Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Silat Pattani


__ADS_3

Bisa dikatakan semua bangunan yang ada di Sukadana ini dibangun dari kayu. Baik rumah maupun keraton sekalipun berdiri di atas tanah dengan tiang-tiang kayu yang menancap jauh ke dalam tanah.


Bedanya, milik pejabat, orang penting, orang kaya dan anggota kerajaan memiliki bangunan yang lebih besar dan kokoh, halaman yang lebih luas dan susunan bangunan yang lebih rapi serta memiliki beragam kegunaan.


Di pulau Jawa, rata-rata bangunan dibuat dengan landasan batu yang ditumpuk, bata merah yang disusun dan ditempel dengan perekat dari campuran kapur, tanah lempung, pasir dan putih telur. Memang beberapa orang miskin dan dari golongan bawah kerap hanya menggunakan dinding dari anyaman bambu.


Di Sukadana, hanya rumah-rumah orang-orang penting termasuk pejabat dan pangeran yang dihiasi tembok bata atau lantai batu. Ini pun karena mencontoh dan meniru kebiasaan di pulau Jawa.


Undak-undakan batu di bukit sebelum mencapai rumah berbenteng balok-balok kayu Datuk Mas Kuning jelas menunjukkan bahwa sang empunya tempat tinggal adalah orang penting di Sukadana.


Jayaseta mengenakan topeng kayu berhias bulu burung yang menunjukkan bekas tancapan tusuk konde emas Dara Cempaka. Ia mengenakan baju lengan panjang tanpa kancing serupa sehari sebelumnya, juga dengan celana pangsi selutut yang ditutup selembar kain jarit yang melingkari pinggangnya.


Keris Kyai Pulau Bertuah terselip di balik pakaiannya.


Seperti hari kemarin, para prajurit bertombak, berpedang bahkan berkeris berjaga bertebaran di berbagai sudut mengawal rumah kayu bertingkat tiga tersebut.


Serupa dengan malam sebelumnya, Jayaseta mengendap tanpa suara bagai seekor kucing hutan. Ia melewati beberapa penjaga, termasuk penjaga di setiap lantai ketika ia melompat dari satu lantai ke lantai yang lain.


Wajah manis Dara Cempaka lah yang pertama Jayaseta lihat. Ia mengenakan baju berkerah tinggi dan berlengan panjang berwarna hijau yang menempel ketat menyesuaikan lekuk tubuhnya. Ia juga masih mengenakan kain cindai yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Rambutnya yang panjang tertata rapi dengan empat tusuk konde emas sebagai penghias.


Ia berdiri dengan kedua tangan berpaut di depan tubuhnya. Senyum malu-malunya mengembang ketika melihat sang pujaan hati muncul.


Datuk Mas Kuning duduk di kursi Cina persegi yang sama seperti sebelumnya.


Jayaseta melihat sekeliling, membuka topeng, bersimpuh dan menjura, "Selamat malam, adik Dara Cempaka dan Datuk Mas Kuning. Maafkan hamba karena kembali datang kemari hari ini."


"Sudah, sudah, cukup unggah-ungguhmu itu, nakmas. Kami tahu kau datang dengan keperluan penting, dan aku sama sekali tidak keberatan," jawab sang datuk tanpa basa-basi. Tentu ini memebuat Jayaseta tak enak hati.


"Nah, jenis pendekar macam apa kau ini, nakmas? Kalau boleh aku menebak, nampak-nampaknya kau bukan penggemar tenaga dalam. Meski ilmu kanuragan semacam itu gampang sekali kau kuasai, namun kau memilih melawan musuh dengan gerak tubuh dan jurus-jurus mematikan."


Mendadak sekali, pikir Jayaseta. Ia terkaget-kaget dengan ujaran sang datuk, walau ucapannya terus terang benar adanya.


"Kau juga berusaha selalu menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Melumpuhkan musuh dengan menyerang menggunakan senjata apapun yang ada di tangan dan sekitarmu adalah salah satu gaya bertarungmu. Satu lagi, kau memiliki kemampuan meniru dan melebur jurus musuh. Itu sebabnya ketika kau bertarung, kau tak benar-benar menyiapkan dan memutuskan untuk melawan dengan jurus tertentu. Semuanya menyesuaikan."


Jayaseta terdiam. Ia sadar bahwa ucapan sang datuk tak satupun luput.


Datuk Mas Kuning berdiri. Tubuhnya tak benar menunjukkan kerentaan.

__ADS_1


"Kita akan banyak berbicara kembali mengenai luka tusukmu yang penuh racun kutukan itu. Namun sekarang perhatikan ini sejenak," sang datuk memasang sebuah kuda-kuda silat. Ia menggerakan tangan dan kakinya dalam rupa rangkaian jurus.


Jayaseta memandang takzim. Ia tak sempat berkata apa-apa, namun sang datuk, sama dengan semua guru besar yang pernah menjadi tempat bergurunya, seakan membuka pintu lebar-lebar sehingga segala rahasia terbuka dengan gamblang.


Gerakan sang datuk lebih bagai menari alih-alih bersilat. Pada umumnya bunga-bunga pada beragam ilmu dan gaya silat ditujukan sebagai penentu serangan atau jurus yang akan dilepas. Bisa juga sebagai sebuah bentuk pembuka rangkaian gerakan atau tipuan agar musuh dapat terkecoh dengan serangan apa yang bakalan dilepaskan.


Hanya saja bunga-bunga gerakan silat sang datuk ini cenderung memiliki makna yang ingin disampaikan ketimbang daya gunanya.


Awalnya Jayasetaa bingung dengan jurus-jurus sang datuk. Namun sebentar saja ia dapat melihat kandungan tenaga di dalam setiap gerakannya.


Ke sepuluh jari sang datuk melentik, bergetar dan melambai sebelum kemudian diakhiri dengan satu pukulan keras.


Sebuah ledakan tenaga.


"Kau biasa mengambil saripati sebuah jurus silat, bukan? Menghilangkan segala hal yang menurutmu tak penting. Namun, silat pulut ini sebaliknya. Segala gerak ditujukan untuk mencapai semua hal yang memungkinkan, mendayagunakan sepenuhnya kemungkinan gerakan dan jurus."


Sembari berbicara sang datuk terus menunjukkan jurus-jurusnya yang dilakukan dengan pelan, mengalun, namun selalu diakhiri dengan ledakan tenaga.


"Hang Tuah, seorang pahlawan Melayu dari Malaka, dikenal sebagai peletak dasar segala jenis silat Melayu, menyebarkan gaya silat Gayong ke seluruh kepulauan Melayu, termasuk oleh sang putra, Tun Biajid yang melarikan diri ke Pahang akibat perlawanannya terhadap orang-orang Pranggi. Silat ini adalah bentuk samaran dari silat Gayong yang dilarang oleh bangsa Pranggi."


"Walau berupa samaran dari jurus-jurus Gayong yang ditujukan untuk membunuh musuh, silat pulut yang seperti tarian ini sebenarnya memiliki kandungan pengendalian diri yang tinggi. Mengendalikan diri untuk tidak menunjukkan bahayanya pukulan dan tendangan. Mengendalikan diri agar tak jumawa, agar rendah hati dan merunduk. Namun sebaliknya, dengan membebaskan diri pada bentuk-bentuk tarian yang memberdayagukan tubuh sebaik mungkin, silat pulut mempersiapkan para pesilat dengan segala kemungkinan jurus yang mereka bakal hadapi dari musuh."


Tangan sang datuk memukul ke depan, ke bawah, dan kesamping, satu lagi tangannya membentuk gerakan gelombang dan membabat udara dengan sisi telapak tangannya.


"Silat Melayu Hang Tuah juga sampai di Pattani, sebuah kerajaan Islam Melayu yang kekuasaannya terdiri atas Pattani, Yala, Narathiwat dan lima daerah lain di Songlha dekat daerah yang ditinggali dan dikuasi oleh orang-orang Siam di kerajaan Phra Nakhon Si Ayutthaya yang beragama Buddha. Silat ini kerap juga disebut silat Gayung Pattani," sang datuk menutup gerakan tari silatnya dengan kembali ke sikap dasar.


Jayaseta tak berhenti mendengar dan meresapi semua yang ia lihat dan dengar dari sang datuk.


"Tentu, silat di Pattani sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnya tetapi terpengaruh oleh gaya silat Melayu lainnya, seperti silat Hang Tuah tentunya dan pecah menjadi beberapa bagian seperti Silat Harimau yang serupa dengan silat orang Minang di kerajaan Pagaruyung, Silat Gayung atau Gayong serta Tunjuk Alam," sang datuk memandang ke arah Dara Cempaka, "Kemari, Dara."


Dara Cempaka dengan sedikit malu mendekat menghampiri kakeknya.


“Silat Pattani juga memiliki unsur silat pulut, ia juga dinamakan demikian. Ini karena silat Patani sempat dihapus oleh kerajaan sehingga kemudian disamarkan menjadi seni pertunjukkan rakyat. Nah, Dara, tunjukkan pada Jayaseta jurus-jurus tari silat pulut Pattani!"


Dara Cempaka terkejut dengan perintah sang datuk. Ini sama sekali bukan masalah bila Jayaseta tak di tempat ini. Ia adalah murid silat sang datuk yang tak banyak itu, termasuk sang ayah yang merupakan putra si datuk. Namun, melakukannya di depan Jayaseta membuatnya menjadi gugup setengah mati. Tapi bagaimanapun ia tetap melakukannya setelah menutup mata dan menarik nafas panjang. Permintaan datuknya pasti memiliki tujuan demi kebaikan Jayaseta.


***

__ADS_1


Dara Cempaka bergerak dengan anggun. Seperti tak ada jurus mematikan dalam rangkaian tari itu bila dilihat dengan mata telanjang orang tak berkanuragan. Namun Jayaseta meniru jurus-jurus silat pulut Pattani tersebut dan merasakan sesuatu yang luar biasa.


Ada hal yang menggugah inti diri kependekarannya. Dengan semua gerakan menari ini, merentangkan tangan, memutarkan tubuh, memiringkan kepala, membuatnya memahami setiap sudut tubuhnya.


Setiap bagian dari otot, tulang, bahkan kulit terjangkau oleh indera perasanya. Ia memiliki kuasa atas semua sisi tubuhnya tersebut.


Tubuh Dara Cempaka berputar, kadang berkelebat dengan cantik namun penuh kekuatan. Ia menari dalam sunyi walaupun bebunyian tetabuhan ada di dalam pikirannya dan menyertai setiap langkahnya.


***


BUG!


Jayaseta terlempar mundur ke belakang dan menahan tubuhnya untuk berhenti sebelum menubruk dinding kayu.


Dara Cempaka menahan teriakannya, melihat sang datuk baru saja melepaskan pukulannya dan tepat mengenai dada Jayaseta.


"Persiapkan dirimu, nakmas. Kita akan bermain-main dalam sunyi sejenak. Kau adalah pendekar muda sakti pilih tanding. Entah berapa pendekar kalah atau tewas di tanganmu. Entah berapa perampok dan bedugal yang hancur berantakan oleh sepak terjangmu. Bahkan, mengalahkanku sejatinya bukanlah perkara sulit bagimu," ujar sang datuk.


"Tunggu, datuk. Apa maksud datuk sebenarnya? Hamba tak berniat untuk menyanggupi permintaan datuk untuk saling bertukar kedigdayaan. Hamba kemari untuk meminta pertolongan datuk," jawab Jayaseta dengan memohon.


"Aku pikir kau selalu mampu menemukan penyelesaian dalam melawan beragam musuh dengan tingkat kehebatan dan kesaktian yang juga tinggi. Karena kebanyakan pertarunganmu menyangkut hidup dan mati, kau memanfaatkan segalanya. Senjata, jurus, bahkan tenaga dalam, termasuk dari racun kutukan Kyai Plered. Sekarang sudah saatnya kau anggap semua tak ada. Hadapi aku dengan tangan kosong. Lepaskan dirimu dari perbudakkan tenaga dalam yang kau sendiri sebenarnya jujur mengakui tak terlalu tertarik dengannya."


Hawa kesadaran menerpa Jayaseta.


Kebijaksanaan yang luar biasa sang datuk mengingatkan dirinya akan cara pengajaran kakek Keling dan Kakek Salman.


Jelas ada alasan kuat mengapa ia kali ini diminta menghadapi sang datuk dalam sebuah adu tanding kanuragan.


Jayaseta tersenyum kecil, hampir tak terlihat. Ia melepaskan keris Kyai Pulau Bertuah dan meletakkannya di lantai kemudian kembali berdiri.


DAG!


BUG!


Jayaseta tak sempat bersiap ketika sang datuk sudah kembali mendaratkan satu pukulan dilanjutkan dengan sepakkan ringan di dada.


Jayaseta ambruk namun berguling dengan cekatan tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2