Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lembing Bambu Runcing


__ADS_3

Dengan gerakan yang luar biasa liar dimakan nafsu, para perompak Annam dan Champa berlari bagai orang kesurupan mengejar sosok Jayaseta yang menghilang ke balik rimbunnya pepohonan dan tetumbuhan lain. Masing-masing dari mereka menggenggam beberapa batang bambu runcing yang sedianya akan digunakan untuk membantu penyerangan kapal yang dinaiki Sasangka.


Jalan takdir berkata lain. Ternyata Sasangka tidak semudah itu dimusnahkan. Ia dibantu sosok tak dikenal lain, Jaka Pasirluhur, yang meski tak saling tahu-menahu, ternyata adalah seorang pendekar pilih tanding pula. Belum lagi kedatangan tiga kapal lain yang berisi orang-orang Lan Xang yang mau tidak mau langsung saja memberikan bantuan kepada teman-teman mereka di atas kapal Lan Xang yang diserang. Belum lagi unsur lain yang lagi-lagi tak diduga, yaitu kehadiran Pratiwi, Yu dan Fong Pak Laoya yang berhasil mengganggu serangan mereka.


Kini, ketika nyatanya orang yang hendak mereka sasar malah merusakkan rencana besar ini, mereka tak mungkin bisa menahan diri mereka lagi.


Sebenarnya ada dua bagian rombongan perahu yang hendak berangkat membantu rekan-rekan mereka. Namun, hanya sebagian kecil saja yang tertinggal. Sisanya sudah lama terlebih dahulu pergi.


Maka, beberapa buah perahu dengan belasan atau mungkin lebih dari dua puluh perompak inilah yang merasa beruntung menyelesaikan pekerjaan besar kelompok Dunia Baru tersebut. Paling tidak itu anggapan mereka.


Semua perompak bertelanjang dada dan bercawat itu berlari cepat menyibak rerimbunan hijau hutan. Namun semua usaha mereka tidak terlalu besar, karena hanya dalam beberapa tarikan nafas saja mereka sudah menemukan apa yang mereka cari.


Sosok Jayaseta berdiri di tengah-tengah sebuah wilayah lapang yang dikelilingi pepohonan besar. Tanahnya dihiasi rerumputan pendek dan sulur-sulur akar tanaman. Terlihat juga ada aliran air yang membentuk semacam anak sungai kecil, yang hanya selebar tubuh manusia berbaring.

__ADS_1


Jayaseta menutup mulut dan sebagian besar kepalanya dengan selembar kain, menyisakan sepasang mata saja yang meski sipit, terlihat memandang nyalang. Ia berdiri tegap, meski dalam keadaan yang cenderung santai. Kuda-kuda Jurus Tanpa Jurusnya tersembunyi dalam gaya berdirinya yang menipu itu. Ia tak menggenggam senjata sama sekali, tak keris tak belati jenis apapun.


Sang pemimpin perompak menyibak barisan anak buahnya yang berdiri berderet menumpuk di depan sang sosok pendekar. Tanpa kata, tanpa bahasa, pandangan mata Jayaseta di balik lingkupan kain yang menjadi topeng di wajah dan kepalanya itu menunjukkan tantangan nyata.


Jayaseta mengepalkan salah satu tangannya dan mengangkatnya ke udara, kembali merupakan sebuah tanda tantangan.


"Bedebah! Bangsat satu ini memang minta mati. Kita lihat seberapa hebat dia. Ia sudah menjejak wajah dan tubuh beberapa teman kita. Sebuah gerakan gertakan yang cukup menawan dan meyakinkan. Tapi apa dia bisa menghadapi kita semua sekaligus?" ujar sang pemimpin dalam bahasa yang bisa dipahami baik orang Annam maupun Champa. "Berikan aku lembing bambu itu!" perintahnya kemudian.


Satu perompak maju mendekatinya dan memberikan dua batang bambu runcing yang ramping dan panjang. Ujung bambu yang lancip terlihat segar, mungkin belum lama ditajamkan.


"Kita harus membantu tuan Jayaseta," ujar Ireng.


Ketika ia hendak maju, bahunya ditahan Katilapan. "Jangan, Ireng! Biarkan saja. Kita lihat dan perhatikan saja dari sini. Jayaseta akan menyelesaikannya sendirian. Saat ini, ialah kisah utamanya. Tak perlu kau risaukan kemampuan silat dan entah rencana apa yang ada di dalam otaknya itu. Kalau memang nasib sedang buruk, barulah kita ambil keputusan untuk melakukan sesuatu untuknya," ujar Katilapan. Wajahnya menunjukkan raut sungguh-sungguh, membuat Ireng mengundurkan diri dan mengikuti apa permintaan Katilapan.

__ADS_1


SYUUTT!!


Lembing bambu terlempar ke arah Jayaseta. Lemparan ini bagai sebuah ejekan dan percobaan saja dari seorang pemimpin rombongan perompak ini kepada Jayaseta. Harapannya mungkin Jayaseta akan menepisnya sehingga mereka semua dapat menakar kemampuan lawan.


Sayangnya, mereka tak sadar siapa yang dihadapi.


Jayaseta dengan tangkas menangkap lembing bambu runcing itu, kemudian berputar dan melemparkan balik ke arah sang pelempar.


Keterkejutan membuat sang pemimpin rombongan mengelak cepat. Ia berhasil, tapi tidak dengan anak buah di belakangnya yang harus bernasib nahas. Batang bambu itu menerobos masuk menembus lehernya.


Bunyi serak keluar dari kerongkongan sang perompak ketika nyawanya tertarik keluar dari tubuhnya. Ia mengejang sebelum tewaa jatuh terbujur kaku.


Tak sempat memikirkan apa yang baru saja terjadi, Jayaseta meluncur menerjang para pengeroyoknya. Tubuhnya meluncur cepat di atas tanah, melompati anak sungai kecil seperti berjalan di atasnya saja, kemudian menggunakan sedikit saja tenaga dalamnya memukulkan tinju Bogem Watu Gunung ke arah tubuh-tubuh yang berdiri tak siap.

__ADS_1



__ADS_2