Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Atas Sungai Bagian Ketigabelas: Bergelimpangan Akibat Pertempuran


__ADS_3

Serangan berbarengan dan tiba-tiba para perompak yang sudah memenuhi geladak kapal itu membuat keadaan menjadi kemerungsung dan kisruh. Ruang sempit bisa sangat berbahaya bagi para perompak gabungan Annam dan Champa maupun pasangan Sasangka dan Jaka Pasirluhur. Belum lagi mayat dan tubuh-tubuh yang bergelimpangan akibat pertarungan sebelumnya.


Jaka Pasirluhur menyabetkan kudhinya dengan gaya yang luar biasa aneh bagi para penyerang. Ia seperti mabuk dan melangkah tak semimbang, tetapi ujung kudhinya menyambar-nyambar bagai patukan ular. Setiap serangan tombak kerap dibatalkan akibat serangan sekaligus pertahanan sosok gempal bertopeng jenaka tersebut. Di belakangnya, Sasangka bergerak dengan langkah-langkah pendek dan panjang, sedangkan kedua tangannya yang memegang tiga belati berjenis wedhung, menjelma menjadi sekaligus tiga sampai enam orang. Ini juga menyulitkan para penyerang yang sudah riweuh dalam pergerakan mereka terpaksa maju mundur dan membatalkan serangan.


“Kau atau aku yang membuka serangan?” ujar Jaka Pasirluhur ketika punggungnya menempel di punggung Sasangka.


“Aku saja yang menyerang. Kau pertahankan tempat dan lindungi aku,” balas Sasangka.


Sejatinya Sasangka malas sekali harus berbagi kerjasama dengan orang asing yang juga mengaku-ngaku sebagai Pendekar Topeng Seribu tersebut. Selama hidup, ia sudah cocok berpasangan dalam jurus-jurus bersama mendiang rekan-rekannya dahulu. Setelah mereka tewas, rasa-rasanya ia tak mungkin bekerja sama dengan orang lain lagi. Untuk itulah ia meningkatkan kemampuan dirinya dengan menciptakan jurus tiga langkah, atau gaya tiga jurus yang dipelajari dan diserap dari Lau Siufan. Namun, ia harus selamat dari serangan para perompak yang sepertinya tidak ada habisnya ini. Ia akan membikin perhitungan kelak dengan sosok bertopeng dan buntung tangannya itu setelah selesai dengan masalah ini.


Sasangka melangkah cepat ke depan, kemudian menyamping dan memutar sekali. Dalam gerakan itu, ia sudah melepaskan tiga serangan ke arah berbeda. Serangan pertama hanya seperti tebasan yang membuka jalan serta kuda-kuda lawan, membuyarkan pertahanan mereka dengan tombak yang mengacung ke depan atau miring ke atas. Serangan kedua dan ketika berhasil memapras bahu musuh dan menusuh dada musuh lainnya.


Ketika serangan Sasangka hendak dibalas rombongan perompak lain, giliran Jaka Pasirluhur mendobraknya dengan sabetan kudhi yang membabat paha musuh, kemudian membelah ke atas. Dua orang tumbang terluka parah.


Sasangka dan Jaka Pasirluhur kembali ke tempat semula, berpunggung-punggungan.

__ADS_1


“Kita lakukan lagi, tapi kali ini aku yang akan memulai serangan. Setelah itu kau menyusul, kemudian kita desak mereka ke pinggir kapal,” ujar Jaka Pasirluhur.


Rencananya ini langsung disetujui oleh Sasangka. Bukan mengapa, gerakan berpasangan mereka


berdua tidak boleh bisa dibaca musuh. Jadi, meski pada dasarnya keduanya menyerang, bertahan dan saling melindungi, rencana mereka ke depan harus


merupakan langkah yang sama sekali berbeda.


Jaka Pasirluhur menderu maju. Langkahnya sulit ditebak karena seakan doyong dan oleng, tetapi membabat dengan keras. Serangannya bukanlah serangan yang mudah diperkirakan pula. Tidak seperti rata-rata tujuan serangan yang mengarah ke


adalah dua orang kembali terkapar karena kaki dan dada mereka sobek mengucurkan darah segar. Kejatuhan tubuh mereka mengganggu penyerang di belakang mereka yang berjejal-jejal. Kesempatan ini langsung diambil Sasangka untuk ikut menyusul serangan.


Gaya tiga jurusnya menambah jatuhnya nyawa. Sepasang wedhung di tangan kanannya berputar memapras tubuh lawan dari atas. Sasarannya benar adalah leher. Sedangkan tangan kirinya dengan wedhung tunggal menerobos masuk ke lambung


musuh, menusuk sampai dalam.

__ADS_1


Jaka Pasirluhur tidak mau ketinggalan untuk menggunakan kesempatan ini. Ia memantapkan serangan Sasangka dengan mengambil sisi bawah. Maka, terjadilah dua jenis serangan yang saling melengkapi, tetapi di saat yang sama sukar untuk


dinalar. Selain kecepatan dan ketepatan serangan kedua pendekar bertutup wajah itu, arah dan gerakan jurus-jurus keduanya sama sekali berbeda bahkan


bertentangan. Sasangka terlihat tertata, namun sangat liar. Jaka Pasirluhur terlihat liar, tetapi sebaliknya sangat tertata dan terukur.


Keriuhan makin menjadi-jadi. Setiap orang menjadi geram karena tak dapat menemukan kesempatan dan ruang untuk menyerang kedua lawan mereka tersebut.


Satu orang perompak terlalu geram dan sengit. Ia melemparkan saja tombaknya dari balik punggung rekan-rekannya yang menumpuk-numpuk mencari kesempatan dan giliran untuk menyerang.


Batang tombak melesat ke arah Sasangka, bersiap menusuk menembus masuk ke kerangka tengkorak kepalanya.


TRAK!


Terdengar bunyi keras batang tombak berbenturan dengan senjata lain.

__ADS_1



__ADS_2