
Baru saja lembing terhindarkan, dalam sekejap mata Jayaseta harus memundurkan tubuhnya secepat mungkin karena Koguro melenting tinggi ke udara melewati kepalanya. Katana digenggam dengan dua tangan dan sambil berteriak keras siap membelah tengkorak kepala Jayaseta. Angin hembusan katana yang berjarak sehasta dari kepala Jayaseta terasa menubruk keras dari balik topengnya.
Mengetahui dua serangannya gagal, Koguro jelas tak mau berdiam diri. Satu babatan membelah dari arah bawah menyamping ke atas, ditujukan untuk memotong dada musuh. Serangan ini dilakukan sembari berlari cepat untuk memotong jarak antara dirinya dan Jayaseta.
Sadar bahwasanya Jayaseta bukan cecunguk-cecunguk pribumi yang dapat tertebas dalam satu sampai tiga kali sabet, Koguro menyiapkan sekaligus tiga sabetan menyilang ditujukan tetap ke bagian atas tubuh Jayaseta dan ditutup dengan tebasan lurus ke arah leher untuk memenggal kepalanya.
Harusnya, jurus serangan ini dapat membuat tubuh musuh terpotong-potong seperti daging ikan, namun Jayaseta berhasil menghindari semuanya tanpa mencabut dao atau kerisnya. Malah Jayaseta berhasil menggulung maju dan menciptakan jarak yang cukup dekat sembari memberikan Bogem Watu Gunung ke pelindung dada Koguro.
BRAK!
Koguro berteriak tertahan karena merasa tulang rusuknya berderak patak karena tinju Jayaseta yang menembus pelindung dadanya. Sambil berteriak marah ia menahan tubuhnya agar tak terjatuh, karena ini merupakan tanda awal kelemahannya. Kedua kakinya membuka lebar. Tangan kirinya mencabut wakizashi dan langsung meluncur maju menyerang. Ia memutarkan tubuhnya sehingga kedua pasang pedang panjang dan pendek tersebut menyerang Jayaseta bagai kitiran. Katana diarahkan ke leher Jayaseta, wakizashi mencoba memapras paha.
TRANG!
Jayaseta menepis katana dengan sisi dao nya yang telah terhunus, sedangkan serangan wakizashi dapat dihindari Jayaseta dengan mengangkat kakinya tinggi. Tidak sekedar menghindari serangan dengan mengangkat kaki yang menjadi sasaran serangan Koguro tersebut, kaki ini pula digunakan untuk menyepak lengan kiri Koguro. Bukan tendangan yang sangat berbahaya tapi cukup membuat kuda-kuda Koguro oleng. Secepat itu pula Keris Kyai Pulau Bertuah menyelip masuk ke pinggang kiri Koguro melalui sela-sela pelindung dadanya.
Koguro ambruk berlutut ke tanah namun tubuhnya masih ditopang sepasang daisho nya.
SING!
Jayaseta terjerembab ke belakang. Darah menyembur dari bahu kanannya. Jayaseta mengumpulkan hawa murni menggunakan tenaga dalamnya untuk menghentikan semburan darah dari luka sayatan itu. Rasa sakit menyebar sampai ke otaknya. Luka adalah bagian yang tak terlepas dari sepak terjang seorang pendekar. Jayaseta mencoba tidak mengacuhkannya dan kembali memusatkan pikiran pada musuh yang menyerang dengan mendadak.
Lawannya kali ini, Hideyoshi, berdiri dua tombak di hadapannya.
Tubuhnya merendah, kaki kanan lebar di depan dan kaki kiri lurus di belakang. Kepalanya sedikit menunduk, namun kedua matanya menatap tajam ke arah kedua mata Jayaseta menembus topeng dan jantungnya. Tangan kanannya memegang hulu katana yang terselip di pinggang kirinya. Tak sedikitpun ia melirik ke arah Koguro yang terluka namun masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak ambruk terlentang.
Inilah ciri seorang samurai dengan gaya silat pedang Battojutsu.
Samurai yang sudah memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni dalam jurus-jurus ini membunuh musuh hanya dalam satu atau dua sabetan saja. Ia mampu menarik katana dari sarungnya dengan cepat dan langsung memasukkannya kembali ke sarungnya. Untuk gerakan ini, satu nyawa hilang. Oleh sebab itu, seorang samurai dengan gaya pedang Battojutsu akan merasa mahal untuk sembarangan menyabetkan pedangnya ke arah musuh walau sabetan tersebut merupakan serangan yang berbahaya.
Bagi jurus ini, memperhatikan dengan benar keadaan musuh dan sabar serta telaten melihat gerakan musuh akan sangat menguntungkan dengan membunuh musuh dengan serangan cepat. Itu sebabnya Jayaseta tak sempat melihat kapan Hideyoshi menarik pedangnya karena saking cepatnya gerakan tersebut.
__ADS_1
Sebenarnya Battojutsu adalah jurus bertahan dari serangan musuh. Tebasan-tebasannya yang berbahaya memang ditujukan untuk menghabisi musuh dalam sekali gebrak. Oleh sebab itu unsur kejutan dan serangan balasan yang begitu cepat adalah andalan jurus ini. Hanya saja di tangan Hideyoshi, Battojutsu disulap menjadi sebuah jurus menyerang yang sangat berbahaya.
Pandangan kedua mata Hideyoshi masih berusaha menembus pertahanan Jayaseta dari dalam.
Bagi seorang Samurai, himpunan tenaga dalam sebagai bagian dari kesaktian mereka tidak hanya terletak di kekuatan tubuh dan serangan yang ditujukan untuk merusak dan menghancurkan tubuh musuh. Tenaga dalam para Samurai juga dilatih untuk mempengaruhi jiwa musuh. Membuat mereka gentar dengan pandangan yang tajam menusuk sehingga musuh akan sudah kalah sebelum pedang terhunus.
Tenaga dalam juga digunakan untuk meramal atau menebak gerakan musuh seakan mereka dapat membaca pikiran musuh. Kemana tebasan musuh akan diarahkan sudah bisa jadi telah diketahui seorang Samurai dengan tenaga dalam yang matang. Hanya dalam kurang dari satu hitungan, musuh sudah tertebas sebelum melakukan serangan. Inilah yang dilakukan Hideyoshi. Jenis tenaga dalam ini disebut ki. Setiap benda di muka bumi ini memiliki ki, atau tenaga dan daya murni. Tugas seorang Samurai adalah melihat bentuk, ciri dan ki yang ada di benda-benda, binatang dan manusia untuk digunakan sesuai keperluannya.
Dalam banyak pertarungan kedua Samurai ini, baik Hideyoshi maupun Koguro, mampu menebas semua musuh. Baik cecunguk-cecunguk kecil lawan tuan mereka yaitu orang-orang Walanda, maupun beberapa jawara dan pendekar pribumi nusantara. Pengalaman perang sudah kenyang mereka lalui.
Namun, Jayaseta adalah sebuah perbedaan, pengecualian. Walau Hideyoshi merasa dewa-dewa Jepun sudah merasuk ke dalam tubuhnya, membantunya memberikan penglihatan akan masa depan, pendekar bertopeng nan aneh ini tidak terlihat jurus dan gerakannya sama sekali.
Baru saja ia melihat dengan mata kepala betapa Koguro, rekannya selama bertahun-tahun dalam peperangan sewaktu masih menjadi Samurai bertuan bahkan sampai berpindah pengabdian pada tuan yang berbeda dan menjadi ronin bayaran seperti sekarang ini, belum pernah sekalipun ia melihat Kogurai takluk. Si pedekar bertopeng inipun ternyata begitu lihai dan licin. Koguro terpaksa harus menyerangnya beberapa kali, menebas dan memaprasnya berkali-kali. Itupun Koguro sendiri yang tertusuk dan sementara lumpuh saat ini.
Hideyoshi menggerakkan kakinya perlahan, menggeser kedua kakinya ke samping dengan perlahan, sangat pelan. Hampir seperti melayang. Pandangannya tetap pada Jayaseta yang terlihat tenang tanpa tergambarkan raut wajahnya. Topeng yang ia kenakan menghalau tenaga dalam Hideyoshi. Walau ia tahu bahwa Jayaseta dapat melihatnya, sebaliknya ia sendiri tak dapat melihat perasaan apa yang berkecamuk di dalam diri Jayaseta. Sebuah kerugian yang besar baginya.
Jayaseta menggenggam dao di tangan kanannya, tapi tidak dengan begitu erat. Begitu juga keris Kyai Pulau Bertuah di tangan kirinya.
Hideyoshi tiba-tiba melaju, memacu kedua kakinya dengan sangat cepat lurus ke arah Jayaseta. Tangan kanannya masih di gagang katana yang terselip di pinggang kirinya, belum terhunus. Jayaseta menolakkan tubuhnya mundur satu tombak kemudian menggeser badannya ke samping sembari balas maju dan menebaskan dao nya ke arah si penyerang.
Bilah tajam dao lolos satu ruas jari saja dari wajah Hideyoshi. Kini malah Hideyoshi yang entah bagaimana sudah ada di belakang Jayaseta. Dengan jarak yang terlalu pendek ini tidak mungkin bagi Hideyoshi menghunus dan menebaskan katanya nya ke arah Jayaseta. Ia menubrukkan bahu nya ke punggung Jayaseta.
BRUK!
Luar biasa akibat yang dihasilkan dari tubrukan yang nampaknya sederhana tersebut. Jurus-jurus sang ronin ini sangat tertata dan penuh perhitungan. Seorang Samurai juga dibekali jurus-jurus tangan kosong yang digunakan dalam keadaan tertentu dimana senjata tidak sedang ada di tangan atau tidak mungkin menggunakannya. Sama seperti beberapa jenis silat nusantara, jurus-jurus tangan kosong yang disebut jujutsu ini memanfaatkan yawara-gi atau sifat pertahanan diri dengan menggunakan kekuatan lawan sebagai kekuatan diri sendiri. Sifatnya yang ringkas dan terencana membuat para Samurai mampu membekuk musuh tanpa menggunakan tenaga yang berlebihan.
Bayangkan, jujutsu Hideyoshi yang ditambah dengan tenaga dalamnya yang hebat. Untungnya Jayaseta juga memiliki ilmu kanuragan yang sudah mencapai kematangan.
Untuk menghindari dirinya terjerembab oleh serangan tersebut, Jayaseta berguling ke depan sekali dan langsung mengatur kuda-kuda rendah Tanpa Jurusnya. Kuda-kuda yang disesuaikan dengan keadaan dan berjalan secara alamiah itu membantu Jayaseta untuk menghadapi serangan cepat dan terencana gaya Battojutsu Hideyoshi.
“Yaaaaaiishh!!”
__ADS_1
Benar saja, sembari meraung keras, Hideyoshi meluncur ke arah Jayaseta. Katananya dihunus dengan cepat. Potongan menyamping dari bawah ke atas membelah Jayaseta.
TRAK!
Topeng Hanuman putih Jayaseta tertebas meninggalkan goresan panjang disana. Hideyoshi menebaskan katananya kembali ke bawah, menyasar batok kepala Jayaseta.
TRANG!
Jayaseta menangkis katana dengan sisi daonya. Percikan api menunjukkan betapa hebatnya tebasan Hideyoshi dan tenaga yang ia keluarkan. Jayaseta sendiri mundur jauh tiga langkah ke belakang.
Topeng Hanumannya tidak rusak parah atau terlepas meski seperti hampir terbelah tepat di bagian moncongnya. Jayaseta sendiri tidak terluka. Namun serangan cepat itu menunjukkan betapa cepat dan dahsyatnya jurus-jurus pedang Hideyoshi. Hideyoshi sendiri kembali ke kuda-kuda awalnya dengan katana satu setengah hastanya yang telah masuk lagi ke sarungnya. Luar biasa cepat permainan pedang ronin Jepun ini.
Jayaseta mempersiapkan diri lagi. Tapi namanya juga pertarungan, tidak ada waktu untuk terlalu lama berpikir dan meracang segala sesuatu. Jayaseta menepis serangan katana yang tiba-tiba datang dari arah samping. Kemudian ia berguling sekali ke depan karena satu tebasan lagi di arahkan untuk memenggal kepalanya. Serangan itu datang bukan dari Hideyoshi, tapi dari Koguro yang terluka.
“Hyaaaarrghh!!” Koguro menyerang bagai banteng terluka dengan katana, sedangkan wakizashi yang tertancap di tanah ia tinggalkan begitu saja. Jayaseta masih terus menerus menghindari serangan Koguro dalam paling tidak tiga kali tebasan yang mengancam membelah perut dan lagi-lagi leher Jayaseta. Jurus Tanpa Jurusnya membuat semua serangan Koguro lolos. Untuk satu tebasan terakhir yang mengarah ke bahu, Jayaseta malah menyongsongnya.
Ia membabatkan dao nya guna menepiskan katana, kemudian menunduk dan menancapkan keris Kyai Pulau Bertuah tepat di ************ Koguro, menghancurkan kejantanan Samurai itu untuk selama-lamanya.
Yang berteriak bukan Koguro, tapi Hideyoshi. Urat-urat di leher dan wajahnya menyembul keluar. Sudah pasti hal ini mengejutkan dan sangat memukul melihat rekan sesama roninnya yang kemunginan besar sedang menunggu ajal.
Ia meluncur dengan begitu cepat, secepat yang ia bisa untuk menyerang Jayaseta. Jayaseta sendiri setelah menusukkan kerisnya segera melepaskan dao nya yang semula ia genggam. Dengan tangan kanan yang bebas ini ia memukul tubuh Koguro dengan jurus Telapak Buddha.
Jayaseta paham ia akan langsung diserang oleh Hideyoshi, itu sebabnya dengan menggunakan Telapak Buddha dengan tenaga dalamnya yang besar tubuh Koguro terlempar ke arah Hideyoshi yang sedang meluncur menyerang ke arahnya.
Hideyoshi masih sempat mendengar tulang-tulang Koguro berderak patah sebelum tubuh mati Koguro yang terlempar menubruknya, membuatnya urung menghunus katananya.
Di balik tubuh Koguro yang terlempar tadi Jayaseta melenting tinggi memanfaatkan kelemahan Hideyoshi yang tertubruk tubuh Koguro. Jayaseta harus menyelesaikannya. Menancapkan Kyai Pulau Bertuah di dada Hideyoshi.
DAR!!
Biji timah panas bersarang di lambung Jayaseta. Kyai Pulau Bertuah terlepas dari tangan Jayaseta. Ia terpental dan ambruk terlentang di tanah. Asap tebal keluar dari moncong pistol di tangan kiri Sebastian de Jaager. Tanpa menunjukkan perasaan yang dapat tergambar di wajahnya, Sebastian memandang saudaranya yang jangkung, Deviser de Jaager. Pandangan matanya seakan ingin mengatakan “Sudah beres!”. Ia juga memandang wajah Hideyoshi yang masih mengeras.
__ADS_1