
Pratiwi tersentak. Naluri kependekarannya tersulut kalamana peperangan semakin erat dan rapat. Denting besi dan baja senjata, bau darah yang melayang di udara seakan menghamba perhatian sang pendekar perempuan tersebut. Ia meraba keris yang diselipkan di sabuk bagian depan seperti seorang laki-laki Melayu, meski pakaiannya masih terlihat sangat Jawa.
Yu memandang ke arah istrinya tersebut. Kini mereka berada di dalam lambung kapal. Di bawah mereka, para awak dan budak pengayuh sedang berada dalam diam menunggu perintah. Para prajurit sudah sebagian besar meninggalkan kapal. Namun Yu tidak memerhatikan benar-benar bahwa ancaman sedang mendekat ke arah mereka.
“Aku merasa kita sedang dalam keadaan genting, Yu,” ujar Pratiwi.
“Apa maksudmu, Pratiwi? Ketiga kapal inilah yang sedang menyerang para perompak. Aku memang tidak nyaman dengan keadaan ini, tetapi apa tepatnya yang kau maksud dengan genting?” balas Yu.
Fong Pak Laoya ikut mendengarkan perbincangan keduanya. Ia menggaruk-garuk dagunya yang sudah ditumbuhi rambut-rambut kasar setelah lama di negeri orang.
“Ingat, kapal ini digunakan pula untuk menyerang lawan, Yu. Meriam telah ditembakkan berkali-kali dari atas haluan. Kau yakin mereka tidak akan membalas?” jawab Pratiwi.
Yu menghela nafas panjang. “Aku sama sekali tidak suka dengan keadaan ini,” gumamnya. “Apa yang akan terjadi menurutmu, Pratiwi?” lanjut Yu.
__ADS_1
“Kita harus bersiap-siap pula. Aku memiliki keris ini, mungkin bila memang kita kemudian diserang balik oleh lawan, aku akan memerlukan senjata lain seperti pedang mungkin. Kau, Yu, sudah saatnya untuk menggunakan ketrampilan silat dan kemampuanmu yang lain. Siapkan jarum-jarum beracunmu,” jelas Pratiwi datar.
“Tapi kau masih dalam keadaan yang tidak baik, Pratiwi. Apakah tidak lebih baik bila kita bersembunyi saja bersama para budak dan awak di bawah sana sembari menunggu hasil dari pertempuran ini? Lagipula, aku tak yakin Laoya bisa menjaga dirinya,” ujar Yu sembari memandang sang Laoya yang hanya mengangkat kedua bahunya.
“Aku tak apa Yu. Aku jauh sudah lebih baik, terutama karena aku sudah paham bahwa aku tak bisa menggunakan tenaga dalam. Tetapi badanku sudah terlalu lama kaku. Bila tak digerakkan, sembuh pun aku akan menjadi seorang tua renta,” ujar Pratiwi.
Yu sebenarnya masih menunjukkan rasa tidak setujunya. Pratiwi paham ini. Ia kemudian memandang wajah suaminya itu lekat-lekat. “Aku adalah seorang pendekar, Yu. Itu sudah menjadi bagian dari hidupku yang utama. Beginilah aku dididik, beginilah caraku hidup. Sudah berapa orang yang aku bunuh ….”
“Baik, baik, baiklah, Pratiwi. Kau selalu menggunakan alasan itu ketika akan terlibat dalam sebuah pertempuran. Susah sekali mencintai seorang pendekar perempuan,” ujar Yu terlihat kesal dan putus asa. “Aku hanya minta satu hal. Tolong berhati-hati, dan kita harus bekerja saama. Aku akan melindungimu dari serangan musuh bila mereka benar-benar sampai ke atas kapal ini dengan jarum-jarumku. Sebaliknya, kau juga harus melindungi suamimu ini,” jelas Yu.
Yu mendengus kesal, tapi melunak ketika Pratiwi tersenyum.
Sejak pernikahan mereka beberapa waktu yang lalu, Pratiwi tumbuh menjadi sosok yang berbeda. Yu mungkin menyadarinya, mungkin juga tidak. Secara badaniah, memang tubuh Pratiwi tidak secepat yang dahulu, segesit di masa lalu, atau sehebat di masa terdahulu, tetapi ia masih merupakan seorang pendekar yang ulung. Penyakit
__ADS_1
kambuhannya masih datang dan pergi, tetapi Yu dan sang Laoya selalu ada di sampingnya.
Namun, dalam hal kejiwaan dan sifat, Pratiwi menjadi seorang perempuan yang tidak lagi terlalu dingin dan tanpa perasaan. Ia sekali dua kali bisa bercanda dan tertawa riang. Bahkan tanpa ia duga sama sekali, rasa sayangnya kepada Yu semakin menonjol. Ia tak bisa menjelaskan dengan lebih menyeluruh atau terperinci seperti apakah rasa itu. Yang jelas ia merasa diterima, diperhatikan sedemikian rupa dan dipercaya pula.
Pratiwi memandang wajah Yu yang menyisakan kesebalan itu, kemudian mendekati dan mengecup bibirnya pelan. “Kita akan bekerja sama, Yu. Aku berjanji. Untuk itu kita harus naik ke atas dan melihat apa yang terjadi. Kita tak perlu terlibat dalam pertempuran bila memang tidak diperlukan, tetapi perasaanku mengatakan bahwa kita tak bisa tinggal diam,” ujar Pratiwi.
Yu menghela nafas. Jiwanya mulai tenang. Ia bersedia mati bila memang harus berdua bersama Pratiwi. Maka, dengan keyakinan yang besar ia mengangguk kemudian memandang ke arah Fong Pak Laoya. “Laoya, kami mohon engkau untuk tetap di bawah sini. Kami terpaksa harus ke atas untuk melihat keadaan dan berjaga-jaga.
Takdir sudah membawa kita ke dalam pusarannya. Kita harus bisa keluar darinya,” ujar Yu.
Tak disangka Fong Pak Laoya langsung saja mengangguk. Ia mungkin setuju dengan naluri Pratiwi yang bagaimanapun adalah merupakan seorang pendekar.
____________________________________________________________________________________________
__ADS_1
Para pembaca yang budiman, episode ini adalah episode terakhir di bulan ini sekaligus pembuka episode penuh tanpa putus harian yang akan ditayangkan bulan Agustus. Silahkan menikmati dan terimakasih atas dukungannya.