Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Merembes


__ADS_3

Arthit lah yang memulainya. Tanpa aba-aba, pendekar Siam itu menunduk dalam-dalam, kemudian menyerbu menderu bagi pegas. Ia berlari menyamping, kemudian melompat pendek menyerang para pengancamnya.


Tidak ada pembahasan, tidak ada percakapan dan tawar-menawar. Keadaannya sudah jelas, pertempuran adalah jalan keluar, dibanding ia harus ditangkap dan tunduk di bawah para pasukan bule ini.


Mana mumgkin Arthit sudi!


Malah sebaliknya, perasannya yang rumit kepada keprajuritan kerajaan sudah dapat dijadikan alasan untuk melawan.


Arthit melutut seorang penembak di dalam barisan pasukan bersenapan itu.


Serangannya telak mengenai dada sang bule yang sontak tersentak ke belakang.


Jaka Pasirluhur dan Sasangka saling bertukar pandangan sejenak, keduanya berbagi bahasa yang sama. Keadaan akan runyam bila mereka melawan dan sampai membunuh para pasukan Pranggi ini. Mereka akan dituduh melawan negara dan akan dicari-cari. Hasilnya, bukan hanya para pendekar dan kelompok-kelompok berkepentingan yang akan terlibat dalam kerumitan perseteruan ini, bahkan kerajaan pun akan ambil bagian.


Namun, di sisi yang lain, bertahan dan mengikuti mau para prajurit bule itu sama buruknya. Mereka akan menjadi tahanan dan entah bagaimana nasibnya.


Jaka Pasirluhur menunduk, kemudian melangkah cepat. Seperti orang mabuk yang oleng, ia berhasil menghindari tembakan seorang prajurit dan memapras senapan bule Pranggi tersebut dengan kudhinya.


PRAK!


Bedil prajurit bule tersebut tersentak ke samping. Kesempatan ini digunakan Jaka Pasirluhur untuk memberikan satu tendangan rendah ke betis lawan.

__ADS_1


Barisan menjadi kacau ketika prajurit bule Pranggi yang diserang Jaka Pasirluhur tersebut doyong ke samping.


Sasangka tak mau kalah. Ia merengsek maju dengan kecepatan luar biasa. Jurus langkah tiganya itu membuat gerakannya sederhana tetapi tepat guna. Apalagi dalam keadaan yang sepertinya tak menguntungkan ini.


Dalam satu gerakan maju di satu garis panjang, Sasangka menubruk sekaligus dua prajurit bule menggunakan bahunya, sebelum lawan berhasil mengarahkan apalagi menembakkan bedil mereka ke arah Sasangka.


DAR!


DAR!


Tetap saja letusan senapan terjadi. Biji mimis melesat ke udara disusul asap yang mengepul. Namun, tidak ada sasaran yang terkena. Bahkan para penembaknya harus merelakan lengan mereka menjadi korbannya.


"Orang itu hendak membunuh para prajurit bule!" seru Jaka Pasirluhur.


Seruannya ini bukan tanpa makna.


Sasangka yang mendengarnya sangat paham apa yang bakal terjadi.


Keduanya ini saja sudah cukup kerepotan mencoba untuk melepaskan diri dari sergapan para prajurit bule bersenapan. Di saat yang sama mereka berdua harus mampu melumpuhkan lawan tanpa membunuh mereka bila tak ingin memperumit keadaan. Sialnya lagi, orang asing yang mendadak menantang mereka bertempur tadi malah makin membuat keadaan mereka menjadi sukar untuk ditolong. Nafsu membunuh orang itu terlalu liar.


Jaka Pasirluhur menepis senapan-senapan yang diarahkan ke arahnya dengan kudhi. Dalam dua tiga kali gerak, ia juga menghajar kaki dan paha seorang prajurit bule dengan bagian belakang kudhi yang tak tajam sehingga menjatuhkannya tanpa luka potong atau luka sabet.

__ADS_1


Di sisi lain, Arthit sudah membuyarkan barisan pasukan. Serangan-serangan beruntunnya terlalu mematikan. Ia melutut paha bagian dalam seorang prajurit bule Pranggi, kemudian melompat siap memecahkan kepalanya.


Sasangka tahu serangan Arthit dapat mengakibatkan kematian yang pasti bagi para prajurit yang tak dibekali ilmu kanuragan ini.


Sasangka kemudian berlari cepat dan menubruk tubuh Arthit dari samping.


Keduanya bergulingan di tanah sebagai akibatnya. Namun, sang prajurit bule Pranggi terhindar dari kemalangan.


"Bangsat! Mengapa kau mencegahku!" ujar Arthit dalam bahasa yang tak dikenal Sasangka.


Walau telah cukup memiliki pengalaman berlayar, Sasangka mungkin hanya mendengar saru dua patah kata saja dalam bahasa Siam. Dan yang dikatakan Arthit tidak begitu dikenalnya.


DAR!


Tembakan lagi terdengar.


Arthit dan Sasangka sontak berkelit, berguling ke depan serta ke samping.


Keduanya saling pandang tak mengetahui kemana arah tembakan dan dari mana tembakan berasal.


Sasangka melihat darah merembes dari luka di bahunya.

__ADS_1


__ADS_2