Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Damek


__ADS_3

Warga kampung berbenteng kayu ulin dibawah kepemimpinan kepala suku Temenggung Beruang berlarian masuk ke benteng di senja itu. Mereka meninggalkan perahu serta barang apapun yang merek bawa, terutama perempuan dan anak-anak. Matahari akan hilang dalam hitungan beberapa tarikan nafas.


Warga laki-laki dewasa sudah menggenggam parang, Do atau tombak. Para pemuda dan prajurit terlatih meminta mereka untuk masuk ke benteng dan menjaga bagian dalam, karena untuk menghadapi mara bahaya yang datang, mereka adalah ujung tombaknya.


Punyan berdiri di tangga kayu salah satu pintu masuk benteng. Ia mengenakan baju tempur: pakaian atas serupa rompi lebar yang menutupi bahu dan dada terbuat dari kulit kayu serta kulit macan dahan, topeng perang dari kayu dengan tiga tanduk kambing mencuat di bagian kening, perisai kayu persegi enam dengan tempelan rambut milik lawan-lawan yang terbunuh, sehelai cawat dengan bagian depan dan belakang menjuntaikan kain, serta gelang betis mengikat erat yang berguna memudahkan pergerakan dan kelincahan tubuh ketika berperang.


Ia menggenggam sebuah tombak panjang di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menempel di hulu Do yang menggantung di pinggang bagian belakangnya; masih berada di dalam sarungnya.


Ia memandang ke satu arah, di balik rerimbunan pohon yang menjulang tinggi-tinggi. "Mereka memutuskan menyerang melalui darat dan meninggalkan perahu mereka di sudut sungai yang lain. Kali ini mereka mencoba peruntungan dalam penyerangan darat," gumam Punyan kepada diri sendiri.


Para prajurit suku kampung ini juga telah siap dengan pakaian dan peralatan tempur mereka. Laporan dari menara pengintai jelas melihat kerumunan bergerak cepat dari satu arah. Tak salah pemuda ini ditugaskan menjaga menara, pandangan matanya bagai elang di siang hari dan burung hantu di malam hari.


Laporannya kepada Punyan ditanggapi sungguh-sungguh. Pengumuman cepat kepada para warga langsung disebarkan, prajurit langsung dikerahkan untuk menjaga benteng.


SYUTTT!


Bunyi desingan rendah hampir tak terdengar, disusul satu prajurit kampung rubuh ke tanah. Ada semacam benda tajam, kecil, menancap di leher prajurit tersebut. Wajahnya membiru, nafasnya seketika hilang.


Ia tewas!


SYUTT!


SYUTTTT!


SYUUTTT!


Bunyi desingan seketika susul-menyusul. Benda-benda kecil itu melesat dari balik bayangan gelap di balik pepohonan. Satu orang prajurit lagi tumbang dengan dua buah benda tajam menancap di wajahnya.


Yang lain berlindung di balik perisai segi enam mereka dengan cara merunduk dan menutupi tubuh mereka.


SYUTTT ...!


SYUUUTTTT ....!

__ADS_1


Balasan datang dari prajurit di balik benteng kayu. Muntahan benda kecil masuk melewati pepohonan.


Senjata yang mereka gunakan untuk melontarkan benda-benda kecil yang mematikan itu adalah sumpitan.


Berbeda dengan tulup yang digunakan di pulau Jawa atau daerah lain, sumpitan orang-orang Daya jauh lebih panjang dan juga berguna sebagai tombak.


Sumpit orang-orang Daya di bagian Barat pulau Tanjung Pura ini terdiri dari tiga bagian.


Bagian pertama adalah batang sumpitan yang terbuat dari kayu berbentuk bulatan panjang dengan lubang di dalamnya. Kayu yang digunakan berasal dari jenis terpilih seperti kayu Bunyau, Penyau’, Kebaca dan Tapang. Ukuran batang sumpitan bisanya disesuaikan dengan si empunya sumpitan itu sendiri atau rata-rata sepanjang satu depa.


Bagian lainnya adalah Mata Tombak yang dikenal dengan sebutan bu’bulis yang terbuat dari besi baja. Sedangkan bagian terakhir adalah besi untuk pengintai sasaran yang bernama tajuk pita. Tajuk pita terbuat dari besi dan diikatkan pada sisi berlawanan dengan mata tombak dan pada ujungnya menyembul sejajar dengan batang sumpit. Gunanya sebagai patokan titik pusat sasaran atau tintingan yang akan dituju.



Sedangkan benda-benda kecil yang beterbangan membunuh para prajurit tersebut adalah mata sumpit. Para prajurit Daya mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren yang membuatnya sangat beracun. Dalam bahasa dan logat suku pedalaman di bagian Barat pulau Tanjung Pura ini menyebutnya sebagai damek.



Punyan memperhatikan bahwa serangan dari lawan sedikit terhenti karena balasan serangan dari balik benteng kayunya. "Beberapa penyumpit turun!" perintahnya. "Beberapa ikut aku menyerang. Tetap tembakkan sumpit ke arah penyerang untuk melindungi serangan balasan kami!"


Damek mereka terbuat dari bambu yang salah satu ujungnya berbentuk kerucut terbuat dari kayu ringan, seperti kayu pelawi. Ini berguna  supaya anak sumpit dapat melesat dengan lurus atau sebagai penyeimbang saat lepas dari dari sumpit.


Sedangkan ujung yang lain dibuat runcing dan inilah yang diberi racun yang sangat mematikan. Punyan paham bahwa racun damek terbuat dari getah tumbuh-tumbuhan hutan yang tak bisa dicari penawarnya. Namun, dengan akibat yang dihasilkan begitu cepat seperti terlihat pada kedua prajuritnya, para penyerang pastilah menggunakan campuran rambut tumbuhan dan bisa binatang, seperti ular atau kalajengking.


Kekuatan prajurit penyerang juga tak bisa disepelakan, terlihat dari jarak tembakan sumpit yang sangat tergantung dari bentuk tubuh, kekuatan serta hembusan tiupan penyumpit.


Penyumpit harus berdiri tegak dan sumpit harus ditembakkan sejajar, maka sudah barang tentu ini memerlukan keterampilan dan kekuatan otot serta nafas yang sangat baik.


Namun Punyan memiliki prajurit penyumpit yang juga tak kalah tangguh. Ia tak mau berlama-lama memainkan tembak-menembak, sehingga ia memerintahkan para penyumpit hebatnya untuk membalas dan dilanjutkan dengan serangan langsung olehnya dan beberapa prajurit lainnya dengan tombak dan Do.


Dari jeda tembakan sumpit, sudah jelas ada sasaran yang juga terkena damek para penyumpitnya.


Ia menyerbu masuk dengan Do terhunus bersama enam orang prajurit lainnya. Belasan prajurit bersenjata Do, tombak dan perisai berjaga-jaga di depan benteng sembari menunggu perintah untuk ikut menyerang maju, atau memperhatikan bila ada penyerang dari sisi lain.

__ADS_1


***


Jayaseta menarik nafas. Satu tangannya merentang di depan Dara Cempaka, memintanya mundur. "Bukan aku tak mau menghindar sesuai perkataanmu dan permintaan Datuk, Dara. Engkau lihat yang terjadi, kita tak bisa lari lagi," ujar Jayaseta.


Karsa tersenyum lebar kepada Jayaseta namun mendadak air mukanya berubah ketika pandangannya menumbuk goresan-goresan luka di bagian dasa Jayaseta yang masih mengalirkan darah segar. "Demi setan-setan penghuni hutan, dan dedemit penunggu pepohonan. Apa yang orang tua lakukan padamu, Pendekar Topeng Seribu? Dan ... Kau terlihat jelas seperti ini. Mana topengmu, pendekar?"


Jayaseta sebenarnya tak mau menanggapi Karsa. Namun dipikir-pikir, ia memang Pendekar Topeng Seribu. Itu sudah merupakan jati dirinya.


Ia melupakan topeng itu di rumah Datuk Mas Kuning.


"Dara, tolong berikan cindaimu. Aku juga minta pinjam dua tusuk konde emasmu," ujar Jayaseta berbisik pada Dara Cempaka.


Yang diminta terlihat jelas kebingungannya. Namun, ada rasa percaya yang luar biasa besar dalam keraguannya tersebut kepada Jayaseta.


Ia melepaskan cindai dari pinggangnya. Ia menggulung kain tersebut dan menyelipkan dua tusuk konde emasnya di dalam lipatan cindanya tersebut.


Jayaseta mengambil tusuk konde dan menyembunyikannya di balik kain ikatan celana pangsinya, serta menggunakan cindai Dara Cempaka untuk menutupi bagian bawah wajahnya.


Kini ia telah mengenakan topeng.


Karsa memukul-mukul pahanya sembari terbungkuk-bungkuk terbahak-bahak.


"Ini yang kutunggu lama sekali. Aku bahkan harus menusuk nakhoda temanmu, itu pendekar. Hanya untuk bermain-main menunggu santapan utama, dirimu. Sayang, aku tak benar-benar tahu orang itu mati atau tidak. Termasuk Mas Kuning yang aku harap masih hidup, agar bisa melihat kejayaanku di usia senja ini."


Jayaseta meradang. Darahnya menggelegak mendengar bahwa Tuan Nio dicederakan oleh orang tua renta ini.


Jayaseta menarik nafas panjang kembali dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia biarkan alam semesta masuk ke dalam tubuhnya. Kesabaran adalah pusat segalanya. Dengan menjadi sabar, ia akan dapat memikirkan dan memperkirakan segala sesuatu dengan cermat dan jernih.


Ia menatap wajah Karsa dan tiga orang Daya yang berdiri dengan kuda-kuda siap menyerang. Satu orang yang nampaknya melemparkan Do ke arahnya tadi sudah mencabutnya dari barang pohon, yang lain sudah sedari tadi menghunus Do yang terbuka dari batu Mantikei tersebut.


Ada sebuah kepercayaan bersama orang Daya dari segala suku. Ketika sebilah Do sudah keluar dari warangkanya, pantang ia untuk disarungkan kembali sebelum bersimbah darah.


Jayaseta meraba dua tusuk konde emas Dara Cempaka di balik pinggangnya. Sepasang kakinya merasakan air yang menggenang di atas tanah berawa.

__ADS_1


Ia menendangkan kaki kanannya, menyipratkan air ke salah saru prajurit pedalaman, membuat orang Daya itu terkejut. Jayaseta juga kemudian menyipratkan air dengan kaki kirinya ke prajurit lain kemudian mencelat dengan dua tusuk konde emas lancip tergenggam di kedua tangannya.


__ADS_2