
Sejak masa dahulu, usadha atau obat-obatan dari tanaman tidak hanya diperuntukkan untuk penyakit, namun juga bahan perawatan kecantikan dan kebugaran.
Meester Equa telah juga mempelajari bahwa orang Jawa dapat melihat bahwasanya penyakit seseorang bisa pula melibatkan semacam kekuatan adikodrati, gaib, sihir bahkan kutukan.
Equa mengenal istilah daya qi yang dimiliki manusia dalam pengobatan Cina. Ia juga mengetahui bahwa banyak penyakit juga dipercaya disebabkan oleh ilmu gaib. Untuk hal ini, tidak sekadar diperlukan sinshe atau tabib Cina, namun Tiào tóng, atau seorang dukun yang mampu memanggil arwah leluhur atau dewa-dewa yang kemudian bersemayam di dalam tubuh sang dukun.
Sang dukun yang kerasukan roh-roh ini kemudian dapat melakukan pembersihan jiwa sang sakit, mengusir roh jahat atau ilmu gaib.
Tapi Equa tak memahami ini. Ia tak mengenal Tiào tóng, atau istilah lainnya, seperti Shén dǎ atau hal-hal yang berhubungan dengan pemanggilan roh dan penyakit ilmu gaib. Bukan tak percaya terhadap hal-hal semacam ini, namun Equa dididik ilmu pengobatan tumbuhan dari Cina serta mempelajari ilmu pengobatan dan bedah dari kaum bule, terutama Walanda.
Dalam dunia usadha, paling tidak ada dua jenis usadha yang dikenal, yaitu usadha Jawa dan usadha Bali. Perbedaannya adalah usadha Jawa telah dipengaruhi dengan ajaran agama Islam dan penyembuhan gaya Cina, sedangkan usadha Bali masih berdasarkan Ayurweda atau ajaran Hindu.
Dalam usadha Bali, dibagi beberapa jenis usadha. Beberapa diantaranya, usadha buduh untuk mengobati orang sakit jiwa, usadha rare sebagai obat-obatan untuk anak-anak, usadha kucachar untuk menyembuhkan penyakit cacar, usadha tuju untuk penyakit tulang, usadha pamugougan untuk penyakit yang disebabkan oleh ilmu gaib, usadha manak untuk pemeliharaan kandungan, usadha paneseh yang digunakan untuk orang hamil, usadha untuk penyakit dalam yang disebut usada dalam atau usadha ila yang digunakan untuk mengobati penyakit kulit.
Maka, dengan pengetahuan akan dua jenis usadha ini, Ngalimin membaca mantra, menutup mata, serta mengalirkan tenaga dalam murni nya ke dada Jayaseta yang masih belum siuman.
Tiba-tiba ia tersentak dan terlempar, namun tidak terluka, lebih karena kaget.
Semua terkejut, terutama Equa yang tak menduga kejadian semacam ini.
Jayaseta bangun. Semua orang dapat melihat kesadarannya telah pulih. Luka-luka ditubuhnya yang telah dibobok oleh usadha dedaunan oleh Ngalimin memang masih terlihat jelas. Namun, darah sudah tak terlihat mengalir lagi. Bengkak di sekitar luka mendadak kempis dan menghilang.
Bahkan Equa pun terperanjat dengan kenyataan ini.
Jayaseta melihat sekeliling. Pandangan sedihnya bertumbukan dengan pandangan Katilapan dan Narendra yang masih dalam keadaan berbaring dan dirawat oleh seorang tabib Cina berpakaian gaya Walanda, Equa.
"Bagaimana keadaan Sasangka?" ujarnya pada Katilapan.
__ADS_1
"Ia masih tak sadarkan diri, Jayaseta. Tapi kau tak perlu khawatir, ia akan baik-baik saja kata tabib Cina ini," balas Katilapan.
Narendra berusaha berdiri, meski dicegah baik oleh sang tabib maupun Jayaseta sendiri dengan tanda yang dibuat oleh tangannya, "Kau sendiri bagaimana, Jayaseta?" ujar Narendra.
"Terimakasih sudah menolong kami, tapi aku tak apa," ujar Jayaseta lebih kepada Ngalimin yang kemudian mengangguk.
"Berkat kau, kakang, aku memiliki kesempatan untuk menaklukkan tenaga jahat di dalam tubuhku. Tapi, baik kau maupun tabib Cina itu tak akan dapat membantuku. Aku sudah ditakdirkan untuk dirasuki kekuatan ini," ujar Jayaseta masih kepada Ngalimin.
"Kita pasti bisa mengobatimu, Jayaseta," ujar Narendra.
Jayaseta menggeleng. "Kalian lihat akibatnya, kakang. Kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Aku berdosa telah melibatkan kalian terlalu jauh. Semua harusnya adalah kesalahanku semata. Kalau harus mati, aku lah yang pantas untuk mati," Jayaseta menarik nafas panjang.
Ia memperhatikan sekeliling lagi. Ia berada di sebuah pondok kecil dengan dinding gedhek, anyaman bambu, atap jerami dan lantai tanah padat. Di luar ia melihat seorang laki-laki tua menggenggam arit memperhatikan kejadian di dalam rumah.
"Ia adalah tetanggaku sewaktu kami masih di Mataram. Namun hubungan kami sudah seperti saudara. Ia jauh lebih tua dariku dan pekerjaannya sekarang adalah sebagai petani tumbuhan obat," ujar Ngalimin sadar bahwa Jayaseta memperhatikan rekannya di luar sana.
"Kisanak, kau masih perlu istirahat. Namaku ...,"
"Tolong cari jasad saudara-saudara kita dan makamkan dengan layak. Kalian istirahat dan pulihkan kekuatan. Sampaikan salamku pada Sasangka ketika ia siuman kelak. Jangan ikuti aku lagi. Semoga kita tak akan berjodoh di masa depan," ujar Jayaseta pendek. Ia kemudian langsung keluar dari gubuk itu dan pergi.
Saat ia pergi, tak satupun dari Narendra ataupun Katilapan sempat berkata apa-apa.
Jayaseta berjalan menjauh ke arah Timur, bermaksud meninggalkan Betawi. Ia hanya mengenakan celana pangsi selutut tanpa kain jarit. Ikatan rambutnya bahkan tak terpasang. Ia juga sudah melupakan dan meninggalkan semua senjata yang telah ia gunakan dan selalu bawa selama ini seperti cakram, keris ataupun pisau lempar rahasia.
Ia meninggalkan semuanya, sekaligus rasa sedih, dendam dan amarah. Ia tak hilang rasa, namun bukan perkara mudah untuk kehilangan orang-orang yang ia cintai untuk kesekian kalinya.
***
__ADS_1
Yu menggunakan pengobatan tusuk jarum atau Zhen Jiu kepada gadis muda yang sebenarnya adalah Pratiwi tersebut. Ada beberapa titik di tubuh Pratiwi yang ia tusuk dengan jarum-jarum tipis dari perunggu beragam ukuran untuk mengubah daya tenaga qi serta menyeimbangkan yin dan yang dalam diri Pratiwi.
Yu sadar bahwa luka membiru di dada Pratiwi adalah hasil dari pukulan tenaga dalam yang cukup mematikan. Ini bukan luka pukul biasa. Memang ada banyak pendekar di tanah nusantara ini yang mampu melakukan serangan mematikan semacam itu.
Yu tak mempelajari bela diri untuk menyakiti dan membunuh orang, tapi sewaktu di Cina pun ia kerap menemukan pendekar-pendekar yang memiliki kekuatan semacam ini. Ia pun tahu bagaimana harus bertindak. Maka dari itu ia harus membuat sang gadis memiliki tenaga untuk melawan luka tersebut.
Wajah Yu menjadi sangat pucat sama seperti si sakit yang sedang ia rawat tersebut. Entah mengapa ia menjadi begitu khawatir dan resah terhadap keselamatan jiwa sang gadis. Tapi tidak susah untuk mengetahui bahwa Yu jatuh cinta pada Pratiwi. Gadis muda dengan tubuh molek, wajah ayu rupawan dengan keremajaannya itu menciptakan perasaan yang aneh dalam diri Yu. Ada gelembung-gelembung udara yang menubruki relung dadanya, perutnya serasa begah selalu. Ia harus menyelamatkan nyawa gadis ini.
Yu mengiris kulit hitam manis nan lembut Pratiwi di bagian yang membiru dan bengkak tersebut. Tak pelak, darah kental kehitaman mengalir keluar dari luka sayat tersebut.
Wajah pucat Pratiwi berangsur-angsur kembali memerah. Yu mengambil jarum tembaga dengan ukuran yang lebih kecil, memanaskannya serta menusukkan jarum itu ke titik khusus di leher, untuk mempermudah nafas sang gadis serta peredaran darah ke otak agar lancar.
Yu menarik nafas lega. Ia mencabuti perlahan semua jarum di tubuh sang gadis.
Ia keluar tempat pengobatan yang didirikan sang tuan. Ia berjalan cepat di depan gang yang cukup sempit itu sampai menemukan seorang perempuan muda cantik berkulit kuning langsat namun dengan dandanan yang sangat menor. Sepasang bibirnya digincu merah dan pipi tak kalah meronanya.
Ia mendekati perempuan itu, memegang tangannya dan menyerahkan beberapa keping uang perunggu.
Sang gadis terperanjat, namun kemudian tersenyum genit, "Kokoh Yu, akhirnya kali ini kau ingin memakaiku?"
Yu menepis-nepiskan tangannya di udara, "Aku cuma mau minta tolong. Ada orang sakit parah di rumah pengobatan. Aku sudah mengobatinya, dan nampaknya ia akan membaik. Hanya saja, ia adalah seorang perempuan. Bisa kau tolong gantikan pakaiannya dengan baju bersih yang sudah kusediakan di disampingya? Dan bisa kau pinjamkan kutangmu dulu? Yang paling bersih," ujar Yu.
Sang gadis mendadak berhenti tersenyum. Tapi ia tidak kesal, toh uang yang diberikan kepadanya lebih dari pantas.
Ia mengangguk cepat. Kemudian berbisik pada beberapa teman-teman perempuannya di rumah pelacu*ran tersebut untuk permisi sebentar, masuk ke dalam, dan keluar dengan membawa bungkusan kain. Yu menduga bungkusan itu berisi kutang kain yang ia minta pinjam tadi.
__ADS_1
Dengan cekatan sang perempuan berlari kecil ke arah darimana Yu tadi datang.
Yu kembali menarik nafas lega sembari melihat tubuh ramping pel*cur muda yang dibalut jarit pendek itu menghilang di ujung gang.