
Biasanya, urusan kesabaran, Sebastian de Jaager memang lebih mengemuka dibanding sang asik. Tapi kali ini kemarahan Sebastian de Jaager sudah di puncak kepala. Harus berapa kali orang satu itu dibunuh? Dua pengawal mereka, para ronin pembunuh sewaan itu malah sudah tewas di tangannya, sedangkan para serdadu yang ia peringkat untuk menyerang Jayaseta dari balik rerumputan dan pepohonan tak kunjung keluar.
Devisser de Jaager memandang sekeliling, juga ikut heran dengan ketidakmunculan para serdadu. Sebenarnya ia tak mau menanggung malu bila ia memerintahkan para serdadu untuk segera menyergap Jayaseta. Ia juga yakin begitu pula dengan sang saudara tua. Tapi ia terlalu kesal atas kedunguan para serdadu yang membiarkan mereka bertarung sejauh ini, membuang waktu dan mengorbankan pengawal Jepun mereka yang mahal.
Dengan gusar akhirnya Devisser de Jaager berteriak dalam bahasa Belanda, Melayu dan Jawa, memerintahkan para serdadu untuk keluar.
Tak berapa lama terdengar gemeresak rerumputan dan daun. Sosok-sosok muncul perlahan.
Devisser de Jaager berjanji akan menghukum para serdadu ini nantinya karena sudah mengabaikan perintahnya. Tapi yang terjadi, ia malah mengumpat ketika sadar bahwa yang keluar dari rerimbunan hanya empat orang laki-laki yang tak ia kenal. Satu menggenggam gandewa atau busur panah, sisanya membawa belati yang berlumuran darah.
Sebastian de Jaager merasakan kepalanya panas terbakar, mungkin sudah menimbulkan asap. Bila memang ini yang harus terjadi, tak apa. Kali ini ia akan meledakkan Jayaseta sampai dengan sabernya selumat-lumatnya. Sepasang matanya berkilat-kilat, bukan sekadar karena semangat bertempur, tapi nafsu membunuh yang menyala.
Devisser memerhatikan keempat laki-laki yang berdiri mematung dengan pandangan tajam ke arahnya. Terpaksa ia harus membiarkan sang saudara tua untuk bertarung satu lawan satu dengan Jayaseta. Ia harus mempersiapkan diri dari serangan keempat orang asing tersebut.
Karsan nampaknya memahami ini. Ia menyelempangkan busurnya, kemudian dengan membuat tanda dengan tangannya seperti mempersilahkan Devisser untuk melanjutkan pertarungannya. Karsan tak sudi dianggap ingin ikutan bertempur, mengeroyok kedua saudara de Jaager itu bersama tiga pasang pendekar belati rekan-rekannya.
Devisser de Jaager agak ragu apa mungkin rombongan ini tidak akan ikut campur pertarungan mereka? Toh ia dan sang saudara sudah terbukti curang dan secara licik menyiapkan pasukan secara sembunyi-sembunyi, dan sialnya, gagal.
Sevastian de Jaager sendiri sudah termakan amarah. Ia tak peduli, harga dirinya sudah jatuh. Pertarungan sampai mati adalah cara membayar semuanya lunas.
Ia menggenggam erat dan mulai mengangkat sabernya. Saat itulah ia mulai merasakan sebuah keanehan, karena pergelangan tangan kanannya terasa perih. Semakin ia angkat pedangnya, semakin perih pula pergelangan tangan tersebut.
__ADS_1
Ia menoleh ke arah lengan kanannya dan disanalah ia melihat sebuah benda pipih kecil menancap di punggung lengan kanannya. Sebuah pisau. Itulah senjata rahasia Jayaseta yang diberikan Kakek Salman, pisau lempar rahasia.
***
Apa sesungguhnya keunggulan sebuah tombak bermata trisula? Apa bedanya dengan tombak-tombak bermata tajam lainnya? Bukankah tujuannya adalah untuk menusuk dan mengoyak tubuh musuh?
Ini dia kehebatannya.
Narendra sudah melepaskan dua lembingnya, namun tombak trisulanya pun sebelumnya sudah ia pasangkan ke gagang yang lebih panjang. Biasanya mata tombak trisula itu dipasangkan ke gagang pendek yang gampang untuk dibawa-bawa.
Dengan cekatan, Narendra dan Katilapan sudah menghempaskan separuh penunggang kuda yang mengikuti Pratiwi ke puncak bukit hutan bambu.
Narendra pun langsung menusukkan tombaknya ke para penunggang kuda yang bergulingan mencari selamat. Mereka selamat dari tusukan-tusukan tombak Narendra, namun beberapa tak mampu lepas dari amukan sepasang rotan Katilapan.
Yang bersembunyi di belakang pepohonan segera mencoba mengambil keuntungan dari keajadian ini. Salah satu dari mereka membidik Narendra yang berputar-putar memburu pasukan yang berjatuhan dari kuda secepat mungkin. Namun Katilapan melemparkan salah satu tongkat pemukul rotannya.
BLETAK!
Kepala sang penembak menjadi sasarannya. Senapannya jatuh, sedangkan ia sendiri rubuh, setengah tak sadarkan diri.
Rekannya yang bertugas mengisi peluru langsung mengambil senapan yang terjatuh, namun entah kapan awal mulanya, bilah trisula Narendra sudah menjepit batang senapan itu dan menguncinya. Tepat ketika hendak ditembakkan, Narendra memutar tombaknya. Senapan lepas dari tangan pengguna dan terlempar jauh.
__ADS_1
Si prajurit penembak merasa seakan telanjang karena tiba-tiba saja tangannya tak memegang senjata apapun. Namun, sebagai prajurit pembantu penembak utama, ia juga tetap harus memegang satu senapan lain dan juga memiliki kemampuan menembak, walau kerapkali tak selihai penembak utama. Sialnya, sebelum ia berhasil mengarahkan senapan yang ia ambil dari bahunya, tombak trisula Narendra menancap dan merobek perutnya.
Cukup aneh memang, bahwa para serdadu penembak yang dapat melepaskan serangan dari jarak jauh malah bersembunyi di balik pohon dan menjaga jarak dengan Narendra dan Katilapan yang menghadang mereka. Padahal, keduanya juga tak membawa senjata lempar atau panah.
Namun bila diperhatikan, memang wajar para prajurit dengan senapan tersebut serba hati-hati. Sekejap saja, sudah beberapa korban berjatuhan.
Tombak trisula Narendra memiliki tiga mata tajam di bagian ujungnya. Panjang gagang tombak yang Narendra telah pasangkan ke bilah trisulanya ini setinggi orang dewasa, bahkan lebih tinggi dari tubuhnya.
Mata tombak trisula telah digunakan oleh pasukan utama kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8 sampai 12 Masehi.
Meski kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai pusat agama Buddha, pengaruh agama Siwa juga kuat, terutama di awal berdirinya. Oleh sebab itu, trisula sendiri sangat dipengaruhi oleh agama Siwa dari negara Hindustan, mewakili senjata yang digunakan sang dewa, Siwa.
Dahulu, senjata tombak trisula yang dipakai para prajurit Sriwijaya ini memiliki dua sisi tajam, di bagian atas dan bawah tombak. Di bagian bawah tombak juga terdapat mata tombak lain berbentuk segitiga yang keduanya dapat digunakan untuk menyerang lawan.
Kemudian, setelah Sriwijaya runtuh karena persaingan dengan kerajaan-kerajaan dari Kambuja, Champa dan Jawa, terutama Singasari, maka bentuk dan penggunaan tombak trisula ini mengalami perubahan dan pengembangan. Majapahit, yang mengaku sebagai penerus kehebatan Singasari, juga mulai mengembangkan jurus-jurus menggunakan senjata ini.
Selanjutnya, pada masa kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, bilah trisula sering dipasangkan dengan gagang pendek, seperti beragam mata tombak lain atau dapur, seperti dwisula, cacing, sigar jantung, baru, puthut luk, ron, kudup, biri atau kudi luk, sehingga gampang dibawa-bawa dan tetap memiliki daya hancur seperti tombak pada umumnya.
Serangan tombak trisula Narendra dengan gagang panjang, tidak hanya dapat menahan serangan senjata lain, seperti pedang, namun juga menguncinya, serupa dengan penggunaan senjata cabang. Bedanya, bilah tajam trisula juga mampu menghancurkan tubuh lawan dengan tiga jenis bilah sekaligus. Luka yang dihasilkan menjadi tiga kali lipat besarnya, tidak ada bedanya dengan ditusuk oleh tiga orang penyerang.
__ADS_1
Narendra memburu para penembak lain yang mulai kelimpungan. Tombak trisula di tangannya ditusukkan dengan gesit, menyelip pepohonan bagai ular. Mematuk batang dan kulit kayu bila tak mengenai sasaran, serta menghancurkannya berkeping-keping. Kepala, dada dan perut para prajurit bersenapan menjadi incarannya.