
"Biar aku dan Ireng yang akan naik ke kapal itu terlebih dahulu," ujar Siam ketika tali tambang sudah dilemparkan ke atas kapal de Paula tersebut. Memang sejak mereka berhasil mendekati kapal itu, sama sekali tak tampak perlawanan atau bentuk tindakan mencurigakan apapun. Ketika Siam dan Ireng berteriak ke kapal untuk mempersiapkan tali tambang karena penumpang kapal layar hendak naik ke atas, para awak kapal itu mengiyakan.
"Tidak. Kau dan Ireng tinggal di sini," tegas Narendra. Tentu ucapan Narendra memabuat baik Siam maupun Ireng terkejut. "Kami ingin membantu, tuan. Jangan khawatir, kami mampu menjaga diri seperti yang sudah-sudah," jawab Siam.
"Bukan itu masalahnya, Siam. Kau dibutuhkan di kapal ini. Kita hanya memiliki beberapa awak saja. Bila terjadi apa di atas sana, hanya kalian yang mampu memiliki keputusan cepat. Lagipula, jangan sampai terlalu banyak orang di atas geladak. Kepadatan akan membuat suasana kisruh," kali ini Katilapan yang urun bicara.
"Memangnya apa yang akan terjadi pada kalian sehingga kami harus jaga-jaga? Kalian adalah pendekar-pendekar hebat, bukan?" Ireng bertanya kepada Narendra dan Katilapan.
"Kau percaya pada kami, terutama Jayaseta bukan? Benar, kami akan menyelesaikan perkara ini secepat mungkin. Kalian mejaga di bawah bukan karena kami tak yakin akan berhasil menyelesaikan perihal ini. Pikirkan bila mereka dengan licik melakukan sesuatu kepada jung Raja Nio, misalnya. Siapa yang dapat dengan tanggap dan peka mengetahuinya?" ujar Katilapan.
Ireng dan Siam saling berpandangan. Keduanya tak bisa menampik kebenaran dalam ucapan Narendra dan Katilapan. "Baik. Segeralah kembali. Berteriaklah bila ada sesuatu atau apapun yang kalian inginkan dari kami. Aku juga tak akan mengendurkan penjagaan dan pengawasan," ujar Ireng. Siam pun mengangguk.
***
Narendra dan Katilapan telah sampai terlebih dahulu di atas geladak kapal. Datuk Mas Kuning dan Jayaseta menyusul. Topeng yang dikenakan Jayaseta menutupi seluruh gambaran wajah pucat pasi pendekar itu ketika meniti seutas tali tambang yang merentang dari kapal layar ke kapal yang dipimpin oleh de Paula tersebut.
***
Jala Jangkung, nakhoda berdarah Jawa dari semarang dengan wajah yang lembut dan sumringah itu berdiri di depan keempat pendekar yang ada di geladak kapalnya. "Selamat datang di kapal hamba yang sederhana ini, tuan-tuan. Ada keperluan apakah sehingga tuan-tuan perlu sekali menyusahkan diri mengejar kapalku ini?" ujar sang nakhoda dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Datuk Mas Kuning yang angkat bicara terlebih dahulu. "Basa-basimu tak perlu digunakan. Kau pastilah paham tujuan dari kedatangan kami, bukan?"
Jala Jangkung tertawa renyah. "Aku pikir cuma darah muda yang selalu menggelegak sehingga melupakan adab, sopan-santun dan tatakrama, namun rupa-rupanya, sepuh juga bisa," ujar Jala Jangkung kepada sang Datuk.
"Hal ini sama sekali tidak ada urusannya dengan tatakrama. Permainan apa yang sedang kau lakukan sehingga dengan mudahnya kau menggunakan jung yang kami tumpangi sebagai umpan dan sasaran serangan kapal-kapal lain?"
__ADS_1
Narendra, Katilapan dan Jayaseta mengedarkan pandangan ke seluruh geladak kapal. Ada banyak pendekar yang sudah mempersiapkan senjata mereka diam-diam meski juga masih jelas terlihat oleh mata mereka. Bahkan awak kapal beragam umur, dari yang masih belia dan terlihat satu orang yang cukup tua untuk menjadi awak kapal, tetap bekerja walau diam-diam mencuri dengar dan pandang.
"Baiklah, rasa-rasanya tak perlu berbasa-basi lagi. Toh waktuku akan habis bisa melayani kalian. Kapal ini harus pergi sejauh mungkin dari pusat pertempuran," wajah sang nakhoda berubah mutlak. Dari wajah lembut menjadi keras dan siaga.
Jala Jangkung mengangkat satu tangannya. Para pendekar yang berdiri langsung mengambil senjata mereka masing-masing.
Jala Jangkung mundur, berbalik, kemudian meniti sebuah tangga dan duduk di lantai atas, di sebuah bangku kayu bagai sebuah singgasana seorang raja. Di sampingnya, para penembak dari Ambonia dan Flores mempersiapkan bedil mereka juga namun tak mengarahkannya kepada rombongan Jayaseta.
Tak lama, sebuah pintu di samping jauh dudukan sang nakhoda terbuka. Seorang Pranggi dengan kulit pucat, mata biru, rambut pirang mengintip dari dalam ikat kepala gaya Melayu keluar dari bilik itu. Tubuhnya dibalut pakaian pribumi, namun sekali lihat saja keempat pendekar yang baru saja sampai di geladak kapal ini paham bahwa sosok itu adalah seorang bule.
"Tak heran. Orang bule yang berada di belakang mereka," gumam Datuk Mas Kuning.
***
Babiat Sibolang melemparkan hujur singiris yang diperlakukan sebagai lembing ke arah empat pendekar itu. Hujur singiris yang berkayu tipis dan ramping ditepis dengan mudah oleh Datuk Mas Kuning, terlempar jatuh ke tengah laut. Keris sang Datuk telah lolos dari warangkanya.
Beberapa pendekar Aceh menghambur maju. Tangan kanan mereka sudah menggenggam sebuah pedang melengkung bergaya Arab yang dikenal dengan sebutan peudeung. Jayaseta langsung mengenali gaya pedang yang serupa dengan shamsir yang dipengaruhi negeri-negeri Timur Tengah tersebut. Senjata ini adalah pasangan senjata tikam, belati, gaya Aceh, yaitu rencong, di tangan kiri mereka. Kedua senjata ini menjadi pasangan yang saling melengkapi, dimana peudeung membabat musuh dari jarak jauh, sedangkan rencong siap ketika musuh mendekat.
Jayaseta menggeser tubuhnya menjauh dari rekan-rekannya. Datuk Mas Kuning mundur, sedangkan Katilapan dan Narendra berguling maju.
Para pendekar Aceh, lima orang, maju mengejar musuh. Di belakang mereka, orang-orang Toba rekan Babiat Sibolang sudah mengangkat hujur singiris membujur sejajar dengan kepala, mencari ruang dan sasaran untuk melepaskan lembing mereka.
__ADS_1
Dua dari tujuh pendekar Bugis dan Mangkasara mencabut pedang pendek yang disebut alamang atau sudang. Sisanya cukup percaya diri menggenggam keris Mangkasara dan Bugis serta badik. Darah telah menggelegak membuat mereka tak sabar maju ke pertarungan.
Di lapisan belakang, masih ada tiga bekas budak Nias berwajah dingin. Tangan kanan mereka menggenggam pedang balato atau gari dengan perisai baluse di tangan satunya. Paling tidak satu kepala musuh harus lepas dari badannya, pikir mereka. Serupa seperti peperangan antar suku di tempat asal mereka, dimana suku-suku saling menyerang dan memenggal kepala untuk mendapatkan budak.
Mungkin mereka berasal dari suku yang kalah dan menjadi budak, namun kali ini, mereka tak berniat untuk tetap terbelenggu.
***
Sudah barang tentu pertanyaan terlintas di pikiran para pendekar beragam bangsa di kapal ini, termasuk Jala Jangkung sang nakhoda serta de Paula yang berdiri di sampingnya mengenai seorang pendekar yang mengenakan topeng Mah Meri. Tapi, itu nanti saja dicarikan penjelasannya. Pertarungan ini terlalu seru untuk diganggu dengan perihal remeh semacam itu.
***
Jayaseta berkelit lincah ketika dua bila peudeung mengejar dada dan perutnya dengan menyilang. Ia kemudian menepis hujur singiris yang melaju cepat mematuk ke arah lehernya. Batang tombak itu meluncur menggesek kulit lengan luarnya. Jayaseta memutarkan lengannya dan menangkap bagian ujung belakang lembing yang dilemparkan ke arahnya itu.
Ia langsung membabatkan hujur singiris ke dua pendekar Aceh yang langsung mundur jauh menghindar, menciptakan ruang diantara dirinya dan para penyerang.
***
Katilapan memutarkan ginunting membabat dan menusuk. Satu pendekar Aceh berguling ke samping. Di depannya hujur singiris menusuk. Katilapan memapras tombak Toba itu kemudian menyerang maju. Namun ia kembali harus mundur karena Babiat Sibolang meloncat dan menusukkan piso ke arah kepalanya.
***
Narendra bergerak maju mundur menusuk-nusukkan tombak trisulanya. Kecepatan jurus tusukannya menyobek kulit lengan seorang pendekar Aceh, namun ia pun hampir termakan tusukan rencong ketika mencoba maju. Ia berguling ke belakang. Ketika mengangkat kepala, pendekar Aceh itu sudah berada di atas kepalanya siap melesakkan bilah peudeung yang berkilat di batok tengkoraknya.
***
__ADS_1
Para pendekar dan pelaut Bugis dan Mangkasara berteriak keras. Sudah saatnya mereka ikut masuk ke pertempuran. Bila menunggu terlalu lama maka kepala mereka mungkin akan meledak saking tak kuatnya bersabar.
Kesemuanya merengsek maju, mengincar lawan mana yang akan dijadikan sasaran. Mungkin si tua itu dahulu, pikir mereka. Si renta yang rentan, si tua yang bagai seorang tuan. Pastilah keris, badik dan alamang atau sudang mereka tak keberatan meminum darah kakek-kakek.