Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Racun


__ADS_3

“Kanan!” perintah Lâm dalam bisikan. Langsung saja perompak sebelah kanannya melemparkan lembingnya dengan cepat ke arah Jayaseta yang terlihat masih berdiam diri. Batang tombak itu melayang tajam ke arah sang pendekar bertopeng.


Jayaseta bergerak cepat untuk menghindar. Namun gerakannya tertahan oleh sebuah serangan lagi dari musuh.


“Kiri!” teriak perinta Lâm yang kali ini suaranya sedikit lebih nyaring.


Sebatang tombak kembali terbang ke arahnya dari sisi berbeda. Saat itu pula Lâmberguling ke depan dan melemparkan sebuah pisau rahasia dari tangan kirinya.


Jayaseta terpaksa menepis tombak dengan tangan kiri kemudian bergeser mundur kemudian menyamping dengan sama cepatnya untuk menghindari lemparan satu tumbak lainnya.


Ketika pisau Lâm menghujam ke arahnya, Jayaseta melompat melayang ke belakang bagai seekor bajing. Pisau Lâmmelewati bawah tubuhnya dan menancap di sebatang pohon.


Jayaseta menggunakan kesempatan ini untuk mencoba menyerang. Tubuhnya langsung mumbul dan melaju ke depan.


“Kanan dan kiri!” teriak Lâm lagi.

__ADS_1


Dua batang tombak kembali terlempar cepat ke arah Jayaseta yang sedang melaju maju menyerang. Dengan cekatan Jayaseta menepis satu tombak dengan tangan kanannya, dan satunya lagi ditepuk dengan menggunakan


telapak tangan kirinya, bagian dari rangkaian jurus Garuda Nglayang yang telah dilebur dalam Jurus Tanpa Jurus. Kedua tombak terlempar jauh.


Satu pisau hanya sedepa saja jaraknya di depan wajah Jayaseta mendadak terlihat.


PLAK!


Dengan terpaksa Jayaseta mengalirkan tenaga dalam murninya untuk mencegah senjata itu mengenai tubuhnya.


Pisau terlontar jauh, tetapi ada secarik garis panjang di lengan Jayaseta akibat luka goresan pisau tadi. Darah mengalir tak terlalu deras dari luka panjang tersebut. Jayaseta meradang. Ia terkejut karena tenaga dalam nya ternyata tidak bekerja.


Hal ini membuat dirinya begitu terkejut. Sebuah tanda tanya besar. Memang ia tidak tadi tidak terlalu menggunakan tenaga dalamnya dengan berlebihan. Sebilah pisau masih bisa ditepis dengan telapak tangannya yang dilapisi hawa murni. Ternyata, ia masih bila terluka.


Tenaga dalamnya hanya untuk melapisi kedua tangan. Lagipula tetap memerlukan sebuah gerakan cepat dan lihai untuk dapat menggunakan tenaga dalam dengan baik. Namun, ketika Jayaseta dapat terluka, menunjukkan bahwa Lâm diam-diam memiliki kemampuan silat jurus-jurus lemparan yang mumpuni.

__ADS_1


Tidak bisa dibiarkan! Pikir Jayaseta. Ia tak bisa membolehkan sang musuh merasa unggul darinya dengan berhasil melukai lengannya. Jayaseta menunduk dan mempersiapkan kembali kuda-kudanya. Namun, mendadak kakinya terasa oleng dan kepalanya puyeng.


“Bedabah! Pisau beracun!” seru Jayaseta dalam hati. “Mengapa aku tak memikirkan kemungkinan ini sebelumnya?”


lanjut Jayaseta di dalam dirinya sendiri dengan menyesal. Ia merasa ceroboh dan sekali lagi terlalu jemawa.


Di sudut lain, Lâm tersenyum. Ia dapat melihat semakin jelas ke arah Jayaseta. Sang pendekar terlihat sedang mulai merasakan racun yang berasal dari mata pisau rahasianya.


“Persiapkan diri kalian lagi. Kita masih memiliki dua batang tombak, dan aku juga masih memiliki beberapa pisau. Sesuai aba-abaku, kita akan serang secara bersamaan. Kalian yang tidak lagi memegang tombak harus menyerang dengan belati kalian. Ia sudah terkena pisauku,” ujar Lâm kepada para bawahannya.


Jayaseta sendiri langsung menggunakan tenaga dalamnya untuk menahan racun agar tak menyebar ke dalam tubuhnya. Sewaktu dahulu racun kutukan tombak Kyai Ageng Plered masih menempel di dalam raganya, racun


bukanlah hal yang sulit untuk ditangani. Namun, dahulu, racun akan menjadi sebab kutukan tombak pusaka itu akan mengambil alih kesadarannya.


Jayaseta sekarang adalah seorang pendekar yang sudah berada di tingkatan atas. Racun ini sebenarnya tidak bermasalah baginya. Ia hanya merasa kesal karena sampai tertipu, apalagi ia merasa ini adalah karena kecerobohannya sendiri. Hawa murni meresap masuk ke dalam setiap jengkal tubuhnya dan menangkap racun yang masuk melalui luka di lengannya tersebut.

__ADS_1


Sesuai perintah Lâm, dua perompak terakhir yang menggenggam tombak maju melaju dan melontarkan dua lembing mereka secara bersamaan ke arah Jayaseta. Lâm juga menyusul dengan langsung melemparkan tiga pisau beracun rahasianya berurutan dengan cepat. Serangan ini diharapkan dapat membuat Jayaseta kewalahan. Lâm paham, sekali lagi, selama musuh belum tumbang dan tewas, apapun bisa terjadi. Maka dari itu, ia juga memerintahkan sisa perompak Champa yang tak bersenjata tombak juga ikut maju menyerang dengan belati mereka.


__ADS_2