
Para penonton tak hendak berteriak, bersuara riuh apalagi bertepuk tangan. Meski jelas Jayaseta terkena serang bertubi-tubi Tun Guru Baharuddin Labbiri, ini sama sekali tidak menunjukkan ia kalah. Para murid tidak lagi ingin menunjukkan harapan mereka seperti yang lalu-lalu, dimana bahkan empat Harimau Gayong Melayu benar-benar dikalahkan dengan telak dalam beragam cara. Bahkan bila tadi semua pertarungan itu adalah pertarungan sungguhan di dunia nyata, lawan-lawan Jayaseta akan mungkin tewas atau paling tidak terluka parah.
Mereka tak mau lagi tertipu, meski di dalam hati, harapan besar agar sang guru dapat memenangkan pertarungan.
Jayaseta sendiri sudah kembali berdiri. Ia tersenyum dan mendapatkan dirinya menggelora oleh pertarungan ini.
"Orang gila mana yang baru saja terkena pukulan dan serangan sampai ia pun ambruk di tanya justru malah terlihat begitu senang?" ujar salah satu murid dengan temannya heran sekaligus kesal. Ucapannya di dengar oleh keempat Pendekar Harimau Gayong Melayu karena memang sedang berdiri di dekat mereka. Yunus tersenyum tipis ke arah teman-temannya yang meringis. Kesemuanya mendadak merasa kecil dan sembrono berani berpikir dapat mengalahkan pendekar tak dikenal tersebut.
"Engkau benar-benar yakin untuk melawan musuhmu dengan menyontek jurus-jurus mereka, Jayaseta?" ujar sang Labbiri. "Aku berani bertaruh, musuh-musuh yang engkau hadapi pasti terkejut setengah mati ketika mereka tahu dan sada bahwa kau bisa meniru bahkan menggunakan jurus mereka untuk mengalahkan mereka sendiri," lanjutnya.
Jayaseta kembali tersenyum. Ucapan sang Tun Guru Baharuddin Labbiri sama sekali tidak salah.
"Namun, tak ada dari satu lawanmu pun yang engkau curi jurusnya memahami dan mampu menebak jurus yang telah kau curi tersebut."
Jayaseta mendadak termenung. Terdengar berputar-putar, mengulang-ulang kata, tapi Jayaseta paham maksudnya.
__ADS_1
"Ya, engkau benar, Jayaseta. Harusnya tak ada seorang pendekar pun yang perlu takut bila jurusnya dicontek, ditiru bahkan diambil oleh lawan untuk dipergunakan balik untuk melawannya sendiri. Bukankah pendekar itu paham jurus-jurusnya sendiri? Jadi, ketika engkau mengambil jurus-jurus Silat Tomoi ku itu, Jayaseta, aku sudah terlebih dahulu paham apa yang akan kau lakukan, bagamana bertahan dan bagaimana menyerang," ujar Baharuddin Labbiri panjang lebar.
Jelas sekali maksud dari Baharuddin Labbiri adalah memberikan semacam pengajaran bagi Jayaseta. Dan semua yang ia katakan benar adanya. Bahkan Jayaseta mengakuinya. Ia kalah dalam jurus-jurus awal ini.
Tapi, Baharuddin Labbiri pun paham, pertarungan belum berakhir sampai salah satunya memang kalah atau merasa kalah. Terkena jurus lawan adalah hal biasa.
Baharuddin Labbiri tertawa renyah, tak menyadari siapa lawannya.
"Terimakasih atas pelajaran yang Bapak beri. Namun, mari kita lanjutkan kembali. Tolong berikan pelajaran lagi, Bapak Baharuddin," ujar Jayaserta sembari maju melesat dengan sebuah serangan lutut bergaya Silat Tomoi.
Dengan luwes, Baharuddin Labbiri kembali menggunakan kuda-kuda pertahanan Tomoi seperti kura-kura yang masuk ke dalam cangkangnya dan menggeser tubuhnya sedikit.
Serangan lutut Jayaseta tentu lolos. Sang Labbiri langsung memberikan serangan balasan cepat. Ia baru saja hendak memasukkan sebuah tendangan lurus ke sisi tubuh Jayaseta ketika ternyata lutut Jayaseta yang lolos berubah arah menjadi sebuah tendangan berputar.
BRAK!
__ADS_1
Baharuddin Labbiri terjengkang hampir jatuh. Tendangan Jayaseta mengenai pinggangnya. Ia segera mundur, menyeimbangkan badan, mengangkat satu kaki dan menghempaskannya ke tanah.
Sepasang matanya memandang Jayaseta tak percaya.
Penjelasan yang sama dibalik oleh Jayaseta. Kini, bukan hanya Baharuddin Labbiri yang mengenal jurus-jurusnya sendiri yang dicuri Jayaseta, sebaliknya Jayaseta juga paham gerakannya sendiri sehingga bisa menebak dan mengerti jurus Baharuddin Labbiri.
Apa ini? Seru Baharuddin Labbiri dalam hati. Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin laki-laki muda itu cepat sekali menguasai jurus-jurus nya sekaligus pemahaman mendalam tentangnya. Tidak hanya itu, Jayaseta memutarbalikkan semua hal yang ia jelaskan panjang lebar. Seakan membuat apapun yang telah ia sampaikan tadi serasa hambar dan tak bermakna.
"Aku tak bisa main-main lagi denganmu, anak muda," ujar Baharuddin Labbiri bersungguh-sungguh.
Semua penonton, terutama para murid Baharuddin Labbiri menahan nafas menantikan adegan selanjutnya.
***
Sasangka meras ia harus tinggal beberapa lama lagi di negeri ini. Ada rasa aneh yang menyelubungi jiwanya ketika mendengar desas desus mengenai kekacauan yang terjadi di benteng pusat kota Malaka tempo hari. Orang-orang beramai-ramai menyebut nama tokoh Pendekar Topeng Seribu yang membantu menggagalkan kehancuran kota yang lebih parah. Sosok pahlawan itu juga digambarkan mampu melenyapkan para pengacau.
__ADS_1
Entah bagaimana bisa Sasangka merasakan perasaan yang luar biasa ini. Ada rasa kebanggaan yang ganjil mengendap di hatinya. Padahal, pertama ia bukanlah sang Pendekar Topeng Seribu, Jayaseta, yang asli. Penggunaan julukannya itu hanya ditujukan untuk membuat musuh gentar. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana citra dari nama sang pendekar sesungguhnya. Kedua, ia sama sekali tak berniat untuk membela negeri tundukan Pranggi ini. Semua orang bule asing adalah pengganggu di beragam negeri di nusantara. Mereka pun pantas mendapatkan kehancuran atas perbuatan diri mereka sendiri kelak. Tapi, untuk saat ini, tak ada yang boleh mengganggu tanggung jawabnya sebagai seorang peniaga dan pedagang arak dari Betawi. Biarkan ia sedikit merasa aman dan bersenang-senang.