Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sang Harimau Terengganu


__ADS_3

"Semoga kau beruntung, kawan," ujar Hamid kepada Zainal dengan penuh makna, campuran antara canda dan peringatan keras.


Zainal menggelengkan kepalanya sembari memandang sang guru yang membalasnya dengan senyum mengembang. "Siapa orang ini, Hamid? Kau tadi bertarung sungguh-sungguh bukan?" ujar Zainal.


Hamid masih mengelus dadanya yang masih terasa nyeri. "Kau berpikir aku mau pura-pura kalah dan mempermalukan diriku sendiri? Ia menang dengan adil. Bila dilanjutkan, toh sama saja. Aku sedang tak ingin terluka parah hari ini," balas Hamid.


"Sehebat itukah dirinya?" balas Zainal terlihat sedikit khawatir.


"Engkau tak perlu merasa rendah diri seperti itu. Mana tahu kau bisa mempelajari kelemahan jurus-jurus orang itu dan mengalahkannya, atau paling tidak mendaratkan satu dua pukulan ke tubuhnya," balas Hamid.


"Sialan. Apa hal sampai aku harus penasaran dan berada dalam ketidaktahuan semacam ini?" rutuk Zainal.


"Bukankah musuh yang kita hadapi pada kenyataannya selalu tak dapat dikenali, Zainal? Itu inti dari pertarungan," kali ini Mansur sang Harimau Kelantan yang berseloroh.


"Ah, diam saja kau Mansur. Berharap saja pertarungan ini tidak sampai giliranmu," balas Zainal.


***


Zainal berdiri di depan Jayaseta dengan sikap siap. Ia menghormat dengan mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada dan menundukkan kepalanya. "Salam, wahai pendekar. Namaku Zainal. Aku asli dari Malaka, namun Tun Guru Labbiri memberikanku kehormatan untuk mempelajari ilmu silat Gayong Terengganu. Aku mohonkan bantuan dan bimbingan pendekar," ujar Zainal sopan.


Jayaseta tersenyum. Ia ikut menghormat. "Aku Jayaseta, sahabatku. Terimakasih karena telah bersedia memberikanku pelajaran," balasnya.


Zainal bertubuh langsing dan berwajah tirus. Namun kedua tangannya terlihat terlatih dengan baik. Ketika ia membuka gaya dan jurus, kedua tangannya melebar dengan jari-jari yang dimainkan dengan luwes oleh pergerakan pergelangan tangan yang juga sama luwesnya.


"Serupa sekali dengan silat pulut," batin Jayaseta. Bahkan Dara Cempaka pun membuka matanya lebar-lebar. Ia kenal sekali dengan gaya silat Melayu yang satu itu. Di sisi lain, Datuk Mas Kuning merasakan dadanya membuncah penuh kebanggaan dan kenikmatan bersiap menyaksikan pertarungan lanjutan tersebut.

__ADS_1


Sang Datuk ingat bertahun-tahun lalu ia mengajarkan dasar-dasar silat Gayong Melayu dalam rupa silat pulut kepada Baharuddin Labbiri kecil yang menyerap setiap ajarannya dengan cepat dan baik. Meski ia sempat menyesal tak memiliki banyak waktu untuk mengajarkan semua yang ia tahu dan kuasai, demi melihat murid-murid Baharuddin Labbiri, menunjukkan seberapa kaya kemampuan kanuragan dan pengalaman muridnya itu.


Baharuddin Labbiri menyambangi Terengganu ketika ia sudah mulai beranjak dewasa dari usia remajanya. Negara Melayu itu sebenarnya merupakan  bagian dari kerajaan Johor-Riau. Ketika Malaka runtuh oleh serangan Pranggi, para pejabat, pembesar dan keturunan kerajaan berpencar ke beragam negeri. Oleh kerajaan Johor, dikirimkanlah dua pembesar kerajaan, yaitu Laksamana dan Paduka Megat Seri Rama untuk bertahta di Terengganu. Setelah itu bendahara kerajaan Johor, Bendahara Hasan, juga diperintahkan ke Terengganu untuk memperkuat pemerintahan. Setelah itu sampai sekarang, Terengganu dipimpin oleh Tuan Zain Indera dan keturunannya.


Terengganu dianggap selalu menjadi bagian dari kerajaan yang lebih besar. Catatan awal sejarah negeri ini adalah  oleh seorang saudagar Cina yang bernama Chao Ju Kua pada tahun 1225 Masehi yang menjelaskan bahwa Terengganu adalah negeri taklukan Palembang, atau merujuk pada ibukota kemaharajaan Sriwijaya.


Ketika Sriwijaya runtuh, Terengganu menjadi taklukan kemaharajaan besar berikutnya, yaitu Majapahit, bersama dengan Paka dan Dungun menurut surat Negarakartagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi.


Daerah taklukkan yang menyembunyikan dan mengembangkan sendiri gaya silat dan bertarungnya. Perubahan kepemimpinan dan budaya sepanjang sejarah membuat Terengganu mendapatkan banyak pengaruh jurus-jurus ilmu silat dari tanah Jawa, pulau Melayu Samudra, bahkan Cina dan Hindustan.


Zainal menggeser satu kakinya, sedangkan satunya terangkat perlahan, bagai seekor ayam jago yang mempertimbangkan arah langkahnya.


Jayaseta berdiri tanpa kuda-kuda tertentu, meski Datuk Mas Kuning paham, Jayaseta sedang menerapkan Jurus Tanpa Jurusnya.


Belum ada serangan terjadi dari kedua belah pihak. Tiba-tiba Jayaseta meluncur maju memberikan satu pukulan lurus ke arah dada Zainal.


Tak mau mengambil kemungkinan buruk serangan lanjutan Jayaseta, Zainal melompat dengan satu kaki, satu kakinya yang terangkat langsung dilepaskan ke arah Jayaseta yang memang terlihat hendak menyerang.


Jayaseta menepis dan menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. Benturan terjadi, telapak kaki Zainal dan lengan Jayaseta.


Jayaseta mundur sejengkal, sedangkan Zainal terlempar mundur sampai dua langkah.


Sekarang Zainal paham sekali kira-kira seberapa hebat lawan di depannya. Sialan, pikir Zainal. Untung aku belum sempat sesombong Hamid, pikirnya lagi. Tapi Zainal tak surut, tak mau dan tak ingin surut. Ia tersenyum. Inilah pelajaran sebenarnya.


Zainal kembali mengambil kuda-kuda Silat Gayong Terengganu. Kedua telapak tangannya bermain-main bunga, menempatkan keduanya dalam runutan gerakan selaras dengan langkah kakinya, bersiap mempertimbangkan serangannya.

__ADS_1


Jayaseta kini mempelajari bahwa Silat Gayong Terengganu sangat menerapkan Silat Pulut. Setiap serangannya sangat  diperhitungkan, cukup berbeda dengan Silat Gayong Kedah yang menderu-deru dengan serangan berlipat ganda. Silat Gayong Terengganu memainkan bunga dan langkah bagai seekor ayam jantan yang memeriksa kelemahan musuh untuk kemudian menyerang deras, bahkan mungkin tiba-tiba.


Benar saja, Zainal menyerang maju dengan cepat, memukul keras ke arah wajah Jayaseta. Yang diserang cepat bergeser menghindar untuk kemudian menahan serangan susulan Zainal: sebuah sepakan keras ke arah ulu hati.


Jayaseta membalas dengan sebuah sikutan lurus. Zainal menangkisnya dengan kedua telapak tangan. Seperti sebelumnya, karena begitu deras dan bertenaganya setiap serangan Jayaseta, membuat Zainal menangkis sembari mundur agar mengurangi akibat yang dapat ditimbulkan oleh serangan itu.


Ketiga anggota Harimau Gayong Melayu terkesiap dan terkesima dengan pemandangan di depan mereka. Sebuah pertarungan yang menghibur sekaligus membuat jantung mereka berdegup lumayan kencang: khawatir atas giliran mereka sekaligus sangat bersemangat menimba ilmu.


Zainal dan Jayaseta sudah kembali berdiri berhadap-hadapan. Zainal memutarkan pergelangan tangannya kembali. Kakinya diangkat dan dilangkahkan pelan, hati-hati dan penuh perhitungan.


Ujung mata Jayaseta akhirnya melihat celah dalam jurus-jurus Zainal tersebut. Sebenarnya, karena tingkatan ilmu mereka memang sudah berbeda, Jayaseta dapat saja menyerang dengan segera. Dalam keadaan pertarungan yang nyata, Jayaseta dapat saja langsung menghambur dengan Bogem Watu Gunung, atau Tendangan Guntur dari Selatan. Tapi, Jurus Tanpa Jurusnya ini bertujuan untuk menyerap ilmu lain, mempelajari dan memperkayanya. Kekalahan Jayaseta adalah ketika ia tak mampu menemukan kelemahan dalam jurus-jurus lawan, atau meniru dan mengambil saripatinya.


Jayaseta maju dengan cepat, namun kemudian bergerak ke samping, ke sisi kiri Zainal. Yang diserang berusaha menghadap Jayaseta, namun langkahnya telah mati. Jayaseta sudah menemukan kapan langkah kaki serupa ayam jantan itu berhenti, kapan diangkat.


Akhirnya, langkah kaki Zainal kurang cepat berubah arah. Jayaseta menyodok paha Zainal dengan sisi telapak kakinya, membuat lawan kehilangan keseimbangan dan jatuh begitu saja ke tanah seperti sebuah balok kayu.


BRUG!


Luar biasa aneh, Zainal tak merasakan sakit yang terlalu, namun tubuhnya susah bergerak. Butuh satu tarikan nafas baginya untuk dapat memperbaiki keadaan dan bersiap bangun.


Keadaan seperti ini bila di sebuah pertarungan hidup dan mati, sudah cukup bagi lawan untuk menyerang Zainal yang sedang dalam keadaan ambruk. Musuh bisa menimpa tubuh Zainal, melesakkan pukulan berkali-kali ke wajah, leher atau tengkuk. Atau, gampang saja bagi Jayaseta menjejak perut, dada dan kepala Zainal dan membuatnya terluka parah atau bahkan tewas.


Zainal bangun perlahan, tak lagi tergesa-gesa. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada dan menunduk menghormat kepada Jayaseta. "Aku kalah, Jayaseta. Silahkan menghadapi kawanku yang lain. Terimakasih atas pelajarannya hari ini," ujarnya lantang.


Jayaseta ikut menghormat dan berterimakasih.

__ADS_1


Tepuk tangan riuh dari rombongan Sukadana, bahkan termasuk Baharuddin Labbiri. Sepasang mata nakalnya bergerak-gerak penuh semangat.


Walaupun kesal dengan rahasia dan ketaktahuan ini, Mansur sang Harimau Kelantan mengencangkan sabuk kainnya, menggaruk jenggot dan kumis tipisnya kemudian maju ke tengah gelanggang. "Ah, aku rasa ini giliranku, bukan?" Ujarnya kepada Zainal yang berpapasan dengannya. Senyum tipis penuh kepuasan sekaligus ejekan kepada Mansur terlukis nyata di wajah Zainal.


__ADS_2