Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Latok


__ADS_3

Karsa meradang melihat bahwa Jayaseta kedatangan bala bantuan. Ia memandang wajah cucunya, Pratiwi, yang walau dingin tetap terlihat secercah rasa khawatir disana. Mungkin benar bahwa sang cucu jujur mengatakan bahwa tenaga dalamnya belum pulih benar.


Jayaseta terkagum-kagum dengan bagaimana cara dunia bekerja, menyambungkan larik-larik takdir yang sepertinya rumit dalam sebuah jalur kehidupan.


Katilapan dan Narendra tidak datang berdua. Masih ada beberapa orang Jawa yang ikut dengan mereka. Orang-orang Jawa ini adalah rombongan yang tersisa dari serangan pengkhianatan rekan-rekan mereka di perahu jukung. Mereka yang masih bisa bertahan saling bahu membahu bersama Katilapan dan Narendra melawan musuh-musuh dalam selimut itu.


Jayaseta kemudian memandang Dara Cempaka dan menanyakan keadaannya, "Kau tak apa, Dara?"


Dara Cempaka menggeleng dan tersenyum malu-malu. Sedangkan Katilapan dan Narendra mencuri pandang ke arah gadis itu dan bagaimana cara Jayaseta memperlakukannya. Kedua saling pandang dan saling mengirimkan tanda. Ini bukan urusan mereka, meski mereka telah bertemu dengan istri Jayaseta, Almira, dan menyelamatkannya dari serangan orang-orang bawahan Mandura, saudara kembar Karsa, sepasang pendekar Penyair Baka, urusan pribadi Jayaseta tetap tak bisa dicampuri. Mereka kelak akan tetap menceritakan semuanya, dan terserah bagaimana tanggapan Jayaseta, apakah ia akan menceritakan kembali mengenai dirinya dan gadis itu, atau tidak.


Jayaseta meraih lengan lembut Dara Cempaka dan menyerahkan mandaunya. "Dara, pergi tolong lepaskan para penduduk. Kedua sahabatku ini akan ikut membantumu," ujarnya sembari melihat ke arah kedua temannya itu. "Kau punya sesuatu untu kugunakan, Katilapan?"


Katilapan mengambil sepasang tongkat rotan di balik pinggangnya dengan tangan kirinya, kemudian melemparkannya ke arah Jayaseta. "Aku cuma punya ini. Ginunting aku gunakan. Aku tak seperti kau yang membuat senjata apapun menjadi berbahaya. Lagipula, kau sempat akrab dengan tongkat rotan itu, bukan?" ujar Katilapan sembari tersenyum penuh makna mengingat kembali kejadian dan pengalaman pertarungan mereka di atas jung dahulu.


Narendra menyentuh bahu Jayaseta. "Kami senang bertemu denganmu, Jayaseta. Jangan mati dulu, banyak yang bisa kita saling ceritakan setelah kita selesaikan persoalan ini," ujarnya.


Jayaseta balas menepuk bahu Narendra. "Aku janji tak akan mati. Mohon bantu dan lindungi Dara Cempaka dalam menyelamatkan warga kampung ini. Hati-hati dengan para budak. Mereka memutuskan lepas dari kampung ini dan memihak lawan. Mereka terlibat dalam pertempuran ini," ujar Jayaseta.


Dara Cempaka, Narendra dan Katilapan langsung pergi melakukan tindakan yang sesuai dengan rencana itu.


Karsa dan Pratiwi melongo tak melakukan apa-apa. Mereka masih terlalu bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tak perlu terlalu memikirkannya. Aku disini, tiada orang lain. Silahkan cari senjatamu dahulu, orang tua. Aku akan layani kalian sampai puas. Tapi aku tak berjanji untuk tak membuat kalian terlalu lama bermain-main. Mungkin sekali akan kusegerakan pertarungan ini," ujar Jayaseta. Kedua tangannya menggenggam dua batang rotan dengan mantap. Ia kemudian memutar-mutarkan senjata itu layaknya memainkan mandau.


***


Para rombongan orang Jawa yang datang bersama Narendra dan Katilapan meraung marah. Dengan berbekal sebilah keris di tangan mereka, enam orang Jawa menyerbu para pasukan Jawa lain yang mengkhianati mereka. Kini enam orang Jawa yang dimakan amarah itu harusnya cukup beruntung karena para penembak senapan lantak sudah dihabisi oleh Narendra dan Katilapan. Namun sumpit dan panah masih tetap mengincar nyawa mereka.


Para prajurit Daya dari dua belah pihak masih sama-sama mencoba saling bunuh dengan cara apapun. Peperangan nyata-nyata bukan adu kanuragan, sebaliknya ia adalah tempat dimana ilmu kanuragan mendapatkan penggunaan dan penerapannya yang paling licik.


Para budak berdua bertiga mengeroyok seorang pejuang ketika ia sudah terluka oleh prajurit Biaju. Mereka mencincang tubuh prajurit itu dengan parang panjang milik mereka.


Parang panjang itu serupa dengan parang pandat, bernama Parang Latok, Latok saja, Latok Buku atau Parang Pathi. Parang ini biasa digunakan untuk pertanian, walau juga memiliki kegunaan dalam peperangan pula.



Bentuknya yang melengkung di bagian pangkalnya juga diciptakan untuk dapat memotong lurus ke bawah, dimana satu tangan menggenggam gagang, satunya menggenggam pangkal bilah yang lurus. Ini dilakukan untuk memotong kayu, atau memotong kepala manusia sebagai hukuman dalam sekali tebas.


Gagangnya yang terbuat dari kayu biasanya diikat dengan rotan agar mantap digenggam. Jenis-jenis parang latok lain yang lebih kecil disebut Buko atau jenis serupa bernama Sadap. Dengan senjata parang inilah para budak menyerang dan membunuhi sebisa mungkin prajurit dan warga. Senjata parang tersebut telah mereka gunakan lama di dalam pekerjaan mereka sehari-hari, namun diam-diam mereka mempelajari dengan tekun bagaimana menggunakan parang-parang itu sebagai senjata.


***


Karsa membolak-balik tubuh-tubuh para penembak Jawa yang sudah tak bernyawa lagi dengan kakinya. Akhirnya ia menemukan sebilah pedang luwuk. Pedang pendek ini terkenal sebagai pedang para bangsawan di masa kerajaan Majapahit. Namun, di masa Mataram banyak juga pedang luwuk yang dibuat dengan gaya sendiri untuk kepentingan pemakaian orang yang lebih awam.

__ADS_1


Pedang luwuk bermata satu dengan lebar bilah dari pangkal sampai ujung sama, sedangkan ujungnya lancip seperti sebuah ujung pisau dapur. Gagang pedangnya terbuat dari tanduk kerbau.



Karsa memungut pedang itu dari pinggang mayat penembak Jawa tersebut, mencabut dari warangkanya.


Ia berjalan ke samping Pratiwi kemudian membabat-babatkan pedangnya ke angin, merasakan berat dan rasanya. "Cukup. Kita bisa mulai menghabisinya," ujar Karsa.


Jayaseta tersenyum dengan ucapan Karsa ini. Meski ia tak selesai heran dengan nyawa sang kakek yang tak ada habisnya ini.


Pratiwi sendiri berbisik pelan menyindir sang kakek. "Memang ini maumu dari awal bukan, kakek? Kau memang tak pernah mendengarkan perintah dan permintaan cucumu ini," ujar Pratiwi pelan.


"Ah, kakek minta maaf soal itu, Pratiwi," jawab Karsa pura-pura menyesal. "Lalu, kau masih mau membawa orang ini pulang? Kau masih mau bersamanya, menjadi kekasihnya?" singgungnya.


"Cuih....! Aku memang akan melarangmu untuk membunuhnya, kakek. Karena aku yang berhak menusukkan kedua kerisku ini di dadanya!" balas Pratiwi.


Karsa kembali terkekeh puas. Namun diam-diam kedua pendekar kakek cucu ini masih sama-sama khawatir bahwa mereka bisa mengalahkan Jayaseta. Pratiwi jelas belum dalam keadaan sempurna. Sedangkan ia melihat sendiri bahwa sang kakek tadi dihajar Jayaseta dan sudah selama ini Karsa nyatanya belum juga berhasil membekuk, mengalahkan apalagi membunuh sang pendekar. Ia bahkan curiga sang kakek sudah pernah berkali-kali dikalahkan, mungkin tewas juga di tangan Jayaseta.


Pratiwi tak salah, bahkan Karsa juga merasakan perkembangan pesat sang pendekar muda itu. Karsa merasa bahwa kemampuan dan keunggulannya semata-mata terletak pada ilmu kekebalannya saja, Rawarontek.


Tapi sudah kepalang tanggung, sudah terlanjur basah. Ia sudah bosan mati dan kembali hidup berkali-kali. Ini mungkin saatnya menyelesaikan semuanya.


Dengan pedang luwuknya, tanpa aba-aba Karsa melompat menyerang Jayaseta. "Hiyaaaa....!"


Jayaseta sudah memiliki kepekaan yang tinggi sebagai seorang pendekar. Tidak hanya ilmu kanuragan, namun indranya juga sudah terlatih dan diasah dalam banyak kesempatan semasa ini.


Pratiwi juga tak mau kalah. Ia menyerang menusukkan dua serang keris sekaligus secara berurutan, ke dada dan perut Jayaseta.


Jayaseta mundur dan menyepak paha Pratiwi, membuatnya hilang keseimbangan. Jayaseta membabatkan rotannya.


PLAK!!


Pratiwi terdorong ke depan dan sedikit terjerembab. Bahunya bukan lebam, namun sobek dan mengeluarkan darah.


Rupa-rupanya Jayaseta tak sedang bermain-main. Andai yang ia pegang adalah sebuah do atau senjata tajam lain, mungkin lengan Pratiwi lepas dari bahunya.


Pratiwi geram. Ia hendak kembali menyerang, tak mengacuhkan denyut perih di lukanya yang berdarah itu. Namun Karsa sudah lebih dahulu menyerang dengan membabat menyilang beberapa kali sekaligus. Jayaseta menangkis dan menepis semua serangan dengan sepasang rotannya yang lentur namun keras itu.


Tak lama Karsa sendiri yang harus menanggung akibatnya. Jayaseta menghajar kepala, leher terus memukulnya dengan kecepatan setan, ke seluruh bagian tubuh sampai ke betis bahkan kemudian menutupnya dengan satu serangan keras ke tempurung lutut Karsa.


Belasan sabetan rotan tak melukai kulit pendekar tua itu. Tapi bahkan Pratiwi mengerti bahwa tulang-tulang kakeknya retak di berbagai tempat. Jayaseta tak memberikan kesempatan waktu sama sekali bagi keduanya.


Begitu juga dengan Pratiwi yang kembali melancarkan tusukan kerisnya, terasa jauh lebih lemah dibandingkan ketika ia dalam keadaan sejatinya, apalagi Jayaseta juga sudah berkembang terlalu tinggi.

__ADS_1


Maka, Jayaseta hanya memberikan kesempatan satu tusukan saja yang dengan gampang ia tepis. Setelah itu ...


PLAK!


PLAK!


Kedua kerisnya lepas dari tangan. Kedua lengannya membeset darah.


PLAK!


PLAK!


Perut dan paha Pratiwi dihajar. Darah kembali mengalir. Sepasang rotan setajam pedang di tangan Jayaseta.


"Kau harus menerima hukuman karena membunuh teman-temanku, Pratiwi. Kau harus mendapatkan ganjarannya!"


PLAK!


PLAK!


Dua pukulan beruntun menghajar leher Pratiwi, membuat dua garis luka besar di setiap sisi. Pratiwi jatuh berlutut.


Jayaseta siap memecahkan tengkorak kepala gadis mungil nan cantik itu ketika teriakan Karsa disusul dengan dua buah benda kecil meluncur ke punggung Jayaseta.


SLEPPP...SLEPP!!


Tubuh Jayaseta kaku.


Dua jarum menancap di titik syaraf tertentu di tubuhnya. Titik yang sangat bahaya bila dibiarkan, akan membuat semua pembuluh pecah dan membunuh Jayaseta.


Karsa melepaskan pedang luwuknya, terseok-seok menarik Pratiwi yang juga terluka parah menjauh sebisa mungkin.


Jayaseta merasakan semua syaraf dan pembuluh darahnya, detak jantung dan otot-ototnya. Sekali sentak, kedua jarum lepas dari punggungnya.


Yu berdiri di belakang Jayaseta. Ia yang melempar jarum-jarum zhen jiu untuk pengobatan yang bila paham penggunaan dan ilmunya, dapat dibalik menjadi alat pembunuh.


Syukurnya, Jayaseta telah melewati hal-hal semacam itu. Ia mengenal baik tubuhnya, sehingga racun dan totok dan segala jenis kemampuan merusak bagian dalam tubuh dapat ia lawan bahkan atasi.


"Cepat, bawa Pratiwi pergi!" teriak Yu.


Karsa sudah menyeret cucunya sampai ke rongga di benteng tempat masuk para Biaju penyerang. Yu melemparkan jarum-jarum nya lagi dengan secepat dan sebanyak mungkin ke arah Jayaseta yang menepisnya berkali-kali.


Satu jarum lolos dan menancap di bahunya. Memberi waktu Yu melarikan diri, menyusul Karsa dan Pratiwi.

__ADS_1


Jayseta mencabut jarum itu, membuangnya ke tanah dan mengatur syarafnya agar dapat kembali waras.


Ia memandang ke arah kepergian ketiga orang itu yang sudah tak terlihat sama sekali lagi.


__ADS_2