
Jayaseta tak memberikan kesempatan bagi sisa perompak yang baginya sama sekali tak tahu diuntung dan tak tahu diri. Sekarang malah mereka ingin begitu saja meninggalkannya karena baru sadar bahwa sosok yang hendak mereka bunuh itu adalah lawan yang jauh lebih tinggi derajat dan tingkatannya dibanding mereka.
"Enak saja kalian mau minggat dari tempat ini setelah mencari masalah. Aku tak akan sisakan satupun dari kalian agar tidak mencari masalah lagi, menceritakan dan mengabarkan pada anggota kalian yang lain," ujar Jayaseta yang hanya dipahami oleh rombongannya.
Katilapan dan Narendra berbagi pandangan persetujuan. Sekejam apapun Jayaseta kelihatannya terutama dari balik penutup mukanya itu, tindakannya membantai para perompak mungkin sekali adalah sebuah cara yang paling masuk akal.
Para perompak akan melakukan hal yang sebaliknya pada mereka. Bila semuanya dihabisi, maka pemberitaan tentang Jayaseta dan rombongan ini akan sedikit terputus dan terhenti bagi anggota kelompok rahasia yang lain tersebut.
Jayaseta mengumpulkan tenaga dalamnya ke kedua kepal tangan dan tungkai kakinya. Walau sedari awal ia bukan pecinta tenaga dalam, dalam banyak kesempatan, untuk membuat tangan dan kakinya semematikan pedang dan tombak.
Jurus Tanpa Jurus dimulai dengan ledakan hawa tenaga dari tinju yang dilepaskan bersama kaki yang dihentakkan ke tanah.
Satu perompak tersentak ke belakang sebelum disusul tinju yang seaungguhnya dari Jayaseta. Membuat dada sang lawan remuk redam tanpa sempat memberikan tangkisan, elakan apalagi balasan.
__ADS_1
Tidak hanya sisa perompak yang terkejut, bahkan Narendra, Katilapan, Siam, Ireng dan Dara Cempaka pun ternganga dengan apa yang baru mereka lihat tersebut. Jayaseta menggunakan tenaga dalamnya dengan menyerang musuh dari jauh? Sentakan tenaga murni itu bagai hembusan angin yang dilepaskan tanpa menyentuh lawan. Sudah sampai setaraf itukah kesaktian Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu?
Nampaknya, ya.
Jayaseta kembali memainkan kemampuan 'baru'nya ini sekali lagi dengan memberikan hembusan keras dari serangan telapak tangan terbukanya ke arah pemimpin perompak yang mundur dan terjerembab jatuh terkena tenaga dalam tersebut. Saat itulah, Jayaseta melutut kepala sang pemimpin yang tersuduk tersebut. Kepalanya bisa dipastikan hancur dan membuatnya tewas.
Sisanya, hanya dengan dua tiga jurus saja, langsung menggelepar tewas dengan tulang patah dan remuk dan daging sobek dimana-mana. Betapa kuat dan mematikannya setiap serangan Jayaseta tersebut.
Siam masih terpelongo, tetapi kemudian mengangguk kikuk.
"Kalau begitu, jangan buang waktu lagi. Kita tinggalkan tempat ini," lanjut Jayaseta.
Jayaseta mendekati istrinya, Dara Cempaka, dan langsung menggandengnya. Sekarang semua orang berjalan cepat masuk lebih dalam ke hutan tetapi tetap menyusuri sungai. Dalam setengah atau satu hari penuh lewat jalan darat, kemungkinan mereka baru menemukan pemukiman atau perkampungan untuk beristirahat atau makan.
__ADS_1
"Jadi, kau sudah menemukan sebuah ilmu baru, Jayaseta? Kau tadi menyerang musuh tanpa menyentuh," ujar Narendra kini berjalan di samping Jayaseta.
"Aku hanya berusaha menyelesaikan pertarungan secepat mungkin. Bila kau perhatikan, Kakang, serangan tenaga dalamku tadi sama sekali tak sempurna. Hanya ledakan saja. Aku gunakan untuk membuka serangan dan menghancurkan perhatian lawan," balas Jayaseta. Dara Cempaka tersenyum di sampingnya. Ada rasa bangga tanpa kata tergores di wajahnya.
"Berarti, itu artinya kau masih dapat mengembangkan kemampuanmu itu, Jayaseta?" Kali ini Katilapan yang bertanya dengan berseru keras.
"Aku tak tahu, Kakang. Kita lihat saja nanti. Semua kemampuanku hanya menyesuaikan keadaan," jawab Jayaseta merendah.
Dara Cempaka merangkul lengan suaminya dengan erat. "Engkau memang hebat, abang Jayaseta. Ilmu abang terus berkembang. Terus terang, abang membuat kami semua terkejut akan kesaktian abang. Namun, di sisi lain, adik merasa semakin aman bersama abang dalam perjalanan ini."
Semua orang dalam rombongan ini kembali disadarkan berapa berbahaya dan penuh rahasia perjalan ini. Jayaseta yang ada bersama mereka adalah tokoh utama. Jadi, mereka disini bukan membantu seorang Jayaseta. Mereka adalah orang-orang yang cukup beruntung untuk berbagi pengalaman mengikuti perjalanan hebat sang tokoh.
__ADS_1