serta mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maka yang keluar adalah teriakan, "Ada penyusup!!"


Kehebohan melanda kota dalam dinding benteng akibat teriakan yang kemudian disambung sahut-menyahut bukan hanya oleh para prajurit, namun juga orang awam.


Masyarakat dari tataran tingkat atas dan penting di kota itu langsung berlarian sedapat mungkin menjauh dari tempat kejadian, terutama para bule Pranggi, walau tak benar-benar paham apa yang terjadi. Bukankah penyusup bisa ada di mana saja?


Kabar yang meletus dengan cepat ini tentu menarik perhatian para prajurit lain yang berjaga di dalam benteng, termasuk di bagian atas dinding benteng.


Teriakan terus bersahut-sahutan bersamaan dengan kobaran api yang sudah bisa dikatakan memakan hampir seluruh bangunan.


BLAR!


BLAR!


Dua ledakan besar mengagetkan semua orang. Teriakan "Penyusup!!" ternyata malah membuat orang-orang, para prajurit dan petugas kota - yang terdiri dari para pekerja dan budak - yang harusnya memadamkan api, menjadi sibuk celingak-celinguk mencari tahu orang-orang yang mencurigakan yang bisa dianggap sebagai penjahat atau musuh di dalam selimut.


Pecahan kayu dan batu berhamburan. Para prajurit yang pertama datang dan sampai di tempat itu segera melindungi mata, muka dan tubuh mereka dari benda-benda beterbangan tersebut.


Kebingungan ini tentu digunakan dengan baik oleh rombongan Jarum Bumi Neraka pimpinan Kamisan yang bergelar Pikulan Sakti. Empat orang jawara dari Betawi meloloskan paku-paku dari lipatan ikat kepala mereka. Setiap tangan menyelipkan tiga sampai empat paku di sela-sela jari kepalan mereka.


Kamisan memberikan perintah dalam rupa kedipan mata.


Dari balik asap dan keramaian warga, empat orang jawara tersebut melemparkan paku beracun dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa.


SYUTT...!!

__ADS_1


SLEP ...!!


SLEP! SLEP! SLEP!


Teriakan tertahan menyusul ambruknya beberapa prajurit pribumi bawahan perwira Pranggi. Dua sampai tiga paku sekaligus melesak masuk ke leher, wajah dan kepala mereka. Racun jahat menyebar dengan cepat ke bagian tubuh yang rentan dan penuh titik kelemahan manusia itu.


Tak membutuhkan waktu terlalu lama bagi mereka yang sial itu untuk tewas mengenaskan sebelum menggelepar ketika racun merusak bagian dalam tubuh mereka.


Prajurit yang awas langsung mengengkat bedil mereka dan mengarahkan ke para penyerang.


Kedua perwira Pranggi malah semakin keras berteriak, "Penyusup! Penyusup! Mereka di sini. Serang para penyusup kiriman musuh itu!"


Empat jawara Jarum Bumi Neraka sudah berguling cepat untuk menghindar ketika jarum-jarum mereka telah mengenai sasaran.


DAR!


DAR!


DAR!


Mimis yang meluncur dari bedil para pasukan pribumi Pranggi menghajar tanah, meski satu sempat menyerempet paha salah satu jawara dari Betawi.


Kesempatan mengisi pe*lor oleh para prajurit ini, walau bisa dikatakan cukup cepat dan cekatan, digunakan dengan baik oleh Kasiman.


Tongkat pikulannya berputar terbang menghajar dua prajurit terdepan yang sedang memasukkan bubuk api ke moncong bedil. Keduanya tersentak, terlempar mundur, sedangkan senapan mereka jatuh terlepas dari tangan.


Kamisan memburu maju.


Dua perwira Pranggi mengangkat bedil mereka demi melihat serangan datang dan bertujuan menyongsong sang penyerang tersebut.


Terlambat. Kamisan sudah melepaskan beberapa paku beracun yang meluncur laju. Satu perwira Pranggi kurang beruntung karena beberapa paku sempat mengenai lengan dan bahunya. Ia doyong hilang keseimbangan dan ambruk dengan teriakan keras menggema.

__ADS_1


Sedangkan sebaliknya, perwira satunya cukup lihai. Tidak hanya sempat menembak, ia juga menepis beberapa paku rahasia yang tertuju ke arahnya dan berguling ke samping.


Kamisan sendiri telah pula merunduk setelah melepaskan lemparannya sehingga pelo*r berdesing di atas kepalanya.


Dengan cepat ia mengambil tongkat pikulan yang ia lempar tadi.


Dalam tiga gebrakan, ditemani teriakan keras nan garangnya, dengan mudahnya ia membabat para prajurit pribumi Pranggi bagai membelah buah. Setiap pukulan menghajar dua sampai tiga prajurit sekaligus. Prajurit pribumi kocar kacir. Gebukan Kamisan mendera bahu, dada dan lengan mereka sehingga bedil berjatuhan. Pukulan ketiga Kamisan membuat tubuh mereka melayang bagai daun kering.


Perwira bule Pranggi yang lolos dari lemparan paku musuh memandang rekan bule nya yang terlihat kesakitan ketika racun mulai menyebar ke jantung dari kedua lengannya.


Tak ada yang bisa ia lakukan, apalagi ia harus berpikir cepat ketika melihat musuh menghajar prajurit-prajuritnya dengan cepat.


Mata hijaunya melihat bedil dan segera membuangnya karena merasa tak mungkin sempat mengisinya dengan mimis. Kemudian ia langsung menghunus pedangnya dan bersiap dengan kuda-kuda silat pedang bule nya.


Pedang dengan dua mata tajam yang dicabut sang perwira ini dikenal dengan nama pedang Nau - merujuk pada nama jenis kapal Pranggi - atau colhona dan pedang kepiting. Disebut pedang kepiting karena memiliki dua cincin pelindung di bagian antara gagang dan pangkal bilah yang melengkung ke dalam bagai capit kepiting.



Kedua pelindung tersebut selain berguna melindungi jari seperti pedang bule jenis rapier dan saber, juga dapat digunakan mengunci pedang lawan.


Sang perwira mundur dan menyabetkan pedangnya menyamping ketika Kamisan memutarkan pikulan kayunya cepat.


Kedua senjata tak beradu karena gerakan tebasan sang perwira Pranggi tersebut adalah semacam pertahanan sembari mundur. Bila keduanya toh beradu, belum tentu colhona besi milik sang Pranggi berhasil menetak putus atau rusak pikulan kayu sederhana Kamisan, karena dilihat dari kecepatan dan mungkin tenaga dalam yang dialirkan sang pendekar.


Colhona yang memang diciptakan bangsa Pranggi dua abad yang lalu, yaitu abad ke-15 Masehi itu dirancang untuk digunakan prajurit dan pelaut Pranggi pada masa Jaman Penemuan dan Pelayaran bangsa-bangsa bule dan terkenal digunakan antara tahun 1460 dan 1480 Masehi di negeri-negeri benua Alkebulan, sebutan orang-orang Moor. Orang Yunani dan Roma kuno menyebut benua ini dengan nama Afrika yang kemudian baru termahsyur penggunaannya pada abad ke-17 Masehi awal, ketika bangsa bule melakukan pelayaran besar-besaran mendatangi ujung-ujung dunia.


Kamisan memandang sejenak saja bentuk pedang perwira Pranggi yang cekatan itu untuk mengagumi bentuk dan penggunaannya. Bagaimana tidak, terhitung sudah dua kali orang bule Pranggi dengan pedang berbentuk khususnya ini lolos dari serangannya.


Kamisan tersenyum, kemudian mengangkat kayu pikulannya dan menempelkannya di bahu sembari berseru, "Siapkan jurus-jurusmu, orang Pranggi. Kau akan menjadi saksi kehebatan jurus Pikulan Bulan Menumbuk Bumi milikku!"


***

__ADS_1


Gerombolan Jarum Bumi Neraka lain menyebar ke segala penjuru. Tujuan mereka hanya saja, memberikan kekacauan dan kerusakan sebesar mungkin, kemudian menghilang.


Maka, ketika barisan-barisan prajurit Pranggi dan pribumi berlarian daei berbagai penjuru menuju ke pusat ledakan yang dilakukan oleh kelompok pimpinan Kamisan sang Pikulan Sakti, mereka jelas langsung menggunakan kesempatan ini untuk membokong barisan prajurit itu dengan berondongan paku-paku beracun dari balik kerumunan warga yang berlarian atau berjalan bingung dan berduyun-duyun ramai.


__ADS_2