
"Aku ingin berbicara denganmu, Dara," ujar Jayaseta kepada Dara Cempaka di sore hari, di tepi sungai tak jauh dari perkampungan berbenteng kayu ulin suku Daya yang dikepalai oleh Temenggung Beruang itu.
Dara Cempaka seakan membuka kabut yang selama ini menutupi kejujuran Jayaseta. Ia terlihat begitu manis, cantik dan memesona. Kain rajut membelit tubuhnya yang berkulit putih bersih. Ada gelang tangan, kaki dan kalung manik-manik dari batu alam yang menghiasi tubuhnya, memberikan kesan pelangi yang berwarna-warni di langit yang bening.
Dara Cempaka memandang Jayaseta, mendekat ke arahnya dan menantang pandangan kedua matanya, hal yang tak bisa dan tak mau ia lakukan dalam keadaan yang biasa.
"Adik tahu apa yang abang akan bicarakan," ujarnya sembari tersenyum tipis. "Abang tak perlu merasa bersalah. Memang kita berdua sudah terlanjur melakukan hal yang terlarang dan berdosa itu, namun itu kita berdua lakukan dengan penuh kesadaran. Tiada yang terpaksa atau memaksakannya."
Dara Cempaka berpaling, ia memandang ke arah sungai dengan arusnya yang deras, tak mampu lagi terlalu lama memandang Jayaseta.
"Adik tidak ingin abang merasa harus bertanggung jawab dan terpaksa untuk melakukan sesuatu untuk menebusnya," ujar Dara Cempaka kemudian.
Jayaseta berdehem, mencoba mengeringkan tenggorokannya. "Dara ... Aku ... Aku sudah menikah. Aku sudah memiliki seorang istri," ujar Jayaseta begitu pelan, hampir tak terdengar.
Berita ini harusnya bagai suara geledek di siang hari bagi Dara Cempaka. Namun anehnya, gadis muda itu tak seterkejut yang seharusnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Dari awal melihat pesona lahiriah Jayaseta sampai kemudian benar-benar jatuh hati kepadanya melalui sifat, perkataan dan perbuatannya selama latihan silat dengan sang Datuk kemudian mengalami beragam kejadian hidup dan mati sampai sekarang, Dara Cempaka tak berani berhadap bahwa Jayaseta tiada yang memiliki.
Bukankah begitu jelas bahwa sang pendekat memiliki pesona yang luar biasa? Bukan salahnya pula tak pernah menjelaskan bahwasanya ia adalah seseorang yang telah beristri, toh tak ada yang bertanya dan tak ada pembicaraan yang mengarah ke hal tersebut selama ini?
Mengetahui bahwa Jayaseta telah beristri hanya membuat Dara Cempaka yakin bahwa laki-laki tersebut memang telah membutakan matanya, mungkin juga beberapa wanita lain yang terpesona padanya.
"Adik tak terkejut dengan pengakuan abang ini, walau tak pelak ini membuat adik kembali berpikir ratusan kali untuk berani meminta abang bersama adik," jawab Dara Cempaka mencoba jujur.
"Tunggu, tunggu Dara ... Bukan begitu maksudku. Aku sama sekali tak merasa terpaksa, katakanlah ... untuk menikahimu. Tapi hal yang harus kau tahu dan pahami, kenyataannya memang aku sudah tak sendiri lagi. Kekhilafanku bukan sebuah hal yang pantas kusesali," ujar Jayaseta.
Dara Cempaka tidak hendak pergi, ia hanya melangkah mendekati sungai, namun Jayaseta meraih tangannya, "Jikalau ini memang dosa, bila ini memang kesalahanku dan kesalahan kita, aku tidak merasa terpaksa untuk menikahimu. Aku tak mau berdusta bahwa sebenarnya aku juga punya hati padamu, Dara Cempaka. Rasa pembelaanku mengejawantah pada diri Almira, istriku. Seakan selama ini hanya dia adalah satu-satunya perempuan di hidupku, padahal ternyata masih ada kau, Dara. Ini dosaku padanya, dan ini dosaku padamu pula. Tapi, sungguh. Aku ingin memilikimu pula," ujar Jayaseta.
Sebagai pendekar, kali inilah ia merasa tak mampu untuk melawan musuh. Ia adalah seorang pecundang yang tak mampu berdiri di depan cinta, hal umum terjadi pada manusia manapun, namun tak pernah menjadi hal yang biasa.
__ADS_1
"Abang bersungguh-sungguh? Bukan karena abang merasa harus bertanggung jawab saja?" Dara Cempaka kini kembali berbalik menghadapnya.
"Ya, Dara. Aku bersungguh-sungguh. Tapi, apa kau tak cemburu, atau merasa dicurangi karena aku ternyata telah beristri?"
Dara Cempaka memandang lekat-lekat sepasang mata indah Jayaseta, "Harusnya istri abang yang merasakan itu. Maka dari itu, adik juga merasa tak tega untuk melukai hati perempuan lain itu. Ia sudah ada disana jauh lebih dulu dari adik, adik tak pantas merasa cemburu."
"Ah, disana kau rupanya, Jayaseta. Maaf mengganggu kebersamaan kalian, Dara," tiba-tiba Punyan muncul menyunggingkan senyum nakal menggoda kedua insan manusia yang sedang dalam percakapan yang menentukan kehidupan masa depan mereka.
"Tapi, apai ku memanggilmu, Jayaseta. Ia hendak menyampaikan sesuatu. Kau ditunggu di lapangan di bawah bukit, belakang perkampungan. Jadi kau kutinggalkan dahulu sekarang. Sampai bertemu nanti" ujar Punyan sembari berbalik arah.
Namun tiba-tiba Dara Cempaka memanggil namanya, "Tunggu, abang Punyan. Kalian bisa pergi bersama sekarang," ujarnya.
Punyan kembali berbalik, "Bukankah kalian masih ada perihal yang perlu dibicarakan?"
Jayaseta memandang Dara Cempaka yang tersenyum manis ke arahnya, mengirimkan semacam tanda untuk memberikan ijin. Jayaseta menangkap isyarat itu sekaligus mengirim balik, menyatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jayaseta balas tersenyum.
"Ya, Punyan. Aku ikut denganmu sekarang. Tidak ada perihal yang terlalu penting sebenarnya. Hanya percakapan biasa saja," ujar Jayaseta sembari berjalan ke arah Punyan.
***
"Jadi ... Kapan kau akan mengawininya, Jayaseta?" ujar Punyan ketika mereka berjalan beriringan melewati perkampungan.
"Apa maksudmu?" ujar Jayaseta sedikit terkejut.
"Dara tentunya, siapa lagi? Jelas kalian berdua adalah sepasang burung merpati yang sedang kasmaran. Aku malah berpikir kalian dari awal adalah pasangan," balas Punyan.
Melihat Jayaseta diam saja, Punyan melanjutkan, "Seorang gadis yang rela menemanimu masuk ke pedalaman, melewati sungai, menanggung bahaya dan mempertaruhkan nyawanya, adalah seorang gadis yang harus kau nikahi. Tidak ada alasan untuk menyanggah alasanku ini, bukan? Lagipula kurang cantik apa Dara, hah?"
Ada pikiran yang berseliweran di kepala Jayaseta dan membuatnya begitu ruwet. Perkara ini bukan perkara mudah. Andai Punyan tahu bagaimana keadaannya sekarang, bahwa ia telah beristri, dan apa yang telah ia lakukan terhadap dan bersama Dara Cempaka, maka Punyan pun tak akan dengan enteng menanyakan hal tersebut, meski setiap kata yang diucapkan anak kepala suku ini ada benarnya juga.
__ADS_1
Namun tak pelak tetap saja Jayaseta menjawab dengan apa yang sejatinya ia pikir dan rasakan saat ini. "Segera. Aku akan mengawininya sesegera mungkin, Punyan."
Punyan tertawa renyah dan bahagia, "Nah, seperti itulah laki-laki. Untuk apa menunda-nunda segala. Kau ini seorang pendekar. Berani mengambil keputusan adalah salah satu jalan yang menjadi tanggung jawabmu, bukan sekadar janji," ujar Punyan kembali tertawa.
"Kalau kau sendiri? Apa kau sudah beristri?" Jayaseta bertanya balik.
"Ah, lain kali saja kuceritakan tentang bagian jiwaku. Kumang namanya. Perempuan terindah yang diciptakan Jubata bagiku," ujar Punyan.
Kedua tubuh pemuda pendekat sakti itu menghilang dari perkampungan, masuk ke dalam pepohonan rimbun menanjak ke arah bukit.
***
Yulgok berjalan bersama puluhan prajurit Daya Biaju, menyibak ilalang, belukar dan pepohonan lebat. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai sepanjang punggung. Ia mengenakan penutup kepala dari anyaman rotan. Celana panjang sutranya ia ikat di atas betis sedangkan kakinya telanjang tanpa alas.
Bila para prajurit Biaju melengkapi diri mereka dengan perisai, sumpit, tombak, dan do, jingum Yulgok menggantung di sisi pinggangnya serta rompi pelindung dari lempengan baja yang dijahitkan di lapisan kain, kulit binatang dan kulit kayu adalah perangkat persenjataannya.
Kali ini para prajurit Daya ini tidak melewati sungai. Meski sebelumnya orang-orang Biaju menyerang suku Daya di benteng kayu ulin dengan cara yang sama, dan gagal, mereka sudah sempat mendapatkan rencana yang lebih baik dan nyaris sempurna untuk menembus pertahanan musuh.
Tak lama rombongan ini bertemu dengan rombongan lain di dalam rimbunnya pepohonan di dalam hutan.
Para prajurit Daya yang berjalan bersama Yulgok sontak mempersiapkan tombak dan perisai mereka, karena seperti kebiasaan para suku pengayau, bertemu dengan suku Daya lain di dalam hutan sama saja merupakan sebuah pertarubmngan hidup dan mati, dibunuh atau membunuh, dipenggal kepalanya atau memenggal kepala musuh.
Anehnya, rombongan suku Daya di seberang pandang mereka tersebut terlihat tak mempersiapkan diri dengan cara yang sama seperti lawan mereka tersebut. Beberapa malah terlihat duduk atau berbaring di tanah.
Satu pria Daya dengan gaya berbusana yang sedikit berbeda dengan yang lain, bercelana panjang mengerucut di mata kaki - gaya berpakaiannya yang berbeda ini hanya dapat disaingi oleh Yulgok yang juga berbusana tak biasa - berjalan mendekat, "Pendekar Topeng Seribu memang bukan pendekar biasa. Ia membuat beberapa prajurit kami terluka cukup parah. Lalu, apa kami masih berguna?" tanya laki-laki Daya yang ternyata adalah Pendekar Harimau
Muda Kudangan tersebut.
Yulgok memberikan isyarat bagi puluhan prajurit Daya yang sudah mengangkat senjata mereka untuk menurunkannya.
__ADS_1
"Asal kalian masih bersedia, kami tak masalah mendapatkan satu dua orang tambahan," ujar Yulgok.