Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tawaran


__ADS_3

Karawek betul-betul tertimpa duren. Ia memberikan tidak hanya raga, namun jiwa pula. Melayani Arthit sang perkasa adalah mimpinya selama ini. Perasaannya tersebut memang sudah terlihat jelas sampai-sampai warga pun tahu.


Sama seperti yang diutarakan Praew, Arthit pun tak perlu berusaha mati-matian untuk mendapatkan gadis kampung itu. Namun, kepuasan atas pencapaian kemenangannya lah itu yang sangat penting.


Satu malam ini, Karawek bergumul habis-habisan dengan sang pahlawannya itu tanpa jeda, tanpa henti, sampai menjelang pagi.


Saat itulah pintu kamar Arthit dan Karawek yang tergeletak lemah namun dibalut rasa kepuasan tak terperi diketuk.


"Bangs*at! Siapa yang berani mengganggu istirahatku? Aku sedang menikmati hadiah dan hasil jerih payahku dan masih diusik sedemikian rupa," gumam Arthit geram.


Ketukan di pintu kamarnya masih kembali berbunyi, terus-menerus bahkan.


Arthit begitu kesal, tetapi tetap saja ia bangun dari ranjang, menyambar sehelai kain untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, lalu berjalan ke arah pintu.


Ada tiga orang pria berseragam serupa prajurit. Busana mereka berwarna hitam-hitam tapi dengan hiasan benang emas sehingga terlihat megah. Orang yang berada di paling belakang bahkan lebih terlihat mewah lagi.


Ketiganya menggenggam sebuah daab yang masih tersarungkan.


"Kau Arthit, bukan? Bila benar demikian, ada yang akan kami omongkan denganmu," ujar salah satu dari dua orang paling depan.

__ADS_1


Arthit terkekeh sembari menggaruk-garuk dagunya. Ia sadar ternyata ia belum mencukur rambut-rambut di wajahnya beberapa hari ini.


"Katakan kepada tuan kalian, Khun Wanchay Na Ayutthaya bahwa aku tak tertarik dengan apapun tawarannya. Tidak hanya dia, kerajaan Ayutthaya memohon kepadaku pun tak akan kugubris," ujar Arthit ketika paham dengan baik rombongan mana yang datang kepadanya.


"Kau tak mau mendengar dulu apa maksud kedatangan kami ini dan malah bertingkah tak sopan seperti itu?" tanya orang yang sama.


"Apapun itu, aku tak tertarik. Atau kalian mau menjadikan aku raja? Kalau itu, mungkin aku mau," balas Arthit.


Rekan satunya dari laki-laki yang bertanya tadi kini akhirnya ikut nimbrung. "Paling tidak kau dengarkan dahulu, Arthit," ujarnya.


"Mau jadikan aku raja?" balas Arthit mengulang pertanyaannya dengan gaya tidak sungguh-sungguh.


Kini, setelah bertemu langsung dengan orang yang menjadi sumber cerita itu, sadarlah mereka dengan apa yang diributkan orang-orang. Kedua orang suruhan Khun Wanchay Na Ayutthaya masih menahan kegeraman. Mereka kehilangan kata. Sebelum mereka semakin tak kuat menahan amarah, laki-laki berpakaian yang lebih mewah maju. "Ah, saudaraku, Arthit. Coba lah kau dengar sebentar perihal kabar yang ingin kami sampaikan ini. Memang tak salah kau membenci hal-hal yang berhubungan dengan penguasa resmi serta antek-anteknya macam kami ini. Tapi, kita sama-sama mencari sesuatu di dalam hidup ini, bukan?" ujarnya.


Arthit masih diam, tak acuh, memandang ke arah langit-langit bangunan dan menggaruki dagunya.


"Ada tawaran menjadikan aku raja?" ujar Arthit kemudian kembali mengulang pertanyaan dengan menambahkan tingkat menyebalkannya.


"Ya. Benar. Seorang raja, Arthit," gumam laki-laki itu dengan mengatakannya lebih dekat ke wajah Arthit.

__ADS_1


Arthit mengernyit. "Apa maksudmu?" tanyanya.


"Ya, raja sesungguhnya. Itu juga kalau kau merasa pantas menjadi seorang raja," balas sang laki-laki dengan gaya yang dibuat-buat sehingga memancing ketertarikan lawan bicaranya.


"Sudah, katakan saja apa maksudmu. Jangan bertingkah!" bentak Arthit.


"Nah, sudah kami katakan untuk sedikit mendengar berita yang ingin kami sampaikan, bukan? Tak ada ruginya, saudaraku, Arthit," ujar laki-laki itu semakin memancing keingintahuan sang pendekar gelanggang.


Arthit memandang tajam ke arah sang lawan bicara, kemudian menghela nafasnya. "Baiklah, aku akui aku kalah. Aku penasaran dengan apa penawaran kalian. Silahkan sebutkan berita itu. Tapi, demi sang Buddha, bila hal yang kalian sampaikan tak mengena di hati, aku akan hajar kalian saat ini juga. Terutama karena telah mengganggu istirahatku," ujar Arthit.


Dua pemuda yang sebelummya berbicara dengan Arthit pada dasarnya tidak gentar dengan ancaman sosok petarung itu. Bahkan karena rasa kesal mereka, mereka ingin sekali beradu tinju dan serangan. Tapi, ketidaktahuan akan kemampuan sejati Arthit dan tugas yang harus mereka emban, keduanya kembali menahan amarah.


Sedangkan, laki-laki ketiga, terlihat memiliki wibawa dan mungkin pula adalah pimpinan dari keduanya. Ia terlihat cerdas dan bijak salam menangani masalah ini.


"Bagaimana kalau kukatakan bahwa Khun Wanchay Na Ayutthaya memintamu untuk menghadapi seorang pendekar tersohor dari pulau Jawa bergelar Pendekar Topeng Seribu?" ujar laki-laki berbusana mewah tersebut.


"Baji*ngan! Kau memperolokku ya? Pendekar itu ada di nusantara. Kau mau aku pergi jauh dari sini untuk menghadapinya, bertarung dengannya tanpa alasan yang jelas?" bentak Arthit lagi.


"Ah, tidak, tidak, saudaraku. Pendekar itu sudah ada di gerbang negara kita. Ia sudah masuk ke wilayah orang-orang Siam, Ayutthaya. Kegemaranmu bertarung rupa-rupanya membuat kau kurang berita, Arthit."

__ADS_1


Arthit memandang lawan bicaranya sungguh-sungguh. Jantungnya berdetak begitu cepat dengan semangat dan nafsu bertarung yang berkobar membara.


__ADS_2