
Jayaseta merendahkan tubuhnya ketika tebasan Do mengarah ke kepalanya. Dengan kesempatan ini, ia membenamkan tusuk konde emas milik Dara Cempaka ke paha penyerangnya. Teriakan tertahan terdengar di gelapnya malam, disusul tubuhnya yang ambruk.
Dengan tangan kanan yang tak memegang konde ini, Jayaseta membentuk sayap Garuda dan menampar dagu penyerang lainnya yang sempat terkejut karena terciprat air rawa melalui sepakat Jayaseta tadi. Ia terjengkang oleh Garuda Nglayang Jayaseta.
Penyerang terakhir memburu Jayaseta dengan kibasan Do nya yang lagi-lagi menyasar ke kepalanya. Tangan Jayaseta yang bebas dioleskan ke dadanya sendiri yang berlumuran darah. Jayaseta menyipratkan cairan merah itu ke wajah musuh.
Sang pengayau tak menyangka dengan serang semacam ini. Ia terlambat berkelit atau menangkis ketika beberapa tetes darah Jayaseta masuk ke kedua matanya. Ia sendiri juga kemudian terjungkal karena tendangan Guntur dari Selatan Jayaseta yang diarahkan ke pahanya.
Dengan keadaan bebas halangan inilah Jayaseta melesat maju ke arah Karsa.
Tangan kiri Jayaseta masih menggenggam satu batang konde emas runcing Dara Cempaka.
Karsa tersenyum. Ia sudah siap dengan kedatangan sang pendekar. Ia mengangkat pedangnya, siap menahan laju serangan Jayaseta.
SLEP!
Sepasang mata Karsa yang kekuningan dan berminyak karena usia itu membelalak lebar. Ia tak menyangka Jayaseta bergerak secepat burung alap-alap. Perkiraan Karsa sama sekali salah. Bahkan sebelum Karsa memasang kuda-kuda, Jayaseta telah dahulu mencelat dan menancapkan konde emas itu tepat di tenggorokannya.
Karsa membabat Jayaseta dan menemui udara kosong. Jayaseta telah berguling dan menjauh.
Konde itu membolongi tenggorokan Karsa. "Bha ... Gi... Nghaan...," Karsa memaki dengan suaranya yang tercekat dan kata yang tak terucap dengan jelas. Ia mencabut konde di lehernya dan membuang benda itu ke tanah berawa. Darah mengalir dari lobang yang diakibatkannya.
Jayaseta melihat luka itu perlahan sembuh, memulih seperti sedia kala. "Aku hanya ingin mengingatkan engkau, Karsa. Bahwa tanpa ilmu hitam rawarontek yang kau miliki, kau bukan siapa-siapa. Kau mati oleh Tuan Nio, kau mati oleh Datuk Mas Kuning, dan kau mati olehku. Jangan terlalu berharap dengan ilmu iblis semacam itu," suara Jayaseta sangat tenang. Walau terdengar sombong dan percaya diri, sebenarnya ucapan Jayaseta lebih kepada omelan seorang guru pada muridnya. Ia seperti hendak memberikan pelajaran pada anak muridnya yang nakal dan mbalelo, bukannya ucapan seorang pendekar jumawa.
Karsa berdehem dan meraba tenggorokannya.
Karsa membabat Jayaseta dan menemui udara kosong. Jayaseta telah berguling dan menjauh.
Konde itu membolongi tenggorokan Karsa. "Bha ... Gi... Nghaan...," Karsa memaki dengan suaranya yang tercekat dan kata yang tak terucap dengan jelas. Ia mencabut konde di lehernya dan membuang benda itu ke tanah berawa. Darah mengalir dari lobang yang diakibatkannya.
Jayaseta melihat luka itu perlahan sembuh, memulih seperti sedia kala. "Aku hanya ingin mengingatkan engkau, Karsa. Bahwa tanpa ilmu hitam rawarontek yang kau miliki, kau bukan siapa-siapa. Kau mati oleh Tuan Nio, kau mati oleh Datuk Mas Kuning, dan kau mati olehku. Jangan terlalu berharap dengan ilmu iblis semacam itu," suara Jayaseta sangat tenang. Walau terdengar sombong dan percaya diri, sebenarnya ucapan Jayaseta lebih kepada omelan seorang guru pada muridnya. Ia seperti hendak memberikan pelajaran pada anak muridnya yang nakal dan mbalelo, bukannya ucapan seorang pendekar jumawa.
__ADS_1
Karsa berdehem dan meraba tenggorokannya. "Terserah apapun katamu, pendekar. Tapi malam ini aku tak akan pergi sebelum melepaskan jiwa dari ragamu!" Karsa hendak menyerang Jayaseta ketika ia dicegah oleh salah seorang pengayau yang tadi tertusuk di pahanya.
Konde itu telah hilang dari pahanya. Ia sendiri sudah berdiri tegak kembali. "Kau boleh membunuhnya nanti, Karsa. Seperti yang kau mau. Tapi kami mau menjajal orang ini dahulu. Ia sudah melukai kami bertiga, harga diri kami tepatnya. Kalau ia tak sengaja kami bunuh, kau yang ambil kepalanya. Akan kami katakan kepada semua orang bahwa kau lah yang membunuhnya."
Karsa hendak membantah. Ia sudah menunggu pertarungan ini lama sekali. Bahkan ia harus mati terlebih dahulu untuk bangkit dan menemui Jayaseta. Namun di sisi lain, ia tahu kehebatan Jayaseta sehingga ia tak khawatir ketiga pengayau itu akan berhasil membunuhnya. Alih-alih mengayau Jayaseta, Karsa berani bertaruh ketiga prajurit Daya ini akan dapat dilumpuhkan walau ketiganya juga bukan orang sembarangan.
Karsa akhirnya menerima kemauan mereka. Ia undur diri dan menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon.
Ketiga pengayau memusatkan perhatian mereka pada Jayaseta. Mereka akan bersungguh-sungguh kali ini. Rupa-rupanya kabar burung yang menceritakan kehebatan pendekar ini bukan isapan jempol belaka.
Ketiganya memasang kuda-kuda rendah. Do mereka mainkan dengan memutar-mutarkannya sembari bergeser berganti letak langkah dengan gerakan pinggul, bagai gerakan seekor burung atau unggas.
Dara Cempaka merasa harusnya ia cemas. Jayaseta menghadapi tiga orang jago ilmu jurus-jurus kinyah untuk mengayau dari suku pedalaman serta seorang Karsa yang bahkan sudah melukai datuknya. Sedangkan, Jayaseta pantang menggunakan tenaga dalam serta tubuhnya masih dalam keadaan yang belum benar-benar pulih akibat dirajah.
Namun entah mengapa, Dara Cempaka sedikit yakin bahwa Jayaseta akan mampu menghadapi mereka semua. Ia merasa aman dan nyaman berada di sisi sang pendekar muda tersebut.
***
Saat itu pula ia mendengar dua orang prajurit yang ikut bersamanya berteriak keras, "Kyaaakk ...," bagai dua ekor burung gagak. Bukan teriakan kesakitan, tapi teriakan semangat perang. Mereka membabat satu penyerang lagi yang memegang sumpit. Tubuhnya dicincang dari kiri dan kanan sampai berbentuk layaknya cacahan gedebok pisang saja.
Rombongan Punyan melihat dua orang pemyerang lagi telah tewas. Mereka termasuk penyumpit yang mati terkena serangan sumpitan balasan dari benteng kayu kampung tersebut.
Dua orang prajurit mendekat ke kedua mayat musuh tersebut, menggenggam rambut mereka dan memengal kepala keduanya.
Punyan dan rekan-rekannya memandang berkeliling.
Sepi!
Tak ada lagi penyerang. Berarti hanya ada empat penyerang yang terdiri dari tiga penyumpit dan satu penyerang dengan Do.
Kepekaan naluri Punyan merasakan sesuatu yang salah. Tak mungkin mereka menyerang sebuah benteng sebesar milik kampungnya hanya dengan empat orang, dengan kemampuan rendah pula.
__ADS_1
"Sial! Mereka menipu kita. Kembali ke benteng!" perintah Punyan.
Benar saja. Api berkobar dan asap hitam mengepul tinggi dari dalam benteng.
Punyan berlari bagai dikejar setan. Ia melompati tangga kayu dan mendobrak pintu. Para prajurit penjaga di depan benteng sudah tak terlihat keberadaannya sama sekali. Nampaknya mereka terlebih dahulu berlari masuk ke dalam kampung di balik benteng.
Punyan tak dapat melihat jelas. Pandangannya tertutup asap tebal. Ia mencium bau daging terbakar. Teriakan pedih, takut dan kesakitan mulai sayup terdengar.
Punyan melompat masuk menerobos kepulan asap diikuti rekan-rekannya yang tadi bertugas menyergap para penyerang dengan sumpit.
***
Jayaseta sudah menemukan gaya bertarungnya. Ilmu silat Melayu yang diajarkan sang Datuk membuat Jurus Tanpa Jurusnya semakin meningkat. Ia tak lagi sekadar meniru jurus musuh, namun benar-benar menyerapnya ke dalam gerakannya sendiri. Intisari dari jurus musuh dapat digunakan sebagai penawar serangan musuh itu sendiri serta melipatgandakan kemampuan bertarungnya.
Apalagi, ia bertekad tak menggunakan tenaga dalam barang sedikit.
Ketiga pengayau memutar-mutarkan Do mereka dan mengepung Jayaseta.
Jayaseta tak bersenjata. Ia membiarkan tubuhnya tenang. Luka rajahannya berdenyut perih, mengirimkan rasa sakit itu ke otaknya.
"Kyaaaakkk...!!" serangan cepat secara tiba-tiba dilancarkan satu pengayau menyasar ke perut Jayaseta.
Ilmu silat Patani membuat kepekaannya bertambah. Jayaseta mengelak dengan gemulai. Do tersebut lolos dari sasaran namun kembali berbalik arah ingin menebas bahu Jayaseta.
Yang diserang berputar, menepis lengan penyerang, menghajar tenggorokan musuh dan menendang keras dada sang prajurit.
SRET!
Jayaseta batal melanjutkan serangan. Celana pangsinya robek di salah satu bagian. Untung ia segera menghindar sehingga serangan Do prajurit Daya lain tak sempat mengenai kulitnya.
Karsa menancapkan pedangnya ke tanah berawa yang berair itu kemudian bertepuk tangan dan tertawa kegirangan bagai orang gila melihat pemandangan di depannya seperti melihat sebuah pertunjukan yang indah.
__ADS_1