
Rombongan yang kembali dari benteng kayu ulin menuju ke Sukadana dua hari setelah peperangan memang jauh berkurang jumlahnya dibanding yang berangkat.
Dara Cempaka telah tertidur. Katilapan dan Narendra tersenyum melihat kekikukan dan kegugupan Jayaseta di atas perahu jungkung ini. Mereka adalah dua orang terdekat Jayaseta yang paham dengan rasa takutnya pada air tersebut.
"Kalian jangan mengejekku lagi," ujar Jayaseta. Katilapan dan Narendra akhirnya pun tak bisa menahan senyum lebar mereka.
Jayaseta dengan segenap keberanian, berjalan jongkok di atas perahu yang bergoyang itu mendekat ke arah kedua sahabatnya perlahan yang berada di bagian depan perahu. Ireng, Siam dan beberapa orang Jawa bertugas mendayung perahu.
"Banyak sekali yang kalian harus ceritakan padaku, kakang-kakang sekalian. Bagaimana kalian bisa sampai ke tempat ini dan apa tujuan kalian? Lalu, bagaimana keadaan Kakang Sasangka? Mengapa ia tak bersama kalian saat ini?" ujar Jayaseta setengah berbisik, seakan tak mau membangunkan Dara Cempaka, walau ia terlihat begitu lelap.
Narendra dan Katilapan saling bertatapan. Ada semacam kesepakatan di antara mereka untuk memutuskan siapa yang akan memulai memberikan berita. Sebelumnya memang mereka telah bersepakat bahwa Narendra lah yang harus menguraikannya terlebih dahulu.
Narendra mengelus-elus dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis. "Sasangka aku pikir telah menikah, Jayaseta."
Jayaseta tersentak, namun hampir tak bisa menahan tawa gembiranya. "Benarkah itu? Aku kaget sekaligus turut senang mendengarnya."
"Ya. Tapi ia enggan mengikuti kami ke pulau ini, Jayaseta. Ia agak kecewa dengan kejadian saat teman-teman kita dibunuh oleh Pratiwi," lanjut Narendra.
Jayaseta diam, namun ia wajar dengan apa yang terjadi. Ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ia kemudian mengangguk-angguk.
Narendra memandang Dara Cempaka yang masih terlihat tertidur nyenyak, kemudian kembali memandang Katilapan. "Jayaseta, istrimu, Almira sedang hamil anakmu."
Keterkejutan kedua ini sama sekali tak bisa dibandingkan dengan berita apapun bagi Jayaseta. Bagi Narendra, tak ada cara yang lebih lembut menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Semarang sampai keduanya bisa berlayar ke Tanjung Pura.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, walau Jayaseta masih dalam kebingungan, Narendra memutuskan untuk menyemburkan semua cerita. Mulai dari berita yang mereka dapatkan dari Lau Siufan, kekasih Sasangka saat itu, mengenai kelompok Jarum Bumi Neraka bawahan Kompeni Walanda Betawi yang bekerja sama dengan Karsa yang ternyata memiliki kembaran berilmu serupa bernama Mandura untuk mencari Jayaseta dan berniat membunuh Almira. Bagaimana Narendra dan Katilapan berhasil membunuh Mandura dan menyelamatkan Almira, sampai Sasangka kembali pulang ke Betawi dan mereka berdua melanjutkan perjalanan ke Tanjung Pura. Sedangkan kemunculan Pratiwi di pulau ini, benar-benar adalah kebetulan yang mengejutkan pula bahkan bagi Narendra dan Katilapan.
Jayaseta menarik nafas berusaha mencerna semua berita ini. Ia akan memiliki seorang anak. Ia tersenyum bangga. Namun hatinya tiba-tiba mencelos.
"Masalah asmara memang tidak pernah menjadi masalah yang gampang. Bahkan untuk pendekar sepertimu, Jayaseta. Kami tak akan menghakimimu. Bagaimanapun, semua keputusan ada di tanganmu sendiri. Kami tetap adalah sahabat-sahabatmu yang hanya menyampaikan berita serta mencoba menolong semampu kami," kali ini Katilapan yang berujar.
"Ah, kakang Katilapan dan kakang Narendra. Kalian berdua adalah orang-orang luar biasa dalam hidupku. Aku benar-benar lega dan berterimakasih karena kalian menyelamatkan istri dan calon bayiku. Aku tak akan bisa membayarnya, bahkan dengan nyawaku sendiri. Jujur, sekarang aku berada dalam keadaan yang sulit dan terpaksa untuk mengambil keputusan," balas Jayaseta.
"Tunggu. Maksudmu, kau terpaksa untuk menikahi gadis itu, Jayaseta?" selidik Narendra. Nada suaranya sedikit meninggi.
Paham dengan perasaan sang sahabat, Jayaseta mencoba menenangkannya. "Ah, bukan. Bukan seperti itu, kakang. Maksudku, aku tak ada pilihan lain selain menikahi Dara karena memang aku memiliki rasa padanya. Aku terpaksa harus memiliki dua istri karena aku memiliki dua rasa dan tanggung jawab yang sama terhadap mereka berdua," ujar Jayaseta.
Narendra dan Katilapan menarik nafas lega. "Kalau seperti itu memang perasaanmu, ya kami sama sekali tidak masalah. Yang penting kau sudah tahu tanggung jawabmu sendiri dan hak-hak mereka berdua. Kelak secepat mungkin kau harus pulang ke Almira dan memberitahukannya yang sebenarnya," ujar Narendra.
***
Pernikahan Jayaseta dan Dara Cempaka tak dibuat ramai dan meriah, namun cukup mengharukan. Kedua orang tua Dara Cempaka telah pulang ke Sukadana dari Kesultanan Banjar, setelah bertugas membawa upeti serta melanggengkan hubungan perdagangan dan perlindungan ketentaraan di sana.
Tentu, dalam waktu singkat sepeninggal mereka, kejadian yang luar biasa terjadi pada Dara Cempaka dan Datuk Mas Kuning, begitu mengejutkan mereka. Apalagi, seorang pemuda tampan, yang dikatakan banyak orang tersohor sebagai seorang pendekar berjuluk Pendekar Topeng Seribu, langsung melamar anak gadis mereka.
Jayaseta bahkan jujur bahwasanya ia telah memiliki istri di Jawa, yang tinggal di Mataram namun memiliki usaha di Semarang.
Tuan Muda Syaifuddin, berwajah tegas, berkumis namun tak berjenggot - mengingatkan Jayaseta pada tokoh wayang Raden Gatotkaca - bertubuh ramping namun cukup berisi dan terlihat sangat sehat pada usianya, adalah ayahanda Dara Cempaka. Duduk di sampingnya, sesosok perempuan darimana Dara Cempaka mendapatkan kecantikannya, sang istri, Putri Mayang Delima. Wanita keibuan itu mengenakan pakaian sutra berwarna kuning keemasan serta kerudung yang senada warnanya. Wajahnya entah mengapa selalu nampak menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu saling pandang. Kemudian sang ayah memandang tajam ke arah Dara Cempaka yang duduk bersimpuh di depannya.
"Mengenai perihal ini, apa yang hendak engkau katakan, Dara?" tanya sang ayah.
"Ananda Dara mencintai abang Jayaseta, ayah. Ananda paham bahwa abang Jayaseta telah memiliki istri, namun hamba rela. Abang Jayaseta sendiri telah menunjukkan kesungguhannya untuk meminang ananda dan menjadikannya istri," ujar Dara Cempaka.
Tentu pembahasan mengenai persetujuan ini cukup alot dan tak mudah. Tuan Muda Syaifuddin cukup menyalahkan ayahnya sendiri, Datuk Mas Kuning karena tak bisa menjauh dari masalah. Kini sang putri harus mendapatkan akibatnya, menjadi korban ilmu sihir orang-orang Daya.
Sedangkan sang ibu malah lebih berada di pihak sang mertua, Datuk Mas Kuning, yang sama-sama cenderung setuju atas pernikahan ini.
Takdir memang berkata dengan cara yang lain. Sedikit banyak sepasang suami istri pejabat Kerajaan Sukadana ini akhirnya merasa akan menjadi lebih tenang dikarenakan sang putri berada di tangan seorang laki-laki yang termahsyur karena ilmu kanuragan dan perilakunya membela kebenaran. Jayaseta benar adalah seorang pendekar putih.
Dengan memberikan tanggung jawab kepada Jayaseta yang kelak menjadi suaminya, Tuan Muda Syaifuddin dan Putri Mayang Delima akan berani melepaskan mereka berdua untuk pergi mencari pengobatan sampai ke tanah Ayutthaya.
"Siapa bilang hanya kalian berdua yang akan pergi, Jayaseta. Aku dan Narendra datang ke pulau ini bukan hanya untuk kembali. Pengalaman kami di atas lautan pun jauh lebih baik darimu," ujar Katilapan sembari tersenyum.
"Aku juga akan ikut bersama Ireng, tuan pendekar. Ada alasan mengapa namaku adalah Siam. Aku pandai berbahasa Siam karena memang darah orang Ayutthaya itu ada di dalam nadiku," Siam ikut menimpali ketika mereka semua berkumpul dalam pesta pernikahan tersebut.
"Benar. Aku mengijinkan, bahkan memerintahkan kedua awak kapalku ikut bersama kalian. Sudah waktunya kau tak berjalan sendirian lagi, Jayaseta. Aku sendiri yang akan menahkodai perjalanan kita ke sana," Raja Nio sudah hampir sembuh seluruhnya dari luka yang ia alami.
Jayaseta dan Dara Cempaka belum sempat mengatakan apa-apa ketika Datuk Mas Kuning datang. "Aku juga akan menyertai keberangkatan kalian."
"Datuk!?" seru Jayaseta dan Dara Cempaka berbarengan.
__ADS_1