Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jaka Lelana


__ADS_3

“Apa maksudmu, Jayaseta?” tanya Narendra penuh selidik. Mendengar laporan Siam dan Ireng tentu saja membuatnya dan Katilapan bertanya-tanya.


“Banyak alasan mengapa kami bingung dengan permintaanmu ini. Pertama, kau takut air. Itu sudah jelas. Kedua, layaran ini menjauhi masalah, bukan mendekatinya. Ketiga, tujuan utama kita adalah ke Siam untuk menemui Khun Wanchay demi Dara Cempaka. Makanya semakin cepat kita sampai, semakin cepat pula urusan selesai. Dengan melakukan keinginan anehmu itu, kita akan jauh memperlambat perjalanan,” lanjut Narendra.


Jayaseta membenahi ikat kepalanya. “Untuk itulah aku butuh bantuan kalian, kakang-kakang sekalian. Kita tidak akan mengganggu perjalanan layaran ini. Kita akan membeli salah satu perahu mereka dan kemudian melewati jalan darat setelah aku berhasil mendapatkan berita dan penjelasan orang-orang dengan perahu-perahu itu. Bahkan kalian pun tidak bisa menampik kecurigaan kalian selama perjalanan ini, bukan? Percayalah, layaran ini toh tetap akan tersendat kelak. Ada rencana besar yang disiapkan buat kita, terutama aku. Atau mungkin aku hanya titik pengganggu di rencana yang lebih besar melihatkan banyak pihak yang berkuasa,” ujar Jayaseta.


“Tapi, tuan Jayaseta. Bagaimana dengan tuan putri Dara Cempaka?” potong Siam.


Jayaseta berpaling ke arah sang istri yang masih memandanganya dengan senyum tipis. “Demi Dara Cempaka pulalah kita harus melakukan ini, Siam. Di atas sungai aku tak banyak bisa berbuat. Kemampuanku terbatasi dengan kelemahanku. Bagaimana caraku kelak melindungi Dara Cempaka dan membantu kita semua?” jelas Jayaseta.

__ADS_1


Katilapan maju mendekat. Ia melipatkan kedua lengannya di depan dada. “Kau yakin tentang hal ini, Jayaseta? Kami tidak disini hanya sekadar mengikuti kemauanmu. Memang kami ikut dengan sukarela, tetapi kami memerlukan alasan yang kuat atas ….”


“Kau sebenarnya yakin denganku, Kakang Katilapan. Engkau tahu betapa rumitnya hidup sebagai seorang pendekar dan pengembara. Aku bukan seorang jaka lelana, seorang pendekar tanpa arah, seorang diri berkelana kemana-mana. Aku hidup dengan tujuan, atau paling tidak memiliki urusan yang harus diselesaikan. Tetapi, apa mau dikata, dunia tak akan membiarkan kehidupan seorang pendekar kosong melompong dan tanpa makna. Aku sudah tercebur dan berkubang dalam pertempuran dan darah. Entah seperti apa kelak akhir dari kisah dan cerita


hidupku ini, aku harus melaksanakannya,” balas Jayaseta panjang lebar.


Narendra membalas tatapan Katilapan kemudian ikut mendekat ke arah Jayaseta. Ia berdiri di samping Katilapan dan juga melipatkan kedua tangannya di depan dadanya. “Engkau yakin, Jayaseta? Terus terang, aku tidak bermasalah dengan segala keputusanmu, tapi hanya bila kau benar-benar menginginkannya,” tegas Katilapan.


Jayaseta tidak memandang lagi ke arah kedua kakangnya itu. Ia malah sibuk mempersiapkan barang bawaannya yang tidak banyak dan memeriksa perlengkapannya, termasuk membenahi pakaian dan ikat kepalanya. “Kalian sebenarnya sudah tahu jawabanku, bukan? Jangan berpura-pura, aku juga paham bahwa kalian sejatinya menunggu kesempatan ini,” ujar Jayaseta dingin.

__ADS_1


Tak pelak jawaban Jayaseta ini mengena di hati kedua kakang sekaligus sahabat Jayaseta itu. Keduanya tersnyum lebar dan mengangguk-angguk setuju. Hal ini kemudian membuat Siam dan Ireng semakin kebingungan.


Narendra mendekat ke arah keduanya. “Seperti yang kalian dengar, Jayaseta adalah seorang pendekar. Ia tidak mungkin jauh dari marabahaya. Akan salah dan melanggar takdir bila ia menghindari permasalahan dan tantangan. Kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik ini semua, tapi aku harap kalian percaya bahwa bersama Jayaseta, kita akan mendapatkan jawabannya. Siapa tahu kita sudah ditunjuk oleh sang Pemilik kehidupan untuk membongkar semua hal buruk yang terjadi di negeri ini, ataupun di negeri tempat kita berada. Mungkin mereka saling berkaitan,” ujarnya.


Siam yang semula bingung, perlahan menunjukkan binar-binar di matanya. Menjadi salah satu bagian dalam perjalanan sang Pendekar Topeng Seribu bukankah merupakan sebuah kehormatan? Setelah bertahun-tahun mengembara di lautan, menjadi awak kapal, menjadi orang bawah, kini ia bisa menjadi bagian terpenting dalam catatan perjalanan hidup seorang tokoh besar di tanah Jawa, nusantara bahkan sampai ke negeri asal salah satu orangtuanya itu.


Ireng yang berdiri di sebelah sahabatnya itu seperti berhasil membaca pikiran Siam. Ia menatapnya sejenak, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Baik, baik, Siam. Kita ikuti saja kemauan tuan Jayaseta. Dan tolong hilangkan wajah seumringahmu itu. Jangan berlebihan dan berharap kita akan mendapatkan keagungan, kejayaan dan nama kita bakal mejadi termahsyur kelak. Kita sudah sepakat bahwa perjalanan ini adalah sebuah bentuk pengabdian. Bukan hanya kepada tuan Jayaseta, tetapi kepada sang Pemberi Hidup itu sendiri,” ujar Ireng.


Siam tertawa pelan kemudian mengangguk. “Kau memang selalu menajdi sahabatku, Ireng. Kita akan hadapi semuanya bersama, bukan begitu?”

__ADS_1


__ADS_2