Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pucok Gunong Sang Harimau Belang


__ADS_3

Sejak masa kepemimpinan kerajaan Ayutthaya di Siam, Kesultanan Kedah adalah salah satu negeri pembayar upeti. Ayutthaya memang memiliki pengaruh besar di wilayah yang berdekatan dengannya. Negara-negara seperti Sukhotai, Lan Na, Kamboja sampai negeri-negeri di Semenanjung Malaya, termasuk Kedah dan Kahthaung, yaitu daerah orang-orang Burma, adalah bagian dari bangsa-bangsa yang mengakui kekuasaannya dengan memberikan upeti sebagai bentuk penghormatan.


Tak heran Kesultanan Kedah menjadi ketar ketir ketika mendengar berita bahwa negeri Pranggi penguasa Malaka hendak diserang orang-orang Walanda.


Negeri Siam yang dikuasai oleh kerajaan Ayutthaya, memang sudah memiliki persaingan dengan Pranggi. Hubungan perdagangan yang baik dengan Walanda yang dimulai sekitar tahun 1605 Masehi oleh raja Ekathotsarot yang bergelar Sanphet Ketiga. Ayutthaya juga memiliki hubungan yang baik dengan keshogunan Tokugawa Jepun, dimana sang raja berhubungan dagang maupun ketentaraan dengan seorang peniaga serta pemimpin pasukan pembunuh bayaran bernama Yamada Nagamasa.


Songtham, raja pengganti Ekathotsarot semakin memiliki hubungan yang baik dengan Walanda dan Jepun. Bahkan khusus Jepun, ia memiliki pasukan-pasukan Jepun yang melayani dirinya serta Ayutthya. Kekuatan Siam dan Jepun, dengan dukungan Walanda ini lah yang mengusir Pranggi beserta pengaruhnya di negeri Siam.


Pranggi yang menguasai Malaka jelas tak mungkin repot-repot menyerang Ayutthaya yang pernah mengalahkan mereka dahulu, sedangkan Malaka sendiri sedang dalam ancaman Walanda. Kedah, terutama, yang awalnya adalah negeri pembayar upeti, akan berada dalam keadaan dan letak yang sulit. Kedah tak mungkin meminta bantuan Pranggi ketika Ayutthaya Siam sudah siap mencaplok negeri mereka.

__ADS_1


Kekuatan tuan tanah Khun Wanchay na Ayutthaya yang merasa sebagai bagian dari kekuasaan Siam yang pernah mengusir pasukan Tartar Ratusan tahun yang lalu masih membekas di ingatan dan harga diri mereka. Sebaliknya, meski pemerintahan Kesultanan Kedah khawatir mengenai permasalahan tata negara antar bangsa ini juga memiliki beberapa kelompok pendekar yang sudah puluhan tahun percaya pada kebangkitan Kedah.


Disebutkan bahwa Kedah saat itu bernama Langkasura, sebuah kerajaan Hindu-Buddha di tanah Melayu yang didirikan oleh Merong Mahawangsa. Ia merupakan keturunan Iskandar Zulkarnain, atau yang juga dikenal dalam lidah bule dengan Alexander Agung, ksatria dan raja Macedon, di Yunani kuno.


Merong Mahawangsa yang merupakan penguasa negeri antah berantah ini kerap bepergian dari satu kerajaan ke kerajaan lain, termasuk dari tempat tinggalnya di Romawi ke Cina melewati lautan Arab. Di laut, ia diserang oleh kekuatan yang tak dikenal sehingga ia terdampar di Lembah Bujang. Di sanalah kemudian ia mendirikan kerajaan Langkasura. Kejadian ini tercatat sekitar abad ke-2 Masehi.


Kerajaan besar ini diperintah oleh keturunan Merong Mahawangsa, yaitu Merong Mahapudisat sehingga sang raja dapat kembali ke negerinya, Romawi. Negara yang terletak di Kedah ini dahulu juga menguasai Pattani, serta wilayah Siam seperti Saiburi dan Yala.


Dengan sejarah yang agung seperti ini, tak heran para pendekar Melayu Kedah juga memelihara sejarah kejayaan bangsa, apalagi bila itu berhubungan dengan orang-orang Siam.

__ADS_1


Saat itu, sore hari, ketika mentari sedang perlahan tenggelam ke dalam peraduannya, memberikan larik-larik jingga, dua kelompok pendekar saling berhadapan. Di dua bukit rendah yang lapang, di dalam wilayah perbatasan antara negeri Siam, Kesultanan Kedah dan Kesultanan Pattani yang masih kerap diperebutkan, lima belas pendekar Melayu Kedah bersenjatakan keris berhadap-hadapan dengan sepuluh pendekar Siam yang bertelanjang dada, mengikat lengan atas dan kepalannya dengan tali jerami tanpa senjata.


"Bangs*at-bangsat Siam itu sudah keterlaluan. Bisa-bisanya mereka menghadapi kita dengan tangan kosong. Mereka terlalu menyepelekan kita, tuan," ujar salah satu pendekar kepada orang yang dotengarai adalah pemimpin kelompok pendekar Melayu tersebut.


"Aku tak peduli, Larong. Bila itu mau mereka, kita kabulkan saja keinginan mereka untuk mampus sekalian dengan cepat di ujung kerisku ini," ujar sang tuan kepada pemuda pendekar bernama Larong tersebut.


Teriakan para pendekar Melayu membahana sebentar kemudian. Sang pemimpin mengitari pasukan petarungnya sembari mengangkat kerisnya tinggi-tinggi. "Aku, Pucok Gunong sang Harimau Belang, hari ini akan memimpin para pendekar Melayu Kedah Langkasura untuk kembali memanen kemenangan melawan bajingan-bajingan Siam itu. Menang kalah pendekar Melayu silih berganti, tapi pendekar di bawah kepemimpinan Pucok Gunong sang Harimau Belang tak pernah angkat tangan dan bertekuk lutut di depan lawan. Angkat keris kalian, kita basahi lagi dengan darah keparat-keparat Siam itu!" seru sang tuan yang bernama Pucok Gunong dan bergelar kependekaran sang Harimau Belang itu.


Teriakan perang kembali membahana. Para pendekar yang menyelempangkan sarung di pinggang mereka, berbaju sutra gelap, bercelana kain sebetis dan berikat kepala tinggi itu, mengangkat hunusan keris mereka tinggi-tinggi ke atas.

__ADS_1


Pucok Gunong sang Harimau Belang yang berwajah tampan itu sebenarnya masih terbilang muda. Rambut panjang sebahunya berkibar oleh angin bukit padang rumput, sama dengan gelora pertempurannya demi melihat musuh, para pendekar Siam bertangan kosong bawahan Khun Wanchay na Ayutthaya.



__ADS_2