
Pukulan Arthit menderu bagai ratusan kumbang melewati wajah Amin. Pendekar silat tomoi dari Pattani itu masih sempat berkelit ketika serangan balasan Arthit dilancarkan. Namun, sampai disini ia sudah bisa menakar beratnya pukulan lawan. Arthit jelas bukan petarung gelanggang biasa.
"Tapi aku lebih cepat," gumam Amin. Ia menggeser tubuhnya dengan luwes, kemudian kembali menghajar badan lawannya dengan memberikan beban tenaga dalam yang sedikit lebih besar dibanding sebelumnya.
Tendangan menyamping mencoba menghajar pinggang Arthit. Tidak hanya itu, mungkin sebabnya Amin begitu percaya diri. Ia memang lebih cepat dari lawannya. Tendangan ke samping tadi ditambahkan tinju ke dada dan lagi-lagi serangan dengan sisi telapak tangan yang terbuka. Ini diarahkan ke leher Arthit.
Ketiga serangan itu tak ada yang luput. Kesemuanya mengenai tepat sasaran.
Arthit rubuh ke tanah akibat serangan itu, terutama di bagian samping lehernya yang memang cukup kuat. Amin nyata-nyata tidak mau melewatkan kesempatan ini. Tidak hanya menyerang dengan cepat, ia membaluri setiap serangannya dengan tenaga dalam.
Para penonton terkesiap. Baru kali ini mereka melihat sang Muay Paak Kleng bisa diserang segencar itu. Tidak main-main, setiap pukulan dan tendangan lawan menembus pertahanannya. Arthit bahkan tak sempat menangkis.
Apa yang bakal terjadi dengan pendekar gelanggang itu? Pikir semua orang. Lalu, siapakah orang Pattani bernama Amin yang menggabungkan jurus-jurus tomoi, Muay Boran dan tenaga dalam silat Melayu itu?
"Tak penting siapa kau. Yang jelas, aku terpaksa mengakui, aku mendapatkan lawan yang pantas hari ini," ujar Arthit sembari berdiri, seakan menjawab pertanyaan para warga yang menonton pertandingan ini.
__ADS_1
Tepuk tangan langsung saja terdengar riuh rendah, berserta teriakan semangat dan siulan. Hampir semua warga di kampung miskin itu mendukung Arthit. Para pelancong yang lewat pun merasa bahwa sosok Arthit yang sudah menang di pertandingan awal dengan tiga orang sekaligus secara menawan ini pantas untuk kembali menang.
Arthit melemaskan ototnya. Mantra-mantra tak dikenal masih mengalir dari mulutnya. Ada semacam uap hangat keluar dari setiap pori-pori tubuhnya. Serangan bertenaga dalam Amin mengambang di permukaan lapisan kulit Arthit.
Amin sang pendekar petarung gelanggang asal Pattani tak bisa menutupi keterkejutannya. Ia hampir melongo dibuatnya. Bagaimana mungkin tenaga dalamnya yang bisa menghancurkan batu dengan sekali gebrak, memutuskan sebilah golok sekali hentak, dan membelah kayu dengan sekali sentak itu tak memberikan akibat berarti bagi pendekar Siam itu?
"Sial! Aku jauh-jauh kemari ternyata berhadapan dengan seorang dewa," ujar Amin.
Arthit tertawa. "Ah, tak perlu kau sanjung. Kau pun bukan orang biasa, Amin," balas Arthit.
"Aih, aku salah kira. Tapi, hebat pula semangatmu. Aku pikir, sudah saatnya kita kembali melanjutkan pertarungan ini," balas Arthit.
Amin membuat kembang-kembang silat dengan cepat. Ia menarik nafas dalam-dalam sama cepatnya. Gerakan-gerakan ini dileburkan dalam hentakan kaki gaya tomoi.
"Aku akan selesaikan ini dengan sungguh-sungguh. Terpaksa kugunakan keseluruhan tenaga dalamku. Toh aku juga jauh lebih cepat. Kita lihat seberapa kuat kau terus-terusan dapat menerima dan menahan tenaga dalamku," gumam Amin di dalam hati.
__ADS_1
Satu hal yang tak diketahui Amin. Arthit selain memiliki gaya bertarung yang khas dan berbeda, ia juga telah mempelajari ilmu sihir yang membuat tubuhnya dilapisi semacam tameng gaib. Mantra-mantra yang ia rapalkan membuat setiap serangan tenaga dalam Amin yang berasal dari latihan pernafasan nampaknya tak begitu berpengaruh. Ilmu gaib hanya bisa dilawan dengan cara yang gaib pula, atau dengan kecerdasan lawan.
Saat ini, Amin tak memiliki keduanya. Ia tak sadar akan hal tersebut, sehingga tak memiliki cara yang paling tepat untuk mengalahkan Arthit. Ia mungkin hanya mengira Arthit memiliki pertahanan yang baik, mungkin dalam bentuk tenaga dalam pula.
Arthit mengangkat kedua kepalan terbaliknya hampir sejajar di depan dada dan sedikit saja membungkuk.
Ketika Amin maju menderu dengan tinju dan sisi telapak tangan bertenaga dalamnya, Arthit menyongsong dengan tinju lurus ke arah depan.
Telapak tangan Amin retak akibat benturan yang tak ia bisa duga.
Belum sempat ia bisa pulih, Arthit melayangkan tinju khas jurus rahasianya ini. Arthit bergerak cepat ke samping sebagai sebuah gaya tipuan. Saat itulah ia melayangkan tinju dengan sasaran dan penggunaan bagian kepalan yang aneh.
Tinju terbaliknya diputar cepat. Pangkal ibu jari Arthit menghajar mata Amin. Bukannya kepalan atau buku jari, dan bukan pula ke arah wilayah wajah seperti pipi, hidung atau kening, tapi ke salah satu mata lawan.
Pukulan itu menyentak Amin. Meski kelopak matanya menutup cepat, tapi pangkal ibu jari Arthit sudah mampu mengirimkan rasa sakit ke otak dan seluruh syaraf Amin.
__ADS_1
Ia kejang sejenak dan jatuh kaku bagai sebatang kayu. Saat itu ia belum pingsan. Bahkan Amin masih cukup sadar sehingga dengan jelas ia merasakan kejutan rasa sakit yang meletup-letup di sekujur tubuhnya tanpa bisa berbuat apa-apa.