Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lancaran Melayu


__ADS_3

Jalur sungai di negeri ini bisa dikatakan sangat ramai digunakan baik untuk perdagangan dan perniagaan, maupun berplesir. Memang banyak pedagang dari Siam dan Pegu membawa kayu cendana dan lada ke Cina karena orang Siam dan Pegu berdagang dengan Burma dari atas lancaran atau perahu mengarungi sungai yang terdapat di kerajaan-kerajaan tersebut.


Kebanyakan barang dagangan sebagai permintaan mancanegara, sama seperti banyak tempat di nusantara, harus diangkut dari hutan atau perkebunan yang jauh dari pusat perdagangan ke mana barang-barang itu akan dikirimkan. Sebagai penukar barang-barang dagangan itu, kain kapas dari negeri Hindustan diangkut menyusuri sungai dan melewati jalur perdagangan sampai di ujung atas Sungai Mekong dan Irawadi. Sedangkan para pedagang Cina yang sebagian besar adalah orang Islam dari Yunan, membawa barang-barang logam dan sutra mereka menyusuri sungai yang sama.


Rombongan Jayaseta, setelah berusaha bersembunyi dan melepaskan diri dari rombongan peniaga atau musafir yang penasaran dengan wajah dan sepak terjang Jayaseta selama seharian penuh, akhirnya dapat lepas dan berhasil menemukan sebuah dermaga kecil, pusat sebuah pasar yang kecil pula.


Ada banyak perahu dan dua buah lencaran tertambat di dermaga sungai. Sungai ini, menurut Siam, kelak akan menyatu ke sungai Mekong yang panjangnya melewati beragam negeri. Dari Cina, ke Burma, Siam, Kamboja, negeri orang-orang Champa di wilayah kerajaan Dai Viet atau dikenal juga dengan nama Viet Nam, serta negeri Lan Xang.


Narendra memandang salah satu lancaran yang dari cirinya merupakan gaya campuran Melayu, Madura dan Jawa. Lancaran adalah sebuah kapal yang dapat berlayar cepat dan gesit di laut maupun sungai. Orang-orang bule menyebutnya Galai.

__ADS_1


Seperti jung, lancaran, walau untuk tujuan perdagangan, juga memiliki bagian-bagian pertahanan dari serangan musuh baik perompak, atau saingan lancaran lain. Bila diperhatikan, lancaran ini memiliki sebuah balai, yaitu sebuah panggung tempur terangkat dimana para prajurit serta penjaga lancaran biasa berdiri di sana dan melompat ke kapal musuh. Ada tiga buah cetbang bergaya jaman Majapahit menghadap ke depan dan satu cetbang terletak di belakang kapal.


Lancaran digerakkan dengan dayung san layar dengan dua kemudi di sisi buritan. Layarnya berbentuk persegi yang miring dan bisa mengangkut seratus lima puluh sampai dua ratus awak.



Narendra menjelaskan ini kepada Jayaseta dengan cepat. Tentu pengalaman berlayarnya bersama Katilapan bertahun-tahun lamanya memberikan bekal yang berharga.


"Aku semakin bingung dengan segala keadaan ini Kakang. Bagaimana bila ternyata kehidupanku ini semuanya adalah kebohongan belaka? Aku sama sekali tak tahu mana yang benar, mana yang salah," keluh Jayaseta tanpa terlalu memperhatikan penjelasan Narendra tadi.

__ADS_1


Narendra memandang rekan, sahabat dan yang telah menjadi saudaranya itu, kemudian tersenyum. "Aku heran, pendekar sehebat dirimu bisa segalau ini. Mungkin Tuhan benar adil. Bila aku sesakti dirimu, Jayaseta, tak akan ada yang dapat mengganggu jalanku," balas Narendra.


"Kakang, aku tak bercanda," ujar Jayaseta.


Narendra tertawa kemudian menepuk bahu Jayaseta. "Kau pikir aku tak sungguh-sungguh? Sedari dulu, selalu saja kegamangan demi kegamangan datang silih berganti. Dari keraguanmu pada kemampuanmu sendiri sampai sekarang, bagaimana dunia memperlakukanmu. Memang tidak ada yang adil di dunia ini, Jayaseta. Itu sebenarnya bila kit jujur mengakui, adalah karena kita sendiri yang menciptakan ketidakadilan itu. Kita hanya memikirkan tentang kepentingan kita sendiri. Mana kira peduli dengan kesusahan dan penderitaan orang lain, padahal itu adalah ketidakadilan pula. Ketika kita sedang terluka, baru kita sadar dan menuntut atas ketidakadilan itu. Aneh, bukan?" jelas Narendra.


Jayaseta menatap saudaranya itu kemudian menggelengkan kepalanya. "Sial, Kakang. Aku merasa malu sendiri dengan ucapanmu itu," ujarnya.


Narendra tertawa lebih keras. "Sudahlah, ini semakin menunjukkan bahwa Tuhan itu adil. Keadilan ada di depan kita selama ini. Itu sebabnya kau tidak menjadi orang yang jemawa dan penuh nafsu sehingga gampang sekali terbawa perasaan. Mungkin, engkau disiapkan untuk menghadapi orang-orang yang menyebarkan ketidakadilan dan menekan orang-orang yang lebih lemah. Kau memiliki tanggung jawab bukan hanya untuk menyembuhkan Dara, namun juga membongkar rahasia kelompok yang menyebut mereka sebagai Dunia Baru itu."

__ADS_1


Nakhoda lancaran Melayu berteriak keras memerintahkan para awak untuk bersiap dan meminta para penumpang yang ingin ikut dengan kapalnya untuk segera naik.


"Kita akan bahas lagi nanti, Jayaseta. Kita harus naik kapal itu seperti permintaan Siam dan Ireng," ujar Narendra. Ia sendiri kemudian tersenyum lebar lagi ketika melihat Jayaseta menghela nafas panjang menatap ke arah layar lancaran Melayu yang belum dikibarkan, dan dayung-dayung panjang yang disiapkan. Ia harus berani kembali mengarungi air. Jiwa kependekarannya mendadak menciut.


__ADS_2