
Empat orang laki-laki Thai tersebut masih berjalan merunduk-runduk di balik pepohonan dan tetumbuhan perdu. Ilalang yang tinggi-tinggi juga menyamarkan keberadaan mereka. Empat pria pemburu sekaligus prajurit ini memiliki tindak-tanduk dan gerak-gerik yang cukup aneh. Suku Thai memang bisa dikatakan sudah menjadi bagian terbesar di negeri Siam. Bahkan bisa dikatakan hampir pasti orang Siam adalah suku Thai.
Masalahnya, para pria ini berasal dari suku Thai yang selama ratusan tahun merupakan suku asli Tai dari Cina yang masih bisa dikatakan berdarah murni. Mereka tidak bercampur dengan suku-suku atau orang-orang dari negeri lain seperti Kamboja, Annam, atau nusantara. Selama ini, dalam kekacauan peperangan antar negeri, dimana orang-orang Thai mulai membentuk negeri mereka sendiri yang disebut dengan negeri Siam Ayutthaya, segelintir suku Thai berdarah murni ini menolak terlibat dalam kekalutan kenegaraan. Mereka bersembunyi jauh-jauh dan mempertahankan wilayah mereka dari orang-orang yang hendak mengganggu, terutama para prajurit dari Ayutthaya yang hendak mengambil mereka sebagai bagian dari ketentaraan dan tak terkecuali para pelancong.
Hidup mereka tidak bisa dikatakan tertinggal. Bahkan tidak ada bedanya dengan perkampungan orang-orang Siam lainnya. Mereka juga berbicara dengan lidah Siam dan berbudaya serupa pula. Namun, bila dipikir-pikir, mereka memiliki pemikiran dan kebiasaan serupa dengan suku-suku Daya’ di pulau Tanjung Pura yang memilih untuk bersembunyi dari pantauan kekuasaan dan hiruk-pikuk persengkataan antar wilayah, antar bangsa, antar negera dan kerajaan, antau antar orang.
__ADS_1
Kehadiran para pelancong dengan wajah, bentuk tubuh, busana, bahasa dan penampilan itu jelas mengundang keingintahuan sekaligus kecemasan dan kekhawatiran bahwa orang-orang asing tersebut dapat menjadi masalah serta ancaman bagi kampung dan warga mereka.
Keempat pria ini saling pandang dan mengangguk ketika melihat api kecil dinyalakan dari gua di bawah bukit. Mereka sudah cukup jauh dari sungai sehingga tempat ini bukan termasuk lintasan para pejalan, pelancong, maupun pedagang. Jadi, jelas lagi bahwa alasan orang-orang tersebut bisa membawa bencana menjadi semakin kentara.
Tanpa ada yang memerintah, keempat pria tersebut merogoh sesuatu dari dalam kantung-kantung yang mereka bawa diikat di pinggang. Empat buah topeng. Topeng tipis dari baja itu berwarna abu-abu. Dua lubang di mata dan satu lubang menganga untuk mulut dikenakan dua orang, sedangkan dua lagi mengenakan topeng dengan mulut tertutup dan dibentuk seakan-akan menggambarkan raut wajah orang yang bersedih.
__ADS_1
Ayutthaya yang tumbuh sebagai kekuatan baru kemudian menundukkan Sukhothai pada masa kepemimpinan Li Thai atau yang bergelar Maha Thammaracha Pertama pada tahun 1349 Masehi, membuat Sukhothai menjadi negeri bawahan yang memberikan upeti kepada Ayutthaya sampai benar-benar melebur dengan Ayutthai pada tahun 1438 Masehi setelah wafatnya raja Sukhothai terakhir, Burommapan.
Kini keempat pria Thai Siam itu sudah mewarisi kebudayaan dan kecakapan perang dan bertahan hidup Sukhothai semenjak leluhur mereka memutuskan untuk mempertahankan kebudayaan, kebiasaan, pola pikir dan pengetahuan yang diwariskan oleh nenek moyang Tai Sukhothai mereka. Termasuk berperang dengan menggunakan topeng baja tipis tersebut.
__ADS_1
Api unggun yang memendar terlihat dari bawah, dari balik pepohonan itu perlahan semakin mendekat. Empat pemuda Thai sudah mempersiapkan tombak di tangan kanan mereka dan belati untuk berburu di tangan kiri. Mereka sejatinya belum bisa memastikan siapa dan apa tujuan dari kelompok yang mereka curigai dan khawatirkan tersebut. Namun, kampung mereka berada di wilayah ini, meski tidak juga terlalu dekat.
Keempat laki-laki Thai terus merengsek mendekati tempat perkemahan di dalam gua kecil di kaki bukit. Mereka baru saja hendak memutuskan untuk memecah kelompok menjadi dua agar dapat memeriksa dan memantau dengan lebih baik rombongan tersebut ketika sosok tak dikenal secara mengejutkan membelah kegelapan dan berdiri di depan pandangan mereka entah dari mana.