Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Empat Harimau Gayong Melayu


__ADS_3

Membutuhkan waktu setengah hari untuk menceritakan secara utuh alasan perjalanan mereka. Ini belum termasuk pernak-pernik kisah sehingga menambahkan lagi separuh hari untuk menjabarkan pengalaman hidup Datuk Mas Kuning semenjak pelariannya dari hukuman pasukan Pranggi Malaka sampai ia tinggal di Sukadana dan menjadi bagian dari kerajaan di pulau Tanjung Pura tersebut.


"Jadi, benarkah engkau adalah yang mereka katakan sang Pendekar Topeng Seribu, anak muda?" tanya Baharuddin Labbiri kepada Jayaseta dengan raut muka takjub namun penuh selidik.


Jayaseta tak menjawab. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapinya.


"Engkau paham bahwa Bapak tak mungkin bisa sekadar percaya, bukan?" lanjut Baharuddin Labbiri dengan sepasang mata nakalnya. "Gelar kependekaran yang telah disematkan kepadamu itu telah mencapai tanah ini lama sebelum engkau mendarat. Ah, tapi itupun bila benar engkau adalah sang Pendekar Topeng Seribu itu seperti yang dikatakan ayah angkat Bapak sendiri," lanjutnya.


Jayaseta menyimpan senyumnya. Ia paham apa yang berusaha disampaikan oleh laki-laki tuan tamu setengah baya tersebut. Maka, Jayaseta enggan berbasa-basi lagi. "Tuan Labbiri. Aku tahu bahwa rumah ini telah menjadi sarana latihan silat para murid dan pemuda Melayu untuk memelihara tidak hanya budaya, namun juga rahasia ilmu kanuragan. Namun, bukankah sampai saat ini, orang-orang Melayu dan siapapun yang masih memainkan silat dan ilmu kanuragan akan mendapatkan hukuman dari pemerintahan Pranggi bila ketahuan berlatih apalagi melakukan jajal ilmu beladiri?"


Baharuddin Labbiri terkekeh. "Sudah mungkin sepuluh atau mungkin dua puluh tahun terakhir Pemerintah bule Pranggi mengendurkan aturan dan hukum mereka. Mereka sudah tidak mengejar-ngejar para pesilat dan orang-orang yang memainkan seni beladiri ini bahkan ketika kedapati bermain di ruang umum. Ada beberapa alasan mengapa ini terjadi. Pertama, jelas, mereka tidak merasa silat dan para pesilat sebagai ancaman terbesar lagi. Meriam, bedil dan bubuk api adalah masalah yang lebih mereka takuti. Kedua, Walanda lah kecemasan mereka yang paling utama. Sebagai saingan dagang, Walanda sudah terlihat merangkul bahu Johor dan Riau. Belum lagi di bagian timur Nusantara, mereka juga mulai menancapkan kuku-kuku mereka di negara-negara yang memusuhi Pranggi. Pendek kata, mari, jangan sungkan, nakmas Jayaseta. Kita adu kanuragan sejenak."


***


Semua orang bersemangat menantikan kejadian ini. Lagi-lagi Jayaseta harus mempertontonkan kehebatannya, menjajal ilmu kanuragan dengan orang yang sudah bisa dipastikan juga bukan sembarangan ilmu kanuragannya. Dara Cempaka tersenyum samar. Tak mungkin baginya untuk khawatir dengan sang suami. Ia kadang-kadang alpa bahwa ia berpasangan dengan salah satu pendekar pilih tanding yang mengalahkan entah berapa pendekar-pendekar hebat bahkan para jagoan dan jawara jahat atau perompak perampok berilmu sakti. Menambah seorang pendekar silat gayong, bukanlah sebuah masalah besar, pikirnya.

__ADS_1


"Nah, nakmas. Perlu kau ketahui, Bapak tidak meremehkanmu apalagi berusaha tidak memercayai kenyataan bahwa laki-laki di depan Bapak ini adalah seorang pendekar ulung. Anggap saja Bapak ingin menjajal kesaktianmu sebagai  bayaran atas bantuan atau jasa-jasa yang hendak kau minta. Selain itu, Bapak ingin menunjukkan kepada ayah angkat bapak sendiri, yaitu Datuk mertuamu, bahwa ia tak salah telah memilih Bapak sebagai penerus silat gayong yang ia tinggalkan di Malaka ini," ujar Baharuddin Labbiri.


Sudah sehari penuh Jayaseta menetap di rumah besar milik sang lelaki setengah baya berdarah Bugis ini. Sudah banyak kisah terceritakan, baik dari pihaknya, Datuk Mas Kuning serta rombongan dan tentu pula dari sudut Baharuddin Labbiri. Walau seharian penuh tidak mampu menjelaskan secara terperinci segala cerita, sedikit banyak Jayaseta mengerti keadaannya, termasuk berusaha memahami sosok seorang Labbiri.


"Apa yang hendak Tuan gunakan sekarang? Silat gayong Kedah, Kelantan, Terengganu atau Pattani?" cercah Jayaseta terlihat tak menutupi semangatnya. Ia kini berdiri di lahan lapang di tengah gugusan bangunan rumah milik Baharuddin Labbiri. Para murid yang selalu berlatih seni tari dan seni silat setiap hari kini sudah berdiri di tepi-tepi lapangan berukuran sedang itu, berjejer dan bersender di dinding.


Jayaseta mengenakan pakaian sutra berlengan panjang tanpa kancing dan tali serta celana pangsi sebetis yang dililit sarung di bagian pinggangnya. Kepalanya dilingkari kain bergaya Melayu.


Baharuddin Labbiri tidak lagi terkekeh, ia sekarang tertawa lepas. "Bapak terima semangatmu, Jayaseta. Tapi, seperti layaknya pertandingan melawan musuh besar, Bapak akan cobai engkau terlebih dahulu dengan murid-murid terhebat Bapak sebelum engkau berhasil mencapai Bapak. Nah, Bapak pikir hal ini bukan sebuah masalah bagimu, bukan?" sepasang mata orangtua setengah baya itu masih terlihat berkilat nakal. Sama seperti sewaktu ia masih kecil, pikir Datuk Mas Kuning tersenyum.


"Empat Harimau Gayong Melayu, kemarilah kalian!" seru sang tua baya.


"Hamid sang Harimau Kedah, Zainal sang Harimau Terengganu, Mansur Harimau Kelantan dan Yunus Harimau Pattani akan memuaskan keinginan belajarmu, Jayaseta. Bapak juga akan menyaksikan secara langsung seberapa baik sudah pengajaran Bapak sendiri,"ujar sang Labhiri.


Keempat murid yang digelari para Harimau itu saling pandang dengan bingung. "Maksud Tun Guru Labbiri, kami harus bertanding dengan orang asing ini?" tanya Hamid sang Harimau Kedah dengan raut wajah heran namun menyepelekan musuh.

__ADS_1


"Nah, belum bertanding saja engkau sudah memandang rendah dan menghakimi orang lain. Aku ingin kalian melayani rasa haus tamu terhormatku ini. Tiada seorangpun dapat dinilai kedigdayaannya hanya dari permukaan dan penampilannya saja," ujar Baharuddin Labbiri.


Keempat murid unggulan itu masih saling pandang dan tak yakin harus berbuat apa.


"Hamid, engkau lah yang pertama harus menghadapi orang asing yang merupakan salah satu tamu Tun Guru mu ini. Tolong kalian semua bersungguh-sungguh. Berikan pelajaran yang bermakna bagi orang itu, juga bagi diri kalian sendiri. Tunjukkan kepadaku sudah seberapa jauh ajaranku berhasil kalian serap dan ikuti," seru Baharuddin Labbiri.


Hamid sang Harimau Kedah, berwajah muda namun beranjak dewasa itu juga menunjukkan kekerasan hati nya. Terlihat sekali Hamid adalah seorang pemuda yang penuh semangat dan keinginan tinggi. Memandang Jayaseta membuat jantungnya bergejolak. Ia ingin menyelesaikan pertandingan ini secepat mungkin. Ia tak mau diadu seenaknya saja dengan orang yang tidak ketahuan latar belakang serta juntrungannya. Bukan pendekar yang pantas untuk dia hadapi.


Dibanding menghabiskan waktu, ia harus sekaligus menuntaskan perkelahian jajal kanuragan ini agar sang guru bisa melihat seberapa hebat sudah dirinya. Agar kebanggaan sang guru semakin terlihat.


"Maafkan aku, sahabat. Namaku Jayaseta, dari pulau Jawa. Namun sebelum ke Malaka, aku berangkat dari Sukadana bersama istri dan teman serta kerabat. Sebenarnya aku hendak mendapatkan pelajaran dari guru engkau sekalian, Tuan Baharuddin Labbiri. Namun alih-alih langsung menunjukkan kepadaku jurus-jurus silat Kedah, Kelantan, Terengganu dan Pattani, Tuan Labbiri malah meminta untuk menghadapi engkau dan rekan-rekan satu persatu. Mohon bimbingannya, saudaraku. Tolong jangan sungkan," cerocos Jayaseta yang secara tak sadar telah dikuasai semangat menimba ilmu baru.


Hamid menggertakkan giginya. Ia tak tahan dengan kesombongan orang yang tak dikenalnya ini. Bagaimana bisa, tamu sang guru bertingkah sesembrono ini. Jangankan untuk menghadapi ketiga Harimau rekannya, apalagi sampai ke Tun Guru Labbiri, di hadapannya saja, orang ini akan selesai dalam satu dua jurus saja.


Jayaseta memang terdengar menyebalkan dan sombong, meski ia jujur ingin belajar. Ia tak berniat merendahkan dan meremehkan lawan di depannya, tapi memang Jayaseta adalah seorang pendekar dengan tingkatan berbeda. Kadang ia tak sadar dengan apa yang sudah ia katakan kepada lawan.

__ADS_1


Jayaseta menghormat ke arah Hamid sang Harimau Kedah dengan mengatupkan kedua telapak tangan di depan dadanya. Siap menerima pelajaran. Silat gayong Kedah, bagaimanakah bentuk gerakan dan unsur-unsur jurusnya? Belum setarikan nafas Jayaseta menghormat, Hamid tak mau berbasa-basi dan malah menggunakan kesempatan atas ketidaksiapan Jayaseta dengan melancarkan serangan kilat.


Kaki kanannya meluncur panjang ke depan, sedangkan sikunya terlipat siap menusuk dada Jayaseta. Hempasan tenaga hentakan kaki kanan Hamid ke tanah menunjukkan serangan dengan daya tenaga yang besar dan bersungguh-sungguh.


__ADS_2