Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Cemeti


__ADS_3

Sudiamara sadar ia kesulitan menghadapi lawan karena separuh alasannya oleh karena para prajurit yang memenuhi lapangan tempur ini. Serangan cambuk membelah udara bertubi-tubi memencarkan para prajurit yang terus saja terluka dan berjatuhan seperti daun kering. Bila seperti ini terus maka hanya membutuhkan kurang dari lima jurus dan sepuluh serangan lagi para prajurit akan banyak yang takluk dan mungkin tewas.


“Mundur semua! Menjauh dari jarak cambuk!” perintah Sudiamara. Sialnya nampak sekali para prajurit tidak memiliki kerjasama yang baik terutama ketika diperintah. Ini mungkin karena mereka terbiasa mendengar perintah dari Koncar.


Sudiamara masuk ke gelanggang pertempuran. Ia meloncat, menunduk dan bergulingan. Serangan pecut mengahajar udara di sekitarnya, kemudian menghajar tanah pula. Tubuh sang pendekar Macanputih dari Blambangan ini mulai terlihat mewakili gelarnya. Kegesitan luar biasa dari Sudiamara sang Macanputih berhasil ditunjukkan. Kali ini, Sudiamara sedang memusatkan perhatiannya untuk menyelamatkan para prajurit dari jebakan jurus cemeti berpasangan lawan. Ia melakukannya agar dapat menggunakan para prajurit untuk mengalahkan lawan, bukan sebaliknya. Percuma bila para prajurit harus mati dengan konyol dan sia-sia.


Tubuh gempalnya menubruk sekaligus dua prajurit penjaga yang hampir terkena cambukan. Kedua orang tersebut jatuh bergulingan menjauh. Sudiamara juga menangkis cambukan lawan dengan pedang luwuknya ketika serangan ditujukan untuk membelit leher salah satu prajurit yang sudah tertatih-tatih menghadapi serangan.


Awalnya memang senjata cemeti, cambuk atau pecut ini digunakan sebagai alat untuk mengendalikan hewan ternak seperti kerbau, sapi atau kuda. Tujuan dari lecutan cambuk adalah untuk memberikan rasa sakit yang tidak mematikan bagi hewan, kuda misalnya, agar hewan tersebut mau menuruti mau sang pengendali.


Cemeti terbuat dari berbagai macam bahan, seperti rotan, ranting, atau bahan tali-temali yang dipilin semakin mengecil di bagian ujung serta diberi gagang. Banyak juga cemeti yang terbuat dari bahan kulit hewan.


Namun, cemeti juga kerap digunakan sebagai senjata. Dalam sebuah perkelahian atau pertempuran, cambuk biasanya digunakan untuk menjauhkan lawan agar tak mendekat sehingga tak dapat melaksanakan serangan-serangan mereka. Dalam hal ini, cemeti atau pecut cenderung dijadikan sebuah alat pertahanan. Cemeti juga bisa digunakan untuk merebut senjata lawan dan menjerat anggota tubuh seperti tangan, kaki, dan yang paling mematikan adalah leher.


Melihat jurus-jurus berpasangan dua orang ini, pecut digunakan tidak lagi untuk menjerat dan menjauhkan musuh, tetapi memang untuk membunuh. Dengan banyaknya orang yang mengeroyok, cemeti mereka malah menjadi senjata yang sangat tepat guna. Pasukan pengeroyok bubar jalan, tetapi tetap tertarik masuk ke dalam pusaran jebakan cambuk itu.

__ADS_1


Kedua pendekar malah sengaja menurunkan kekuatan cambukan mereka agar para penyerang menjadi penasaran dan menghancurkan pola serangan serta tata perang mereka. dengan begini, pecut sakti akan dapat membunuh para prajurit sama rata. Semua akan terjebak di dalam alat penghancur yang sama.


Sang Macanputih mengibaskan pedang luwuknya, menepis serangan cambuk kedua pendekar yang menderu-deru. Ia terus membantu para prajurit dengan menubruk dan menarik mereka menjauh.


Usahanya yang cepat membuahkan hasil. Jarang serang yang lebar terbuka diantara dua pendekar cemeti dan para prajurit. Kini Sudiamara dapat melihat bahwa pasukan yang ia selamatkan masih sebagian besar selamat dengan luka-luka kecil. Tiga orang terkapar karena luka besar di leher, punggung dan bahu mereka. Percuma bagi mereka untuk ikut dalam pertempuran selanjutnya.


“Cepat segera bangun! Jaga kuda-kuda kalian. Jangan berdiri terlalu tegak atau terlalu bungkuk. Bantu aku untuk mendekat ke arah keduanya. Bila benar salah satu dari mereka adalah Kesanga, aku harus tahu terlebih dahulu. Lemparkan tombak kalian sekuat mungkin tapi tidak dalam waktu yang bersamaan. Berikan jeda sedikit saja. Setelah itu masuk bersama-sama dengan keris kalian. Angkat tameng kalian sebelum sampai ke dekat mereka, kemudian lemparkan untuk mengganggu serangan mereka, kemudian tembus pertahanan. Ingat, mereka memiliki keris di tangan kiri mereka untuk menghabisi musuh yang mampu mendekat. Lakukan sekarang!” perintah Sudiamara dengan perintah yang sangat jelas. ia sendiri terus berjalan mengitari para prajurit yang berjatuhan.


“Tunggu! Kau menyatakan dirimu sebagai seorang pendekar, Macanputih dari Blambangan katamu, heh? Mengapa kau sangat membutuhkan kami untuk membantumu?” tentang salah satu prajurit.


Sang pendekar bertubuh gempal itu melaju masuk menyerang ke arah dua pendekar bercemeti tanpa lagi memedulikan para prajurit penjaga rumah Almira tersebut. Gerakan Sudiamara luar biasa menggila. Ia menghindar begitu lincah dari serbuan lecutan pecut. Dalam beberapa langkah lagi, Sudiamara pasti dapat mencapai ke arah sepasang pendekar pecut sakti tersebut. Namun, ia terpaksa harus mundur lagi karena ketatnya serangan.


Para prajurit saling pandang. “Kita tidak bisa membiarkan orang itu melakukannya sendiri. Kita sudah paham keunggulan kedua pendekar cemeti dan kelemahannya. Si Macanputih mungkin bisa melawannya, tapi apa guna kita? Kita juga bisa segera menyelesaikan dan membantu yang lain,” ujar salah satu prajurit sembari menunjuk ke arah para prajurit pemanah yang diserang seorang pendekar cemeti yang lain.


Kesemua prajurit mengangguk di saat yang bersamaan untuk sepakat. Mereka yang masih kuat dan tak terluka parah berdiri dan mempersiapkan tombak mereka.

__ADS_1


“Seranggg!!” seru para prajurit bersamaan.


Sudiamara mendengar gegap gempita di belakangnya, kemudian menunduk dan berguling mundur. Seperti apa yang ia perintahkan sebelumnya, satu tombak meluncur ke arah kedua pendekar cemeti. Pecut mereka siap disentakkan, tetapi urung karena tombak lainnya kembali dilemparkan, kemudian yang lainnya dan lainnya secara berurutan.


Kuda-kuda kedua pendekar cemeti buyar. Mereka harus mengindar dan bergulingan pula. Saat itulah yang paling baik digunakan oleh Sudiamara untuk menyerang maju dengan pedang luwuknya.


Cambuk menyerang Sudiamara. Ia mengakat pedang luwuk sehingga cambuk itu membelit pedangnya. Namun, sekali sentak, sang pendekar cemeti terikut. Tinju Sudiamara bersarang di dada si cemeti sakti.


“Bukan kau!” seru Sudiamara.


Ia langsung menjejak sang pendekar cemeti yang terkapar di tanah sebelum keris dan tombak prajurit penjaga yang berhasil memasuki gelanggang pertempuran mencabik-cabiknya.


Sudiamara hendak menyerang pemecut satunya lagi ketika ia melihat kepala sang sosok terluka akibat lemparan tameng seorang prajurit.


“Ah, kalian lumayan juga!” puji Sudiamara. “Kalian aku rasa dapat menghadapi orang yang satu itu. Sudah jelas bahwasanya pendekar yang sekarang sedang melawan Koncar dan para pemanah adalah Kesanga,” ujar Sudiamara.

__ADS_1


Ia langsung berlari cepat ke arah mana Koncar berada. Ia berharap semoga Koncar masih dapat menahan deru sang pendekar cemeti karena bagaimanapun ia membutuhkan Koncar untuk melawan Kesanga. Ia sangat bersyukur bahwa para prajurit tadi mau mendengarnya. Bila tidak, ia akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk melawan dua pendekar bawahan Kesanga. Kini, saatnya baginya untuk memberikan dan menunjukkan kesaktiannya kepada sang lawan, sang Cemeti Sakti, dan menyelamatkan Almira.


__ADS_2