Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu


__ADS_3

Dara Cempaka menggelayut dalam gendongan lengan kekar Jayaseta. Tubuhnya tadi sempat tak bisa digerakkan sama sekali, namun ia masij bisa merasakan dengan panca inderanya. Ia dapat membaui, mendengar, dan melihat segala sesuatu di sekitarnya. Seakan ia berada dalam penjara, dimana ia masih hidup namun tak memiliki kuasa akan hidupnya sendiri.


Sekarang, dalam gendongan Jayaseta, rasa lemah dan perasaan terkurungnya masih datang dan pergi, berkedip-kedip bagai bara. Namun ia sangat lega, karena dalam hatinya tak ada rasa takut bila Jayaseta ada di sisinya.


***


Temenggung Beruang akhirnya wafat, tak berapa lama setelah putranya, Punyan, datang dan melaporkan bahwa kampung mereka telah selamat dan para Biaju telah berhasil diusir dengan terlebih dahulu menghabisi pentolan-pentolan nya, termasuk Panglima Asuam.


Temenggung Beruang menepati janjinya. Ia berpulang setelah apai dan Jayaseta selesai menghadapi lawan-lawannya, seakan sang Temenggung memang menunda sementara kematiannya.


***


"Aku mewakili suku dan perkampungan ini menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya. Mendiang apai Temenggung Beruang juga pasti akan merasakan hal sama terhadap kalian, para tetamu kami," ujar Punya sehari setelah semua orang bahu-membahu saling bantu menguburkan korban dan membereskan kekacauan sebisanya.


Berdiri di depan Punyan dan para penduduk, Jayaseta, Dara Cempaka, Ireng, Siam, Katilapan, Narendra dan sedikit orang Jawa yang membantu pertarungan tempo hari.


"Kami minta maaf tak bisa memberi kalian hal lebih, bahkan aku secara pribadi meminta maaf untuk segala kerugian yang kalian dapatkan dan terima dalam peperangan. Yakinlah, tindakan kalian ini tak akan terlupakan olehku," lanjut sang ketua kampung sekaligus pemimpin suku yang baru tersebut.


"Sesuai dengan amanat apai, dalam waktu dekat, aku akan memimpin warga kampung untuk berpindah ke arah Utara," terdengar riuh rendah warga berbisik-bisik. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka mengenai hal ini. "Tak banyak yang bisa aku sampaikan lebih jauh secara pribadi. Inilah kehidupan. Mungkin jalan ini yang telah diberikan sang Jubata dan harus kita jalani."


***


Jayaseta terngiang-ngiang dengan ucapan Temenggung Beruang sebelum ia berpulang mengenai dosa dan kutukan terhadap kampung ini. Jayaseta enggan menampik bahwa mungkin ia adalah penyumbang kehancuran desa karena perbuatan buruk yang ia lakukan bersama Dara Cempaka, menodai kesucian kampung.


"Aku tahu apai pastilah pernah berbicara denganmu dari hati ke hati, meski aku tak tahu apa yang kalian bicarakan. Apai memang selalu seperti itu, menyampaikan sesuatu dengan cara yang paling pribadi. Tapi, apapun itu, Jayaseta, aku yakin apai tak pernah menyalahkan apapun yang telah terjadi. Apa yang terjadi pada kampung ini memang sudah digariskan oleh Yang Kuasa dan Pemilik Kehidupan. Kita terlibat, kita juga bertanggungjawab pada apapun yang kita jalani, namun bukan berarti kita yang bersalah," ujar Punyan seakan dapat membaca pikiran Jayaseta, ketika mereka memiliki waktu berdua.

__ADS_1


"Maka, tanggung jawabmu sekarang ada pada Dara Cempaka. Aku tahu aku terlibat dalam kejadian tersebut, bukan? Namun ....,"


"Aku paham, Punyan. Tanggung jawabmu yang lebih besar ada pada sukumu. Kita tak bisa menghindari keterlibatan kita dalam masalah-masalah yang lain," potong Jayaseta.


Dosa Jayaseta yang paling ia sesali adalah bahwasanya sekarang Dara Cempaka lah yang mengalami kutukan ilmu sihir Cuca Bangkai, serupa dengan dirinya dahulu yang menderita luka dalam karena kutukan tombak pusaka Kyai Ageng Plered.


Cuca Bangkai yang ada pada tubuh Dara Cempaka hanyalah sebagai kecil tenaga sihir yang terhempas ke tubuhnya. Sebagian hancur ditepis Punyan, sebagian lagi berhasil ditaklukkan Jayaseta yang sudah matang ilmu tenaga dalamnya serta mungkin sudah kebal dengan beragam jenis serangan luka dalam. Sayangnya, sekelumit tenaga sihir mengenai Dara Cempaka.


Gadis itu tak mengenal olah kanuragan ilmu tenaga dalam. Walaupun ia belajar pernafasan dan mungkin sedikit menyinggung penggunaan tenaga dalam dalam tubuhnya, itu sama sekali tidak cukup.


Bantuan mantra Punyan dan tenaga dalam Jayaseta memang ternyata hanya menahan ilmu sihir itu sementara. Cuca Bangkai menjadi semacam penyakit kambuhan dalam tubuh Dara Cempaka. Ia memerlukan obat yang paling mujarab serta ia sendiri harus mampu menjaga diri dan mengolah tubuh.


Lalu bagaimana dengan obat atau cara yang dapat menyembuhkan sepenuhnya luka dalam Dara Cempaka tersebut?


Jayaseta akan kembali ke Sukadana, mengurus segalanya, termasuk berbicara kepada sang Datuk termasuk kedua orangtua Dara Cempaka, untuk menikahi gadis itu.


Setelahnya, ia akan memikirkan dengan baik tentang sebuah penyelesaian yang paling tepat untuk masalah ini.


"Apai pernah berkata, Cuca Bangkai digunakan pula di tanah orang-orang Siam dii Ayutthaya, Jayaseta. Ada sebuah cerita yang apai tak sempat utarakan padaku secara lebih lengkap. Namun, apai juga menjelaskan bahwa sahabatnya, Datuk Mas Kuning, cukup mengetahui lanjutan cerita tersebut. Sudah jelas kau harus kembali dan bertanya langsung kepadanya," ujar Punyan.


Ada secercah rasa menyesal dan prihatin dengan keadaan Dara Cempaka dalam diri Punyan yang cukup terlihat. Namun, apa mau dikata, bahkan Jayaseta paham bahwa mereka berdua telah memiliki tanggungjawab dan tugas masing-masing.


***


Karsa masih terikat erat. Ia bersimpuh dan tertunduk. Lehernya sudah terjulur. Entah karena ia telah siap dengan akibatnya, atau karena pasrah tak mngkin melakukan apa-apa lagi.

__ADS_1


Para warga menonton adegan tersebut. Tepat di lapangan tanah di tengah-tengah bangunan rumah dan kandang yang habis terbakar. Bahkan asap masih kadang muncul karena bara yang tertiup angin.


Karsa terkekeh, "Kalian pasti senang sekali akhirnya dapat membunuh Sang Penyair Baka, bukan? Sudah lama orang tua ini menakuti hidup kalian dengan kemunculannya yang agung. Ia mati berkali-kali hanya untuk hidup dan mengirim yang hidup ke alam baka, tempat sebelumnya ia bersemangat," ujar Karsa panjang lebar.


Kesombongannya tak pernah benar-benar hilang dari jiwanya, meski ia sadar bahwa kematiannya kali ini adalah kematiannya yang terakhir. Ia kemungkinan besar tak akan bangkit dan hidup kembali seperti sedia kala.


Punyan maju. Di tangan kanannya ada mandau mantikei yang dikembalikan oleh Jayaseta yang sebelumnya dipinjamkan kepada Dara Cempaka. Jayaseta berpikiran bahwa senjata itu bagaimanapun lebih pantas digunakan oleh sang kepala suku, yaitu Punyan.


"Aku tahu kau tak takut mati. Hanya saja kau perlu ingat baik-baik bahwa kejadian ini disebabkan oleh pengkhianatan oleh orang dekatmu sendiri, dan kau mati sama sekali dengan tak terhormat. Bukan aku atau Jayaseta, atau pendekar hebat lainnya yang membunuhmu. Kau tewas karena siap dihukum mati. Lagipula, aku membunuhmu bukan karena dendam atau kesukaan, tapi karena sudah sebuah keharusan," balas Punyan.


Mendengar kata-kata kepala suku baru itu, Karsa menjadi begitu geram. Ada sesuatu yang menusuk-nusuk perasaannya. Rasa malu dan kekecewaan yang luar biasa karena dibokong seorang tabib Cina tanpa sepengetahuan cucunya, dan akhirnya harus mati dalam sebuah hukuman.


Karsa berteriak marah dan siap bangun untuk melawan.


Namun tubuhnya ambruk tanpa kepala ketika Punyan menebas lehernya dengan sekali ayun menggunakan mandau dari logam mantikei itu.


Tubuh Karsa dibakar si sebuah tiang kayu sampai benar-benar menjadi abu. Kepalanya menyusul dibakar di tempat yang lain.


Abu dari tubuh dan kepala Karsa ditebar di sungai yang berbeda. Mereka paham bahwa jasad Karsa tak mungkin untuk kembali menjadi satu. Namun, tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga.


Herannya lagi, tidak ada perasaan puas, senang dan menang berlebihan dari penduduk kampung atas tewasnya Karsa dan kalahnya para penyerang Biaju. Bagi mereka, benar kata pepatah, 'Menang jadi arang, kalah jadi abu.'


Tiada hal yang baik dihasilkan dari sebuah perang.


Perjalanan mereka masih menjadi panjang karena akan hijrah ke sebuah tempat baru. Peperangan akan selalu ada dan menanti di depan mata, namun itu adalah hal yang harus mereka hadapi. Jalan nasib dan takdir harus dijalani.

__ADS_1


__ADS_2