
Sasangka seperti menari dengan gaya tiga jurusnya. Pengalaman di atas kapal selama bertahun-tahun membuatnya mendapatkan keuntungan dalam banyak hal. Ia paham sekali dengan setiap sudut geladak kapal, termasuk pengetahuan tentang angin, arus sampai cuaca.
Dua orang perompak Đại Việt yang menyerang dengan tombak mereka, seperti biasa, dalam tiga jurus saja langsung menggelepar di lantai papan kayu geladak kapal. Sasangka dengan luwes menghindari tusuk lurus yang dilancarkan secara bersamaan. Satu wedhungnya menepis tombak dengan bagian sisi, sedangkan sepasang wedhung lainnya yang saling menempel di hulunya diputar dalam sekali gerak sehingga menjadi semacam kitiran, memuntirkan tusukan lurus musuh sehingga hilang keseimbangan. Saat itulah serangan balasan penutup Sasangka dilakukan dalam satu sabetan panjang yang melukai dada dua penyerangnya.
Tombak jatuh, kedua penyerang juga terlentang karena luka sobekan besar di dada mereka. Saat itulah nyawa mereka benar-benar meninggalkan raga karena prajurit Lan Xang menusuki mereka dengan ganas, bagai menombaki ikan saja. Darah bermuncratan di atas kapal.
Para prajurit Lan Xang ini ternyata terlalu terbawa nafsu belaka. Mereka tidak memiliki perintah dan cara yang tertata dalam melawan musuh. Mungkin sekali karena tak menyangka akan diserang oleh lawan sebanyak itu. Ketika Sasangka telah berhasil menumbangkan beberapa dari pasukan penyerang Đại Việt dan Champa serta meminta mereka memotongi tali yang digunakan lawan untuk memanjat kapal, prajurit-prajurit Lan Xang nampaknya terlalu percaya diri.
Dengan liar, ganas, tetapi ceroboh, mereka menyerang secara acak dan penuh nafsu setiap musuh yang terpisah dari teman-teman mereka yang gagal naik ke kapal atau terluka oleh serangan sosok pendekar tak dikenal yang menutupi mulutnya dengan kain dan menggunakan senjata tiga buat belati dalam dua tangan itu.
"Aku tak percaya betapa bodohnya kalian!" seru Sasangka. Orang-orang ini sama sekali tidak seperti para pengawal kapal seperti dirinya dan rombongan teman-temannya dahulu yang juga bekerja sebagai prajurit bayaran yang ditugaskan menjaga kapal dari serangan perompak.
Benar saja, para prajurit Lan Xang nyatanya tak memerhatikan dengan seksama bahwa serangan musuh sama sekali belum berhenti. Lemparan lembing malah semakin menjadi sebagai jalan agar para perompak itu untuk dapat menaiki kapal.
Salah satu prajurit Lan Xang yang tadi menusuki perompak yang dirobohkan Sasangka menyusul ke akhirat karena lehernya tertembus lembing yang dilemparkan dari atas perahu penyerang. Tidak hanya itu, dua prajurit penjaga meriam terkena lembing yang menyobek betis, paha dan bahu mereka.
"Bodoh! Perhatikan saja serangan lembing dan orang-orang yang sedang menaiki kapal. Aku yang akan melawan mereka yang telah terlanjur naik!" teriak Sasangka. Ia merasa konyol ketika sadar bahwa kata-katanya tak mungkin dipahami siapapun di kapal itu.
Satu orang perompak Đại Việt menggunakan kesempatan itu untuk membokong Sasangka dengan tombaknya.
__ADS_1
Sasangka berkelit dengan satu gerakan sederhana, menepis tombak itu sekaligus berniat menyelesaikan serangan itu dengan serangan balasan menggunakan tusukan wedhung di sisi tangannya yang lain.
Diluar dugaan Sasangka, sang perompak berhasil menarik tombak sekaligus tubuhnya setengah langkah ke belakang. Ujung wedhung Sasangkan sejengkal saja dari tubuh sang perompak.
Serangan Sasangka dibalas dengan lemparan tombak lawan secara mendadak. Kepekaan kependekaran Sasangka membuatnya dengan cekatan memapras batang kayu tombak itu sehingga terbelah dua. Sialnya, ujung dengan mata tombaknya terus meluncur dan melukai salah satu prajurit Lan Xang di bagian bahu saking kuatnya lemparan sang prajurit.
Rupa-rupanya, prajurit Đại Việt yang ini bukan perompak biasa. Ilmu kanuragannya perlu diperhitungkan Sasangka. Cara ia menghindari tusukan Sasangka dan melemparkan tombak dengan kekuatan tertentu sampai patahannya masih meluncur serta melukai prajurit lain, jelas menunjukkan kemampuan silatnya.
Sasangka memandang ke arah prajurit Lan Xang yang mencabut mata tombak itu dari bahunya sambil merengek kesakitan.
"Salahmu sendiri tak memerhatikan sekeliling," seru Sasangka. Ia tak peduli lagi bila kata-katanya tak dimengerti prajurit itu.
Sasangka memerhatikan pedang melengkung yang telah banyak rompal di beberapa bagian matanya itu menunjukkan seberapa banyak pengalaman bertarung orang ini. Pedang tersebut jelas bergaya Jepun, sangat mirip dengan katana. Yang membedakan adalah gagangnya yang sedikit lebih pendek dari katana dan jelas menyesuaikan dengan gaya silat orang Đại Việt ini, dilihat dari kuda-kudanya.
Sang perompak Đại Việt bertubuh pendek dan kecil. Pakaian atasnya berlengan pendek dan berkancing. Meski berikat pinggang dari kain sutra, ia hanya mengenakan cawat. Sabuk sutra itu kemungkinan adalah tempat ia menyelipkan atau menggantungkan pedang melengkung itu. Sedangkan cukup wajar ia hanya mengenakan bawahan berupa cawat. Perompak di lautan memerlukan gerak yang ringkas dan cepat. Apalagi mereka menggunakan perahu yang lebih kecil, sehingga harus berenang cepat. Tubuh mereka yang kecil akan menyulitkan pergerakan bila busana mereka terlalu berat karena basah.
Sang perompak Đại Việt memandang tajam ke arah Sasangka. Wajahnya masih terlihat muda, tidak bengis, tetapi kekejaman terlukis dalam sunggingan dinginnya.
__ADS_1
Ia mengangkat pedangnya sejengkal ke atas, kemudian berseru ke arah Sasangka dengan bahasa Melayu berlogat aneh. "Cukup berpura-pura menjadi Pendekar Topeng Seribu, Sasangka. Kau tak pantas untuk mengemban namanya."
Sasangka tersentak. Ia terkejut setengah mati dengan apa yang baru saja ia dengar.
______________________________________________
Mohon dukungan para pembaca di cerita misteri/thriller/horor saya yang lain, yang saya tulis di laman gwp.id berjudul 'enam'.
Novel tersebut sedang diikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis. Silahkan nikmati dan dukung dengan membaca, vote dan komen.
...
...
...Seberapa besar kalian mengenal sahabat kalian?...
Enam orang sahabat berkumpul lagi setelah setahun tak bertemu. Mereka kembali merajut keakraban dan tawa setelah sebuah kejadian di masa lalu melelehkan ikatan emosional diantara mereka. Namun, perjalanan yang seharusnya menjadi sebuah liburan padat akan hasrat persahabatan itu harus melalui beragam hal misterius bahkan mengerikan. Nampaknya masa lalu kembali menghantui mereka. Perlahan setiap anggota kelompok ini menunjukkan jati diri mereka sebenarnya.
__ADS_1
Link: https://gwp.id/story/128861/enam