Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jalan Setapak


__ADS_3

Jayaseta berpisah dengan rombongannya. Perpisahan itu berjalan cepat karena itu yang Jayaseta mau walau ia harus berpisah kedua kalinya dengan sang paman, satu-satunya keluarganya yang masih hidup.


Sejujurnya, ia tidak mau mereka terlibat masalah yang akan menyambutnya. Memang, masalah sudah tercium oleh Jayaseta sejak ia masuk gerbang Banten meski ia diam saja di depan pamannya Badra dan yang lainnya.


Dua orang mengikuti ia dan rombongan barunya. Semula Jayaseta berpikir bahwa kehadiran delapan orang memasuki gerbang kota sudah cukup menonjol dan membangkitkan ingin tahu beberapa orang. Jadi ia awalnya paham bila banyak mata yang memperhatikan. Tapi Banten adalah kota yang besar, beragam jenis orang dari daerah-daerah berbeda datang kesana. Oleh sebab itu lama-kelamaan Jayaseta curiga juga akhirnya dengan sosok-sosok tertentu yang memperhatikan mereka.


Satu pria bertelanjang dada, berhiaskan gelang di kedua lengannya, celana panjang mengkerucut ke bawah, kain jarit mengitari pinggangnya. Di balik jarit nya itulah Jayaseta sempat melihat dua buah cabang terselip di pinggang. Cabang adalah sebuah senjata trisula pendek yang memiliki banyak cara dalam penggunaannya.


Walaupun bentuknya sederhana, cabang dapat digunakan untuk menusuk musuh seperti halnya keris atau pisau. Ia juga dapat diselipkan melalui jari-jari si pemakai dan digunakan seperti kuku-kuku yang keluar dari kepalan. Cabang juga paling tepat digunakan untuk menangkis pedang karena bentuknya yang bercabang membuatnya mampu mengunci senjata tajam tersebut. Bila cabang digunakan orang yang memiliki keterampilan dan ilmu silat yang tinggi, maka senjata tersebut dapat sangat mematikan.


Satunya lagi seorang perempuan yang mungkin berumur empat puluh tahunan. Wajahnya sudah menunjukkan usianya, hampir serupa dengan perempuan-perempuan lain seusianya. Yang membedakan adalah raut wajahnya.


Jayaseta tahu benar orang-orang yang memiliki kemampuan silat dan yang tidak. Dengan garis-garis wajah yang tegas, sang wanita pastilah orang yang terlatih dalam pertarungan. Bedanya dengan penguntit sebelumnya, Jayaseta tidak melihat ia membawa senjata apapun.


***


Jayaseta sudah pergi menjauh dari gerbang kota Banten menuju Betawi dengan berjalan kaki. Ia melewati jalan setapak yang tidak terlalu ramai, namun juga tidak terlalu sepi. Jalan ini tidak diperkuat dengan batu, tapi jalan setapak tanah dengan pasir di atasnya. Setengah peminuman teh ada saja yang lewat. Tapi tentunya ada masa jalanan sepi. Saat itulah Jayaseta tahu orang-orang yang menguntitnya berniat mencegatnya di sini.


Dari kota Banten, Jayaseta sudah berpikiran bahwa ia akan berhadapan dengan para pengeroyok lagi. Mungkin tidak hanya dua orang, dan mungkin mereka bersenjatakan lengkap. Untuk menjaga kemungkinan Jayaseta telah mempersiapkan dirinya dengan sebuah rotan selebar tiga jari dan sepanjang dua kali lengannya. Ia meminta sampah rotan di sebuah kedai kerajinan kayu dan rotan yang ia temui di sembarang jalan.


Benar saja, di depannya sekarang sudah berdiri tiga orang laki-laki. Satu diantaranya adalah laki-laki yang membuntuti Jayaseta hari sebelumnya. Pakaiannya sama, bedanya dua buah cabang sekarang tidak malu-malu diselipkan di pinggang di luar jarit. Dua orang lainnya sudah terlihat penampilan kependekarannya.


Satu laki-laki mengenakan rompi kulit, dua bilah pedang menyilang di punggungnya. Satunya lagi menggenggam sebuah toya. Mata Jayaseta menyelidik dengan cepat untuk menakar kemampuan mereka. Toya lah yang menarik perhatiannya, karena toya itu walau berukuran normal ternyata terbuat dari baja mengkilap. Banyak jejak-jejak perkelahian di badan toya itu akibat benturan beragam senjata.


Dengan telinganya yang sudah terlatih Jayaseta juga merasakan kehadiran dua orang lain di belakangnya. Ia memutar dan melihat si perempuan penguntitnya yang sekarang sudah berbaju perang ala seorang prajurit. Sebuah senapan panjang dengan pisau yang terikat di ujung atau moncong senapannya ia pegang erat di tangan kanan. Di pinggangnya Jayaseta melihat terselip sebuah keris dan sebuah pistol, senjata api dengan laras yang lebih pendek.


Di samping perempuan itu berdiri seorang laki-laki lagi. Ia seorang Cina. Jayaseta dapat melihat dari ciri-ciri tubuhnya dan pakaiannya yang menonjol, apalagi Jayaseta sendiri memiliki darah Cina. Pakaiannya berwarna putih bersih dan halus, terbuat dari sutra dan terlihat sedikit mewah.


Orang ini memiliki rambut panjang yang digulung di puncak kepalanya, hampir serupa dengan Jayaseta. Namun rambut gulungan rambut di puncak kepalanya diikat dengan tali merah yang memuntir.


Jayaseta mengamati bahwa laki-laki Cina tersebut memiliki sebuah senjata yang tidak kalah unik, potongan-potongan besi sebesar jari telunjuk yang saling diihubungkan dengan gelang-gelang rantai. Benda ini memiliki sebuah gagang besi pula, mirip dengan gagang sebuah pedang namun lebih panjang. Senjata tersebut memiliki ujung yang tajam seperti tombak di bagian akhir potongan besi yang saling terkait. Potongan-potongan besi itu dilingkarkan di pinggangnya.


Kelak Jayaseta mengenal senjata ini sebagai cambuk rantai, sebuah senjata Cina yang konon berasal dari kuil Shaolin. Bahkan seingat Jayaseta, ia juga pernah diajarkan mengenal dan mempelajari cara menggunakannya.

__ADS_1


***


“Pendekar Topeng Seribu. Seperti ini rupanya tampangnya. Benar kata mereka bahwa kau masih muda. Heran pula aku dibuatnya pertama mendapatkan berita ini,” lelaki yang memegang toya baja berujar.


“Parta, biar aku yang menjajal kemampuan anak ini dulu. Sudah dari kemarin aku dan Sarti mengikutinya. Sudah menggelegak darahku ingin mencoba silatnya yang tersohor itu,” sekarang orang yang membawa cabang yang berbicara kepada si toya baja. Suaranya cempreng namun penuh kebencian. Ia kemudian meludah ke tanah dan mencabut dua cabang yang terselip di pinggangnya.


“Kau harus sedikit menyisakannya untukku Damar, he he he,” sekarang yang menjawab adalah si pedang ganda sembari terkekeh.


“Diam kau, Kangsa!” hardik si pendekar senjata cabang yang ternyata bernama Damar tersebut kepada Kangsa, si pedang ganda.


Jayaseta masih memiliki banyak pertanyaan di benaknya. Siapa mereka? Mengapa mereka ingin menyerangnya? Dan bagaimana mereka tahu bahwa ia adalah si Pendekar Topeng Seribu? Tapi semua pertanyaan tersebut harus ia simpan dulu karena orang yang dipanggil Damar ini sudah bersiap untuk menghabisinya.


Jayaseta meraba topeng samba yang ia gantungkan di pinggang, di balik jaritnya. Namun ia urung mengenakannya, sebaliknya malah mempersiapkan tongkat rotannya.


“Kau benar-benar menghinaku bocah. Tidak punyakah kau senjata yang lebih pantas dibanding tongkat rotan itu? Kau pikir aku bocah nakal yang kau hukum dengan sebatang rotan, hah?” ujar Damar sembari tetap dalam kuda-kuda menyerang.


Jayaseta tetap diam. Ia merasa tidak perlu ada kata-kata apapun. Percuma! Ia akan ladeni si Damar ini dahulu.


Damar meloncat ke depan dan langsung menusukkan cabangnya ke arah kepala Jayaseta. Jayaseta menghindar sembari membabatkan rotannya ke lengan Damar yang menyerang.


Walau bukan sabetan yang berbahaya, pukulan rotan tersebut membuat Damar berang karena lebih pada merasa terhina karena serangannya ditepiskan sambil tangannya dipukul sedemikian rupa. Tidak begitu sakit, namun hatinya yang terluka.


Cabang di tangan Damar berputar-putar dan menujam ke arah Jayaseta. Damar begitu lihai menggunakan senjata ini. Kadangkala ia menjadikan cabang sebagai cakar dan meninjukannya ke arah Jayaseta, kadangkala ia menggunakannya sebagai sebuah pisau dan penangkis yang baik untuk sembatan-sembatan rotan Jayaseta. Sampai sini Jayaseta masih lebih unggul. Setiap tiga kali serangan, Jayaseta membalas dengan satu sabetan. Beberapa masuk ke lengan dan bahu Damar. Ini semakin membuat Damar kesal. Ada kesan bermain-main dan menghukum sang penyerang, bagai orang tua yang memukul anaknya karena nakal.


Mendapati perlakuan Jayaseta terhadap dirinya, Damar meraung bagai kucing hutan. Serangannya menajam, tapi Jayaseta seperti dapat membaca semua jurus-jurusnya. Dengan melakukan gerakan-gerakan aneh, Jayaseta dapat menghindar dengan sulit ditebak oleh sang musuh. Akhirnya Jayaseta mendapatkan sebuah kesempatan emas yang mutlak dapat memberhentikan serangan Damar. Dua tusukan cabang Damar kiri dan kanan berhasil dihindari Jayaseta dengan menunduk dan bergoyang sedikit kemudian ia menusukkan rotannya ke titik lemah di bawah ketiak kiri Damar.


Tusukan itu biasa saja, tapi karena tepat di titik lemah dan dilapisi tenaga dalam, Damar merasakan kelumpuhan di tangan kirinya. Walau titik lumpuh ini hanya bekerja sementara, tak pelak keadaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Jayaseta. Sebelum lengan kanan Damar yang masih dapat bergerak melakukan penusukan cabang nya ke Jayaseta, Jayaseta sudah berhasil membabat kepala Damar sebanyak dua kali, pinggang, kedua paha, kedua tulang kering, dan terakhir membabat dada sebanyak lima kali.


Serangan yang mutlak ini membuat Damar jatuh berlutut, kedua cabangnya terlepas, dan ia pun ambruk ke tanah sembari menggosok-gosok bagian-bagian tubuhnya yang terasa pedas. Ia bahkan berguling-guling di tanah untuk menghapus rasa sakit di banyak bagian di tubuhnya tersebut.


Empat orang yang pada dasarnya ‘mengepung’ Jayaseta terkaget-kaget. Damar si pendekar cabang dikalahkan dengan cara yang aneh. Ia tidak pingsan atau tidak sadarkan diri apalagi mati. Ia juga tidak mendapatkan luka sayatan atau tusukan, bahkan ia sama sekali tidak berdarah. Dengan konyolnya, Damar masih berguling-guling di tanah menggosok-gosok tubuh dan kepalanya untuk meredakan rasa sakit berupa pedas dan ngilu di kulit dan dagingnya.


Melihat ini Kangsa si pedang ganda spontan melompat maju dan mencabut kedua pedangnya. Kedua pedangnya ia putar-putar dan langsung menghambur ke arah Jayaseta, “Berhenti bermain-main, aku akan habisi kau keparat! Hiyaaaaa!”

__ADS_1


Jayaseta melihat sekejap datangnya serangan sebelum ia bergulingan di tanah dan mengihas-ngibaskan rotannya untuk menghalau serangan Kangsa.


Kedua pedang Kangsa tidak kalah unik dengan senjata lainnya. Kedua pedangnya lebar, lebih seperti pisau potong daging dibanding dua bilah pedang. Selain itu keduanya berwarna hitam legam dan terlihat sangat kokoh dan berat. Makanya Kangsa si pemegang senjata ini memiliki tubuh yang kokoh pula. Ini dikarenakan kedua lengannya harus kuat mengangkat dan mengibaskan kedua pedang lebar tersebut, sedangkan tubuhnya juga harus mampu mengimbangi kibasan kedua lengannya.


Pedang dan rotan beradu. Pedang di kanan Kangsa menusuk, sedangkan di kirinya membacok dan menebas. Rotan yang lentur tidak seperti kayu yang kaku sehingga walau langsung beradu dengan senjata tajam pun tidak akan langsung terpapras putus. Jayaseta juga sudah paham bagaimana menggunakan beragam senjata sehingga benda apapun yang ada di tangannya dapat menjadi senjata yang berbahaya pula.


Dua pedang terus memburu bagai kitiran angin puyuh. Jayaseta menghindar dengan gesit sembari menangkis serangan demi serangan pedang ganda Kangsa. Jurus Tanpa Jurus selalu membuat para musuh Jayaseta geram karena sulit sekali bagi mereka untuk mendaratkan serangan bahkan hanya menyentuh kulitnya sekalipun. Kibasan rotan Jayaseta menghambat setiap laju pedang Kangsa.


Jayaseta memutuskan untuk ganti menyerang. Ia memutar tubuhnya agar sabetannya lebih bertenaga. Sabetan rotan tersebut menampar dan mengibaskan kedua pedang Kangsa sehingga kedua pedang itu terhempas ke samping. Tubuh Kangsa terbuka sehingga satu tendangan Jayaseta berhasil menghajar dada Kangsa. Kangsa tersentak mundur dan menyisakan jarak diantara Kangsa dan Jayaseta.


Inilah sesempatan yang Jayaseta mau. Ia melenting ke udara, tongkat rotannya membelah udara dan menghajar kepala Kangsa. Tidak berhenti di situ, sesampainya di tanah, Jayaseta membabat silang dua kali ke tubuh Kangsa yang benar-benar sudah terbuka kini. Kangsa terjungkal dan jatuh terbaring di tanah. Kedua bilah pedangnya terlepas dari tangannya. Sama seperti Damar, Kangsa tidak pingsan. Sekarang ia memegang kepala dan dadanya, menahan sakit.


DAR!


***** bulat meluncur menuju ke dada Jayaseta dari senapan laras panjang milik Sarti.


***


Jayaseta sudah paham bahwa setelah mengalahkan Kangsa, anggota lainnya tidak akan tinggal diam. Mereka akan langsung menyerang, sama seperti Kangsa yang langsung menyerang ketika Damar berhasil dikalahkan.


Dari semua pendekar, tentu saja yang paling diperhatikan adalah Sarti. Pendekar perempuan yang mengenakan semacam kebaya sederhana yang kedua ujungnya saling diikatkan di bagian perut serta membelitkan kain selutut ini bersimpuh dengan satu kaki. Kedua tangannya memegang senapan dengan mantap. Ujung senapannya mengepulkan asap.


Jayaseta tergeletak di tanah. ***** tidak berhasil menembus dadanya karena terlindung bilah pedang lebar Kangsa.


Sewaktu menjatuhkan Kangsa, Jayaseta paham bahwa siapapun akan berusaha menyerangnya. Tapi bagaimana bila Sarti yang melakukannya? Tentu saja ia memerlukan pelindung bila ia tidak sempat menghindar dari tembakannya.


Benar saja, Jayaseta melepaskan tongkat rotannya dan meraih salah satu pedang Kangsa di tanah yang tadi terlepas dari tangan Kangsa. Secepat kilat ia menempelkan pedang Kangsa itu di dada karena tahu bahwa kemungkinan besar dadanya adalah sasaran utama bila orang-orang ini memang mau membunuhnya.


Bunyi ***** berdesing, menciptakan cekungan kecil pada bilah pedang Kangsa. Namun Jayaseta masih terbaring, memberikan sedikit jeda.


Ketika Sarti berdiri, saat itulah Jayaseta ikut bangun dengan cepat dan melemparkan pedang Kangsa ke arah Sarti.


Sarti yang baru dalam keadaan ingin berdiri kemudian terkejut setengah mati dan menangkis benda yang dilemparkan ke arahnya dengan senapan panjangnya.

__ADS_1


TRAK!


Pedang Kangsa ternyata memang kokoh. Senapan panjang Sarti bengkok di bagian laras besinya. Sedangkan bagian terbuat dari kayu sudah patah. Senapan itu tidak dapat digunakan lagi.


__ADS_2