Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Katana


__ADS_3

Banyak yang mendengar kabar bahwa seorang Samurai dari Jepun selalu bersenjatakan sebilah pedang katana, sebuah pedang khas negeri Jepun bersisi tajam tunggal dan melengkung. Katana dikenal memiliki ketajaman dan kekuatan yang diceritakan tak tertandingi. Padahal sebenarnya katana sama saja dengan pedang, golok, shamsir, simitar atau dao dan jian. Yang berbeda adalah bagaimana cara pedang tersebut digunakan. Jurus-jurus para samurai adalah jurus-jurus cepat dan ringkas dimana setiap sabetan katana sangat direncanakan dan diperhitungkan sehingga mengenai musuh dan harus dapat melumpuhkan bahkan mematikan.


Para samurai adalah orang-orang yang berasal dari kelompok ksatria di negeri Jepun. Mereka tunduk di bawah para tuan tanah yang memiliki kekuasaan atas suatu daerah dan tentu saja keuangan yang tidak sedikit. Mereka dilatih semenjak dini dengan keras. Tidak jarang para calon samurai ini juga berasal dari keluarga samurai. Mereka membaktikan diri pada peperangan dengan menguasai seni olah diri dan peperangan, siasat menyerang dan bertahan, menguasai bermacam pengetahuan dan jati diri bangsa.


Hanya saja perlu dilihat bahwasanya para samurai bukanlah sekadar prajurit biasa. Mereka berada di tingkat atas dalam kemasyarakatan, sama seperti bangsawan dan priyayi Jawa.


Mereka tidak hanya mampu berperang, mereka juga memahami seni menari dan menyanyi dan upacara-upacara keagamaan dan kerajaan. Oleh sebab itu tidak semua orang yang menjadi prajurit bisa dikatakan seorang samurai. Para prajurit ashigaru atau tentara yang berjalan kaki memiliki tingkat yang lebih rendah dibanding para samurai. Mereka adalah pasukan yang paling dasar dan berada di garis depan peperangan.


Takizawa Hideyoshi dan Mishima Koguro telah bertahun-tahun bersama. Mereka mengabdi pada tuan yang sama, bahkan berganti dua kali pada tuan tanah yang lain yang mereka anggap pantas untuk dilayani. Tuan tanah-tuan tanah ini menguasai ladang dan sawah yang luas serta para pekerjanya. Dalam sejarah Jepun, tidak selalu maharaja dapat menguasai seluruh penguasa di bawahnya. Peperangan harus terjadi untuk kekuasaan terbesar. Untuk itulah para samurai dibutuhkan untuk menjaga kekuasaan mereka. Tidak hanya itu, melayani seorang tuan tanah merupakan sebuah kehormatan tertinggi dalam anggapan masyarakat Jepun.


Pada tuan tanah yang terakhir di Jepun sana, Hideyoshi dan Koguro dihadiahi tanah dan rumah serta belasan pembantu rumah tangga. Seorang chugen, yaitu pembantu pribadi langsung mereka, melayani kegiatan dan kebutuhan mereka setiap hari bahkan sampai menyiapkan alas kaki. Sisanya para komono merawat rumah dan segala kebutuhannya serta berhubungan dengan pekerjaan-pekerjaan kasar. Kekayaan mereka cukup untuk membuat mereka sendiri berbangga hati. Rasa hormat dan tingkat kemasyarakatan mereka sesuai dengan pengabdian mereka.


Peperangan demi peperangan baik kecil maupun besar sudah mereka hadapi. Namun bagaimanapun dalam sebuah peperangan harus ada yang menang dan yang kalah. Mereka berdua paham itu. Mereka pun paham bahwa mereka menjadi pihak yang kalah saat ini. Tuan tanah mereka terbunuh dan pasukannya kalah oleh tuan tanah yang lebih kuat. Mereka menjadi ronin atau samurai tak bertuan.


Sebelumnya seorang ronin dapat kembali menjadi seorang samurai ketika dipekerjakan oleh tuan tanah lainnya. Namun pada masa Edo atau Tokugawa yang dimulai sejak tahun 1603 Masehi, ada peraturan dari Shogun atau pimpinan ketentaraan tertinggi yang berhasil menyatukan dan menguasai para pemimpin daerah dan tuan tanah di seluruh daerah Jepun yang disebut daimyo, yang melarang seorang ronin menjadi samurai tanpa ijin dari tuannya sebelumnya.

__ADS_1


Di sinilah mereka sekarang, dipekerjakan oleh pasukan Walanda sebagai watari zamurai, yaitu ronin pembunuh bayaran. Mereka lah bersama dengan beberapa orang watari zamurai lagi yang dipekerjakan Walanda untuk menjaga benteng betawi di Sunda Kalapa atau juga sebelumnya bernama Jayakarta.


Mereka diupah untuk bertarung menahan serangan para prajurit Mataram dan menjadi algojo yang menghukum orang-orang yang dianggap bersalah di depan kekuasaan Walanda serta tukang pukul melindungi para perwira Walanda. Untuk itulah tugas melindungi adik kakak de Jaager dibebankan kepada mereka. Keduanya mempelajari kenjutsu atau ilmu pedang yang mumpuni. Khusus Koguro, ia juga merupakan seorang ronin dengan kemampuan sojutsu atau ilmu tombak yang hebat.


***


Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Sebuah bukit menjulang di bagian Selatan benteng Betawi. Bukit itu dipenuhi dengan beragam tanaman, termasuk pepohonan pring wulung atau bambu berwarna hitam atau ungu, sehingga warga sekitar menamainya bukit bambu. Di tengah-tengah pepohonan tebu itu ada sebuah lahan tanah lapang yang memang sudah ada secara alami sejak lama.


Ketika Badra menghilang tempo hari, sebelum ia datang dengan keadaan yang begitu menyedihkan hingga tewasnya, rombongan rekan-rekannya menyebar ke beragam tempat di Betawi untuk mencarinya.



Maka dari itu, Jayaseta benar-benar menghadapi tantangan yang dibuat Badranaya, mendatangi bukit bambu tiga hari setelah kematian sang paman, dengan dao milik Abun menggantung di pinggangnya. Ia tahu pasti bahwa Walanda tidak akan 'bermain' jujur. Walau tantangan diberikan kepada de Jaager bersaudara, mereka tidak akan datang dengan sekadar membawa tubuh mereka tanpa pengawalan.


Buktinya sekarang, Jayaseta berdiri menghadapi dua orang watari zamurai pengawal dua adik beradik de Jaager tersebut yang seperti dua lapis benteng pertahanan. Mishima Koguro yang bertubuh gempal dan ulet mengenakan pakaian tempur samurai dengan pelindung dada, bahu dan tulang kering. Ia juga mengenakan pelindung kepala serupa topi terbuat dari baja. Baju dua lapisnya menjuntai sampai lutut. Di pinggangnya terselip daisho, yaitu dua buah pedang Jepun yaitu katana dan pasangannya yang lebih pendek, wakizashi. Tangan kirinya menggenggam gagang katana sedangkan sebuah tombak digenggam di tangan kanannya.

__ADS_1



Berbeda dengan Koguro, Takizawa Hideyoshi mengenakan pakaian yang lebih ringkas. Pakaian dua lembarnya tanpa ditutupi tameng atau pelindung apapun. Kakinya hanya dibungkus kain dan sepatu terbuat dari jerami. Rambutnya yang dikuncir keatas berkibar dibalik ikat kepala berwarna putihnya. Daisho nya terselip di sabuknya. Air mukanya sendiri terlihat lebih lembut dibanding Koguro apalagi tubuhnya yang ramping seakan menjadi pasangan yang pas untuk bentuk wajahnya. Namun jangan salah, keduanya menunjukkan kedalaman pemusatan pikiran dan kepercayaan diri yang membahayakan musuh.


Di belakang mereka berdiri lah sepasang saudara de Jaager. Devisser de Jaager sang adik yang dikenal dengan julukannya si Petir Berkulit Pucat berdiri menjulang di samping saudara tuanya, Sebastian de Jaager. Pakaian ketentaraan Walanda nya berkilau terkena mentari pagi selaras dengan rambut keperakannya. Baju yang ia kenakan berwarna putih bersih dari bahan kain yang kaku, seperti kain beskap Jawa. Baju tersebut berlengan panjang dan berkancing. Di bagian kancing dan kedua bahunya terdapat hiasan berwarna keemasan. Sedangkan kakinya ditutupi sepatu kulit hitam yang mengkilat sampai di bawah lutut. Rapier atau pedang panjang yang lebarnya hanya sekitar dua jari menggantung di pinggang kiri si jangkung ini, tepat diatas celana di bagian paha yang menggembung.


Rapier sang perwira menunjukkan tingkat keperwiraan mereka dimana gagangnya yang indah dibalut dengan pelindung kepal tangan dan jari yang berbelit-belit rumit seperti cincin dan tali-temali terbuat dari emas dan dihiasi dengan batu mulia. Di pinggang sebelah kanan terselip sebuah pistol berpelatuk kunci dan sebuah belati.


Sebastian de Jaager mengenakan pakaian yang lebih mirip pakaian perang. Ia mengenakan pelindung dada dan bahu dari logam. Kedua lengannya dibungkus dengan pelindung tangan dari kulit. Ia juga mengenakan pembungkus kaki sampai ke lutut, sedangkan kepalanya dilindungi pelindung kepala yang juga berbahan logam. Pinggang kirinya menggantung saber, pedang dengan satu sisi yang tajam dan sedikit melengkung. Serupa dengan rapier Devisser, ternyata saber juga memiliki pelindung jari yang mewah dari bahan emas menutupi kelima jari sang pemakai dari tebasan musuh menunjukkan tingkat keperwiraannya.


Jayaseta sendiri berdiri dengan gagahnya.Tangan kanannya memegang gagang dao yang menggantung di pinggang kirinya, tangan kirinya meraba hulu keris Kyai Pulau Bertuah yang terselip di sabuk bagian depannya. Celana pangsi selututnya berwarna hitam dengan hiasan benang emas di ujungnya. Ia mengenakan pakaian putih berlengan sampai sikut tanpa kancing yang berselip menyamping dan ditutupi dengan sabuk tebal dan kain jarit sepanjang lutut yang melingkari pinggangnya.


Topeng Hanuman telah terpasang kencang di wajah. Rambutnya tersimpul rapi di puncak kepalanya seperti biasa. Kali ini ikat kepalanya adalah kain batik. Tiga buah cakramnya, yang salah satunya adalah pemberian kakek Salman sebagai pengganti cakramnya yang sompel atau rompal, juga sudah diletakkan dengan rapi. Tidak hanya itu saja, Jayaseta masih menyimpan lima pisau terbang rahasia di balik ikat pinggang kulitnya. Gemerisik angin membuat daun-daun bambu yang lancip saling bertubrukan. Udara di jagad raya ini serasa berpusat di lapangan pertarungan dimana kelima anak manusia siap mengadu nyawa.


Baru saja Jayaseta sedang mengamati keadaan lawan-lawannya, tombak yang Koguru genggam dijadikan lembing, melesat lepas menyasar ke arah dadanya. Jayaseta bergeser ke kiri dengan cepat sehingga lembing itu tidak mengenai sasaran. Angin hembusan tombak Koguro terasa kencang di wajah Jayaeta. Tampak jelas bagi Jayaseta bahwa kedua ronin itu tidak pandai berbasa-basi.

__ADS_1


Lemparan lembing ini adalah tanda tegas bahwa pertarungan sudah dimulai.


__ADS_2