Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran Laut Dangkal Bagian Kesembilan - Berjubelan


__ADS_3

Jayaseta sebenarnya tak benar-benar menimbang keadaan. Ia berada di atas kapal yang membuat geraknya terbatas. Walau rasa mabuk laut sudah tak muncul ke permukaan, namun kemungkinan terjatuh ke laut masih sangat besar. Ia tak bisa berenang. Akan konyol rasanya mati di lautan dangkal dimana pulau-pulau kecil terlihat dan kapal-kapal beragam jenis berserakan.


Selain itu, jumlah prajurit dari kedua belah pihak yang bertikai melebihi jumlah orang yang pernah ia lawan seorang diri. Belum lagi kemampuan mereka yang bukan sekadar jawara biasa atau perampok yang hanya bermodalkan kenekatan dan tampang sangar. Mereka adalah para prajurit pendekar yang tidak hanya mampu bertarung, namun juga menguasai medan, di atas geladak kapal.


Tapi Jayaseta terlahir sebagai seorang pendekar. Ia tak bisa dan tak mau membiarkan pertumpahan darah terjadi seenaknya di depan matanya, apalagi menyangkut kesalahpahaman dan mengganggu jung Raja Nio serta ketentraman awak kapal serta rekan-rekannya yang lain.


"Aku tidak terlibat permasalahan kalian atau apapun yang diributkan. Tapi perilaku kalian sangat tidak terpuji, menggunakan kekuasaan untuk menekan pihak lain serta memamerkan nama besar kerajaan untuk mengikuti kemauan kalian. Aku, orang yang dijuluki Pendekar Topeng Seribu meminta kalian berhenti berselisih serta baku pukul, terutama di jung yang tak ada sangkut pautnya dengan masalah kalian. Bahkan kapal ini juga menjadi korbannya. Maka dari itu, tinggalkan jung ini segera!" seru Jayaseta lantang. Seperti biasa, menyebutkan nama julukannya keras-keras kepada para musuh seakan memberikannya kekuatan kepercayaan diri serta membuat ancaman kepada musuh menjadi semakin nyata. Dan memang benar, gelar Jayaseta sebagai Pendekar Topeng Seribu telah mendahuluinya menyebrangi lautan ke seluruh nusantara bahkan menyentuh mancanegara.


Terdengar riuh rendah suara orang-orang yang memadati geladak kapal. Bisa dikatakan para prajurit kedua belah pihak terpana dengan keberadaan sosok yang tersohor dan menjadi buah bibir dunia persilatan itu. Bila memang benar orang bertopeng Mah Meri ini adalah sang pendekar mahsyur tersebut, mereka pun bingung akan menganggap diri mereka sendiri beruntung atau sial karena berhadapan langsung dengannya.


"Ah, jangan mudah tertipu! Apa urusannya pendekar itu disini? Itupun kalau memang pendekar itu nyata adanya. Kita mungkin sedang ditipu. Bila kalian benar mau tahu siapa orang ini, kita berikan pelajaran sekalian dan lihat apa benar ia orang yang dimaksud dan apa memang sehebat namanya," ujar pemimpin pasukan Johor.


Meski terpana dengan gebrakan mengejutkan sosok tak dikenal itu, pemimpin pasukan Jambi tentu juga tak bisa asal terima berita yang disampaikan. "Hai pasukan Jambi. Kita perlihatkan kehebatan silat Jambi dan buktikan ucapan orang asing ini. Kita akan selesaikan semua keruwetan masalah pagi ini dengan menunjukkan seberapa dahsyat kemampuan para pendekar Melayu Jambi!" seru sang pemimpin.


Tak bisa dihindarkan lagi pekikan perang puluhan prajurit Melayu Jambi, Johor dan Riau yang berjubelan di atas jung Raja Nio. Mereka yang tadinya saling menyerang, kini mempersiapkan gelaran untuk menyerang sasaran, musuh yang sama.


Jayaseta juga sudah menduga hal ini. Walau ia tak benar-benar memperkirakan semuany, namun ia tak bisa lagi mendiamkan ini tak terus bersembunyi. Maka ia menderu dengan cepat terlebih dahulu.

__ADS_1


Tombak-tombak yang terulur dengan mudah ia tepis. Jayaseta menangkap dua batang tombak kemudian mencoba melepaskannya dari tangan pemegang dengan memberi tekanan dan sentakan berupa tendangan keras ke tameng musuh. Tombak lepas, tubuh kedua musuh terdorong menubruk para prajurit lain.


Jayaseta kemudian merunduk, menunduk dan menyelip diantara lawan. Ia mengunci lengan lawan, membanting nya, melempar tubuh musuh, menampar tengkuk, menyikut dan melutut tameng hingga musuh tersentak ke belakang bahkan jatuh berguling, serta menyapu kaki musuh. Gerakannya sama sekali tak tertebak.


Para prajurit berjatuhan. Tombak dan tameng mereka berserakan. Jayaseta terus menderu menggulung bagai ombak.


Prajurit yang kehilangan tombaknya langsung menghunus pedang. Teriakan kemarahan bersahutan, mereka berebut siapa dahulu yang berhasil melukai sang musuh pertama kali. Namun, bilah-bilah pedang tersebut juga tak mampu melukai Jayaseta. Ini karena keadaan berjubelan itu, setiap pedang tidak benar-benar bisa menebas secara penuh. Bilah tajamnya menempel di lilitan kain di kedua tangan Jayaseta. Kain-kain tersebut menjadi semacam tameng sederhana bagi sang pendekar. Apalagi, Jayaseta lebih banyak menyerang, jadi pertahanan itu hanya bersifat sementara sebelum dada, pinggang, leher dan wajah mereka terkena tinju, sisi telapak tangan, atau bahkan tamparan.


Kedua pemimpin prajurit Melayu yang berseberangan kini dihadapkan dengan sebuah pertunjukan terbaik di hidup mereka. Mereka menyaksikan dengan kedua mata kepala mereka, Jurus Tanpa Jurus.


Ketakjuban kedua pemimpin prajurit Melayu ini berubah menjadi semacam keengganan untuk ikut menyerang. Bukan karena nyali ciut, toh mereka bagaimanapun adalah para prajurit dan pendekar, namun lebih karena terpana dan mulai percaya bahwa sosok di hadapan mereka memang benar-benar si Pendekar Topeng Seribu.


Puluhan prajurit yang berjubel terus berjatuhan bagai daun kering. Sebagai prajurit yang memang dilatih untuk bertempur, sekadar tumbang bukan masalah. Mereka akan terus bangkit sampai jiwa benar-benar terlepas dari raga. Hanya saja, memang jumlah mereka yang berjubelan membuat keadaan tidak menguntungkan. Apalagi, Jayaseta, pendekar yang satu ini yang tiap saat ditempa pertarungan. Melawan musuh bagaikan bernafas baginya.


Kedua pemimpin pasukan Melayu berbeda negeri itu saling bertukar pandang dan mendadak saling mengerti.


"Bila memang orang itu adalah si Pendekar Topeng Seribu, tak ada salahnya kita mencicipi ilmu kanuragannya. Entah apa gerangan tujuannya sampai menyebrang ke kepulauan Melayu, tapi jalannya kebetulan tersinggungan dengan jalan kita," ujar pemimpin pasukan Johor-Riau.

__ADS_1


"Aku sepakat denganmu. Ia bisa menghabisi banyak orang-orang kita bila ia berniat. Ada baiknya kita segera selesaikan masalah ini, apapun dan bagaimanapun akhirnya nanti," balas pemimpin pasukan Jambi.


"Berhenti semua! Berhenti! Jangan serang lagi. Ambil senjata kalian dan minggir!"


Ujar kedua pemimpin prajurit Melayu bersahut-sahutan. Tak pelak seruan ini membuat para prajurit sempat bimbang. Namun mereka langsung mundur. Ada yang sedikit terluka karena terkilir lengan dan kaki mereka, wajah dan leher lebam terkena pukulan dan tamparan bertenaga Jayaseta, ada pula yang segera mengambil senjata mereka dan mundur.


Kedua pihak prajurit Melayu kembali ke wilayah masing-masing di atas geladak kapal. Mereka seakan membuka jalan bagi dua pemimpin mereka yang kini berhadap-hadapan dengan sang sosok pendekar bertopeng tersebut.


Pemimpin pasukan Jambi dan Johor maju saling berdampingan bagai sepasang pendekar bersaudara saja, walau pada dasarnya mereka saling bermusuhan. Kedua tangan mereka menggenggam keris dan tumbuk lada erat.


"Kami tak mau lama-lama, saudara. Kita akan selesaikan pertarungan ini untuk mendapatkan sebuah kesimpulan. Tapi maaf bila kami harus menyerang bersamaan, karena tiada satupun dari kami yang mau mengalah untuk menjajal kemampuan ...."


BUG!


Pemimpin pasukan Jambi tak sempat menyelesaikan kata-katanya ketika tubuhnya terdorong ke belakang dan membentur tepian kapal. Jayaseta menyerang tanpa aba-aba, mendepak lawan dengan tendangannya. Sang pemimpin pasukan Johor tak sempat terlena karena Jayaseta ikut memberikan satu pukulan ke dada dan dorongan kedua telapak tangannya. Pemimpin prajurit Melayu itu terlempar ke belakang ke arah para prajuritnya.


"Jangan banyak bicara! Segera tinggalkan kapal ini. Atau kalian akan merasakan pelajaran yang tak mungkin kalian lupakan dari Pendekar Topeng Seribu!" ujar Jayaseta dengan lanang di balik topeng kera suku Mah Meri tersebut.

__ADS_1


__ADS_2