Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran Laut Dangkal Bagian Keempat - Lopes Fransisco de Paula


__ADS_3

Lopes Fransisco de Paula tak habis pikir mengapa dulu ia begitu bodoh, sama seperti masih banyak orang-orang Pranggi, Walanda, Espanyola dan Britania dalam melihat masyarakat di negeri-negeri Melayu ini.


Orang-orang yang tinggal di udara panas ini begitu hebat dan agung. Mereka kuat, berjaya, pandai, bijak dan juga indah.


Lihatlah gadis-gadis langsing bertulang kuat berdaging padat dan molek ini. Tubuh mereka yang liat ditutupi warna kulit gelap kayu dan tanah, kadang terang pula bagai daun tua. Kehalusan lapisan tubuh mereka tiada tara, pikirnya.


De Paula menenggak arak hasil sulingan orang-orang Melayu Malaka. Ia sudah setengah mabuk, meski arak yang diminumnya bukanlah kesukaannya. Ia sangat menikmati arak buatan Betawi yang sudah habis dua hari lalu. Arak sulingan orang Cina Betawi itu memiliki mutu yang tinggi. Ia harus segera mendapatkannya lagi segera.


Tapi, cukuplah untuk hari ini. Sembari terus menenggak minuman keras memabukkan itu, de Paula menikmati iringan nada-nada dan bebunyian dari luar ruangan, sedangkan di dalam kamar yang luas ini ia ditemani tubuh-tubuh perempuan Melayu dan Jawa yang menari-nari di depannya, tanpa busana, hanya selembar selendang yang ditautkan di leher mereka sebagai sarana gerakan. Ia tak mau berbagi keindahan ini dengan siapapun.


Tubuh-tubuh telanjang para gadis itu menebarkan harum yang luar biasa bagi de Paula. Ruangan ini dipenuhi semerbak aroma melati yang bercampur dengan bau tubuh murni mereka, lebih memabukkan dari arak, membangkitkan berahinya.


Orang Pranggi sama seperti semua manusia di muka bumi ini, pikir de Paula. Ada yang jahat, ada yang baik, ada di tengah-tengah, ada yang sedih, ada yang gembira dan bahagia, ada yang miskin, ada yang kaya raya. Ada orang-orang Pranggi yang datang ke negeri ini untuk nama besar dan keagungan negara. Ada dari mereka yang berusaha menyebarkan kabar sukacita dalam agama. Ada yang murni demi kekuasaan dan kekayaan. Sah-sah saja, pikirnya.


Namun ia benci dengan orang yang mengaku mengagungkan negara dan agama, namun sebenarnya hanya kuasa yang ia pinta, hanya kekayaan yang ia harapkan.


De Paula tertawa sendiri. Kikikannya bercampur dengan kikikan gadis-gadis bugil berkulit gelap memesona di depannya yang menari dan bercanda, juga setengah mabuk. Lekukan tubuh mereka yang tegas dan padat, pucuk dada yang menantang dan bagian bawah berbayang gelap benar-benar membuatnya gila. Ia cinta negeri ini, ia ingin mati di tanah subur ini, menjadi pupuk tanaman rempah yang diperebutkan negeri-negeri bule dan mancanegara.


Maka dari itu, untuk tetap di bumi Melayu, ia akan melakukan segalanya. Ia akan membantu negaranya memerangi siapa saja, siapapun yang berniat mengusir Pranggi dari negeri Malaka yang telah mereka kuasai seratusan tahun tersebut.

__ADS_1


Ia tak munafik. Ia benar-benar suka dengan tanah, udara, makanan, rasa tubuh perempuan dan penguasaan akan para lelaki negeri ini. Ia tidak datang demi agama. Ia hanya ingin menikmati dan menguasai semua. Rasa lada dan cengkeh, bau cendana dan barus, panas mentari yang kaya, air yang mengalir jernih. Semua sudah menjadi bagian dari dirinya. Ia tak akan lepaskan sejengkalpun!


Walau memang bukan perkara gampang baginya yang merupakan seorang perwira rendah negara Pranggi.


Seperti yang berkali-kali ia katakan dan yakinkan pada para pejabat dan orang kaya Pranggi di Malaka, para pimpinan tentara dan perwira di atasnya bahwa orang-orang Melayu, Aceh, Toba, Nias, Ambonia, Timor dan Larantuka, Bugis dan Mangkasara, Jawa, Bali, Pasundan, Banjar dan Daya, adalah para petarung handal tanpa rasa takut.


Para laki-laki negeri-negeri ini sangat kuat dan lihai bertarung. Di tanah, di laut, di gunung, di sungai, di hutan ... Kekuasaan para bule selalu dirongrong, tak pernah tenang. Bagaimana tidak, de Paula melihat dengan mata kepala sendiri pasukan nusantara yang kebal pel*uru dan senjata tajam, sekuat baju baja pasukan Pranggi.


Keberanian mereka membela budaya, adat, agama dan bumi yang mereka pijak tiada bandingannya.


Bila tidak karena satu-satunya kelemahan mereka, negeri manapun tak akan dapat menyentuh tanah mereka seujung jaripun. Ya, satu-satunya kelemahan mereka adalah mudah diadudomba. Mereka memiliki darah yang panas, kerap mudah tersulut amarah. Tak peduli bila lawan mereka adalah satu agama, satu budaya, bahkan satu darah. Semua kerajaan kecil dan besar memiliki kepentingan masing-masing.


Di sisi lain, Kerajaan Aceh yang sedang naik daun juga menancapkan kuku-kuku kekuasaannya di sepanjang pulau dan kepulauan Melayu.


Peperangan terus terjadi antar negara dan kerajaan, besar dan kecil, bahkan jauh sebelum bangsa bule berdatangan mencium aroma rempah. Mereka kemudian datang dengan melihat dan mengamati peta perang dan permusuhan untuk ambil bagian atau sama sekali menghindar.


De Paula ingat bahwa kegagalan serangan Mataram ke Betawi salah satunya adalah karena Pranggi ingkar janji untuk ikut membantu penyerangan dari laut. Mataram lupa sejarah bahwa Demak pernah bermusuhan dengan Pranggi, bahkan menyerang Malaka yang diduduki negeri itu dahulu. Mau bagaimana lagi, toh Mataram adalah pengganti kekuatan di tanah Jawa. Meski, harusnya Pranggi dulu ikut membantu serangan pasukan Mataram terhadap Walanda di Betawi, karena sekarang, Walanda mulai gatal mengincar Malaka, tempat de Paula bernaung. Dan sama seperti negara-negara bule lain, Walanda pun bermain-main peran dengan negara-negara Melayu untuk mencari celah menundukkan Pranggi di Malaka. Kesultanan Johor-Riau lah yang menjadi rekan mereka.


Kesultanan Melayu itu dibangun dari keturunan Sultan Malaka yang terusir, maka jelas mereka merasa masih berhak atas wilayah Melayu yang semula dikuasai Kesultanan Malaka di masa lalu.

__ADS_1


Rumit, namun akan menjadi menyenangkan bila peta ini dikuasai dengan baik.


Lopes Fransico de Paula tertawa. Arak mengalir keluar dari sela-sela mulutnya. Mungkin ia sudah hampir benar-benar mabuk, namun otaknya tetap jernih terus bekerja dengan ilmu hitung dan rencana-rencana besar.


Ia berusaha bangun, namun terjatuh. Ia tertawa keras, diikuti tawa para perempuan bertubuh polos itu. Ia bangun lagi dan dengan sempoyongan memeluk sekaligus dua perempuan. Ketiganya jatuh sembari terus tertawa.


Berahi sudah menumpuk di pucuk kepala pria Pranggi ini. Kumis dan janggut tebal pirangnya basah oleh cairan memabukkan, namun tanpa pikir-pikir lagi, ia membenamkan wajahnya ke dada para perempuan-perempuan yang tertawa pasrah sekaligus nikmat itu.


***


Itu terjadi beberapa hari yang lalu. Lopes Fransisco de Paula sudah mulai merindukan arak dan perempuan-perempuan tak berbusana itu lagi.


Tapi ia sekarang sedang bertugas. Ia mengemban tugas besar dari negara: mengadu bangsa-bangsa di tanah nusantara ini agar hancur sendiri sehingga Walanda kelak kehilangan bantuan dan dukungan, kekuatan dan nyali untuk mengutak-atik Malaka.


Kejadian di perairan dangkal ini hanya contoh kecil, permainan bidaknya yang indah.


Ia sendiri berdiri menyamar di atas geladak kapal bergaya Mangkasara, mengenakan pakaian dan ikat kepala pribumi meski kulit pucatnya tak bisa membohongi perbedaan dengan orang-orang setempat dan bumiputra. Satu matanya berada di teropong, menyaksikan tontonan luar biasa yang sedang terjadi di atas permukaan laut dangkal.


Di belakangnya, barisan pendekar pribumi berbakti kepadanya, bersumpah setia sampai mati di bawah pimpinannya. Para pendekar Aceh, Toba, bekas budak Nias, pendekar dan perompak Bugis dan Mangkasara, awak kapal yang juga merupakan pendekar-pendekar Bali, beberapa pasukan penembak dari Ambonia dan Flores, serta nakhoda asal Semarang berkumpul siap menerima perintah.

__ADS_1


__ADS_2