
Dua orang perampok yang menggunakan pedang kembar itu saling tatap. Keduanya saling mengirimkan pesan bermakna dalam tatapan mereka. Satu perampok kemudian berteriak keras sekali lagi dalam bahasa Siam, "Orang ini benar sang Pendekar Topeng Seribu adanya. Mundur, dan kabarkan ini kepada kelompok Dunia Baru kita. Sang pendekar dari pulau Jawa telah menginjak tanah Siam!"
Teriakan ini nampaknya masih belum mengakibatkan suatu kejadian apapun. Nampak sekali para anggota kelompok perampok yang berada di atas kuda masih kebingungan, saling pandang dan mencoba menelaah perintah dari salah satu perampok yang nampaknya memiliki jabatan lebih tinggi dari mereka itu.
Melihat tidak ada satupun dari puluhan perampok yang bergerak sesuai perintah, sang perampok berteriak lagi. "Aku bilang, sang Pendekar Topeng Seribu telah ada di tempat ini. Ia adalah orang yang asli. Pergi segera, kabarkan yang lain. Percuma bila kalian harus mati konyol. Orang ini bukan tandingan kalian."
Merasa perintah itu jelas, para perampok langsung bergerak. Yang terluka dan jatuh dari kuda diangkut rekan-rekannya. Kuda-kuda berbalik arah dan dipacu meninggalkan tempat itu.
Puluhan kuda berderab meninggalkan wilayah pertempuran ke arah perbukitan dan menghilang di balik pepohonan di dekat sungai. Kepulan debu ditinggalkan rombongan perampok berkuda tersebut, membuat para peniaga dan rombongan pelancong lega dan bersyukur. Orang-orang yang terluka segera diangkat dan dirawat. Jasad yang tewas dari pihak mereka juga diambil dan diperlakukan sebagaimana layaknya.
Kegiatan ini berlangsung hampir sepenyirihan. Dua pimpinan perampok dan Jayaseta berdiri dalam diam saling berhadapan lima tombak jauhnya.
__ADS_1
Di belakang Jayaseta, rombongannya, Katilapan dan lainya, membantu korban dan mengumpulkan barang-barang yang tercecer dan berantakan. Mereka tahu bahwa masalah ini belum usai, tapi mereka sementara tak bisa ikut campur. Dara Cempaka sendiri sangat yakin suaminya akan dapat menghadapi masalah ini, tak peduli seberapapun aneh dan janggalnya. Dua pemimpin perampok itu pun jelas bukan lawan yang sebanding dengan suaminya. Hanya saja, semua tahu, bahwa mereka penasaran dengan apapun yang sejatinya sedang terjadi saat ini.
Perampok yang tadi memberikan perintah memandang tajam ke arah Jayaseta setelah memperhatikan bahwa para rombongan pelancong, peniaga dan pedagang serta musafir telah berbenah dan mulai berangkat menghindar dari tempat itu. Ia maju ke depan selangkah kemudian berseru kepada Jayaseta dengan menggunakan bahasa Melayu yang kental dengan logat asing. "Kami telah menunggumu, Jayaseta."
Tak pelak Jayaseta terhenyak terkejut. Begitu juga dengan Siam, Ireng, Katilapan, Narendra dan Dara Cempaka.
"Aku sudah menduga betapa terkejutnya dirimu. Asal kau tahu, aku dan temanku ini bukan orang Siam. Namaku Khaung, orang Burma. Dan temanku ini bernama Sovannarith, orang Khmer dari Kamboja. Kami bukan kelompak begundal perampok biasa. Kami berasal dari kelompok yang bernama Dunia Baru," ujar orang yang mengaku bernama Khaung tersebut.
Senjata itu adalah bentuk berbeda dari daab, dan mungkin sekali adalah bentuk awalnya. Namanya dha, berasal dari Burma.
__ADS_1
"Kami sudah lama memerhatikan pergerakan bangsa-bangsa dan kerajaan di seantero nusantara sampai tanah Siam. Kami mengetahui seluk-beluk tata negara dan pemerintahan Mataram dalam hubungannya dengan Betawi, Sukadana sampai negeri-negeri Melayu. Kami muak dengan kejemawaan para penguasa yang saling serang dan mencoba menaklukkan sama lain. Kami memutuskan untuk menciptakan tatanan Dunia Baru yang berjalan sesuai keinginan kami. Pengetahuan adalah kekuatan yang sejati, Jayaseta," ujar Khaung panjang lebar.
"Aku tak tahu menahu dengan apa yang ku ucapkan itu," ujar Jayaseta di dalam hati. Sepasang matanya masih tetap menatap kedua musuhnya dengan tajam dan awas.
"Kami adalah orang-orang pilihan yang berasal dari beragam latar belakang. Engkau yang berdarah Cina, Parsi dan Jawa harusnya bergabung dengan kami. Kita dapat mengubah dunia," lanjut Khaung dengan bersemangat.
Jayaseta masih bergeming. Tapi di dalam dadanya bergejolak berbagai pertanyaan yang berkecamuk. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Khaung bahwasanya pengetahuan adalah kekuatan yang sejati.
Belum sempat Jayaseta menyelesaikan pertentangan di dalam hatinya, Khaung kembali berkata. "Kau pikir segala titik di hidupmu tak berkaitan dengan kami, Jayaseta? Kau tak pernah bertanya mengapa hidupmu selalu dipenuhi tantangan dan pertarungan? Selesai racun Kyai Ageng Plered kau masih harus mendapatkan masalah dengan kutukan lainnya yang hinggap pada istrimu, Dara Cempaka. Bagimana tak kau lihat hubungan antara kelompok Jarum Bumi Neraka dan orang-orang yang selama ini menyamar menjadi dirimu?" ujar Khaung.
Tubuh Jayaseta meregang. Sepasang matanya melotot melebar mendengar apa yang baru saja diucapkan orng yang sama sekali tak dikenalnya tersebut.
__ADS_1