Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tupas


__ADS_3

Satu tarikan nafas semua orang terpana, terkesima dan tak dapat berkata apa-apa. Sebuah pemandangan yang luar biasa bagai sebuah pergelaran sendra tari dan pentas panggung di depan mereka baru saja terjadi. Bedanya kejadian ini nyata adanya.


Raja Nio berteriak memberikan perintah kepada budak dan awak kapalnya untuk membereskan semuanya. Mengumpulkan mayat dan orang yang terluka.


Ia juga berteriak mengatakan bahwa ia mengampuni para perompak yang sudah terluka untuk segera kembali ke kapal induk mereka dan segara pergi meninggalkan impian mereka membajak kapal ini dan mengalahkan sang Pendekar Topeng Seribu.


Dengan tertatih-tatih diiringi keluhan rasa sakit disertai kekecewaan mendalam, sisa perompak pendekar kebal yang terluka dipapah oleh para budak dan awak kapal dua kapal induk para perompak untuk kembali ke kapal mereka.


Belum lama hal ini terjadi, tepukan tangan pelan terdengar berkali-kali.


Semua mata tertuju pada satu sosok yang berdiri tiga tombak di depan Jayaseta yang masih bersila, bersemedi, mengatur tenaga dalamnya.


Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah orang tua, berumur sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun, yang memberikan topeng yang disebutnya sebagai Topeng Ireng Lokajaya kepada Jayaseta.


Sang kakek mengenakan celana pangsi kendur dengan baju atas lengan panjang tanpa kancing yang bagian bawahnya saling disimpulkan, memperlihatkan dadanya yang kurus kering. Kepalanya dibebat iket kain. Semua busananya berwarna hitam.


"Tak percuma aku mengupayakan ini semua untuk melihat sebuah perhelatan pagelaran yang begitu memukau," ujarnya lebih kepada diri sendiri namun diucapkan dengan keras dan lantang.


Jayaseta membuka kedua matanya perlahan. Walau sedari tadi ia sedang bersila dan memusatkan batin, tapi semua inderanya sama sekali tak mati.


"Namaku Karsa, namun sebenarnya orang-orang dari dunia persilatan memyebutku dengan gelarku, Sang Penyair Baka, karena aku menggores luka di tubuh korban-korbanku bagai menulis puisi," ujar sang kakek.


Semua mata yang tertuju kembali menahan nafas. Jayaseta sendiri mulai berpikir keras mengenai apa yang terjadi. Ia bahkan merasa pernah melihat sang kakek ini selain beberapa lahi lalu di atas kapal namun entah dimana, di suatu tempat.


Ia ingat sekarang, ia adalah seorang kakek yang berada di rumah seorang tabib Jawa yang mengobatinya di sebuah pondok di Betawi sehabis pertarungannya dengan de Jaager bersaudara.


Ia sudah mulai ingat wajahnya, seorang kakek yang berdiri di luar pondok dengan menggenggam celurit.


"Aku tahu kau sudah mulai ingat, bukan, Jayaseta?"


Jayaseta mulai bangkit berdiri dengan susah payah. Segala jenis rasa nyeri di tubuhnya menjerit-jerit.


"Apa maumu, kakek tua?"


"Baiklah. Aku tak perlu berbasa-basi lagi bila itu yang kau inginkan," sang kakek meraba bagian belakang pinggangnya dan mencabut sebuah keris bergagang gading, berbilah panjang bergaya Melayu.


Jayaseta mengenal sekali keris itu sebagai keris Kyai Pulau Bertuah pemberian Pratiwi. Ia meninggalkan keris itu bersama dengan senjata dua buah cakram buatan kakek Keling, satu buah cakram dan pisau rahasia buatan kakek Salman di bukit bambu tempatnya bertarung dengan de Jaager bersaudara.


"Keris ini adalah milikku, yang kuberikan kepada cucuku, Pratiwi. Aku awalnya heran mengapa ia memberikan keris itu kepada kau, Jayaseta, musuh yang membunuh ibunya sendiri, sekaligus anak perempuan kandungku, Sarti. Ternyata cinta mengalahkan segalanya. Tapi lihatlah sekarang, keris ini kau buang begitu saja," ucap sang kakek yang bernama Karsa tersebut.

__ADS_1


"Jadi ini semua perihal dendam dan balasannya, bukan begitu kakek Karsa?"


"Ck..ck..ck.., pendekar muda, kau terlalu gampang mengambil sebuah kesimpulan. Dunia masih terlalu luas untuk bisa kau pahami, meski aku tak heran kau cukup beruntung sempat menerimaa bimbingan Bharata dan Salman," ujar kakek Karsa.


Jayaseta tak dapat lagi menyembunyikan keterkejutannya, "Darimana kau kenal mereka? Cucu perempuanmu yang sudah berhasil membunuh kakek Salman dengan keji itu kah yang menyampaikan semua kepadamu, kakek tua?"


"Ha..ha..ha, kau benar-benar melihat semuanya dengan sempit, bukan? Aku, Salman dan Bharata tentu saling kenal. Di masa muda kami merasa tak terkalahkan. Namun dunia dan hidup melahap kami mentah-mentah. Jelas Bharata tak menjelaskan kepadamu dan Salman tak sempat menceritakannya. Yang jelas Salman bertentangan denganku karena ia memilih untuk melawan kompeni dan Betawi sedangkan aku adalah orang kepercayaan mereka, sama seperti cucuku, Pratiwi serta anakku Sarti bersama kelompok Jarum Bumi Neraka nya. Bharata sendiri memilih menjadi pengecut dengan bersembunyi menyendiri di Giri."


Jayaseta mulai mencerna semua pengetahuan ini.


"Para perompak ini bukan datang dengan sendiri. Setelah lama aku mencoba mencari tahu keberadaanmu, akhirnya aku bisa menemukanmu di Semarang. Aku yang meminta mereka atas kuasa dari Kompeni Walanda di Betawi untuk menghabisimu. Kelompok Si Gelembung Lotong jelas mendapatkan keuntungan banyak. Mereka mendapatkan bayaran dari Kompeni, mendapatkan jung bajakan beserta isinya, dan yang jelas memiliki kesempatan untuk membunuh seorang pendekar tersohor di tanah Jawa."


"Jayaseta sudah mampu berdiri walau belum benar-benar tegak. "Begitu mahal nyawaku sampai kau repot-repot mengejarku sampai ke atas samudra ini, kakek tua."


Karsa mengibas-ngibaskan tangannya yang memegang keris di udara. "Bukan, bukan masalah itu. Harus kau akui ini menyenangkan bukan, bagaimana hidup menemukanmu dengan cara yang ajaib?"


Jayaseta menarik nafas dalam-dalam namun membuat dirinya tetap santai karena rasa sakit di seluruh tubuhnya masih mematuk-matuk.


"Setelah menemukanmu di Semarang, aku berjanji pada Pratiwi untuk membawamu kembali dan menikahkanmu dengannya. Ha ha ha ... Tentu saja aku berbohong. Ia bahkan tak tahu bahwa aku menemukanmu di Semarang. Aku jelas ingin membunuhmu, bagaimanapun caranya. Namun, rupa-rupanya, ketua perompak ini pun sudah menjadi seonggok daging mati. Jadilah kita berdua berhadap-hadapan di atas geladak kapal. Aku harap kau masih punya tenaga untuk satu orang pendekar lagi, Jayaseta," sang kakek terkekeh.


"Jauh-jauh mengejarku hanya untuk sebuah pertarungan?"


"Pencapaian kita berbeda, kakek tua. Lagipula, kau menggunakan segala cara termasuk menggunakan para perompak untuk membunuhku, bukan dengan tanganmu sendiri. Kau sendiri yang mengatakan itu. Kini kau terpaksa melawanku seorang diri karena mereka telah gagal. Lalu, dimana pencapaian itu? Selain itu, kau sudah tua. Aku tidak akan bertarung dengan orang yang sudah seumur kakek guruku sendiri."


"Bed*ebah, bangs*at! Kau harus melawanku dengan sepenuh hati. Aku sudah perintahkan kepada anak-anak buahku di Semarang untuk membunuh Almira bila aku yang duluan sampai kembali ke Semarang, bukannya kau. Namun toh bila aku yang sampai ke Semarang, aku sendiri yang akan membunuh istri tercintamu itu dengan kerisku ini!"


Jayaseta terkejut setengah mati mendengar nama istrinya itu. Ia melonjak kaget. Darahnya berdesir kembali sampai ke otak sehingga darah di luka-luka kembali menetes keluar.


"Baj*ingan tua tengi*k! Apa yang sebenarnya ada dalam otak usangmu itu. Jangan salahkan aku untuk tidak menghormatimu. Sampai kau menyentuh Almira, aku akan ...,"


Sang kakek tertawa keras-keras sampai urat di lehernya pun terlihat jelas.


"Ya, ya ... Itu semangat yang kumau, Jayaseta. Persiapkan lah dirimu. Semoga sisa-sisa tenaga itu masih bisa menyelamatkan dirimu dari kerisku ini. Tentu saja kalau kau mati, istrimu yang cantik nan memabukkan itu akan segera menyusulmu ke alam baka!"


Jayaseta berteriak geram, namun dadanya terasa sakit. Sisa-sisa tenaga liar masih bercokol di dalam tubuhnya.


"Asal kau tahu Jayaseta. Topeng yang kau kenakan itu memang benar milik Sunan Kalijaga sewaktu masih menjadi seorang penjahat. Bahkan beliau pun merasa bahwa untuk mencapai kesempurnaan diri, harus melalui jalan gelap ini!"


Jayaseta melepas topengnya yang telah dihiasi darah itu, "Ambil kepunyaanmu ini, kakek tua renta!"

__ADS_1


Jayaseta melemparkan topeng hitam berdarah it ke arah Karsa yang dengan cekatan menepis dengan kerisnya.


PRAK!


Topeng Ireng Lokajaya terbelah dua.


***


Ketampanan Antonio da Silva sebenarnya merupakan perpaduan dari dua keindahan bangsa. Ia adalah seorang tupas, yaitu orang berdarah campuran Pranggi dan Timor. Ayahnya, Gaspar da Silva, adalah seorang pedagang Pranggi yang menikahi ibunya, Maria, yang merupakan perempuan kelahiran pulau Timor dan berpindah ke pulau Flores, Larantuka tepatnya.


Ayahnya datang ke Flores untuk membeli kayu cendana yang terkenal dari daerah itu untuk kemudian menjual minyaknya sebagai pewangi ke negeri Hindustan.


Kumis Antonio da Silva mengikuti sang ayah, yaitu lancip ke samping di bawah hidungnya yang juga tajam, mancung khas orang-orang bule seberang. Tulang wajahnya, terutama dagunya, tegas. Warna kulit hitam tembaganya menyempurnakan kejantanannya.


Kerajaan Larantuka darimana ia berasal dahulunya dikristenkan oleh tarekat Dominikan dari agama nasrani beraliran Katolik bangsa bule Pranggi, termasuk pulau-pulau Timor, Adonara, Lomblem, Alor serta Pantar.


Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan dengan pengaruh Katolik Pranggi, secara keagamaan dan ketatanegaraan, Antonio da Silva juga turut membenci bangsa Walanda dan Britania Raya.


Kemungkinan besar karena kedua bangsa bule tersebut bersaing dengan Kerajaan bule Pranggi dalam hal perdagangan serta ajaran agama Nasrani yang mereka anut berbeda aliran, yaitu yang disebut Nasrani Protestan.


Tidak hanya sampai disitu, ketika ia masih sangat kecil, di usianya yang dini itu ia telah kehilangan ayahnya yang tewas di lautan. Kapal dagang Pranggi bersinggungan dengan kapal perang Walanda tanpa sengaja. Tak menunggu lama, kapal Pranggi itu dihujani tembakan meriam sampai tenggelam ke dasar samudra.


Bahkan karena berbagi permusuhan yang sama, Sultan Agung Hanyakrakusuma Mataram pernah menjalin persahabatan dan persekutuan dengan Pranggi untuk menyerang dan mengalahkan Walanda yang bercokol di Betawi. Hanya saja Pranggi saat itu dianggap masih cukup lemah untuk membantu Mataram.


Tak heran sang Raja Nio teramat kesal ketika mengetahui bahwa sang kakek renta tersebut adalah kaki tangan Walanda Kompeni di Betawi.


Penjelasan si kakek renta ini menunjukkan bahwa ia sangat licik, tak ubahnya dengan Walanda.


Seekor anjing meniru tuannya, bukan? Pikir Raja Nio.


Tangannya sudah memegang kembali kelewangnya dengan erat. Ia tak rela membiarkan sang pendekar berhadapan kembali dengan penjahat busuk itu seorang diri.


Tepat setelah Jayaseta melemparkan topeng Ireng Lokajaya dan berhasil ditepis oleh Karsa yang menyebut dirinya dengan gelar Sang Penyair Baka, Raja Nio menyerangnya.


Sang kakek ternyata sedang lengah, terbukti ia hanya sempat melihat datangnya kelewang Raja Nio membabat lehernya dengan ujung matanya saja.


Kepala Karsa Sang Penyair Baka menggelinding di lantai disertai ambruknya tubuhnya yang kurus kering dan telah tua itu.


Raja Nio menarik nafas panjang dan melihat ke arah Jayaseta yang kembali jatuh terduduk, "Pantas, tak heran ia digelari Penyair, ia hanya banyak omong."

__ADS_1


Raja Nio memandang kelewangnya kemudian kembali menatap Jayaseta, "Jangan berterimakasih kepadaku, aku yang harus berterimakasih kepadamu. Sekarang istrimu sudah aman. Kelak kalau kau kembali dari Sukadana, naiklah ke kapalku lagi dan temui istrimu, Jayaseta. Bukankah itu namamu?"


__ADS_2