Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jalir


__ADS_3

Si pel*cur menyadari bahwa sang gadis muda nan ayu ini bukanlah seorang gadis biasa. Walau di luar kulitnya terlihat mulus nan bersih, ia menemukan dua luka bekas tusukan di lambung serta satu luka besetan di bagian paha. Otot-otot sang gadis juga sangat liat dan terlatih.


Ia mungkin bukan seorang tabib, tapi ia juga paham seluk-beluk tubuh manusia, laki-laki maupun perempuan. Ia tahu apakah seseorang adalah seorang petani, buruh dan tukang, pejabat kerajaan atau pemerintah kompeni serta pendekar atau perampok.


Ia juga cermat dan pandai dalam menilai latar belakang seseorang, misalnya ia tahu bahwa sang gadis yang sedang terbaring telanjang ini adalah salah satu orang penting yang bekerja pada pemerintah kompeni Walanda Betawi.


Ada logam kecil dicetak dengan lambang kompeni VOC yang terselip di balik sabuk sang gadis. Ia kerap melihat lambang ini dikenakan dan dipamerkan orang-orang pribumi yang sering ia 'layani.' Mereka berseloroh bahwa lambang ini hanya dikenakan oleh orang-orang yang membantu kompeni melawan pergerakan dan perlawanan kerajaan Mataram dan musuh-musuh Betawi.



Dan si perempuan pel*acur tahu bahwa orang-orang tersebut adalah para punggawa, prajurit, pembunuh bayaran dan pendekar. Sudah pasti, gadis ini juga adalah salah satu pendekar tersebut.


Ia adalah seorang jalir, seorang pel*acur dalam bahasa Jawa Kuna atau Jawa Tengahan, yang mengenal segala bentuk rahasia dan sisi gelap manusia.


***


Meester Equa dan Ngalimin pulang hari berikutnya. Yu menyambut mereka dengan air muka yang diliputi kecemasan. "Tuan Equa, Ngalimin, kalian dari mana saja. Aku membawa seorang korban perempuan muda yang kutemukan di kaki bukit hutan bambu. Tapi saat ini syukurlah ia sudah berangsur-angsur membaik," ujarnya.


Equa dan Ngalimin saling berpandangan sejenak saja. Walau keduanya saling bertatapan kurang dari satu kedipan mata, mereka sudah berhasil bertukar bahasa. Ngalimin lah yang kemudian memutuskan untuk menjelaskan kepada Yu bahwa, "Kami menemukan korban yang masih hidup pula, seorang penduduk yang terkena pel*uru nyasar. Kami tak bisa segera kembali ke pedati dimana kau menunggu, ia harus segera diobati. Makanya, kami memutuskan untuk tinggal sementara dan merawatnya di rumah penduduk."


Tanpa curiga sama sekali, Yu menarik nafas lega dan mengangguk pendek.

__ADS_1


Yang tak Yu pahami adalah bahwa Narendra dan Katilapan menjelaskan secara utuh siapa mereka dan apa yang terjadi. Equa sudah menduga bahwasanya sang perempuan muda yang berhasil diselamatkan oleh Yu adalah Pratiwi, pemimpin para pendekar bayaran kompeni untuk mencari dan membunuh kelompok-kelompok yang melawan pemerintahan Walanda di Betawi, salah satunya adalah kelompok Jayaseta.


Narendra dan Katilapan juga menjelaskan bahwasanya Pratiwi adalah orang yang sangat berbahaya sekaligus sakti. Ia jatuh terlempar oleh pukulan tenaga dalam Jayaseta, namun ada sebuah kemungkinan yang besar bahwa ia masih bisa selamat. Dan memang itu yang terjadi.


Sasangka sendiri sudah siuman walau masih terbaring. Ia akan segera sembuh kurang dari satu wulan, namun hati ketiga orang ini yang sudah terluka parah. Teman-teman mereka terbunuh. Satu orang pendekar yang mereka bela dan dukung pergi meninggalkan mereka pula.


Walau Meester Isaac Equa adalah pegawai resmi kompeni Walanda Betawi, bagaimanapun ia adalah seorang tabib. Ia tak bisa mencampuradukkan jiwa penolongnya dengan masalah kenegaraan. Ia akan membantu setiap orang yang sakit dan terluka, mencoba menyelamatkan nyawa, siapapun itu tanpa terkecuali. Oleh sebab itu, Equa tak akan membahas permasalahan antara Pratiwi dan kelompok Jayaseta.


***


Pratiwi menatap sang jalir tajam, membuatnya terkejut setengah mati. Perempuan penghibur yang sebenarnya memiliki nama asli Asri tersebut sontak berlari keluar.


Pratiwi sudah berdiri. Tubuh mungilnya telah dibalut jarit bersih. Ia terlihat segar dan cantik, berlipat ganda dari awal ia ditemukan dan diselamatkan. Paling tidak, itulah yang dipikirkan Yu yang sedang memandang Pratiwi dengan wajah tak dapat menyembunyikan rasa girang dan terpesonanya.


"A .. Aku senang kau sudah pulih," ujar Yu terbata.


"Jadi, kau yang menyelamatkanku?" ujar Pratiwi. Ia memandang jarit yang dikenakannya.


"Itu, ah ... Asri, gadis itu yang mengganti bajumu," ujar Yu segera setelah sadar Pratiwi memperhatikan bahwa ia telah berganti busana.


Pratiwi menutup mata. Ia memikirkan lelaki terkasihnya, Jayaseta. Ia tak keberatan dengan kemarahan laki-laki itu karena teman-temannya ia bunuh dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


Ia terima bila Jayaseta sedikit kesal. Tapi ia sangat khawatir dengan keadaannya sekarang. Apa yang terjadi dengan tubuh Jayaseya setelah memukul dirinya dengan tenaga dalam semacam itu?


"Apa kalian menemukan orang lain yang masih hidup di tempat itu?" tanya Pratiwi.


Yu hendak menjawab, namun Equa menyentuh bahunya, "Kebetulan kami tidak menemukan korban selamat. Namaku Isaac. Aku bekerja langsung di bawah tuan van Diemen, jadi ke sana pula aku melaporkan tentang kejadian tersebut. Aku yakin, engkau bekerja dengan para serdadu bagian dari ketentaraan de Jaager, bukan?"


Yu tercekat. Ia tak lagi mengingat bahwa Ngalimin sebelumnya mengatakan bahwa ia dan sang tuan sempat merawat satu orang warga. Ia lebih memikirkan pada kenyataan bahwa gadis yang ia selamatkan ini adalah seorang pendekar.


Pratiwi mengambil sabuk kain dan logam lambang VOC yang diletakkan di sebuah meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia memandang Yu sejenak, kemudian berjalan menuju pintu dan meninggalkan tempat pengobatan itu tanpa kata.


Yu merasakan sebuah perasaan yang campur aduk. Masih banyak hal yang menjadi pertanyaannya. Selain keterkejutannya atas kenyataan bahwa sang gadis adalah seorang pendekar bayaran kompeni, ia masih belum mengenal nama perempuan itu.


Lagipula, rasa yang ada di dalam hatinya terhadap sang gadis masih bergejolak. Sikapnya yang acuh tak acuh semakin membuat Yu penasaran dengan sang gadis.


Tadinya ia ingin mencegah kepergian sang gadis, namun pengetahuan tentang pekerjaan dan kenyataan tentangnya yang baru saja diketahui dari sang tuan, membuat Yu sedikit lega. Ia masih bisa mencari gadis itu suatu waktu nanti. Ia tidak jauh-jauh, hanya berada di dalam tembok kota.


Asri memandang Yu lekat-lekat. Ia tahu pasti perasaan seorang laki-laki yang sedang kesemsem dengan seorang perempuan. Namun, hal ini akan runyam nantinya karena ia juga paham perempuan muda semacam apa gadis pendekar itu. Hawa membunuhnya sangat kental. Walau ia telah tidur dengan puluhan - ah, mungkin ratusan - laki- laki, para jawara, serdadu dan pendekar pula, tidak ada yang kuat melawan kejahatan asmara. Bahkan tabib sekalipun tak akan mampu mengobati sakitnya patah hati.


Asri, seorang jalir, perempuan yang telah masuk keluar pemahaman akan rasa. Ia tak mungkin salah.


Sekali lagi ia tatap wajah Yu, merasa prihatin, sekaligus cemburu. Apalah arti perasaan seorang jalir kepada seorang tabib? Namun bagaimana dengan perasaan seorang tabib terhadap seorang pendekar, pembunuh bayaran? Satu menyembuhkan, satunya mengambil nyawa.

__ADS_1


__ADS_2