
Lau Siufan menepati janjinya. Sekembalinya Sasangka dari Semarang, Sasangka tak menunggu waktu lagi untuk melamar, langsung ke hadapan ayah sang gadis. Lau Siufan menerima pinangan laki-laki itu tanpa ragu, begitu pula sang ayah, Babah Lau.
Jelas pesta pernikahan anak perempuan salah satu penjual dan penyuling arak bermutu baik di Betawi menjadi pusat perhatian. Babah Lau memiliki rekanan banyak di dalam benteng. Ia mengirim arak setiap wulan ke kantor Kompeni sebagai pasokan minuman para tentara atau pejabat.
Belum lagi para pelanggannya yang hilir mudik, datang pergi sesering mungkin atau sehabisnya uang di kantong lempeng mereka ke kedai Babah Lau, membeli arak, mabuk, waras dan membeli lagi.
Namun, Lau Siufan bersikukuh bahwa perkawinan ini tidak akan dan tidak boleh diselenggarakan dengan besar-besaran, cukup dengan mengundang penghulu, saksi-saksi dan orang-orang terdekat mereka, dan itu artinya sedikit saja.
Itulah yang dilakukan Babah Lau, menuruti mau anak perempuannya.
Alasannya jelas, Lau Siufan adalah anak kesayangannya. Sedangkan Sasangka, pemuda Jawa yang tak banyak ia ketahui asal-usul dan sifatnya itu juga telah membuktikan bahwa ia bekerja lebih keras dari siapapun di penyulingan arak miliknya, bahkan bekerja juga di galangan kapal, di jung milik orang Cina lain yang merupakan kenalan Babah Lau.
Semua cerita yang ada di sekitar Sasangka menjelaskan bahwa laki-laki itu mencintai Lau Siufan dengan sungguh-sungguh, begitu juga sebaliknya.
Maka, Babah Lau tak memiliki alasan untuk tak menerimanya sebagai menantunya. Satu hal lagi yang membuat ia mantap menerima Sasangka, adalah bahwa, ternyata ia memiliki kemampuan bela diri pula. Entah darimana asalnya, namun kemampuan semacam ini pantas dimiliki calon suami anak perempuannya. Lau Siufan sendiri juga adalah seorang gadis dengan ketertarikan akan ilmu beladiri, jadi, dengan suami yang juga adalah seorang pendekar, Babah Lau akan lebih tenang. Sang suami dapat menjaga istrinya.
Sehari setelah pernikahan Sasangka dan Lau Siufan, pada malam hari, Babah Lau menyuruh kedua suami istri baru itu untuk pulang atau bepergian barang sejenak dan tidak perlu membantunya di kedai. Ini bentuk perayaan atas pernikahan itu.
Tapi sebenarnya, Babah Lau membuat semacam pesta kecil yang tak diketahui Lau Siufan dan Sasangka, serta orang-orang lain sebagai pesta pernikahan. Babah Lau memberikan berguci-guci arak dengan cuma-cuma serta mengundang kelompok pemain irama bebunyian dan lagu untuk menghibur orang-orang yang meminum araknya dengan percuma.
Para pemain irama bebunyian itu adalah orang-orang asal Goa di negeri Hindustan yang tinggal di sebuah kampung di Betawi bernama kampung Toegoe.
Sejarahnya, pada saat kedatangan orang-orang bule Nasrani beraliran Katolik Pranggi datang ke Maluku untuk berdagang rempah-rempah pada abad ke-16, mereka mereka mendirikan loji di pulau Banda yang dijaga oleh laskar prajurit atau tentara asal Goa.
Kemudian, pada abad ke-17 ketika Kompeni VOC Walanda menduduki pulau Banda dengan mengalahkan Pranggi, sebuah kapal yang ditumpangi laskar Goa beserta keluarga asal Banda karam di lepas pantai Betawi dalam pelarian mereka ke Malaka setelah kalah dari Walanda.
Disana mereka ditangkap VOC lalu dibuang ke sebuah kampung yang kemudian dikenal dengan nama kampung Toegoe. Orang-orang Goa ini tentu mewarisi budaya Pranggi yang diantaranya yakni moresco dan cafrinho, serta kerajinan membuat alat petik seperti kecapi bernama gitar.
__ADS_1
Karena letak kampung Toegoe yang jauh dari perkampungan lain, sebab menjadi tempat buangan dan hukuman bagi kelompok ini, mereka menghibur diri dengan menyanyi diiringi gitar. Mereka menamakan gitar itu krontjong, karena ketika dimainkan menghasilkan bunyi cong, cong, cong ...
Melalui gitar yang mereka mainkan lahirlah irama bebunyian dan lagu yang kelak berabad-abad kemudian dinamakan krontjong. Saat itu mereka kerap membawakan budaya seni fado Pranggi berupa moresco dan cafrinho. Tarian moresco merupakan warisan orang Moor Islam dari benua yang dalam bahasa bule Latin dikenal dengan Afri, di bagian utara Sedangkan tarian cafrinho dibawa oleh para budak kulit hitam dari Afri bagian barat.
Dalam pelayaran ke Timur, orang-orang Pranggi memperkenalkan moresco dan cafrinho pada penduduk Goa yang diterima sebagai laskar Pranggi setelah mereka memeluk agama Nasrani Katolik dan menerima serta menyerap budaya Pranggi.
Sepuluh orang Hindustan Goa berkulit gelap itu memainkan irama krontjong dengan merdu dan indah. Bebunyian dari alat petik mereka menggedor sanubari.
Babah Lau akhirnya puas membiarkan putri dan suaminya berbulanmadu, sedangkan ia tetap bisa memestakan pernikahan itu, meski orang-orang hanya tahu bahwa Babah Lau memberikan arak secara cuma-cuma serta mengundang pemain irama bebunyian dan lagu itu sebagai semacam acara selamatan karena usaha kedainya yang lumayan lancar dan menguntungkan selama beberapa tahun ini.
***
Tiga orang Jawara menenggak arak mereka cepat. Ketiganya setuju dua hal. Pertama, arak Babah Lau memang bermutu tinggi. Kedua, mereka mengendus bahwa putri Babah Lau, Lau Siufan, terlibat dalam sebuah perihal persekongkolan pengkhianatan terhadap Betawi dan Kompeni Walanda yang dilakukan oleh Pratiwi dibantu oleh saudara Cina Lau Siufan sendiri, Yu.
Keduanya dicurigai membunuh para pendekar dan jawara upahan serta perwira bule Walanda. Kini keduanya menghilang entah dimana rimbanya.
***
Ketiga jawara awalnya tak acuh. Secara samar mereka melihat sosok bayangan berdiri di perbukitan di sebelah kiri jalan setapak yang mereka sedang lalui ini.
Namun ketika mereka hampir melewatinya, sosok tersebut tak kunjung pergi atau menghilang.
Pagi-pagi buta, mereka pulang dari pesta mabuk-mabukan di kedai Babah Lau. Ketiganya sudah cukup waras dan sadar, walau semalam mereka menghabiskan banyak arak. Jadi, pandangan mereka di dini hari ini masih bisa dikatakan jelas.
"Heh, bang*sat! Siapa kau berdiri di sana tak bergerak? Mau merampok kami? Kau salah sasaran, baji*ngan tengik!" ujar salah satu jawara.
Ketiga jawara ini bersenjatakan golok dan keris terselip di pinggang mereka. Ketiganya juga menghiasi wajah mereka dengan kumis tebal agar mendukung pekerjaan mereka yang mewajibkan mereka terlihat sangar dan gahar.
__ADS_1
"Ya. Aku bertujuan untuk merampok kalian, namun bukan uang kepeng yang aku inginkan, tapi nyawa kalian!" balas sosok itu.
Sontak mendengar kata-kata demikian keluar dari mulut sosok yang tak dikenal tersebut membuat ketiga jawara tertawa keras-keras.
"Pagi-pagi buta ada hiburan. Orang gila yang menantang tiga jawara Kompeni," ujar satu orang lainnya, disusul dengan tawa kedua rekannya.
Sosok itu turun dari perbukitan dengan cepat namun gerakannya gesit. Maka terlihat jelaslah di hadapan mereka. Sosok seorang laki-laki bertutup mulut dari kain, menghunus dua buah belati berbentuk wedhung. Ada satu wedhung lagi terselip di balik ikatan kain di pinggangnya.
"Bagus, tiga orang akan mati dalam tiga jurus, Sàam Kûn-thâu," batin Sasangka di balik penutup mulut kain yang menutupi jati dirinya yang sebenarnya.
Melihat ini, ketiga jawara berhenti tertawa dan meloloskan golok serta keris mereka. Bagaimanapun, sebagai pendekar, mereka tetap paham ketika bahaya sedang hadir di depan, bagai burung-burung merasakan bencana gunung meletus dan beterbangan menghindar.
Ketiga jawara langsung mengelilingi sosok tak dikenal tersebut.
"Bedeba*ah! Siapapun kau dan apapun tujuanmu menantang kami, itu namanya mencari mati. Kupastikan matimu dengan perlahan!" ujar salah satu dari jawara tersebut.
Sasangka sudah berniat lama membunuh ketiga jawara tersebut ketika ia mendapati mereka sedang mengincar Lau Siufan. Istrinya itu telah menceritakan apa yang telah terjadi selama ia pergi ke Semarang. Pratiwi, orang yang membunuh teman-temannya, kini malah menjadi buronan tuannya sendiri, orang Kompeni Walanda, bersama Yu, sepupunya.
Kerumitan kebetulan kejadian demi kejadian serta perasaannya sendiri harus ia tepiskan dahulu. Keselamatan istri tercinta dan pernikahannya yang baru berumur beberapa hari ini adalah yang paling utama. Maka, menghilangkan nyawa ketiganya tanpa sepengetahuan Lau Siufan dan pemerintahan Kompeni adalah jalan satu-satunya. Ia tak mau kelak mereka akan membawa masalah dan petaka yang lebih besar.
"Mampus kau!" satu jawara memutuskan menyerang Sasangka terlebih dahulu dengan goloknya. Sasangka menggeserkan kaki sedikit ke samping. Serangan golok itu memapras udara kosong.
Sebelum keris jawara itu digunakan menusuk untuk serangan lanjutan, wedhung Sasangka sudah terlebih dahulu menancap dan menyobek perut musuh. Sang jawara rubuh bersimbah darah dengan teriakan tertahan dengan wedhung masih tertancap di perutnya.
Sasangka mencabut wedhung lain di pinggangnya. Kini ia kembali memegang dua buah bilah wedhung.
Sasangka tersenyum di balik penutup mulut menyaksikan kedua musuhnya kebingungan, ketakutan, ragu dan menciut nyalinya. Ia kini paham perasaan yang dimiliki Jayaseta di balik topengnya yang menyembunyikan jatidiri serta gambaran perasaan.
__ADS_1