
Panglima Asuam tak dapat menahan lagi rasa benci dan malu yang membuncah di dalam dadanya.
Sudah habis-habisan mengeluarkan segala jenis ilmu kanuragan dan ilmu sihir, ia masih belum bisa menaklukkan kampung berbenteng kayu ulin ini. Hidupnya kini menjadi tak bermakna lagi. Apalagi karena terluka, ia mendapatkan jeda untuk melihat pasukannya dipukul mundur.
Klebit Bok atau perisai kayu bersegi enam terlempar di sana sini karena lengan yang putus atau pemegangnya yang sudah tak memiliki nyawa lagi.
Para penembak dari orang-orang Jawa yang ia andalkan hanya mampu melukai, mungkin membunuh sang ketua suku, Temenggung Beruang. Namun setelah itu, semangat warga kampung tak pernah benar-benar padam.
Panglima Asuam merasa menjadi ksatria seorang diri yang memiliki beban besar kemenangan. Seperti yang telah dipikirkan oleh Punyan pula, Bumi perlu darah, tidak peduli siapa menang siapa kalah.
Panglima Asuam memegang luka cakaran memanjang di rusuknya yang masih mengalirkan darah.
Jiwanya telah dilahap api kemarahan dan benci. Ia tak mungkin mundur lagi meski pasukannya perlahan terpukul mundur.
Dengan tenaga dalam yang terkuras dalam mempertahankan kekuatan gaib di dalam tubuhnya agar dapat menggunakan ilmu sihir, Panglima Asuam jelas kesulitan untuk menggunakannya lagi.
Hanya ada satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan. Melawan sang putra kepala suku hanya akan menewaskannya. Kegagalan sudah di ambang pintu.
Tapi, seperti yang diketahui, perang suatu hal yang rumit dan pelik. Ketika kekuasaan tak lagi dapat dicapai, tinggallah kebencian dan harga diri. Dua hal itu yang tersisa dari diri Panglima Asuam.
Malahan, ia tak peduli lagi dengan kemenangan. Ia hanya ingin mencelakakan dan jelas-jelas membunuh Punyan, apapun taruhannya.
Punyan berdiri sedikit menunduk di balik asap. Ia telah siap menghujam tubuh sang lawan kembali.
Panglima Asuam meregangkan otot-otot di tubuhnya. Tanpa menutup kedua matanya, Panglima Asuam nampak merapal sebuah mantra. Lagi-lagi terjadi sebuah hal yang tak awam terlihat dalam dunia persilatan, terutama pada abad ke-17 Masehi ini. Tubuh Panglima Asuam mengeluarkan asap. Jelas bukan asap dari kebakaran bangunan yang dilakukan oleh para Biaju, tapi kepulan itu keluar dari kepala, bahu dan pada dasarnya seluruh tubuh penuh rajah sang panglima.
Punyan paham sekali ilmu ini. Ia mungkin tak pernah melihat dengan mata kepala sendiri, tapi melihat ciri-ciri ilmu yang dikeluarkan sang Panglima, rasa-rasanya ia sudah mendengarkan penjelasan dan gambarannya dari sang apai. Apalagi, ditekankan bahwa ilmu tersebut mungkin sekali dimiliki siapapun selama memiliki niat besar, dan pengorbanan yang tiada tara.
Sebuah ilmu sihir lain yang begitu mengerikan, melibatkan tidak hanya makhluk-makhluk gaib dan setan-setan, namun juga dunia lain dimana mereka berada dan tinggal.
__ADS_1
Ilmu sihir itu bernama Cuca Bangkai.
***
Dara Cempaka berlari menyusuri tepian benteng kayu ulin. Baginya sudah terlanjut untuk menyelamatkan para warga, ia tak mau berhenti untuk menyelamatkan yang lain.
Ie membebaskan ternak yang terjerat, atau tertimpa reruntuhan bangunan dan pepohonan. Ia menarik prajurit Daya yang terluka parah ke tepian, agar segera dapat dirawat atau paling tidak terhindar dari pertempuran.
Jayaseta sebenarnya masih menghadapi beberapa sisa orang Jawa yang tadinya memegang bedil tersebut, ketika Narendra dan Katilapan memaksanya meninggalkan medan pertempuran. "Pergilah, Jayaseta. Kami bisa menghadapi mereka. Kau sudah mempermudah pekerjaan ini. Kekasihmu nampaknya tak puas hanya menyelamatkan para warga, ia masih terus berusaha menyelamatkan yang lain," ujar Katilapan.
Narendra memutar-mutarkan tombak bermata trisulanya, "Kita bertemu nanti, Jayaseta. Pergi kejar gadis itu," ujarnya.
Jayaseta mengangguk sebagai bentuk rasa percaya dan terimakasih kepada kedua temannya tersebut. Ia kemudian mencelat meninggalkan medan pertempuran untuk mengejar Dara Cempaka.
***
Tombak dan keris tanpa perisai tergenggam di tangan mereka. Dengan bersatu padu, kekuatan Biaju benar-benar tergerus. Orang-orang Jawa yang jumlahnya tak seberapa itu terdorong oleh rasa amarah karena dibokong dan dikhianati, teringat pada rekan-rekan mereka di dalam perahu jukung yang dibunuhi, menjadi semakin ganas seganas para prajurit Daya di kampung berbenteng kayu ulin tersebut.
Sebagai akibatnya semangat lawan begitu jatuh dengan seketika saat mendapati banyak pasukan dan orang-orang pilihan serta jagoan mereka tumbang. Apalagi, beberapa menyaksikan bahwa Panglima Asuam terluka di sudut sana ketika bertempur dengan Punyan dengan ilmu sihir dan gaib mereka.
***
Dara Cempaka benar-benar melihat sebuah kenyataan yang pahit dalam peperangan. Bukan hanya mayat yang bergelimpangan, atau kehancuran bangunan, ternak dan ladang, namun kebencian dan amarah yang menggelegak, bagaimana setiap orang saling bunuh tanpa ampun.
Ia tak bisa membiarkan hal semacam ini terjadi di depan matanya tanpa ia bisa melakukan apa-apa.
Dara Cempaka dengan cekatan mengatur rencana dengan cepat bersama siapa saja yang bisa ia temui. Warga yang masih kuat dan berani, diam-diam menyelinap di antara prajurit yang saling babat atau menyumpit di antara pepohonan dan bangunan yang masih utuh.
Ia membawa mereka untuk mengumpulkan ternak yang tersisa, menolong korban luka atau membawa harta benda apa saja yang masih mungkin diselamatkan.
__ADS_1
Siam dan Ireng mendadak muncul, mengejutkan Dara Cempaka. Hampir saja gadis itu menebaskan mandaunya untuk menghalangi kedua orang yang datang tersebut.
Ireng dan Siam juga tak kalah terkejut, namun kemudian tertawa lega dan segera ikut memberikan bantuan yang bisa. Dara Cempaka bernafas lega atas kehadiran mereka, apalagi Jayaseta datang menderu. Maka lengkaplah sudah rasa tenangnya.
***
Panglima Asuam merasakan segenap tenaganya tersedot ke dalam pusaran ilmu terakhir. Pengorbanan ini harus berujungkan pada hasil yang memuaskan.
Cuca Bangkai adalah sebuah ilmu sihir yang terbentuk di pedalaman, berakar dari tempat-tempat keramat yang tak ditinggali manusia seperti pepohonan raksana, bukit-bukit kelam dan sungai-sungai yang deras.
Mahluk-mahluk adikuasa dan adikodrati di dalamnya kelak digunakan oleh manusia yang datang. Pengabdian manusia dengan memberikan jiwa dan raga mereka untuk dapat menguasai ilmu ini adalah yang paling diharapkan.
Cuca Bangkai membuat siapapun yang terkena ilmu sihir semacam teluh ini menjadi kehilangan jiwanya, menjadi bangkai namun bernyawa, mayat hidup.
Hanya saja, Panglima Asuam sudah kehabisan tenaga dalam dan kekuatan sihir dari mahluk-mahluk gaib yang ia ajak kerjasama. Ajian pamungkas ini menjadi benar-benar pungkasan atau bagian terakhir yang bisa ia lakukan.
Dengan melepaskan ilmu ini, orang yang terkena akan manjadi manusia tanpa kesadaran, tapi ia sendiri akan kehilangan nyawanya.
Ya, ini adalah tindakan bunuh diri Panglima Asuam. Ia sudah tak bisa mengalahkan Punyan lagi, pasukannya juga sudah dipukul dan diratakan oleh pasukan musuh yang bergerak maju bagai roda gilingan.
Panglima Asuam telah dikuasai angkara murka, kebencian, dendam dan rasa harga diri yang memuncak. Ia sudah tak memedulikan bahkan keselamatan nyawanya sendiri. Darah akan ditumpahkan untuk membuat Punyan mendapatkan ganjarannya.
Panglima Asuam bergetar. Asap dari tubuhnya menghilang perlahan-lahan. Hembusan hawa tenaga bagai angin keras lepas dari badan sang panglima mengarah ke Punyan.
Yang diserang menghentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya seakan berpendar, hadir sekaligus tiada di balik asap. Punyan mengerahkan semua yang ia mampu dan bisa. Ia juga siap mengorbankan nyawanya untuk memberi kurban pada alam, pada tanah dan pada bumi.
Tenaga kelam yang meraup dari tubuh Panglima Asuam menyeruduk Punyan bagai kumpulan babi hutan, menciptakan hawa panas dan jahat di sekitarnya. Punyan menahan hawa itu dengan sekuat tenaga. Bagian dalam tubuhnya serasa dikocok-kocok, namun ia mengingat sang apai yang masih sekarat, warga kampung yang sedang diancam perbudakan dan pengayauan serta kehancuran benteng.
Punyan berteriak keras, mengangkat kedua tangannya ke angkasa dan menepis hawa itu kuat-kuat. Semburan tenaga pecah berderai dan menggelundung ke arah tepisan Punyan, tepat saat Dara Cempaka muncul dari sisi tersebut.
__ADS_1