Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Semarang


__ADS_3

Seperti diketahui bahwa Kesultanan Mataram bukanlah sebuah kerajaan pesisir. Kerajaan ini terletak si pedalaman pulau Jawa. Namun pada kenyatannya ia menguasai hampir semua negeri-negeri pesisir yang memiliki pelabuhan-pelabuhan penting dan mengatur segalanya dari pedalaman.


Sebut saja Tuban yang ditaklukkan Mataram pada tahun 1619 Masehi, menyusul Gresik tahun 1623 dan Surabaya pada tahun 1625 Masehi.


Pada saat ini, di masa pemerintahan Sultan Agung, wilayah pesisir Mataram dibagi dalam dua bagian besar, yaitu tlatah pesisir kulon atau pesisir bagian barat dan tlatah pesisir wetan atau pesisir bagian timur yang bagian-bagian daerahnya dipimpin oleh seorang bupati.


Pelabuhan Japara, atau juga kerap disebut Jepara, menjadi ibukota dari tlatah pesisir wetan yang penting akan pasokan kayu untuk pembuatan kapal barang maupun tempur, serta penjualan beras ke daerah-daerah luar pulau Jawa seperti Mangkasar. Bupati Japara juga ditugasi mengawasi upeti dari negara-negara bawahan Mataram di daerah seberang seperti Jambi di tanah Melayu.


Sedangkan sebagai salah satu daerah dengan pelabuhan dagang di tlatah pesisir wetan, bupati Semarang diserahi tugas menurus upeti dari kerajaan Sukadana di pulau Tanjung Pura.


Sebenarnya, sudah pernah terbersit dalam pikiran Jayaseta untuk langsung berangkat dari pelabuhan Semarang ke Sukadana kelak. Ini dikarenakan memang Semarang memiliki hubungan pelayaran dalam bidang usaha dan perdagangan, serta pengiriman upeti kepada Mataram.


Dengan bertemuanya ia dengan Almira, keinginan itu kembali menjadi semakin kuat.


Almira sendiri sekarang sudah menjadi seorang Nyai pengusaha beras dari Mataram yang kaya raya. Usahanya meliputi berangkat dan pulang Mataram-Semarang membawa pedati-pedati berisi beras dan hasil bumi untuk dijual ke Semarang atau ke negeri-negeri seberang melalui pelabuhan Semarang.


Sewaktu ia dan sang mendiang abahnya berangkat dari Blambangan dahulu, mereka melewati jalan arah Timur yang melewati pintu gerbang Bongar, tempat mereka harus membayar pajak. Sedangkan untuk ke Semarang, ia hanya melewati jalan termudah dan terpendek, melewati pintu gerbang utara dan perbatasan untuk penarikan pajak terletak di Taji.


Almira benar merupakan putri seorang Arab yang piawai dalam usaha. Darah saudagar Amir mengalir kental di dalam tubuhnya.


Setelah wafatnya yang abah, saudagar Amir, ia memutuskan untuk tetap tinggal di Kotagede, Mataram bersama sang paman.


Di rumah besar sang paman dari keluarga ibunya itu pulalah ia belajar banyak hal dalam bidang perdagangan dan usaha.


Ia bahkan kemudian memutuskan untuk ikut bersama sang paman untuk pergi ke berbagai tempat untuk berdagang, termasuk ke Semarang ini.


Pamannya dibuat heran karena Almira tidak kemudian menjadi takut bepergian setelah abahnya wafat. Sebaliknya, ia begitu bersemangat untuk belajar sekaligus menjadi pengusaha seperti ayah dan pamannya.


Setelah serangkaian bujukan, rayuan sampai pembahasan yang berat, maka Almira diperkenankan mengikuti perjalanan pekerjaan dan kegiatan berdagang sang paman.

__ADS_1


Memang, keberangkatan mereka bukan sembarang perjalanan. Pengamanan yang dilakukan melebihi sang abah dahulu, padahal jarak yang ditempuh lebih dekat dan cenderung lebih aman.


Ada dua puluh pengawal bersenjata lengkap dengan kemampuan bela diri yang mumpuni. Separuhnya adalah para pendekar Banyumas yang dipekerjakan sang paman, serta orang-orang Jawa lain yang ahli dalam bedil serta panah.


Jaka Pasirluhur adalah salah satu pendekar dari kelompok Banyumas yang bekerja pada Almira dan pamannya. Namun, kebiasaan buruknya dalam mabuk-mabukan adalah salah satu sisi kelemahan terbesarnya.


Setelah menghilang dari rombongan untuk pergi ke kedai tuak, Jaka Pasirluhur bertemu Jayaseta dan mengadu kesaktian. Sebentar saja ia diberikan pelajaran yang setimpal. Sedangkan tiga pendekar lain yang semula berkelahi dengannya tak sempat merasakan kesakitan Jayaseta karena mendadak Almira datang bersama paman dan rombongan pendekar-pendekar lain, membuat ciut nyali mereka, meski pada dasarnya mereka juga tak yakin bisa menghadapi Jayaseta yang datang tiba-tiba itu.


***


"Almira, setelah mendengar ceritaku ini, aku harap kau paham bahwa aku sedang dalam keadaan yang tidak baik. Bukan saja ancaman dari perilaku dan tindak-tandukku sebagai seorang pendekar yang selalu memancing bahaya, namun di dalam tubuhku ada racun yang begitu mematikan dan berbahaya," ujar Jayaseta kepada Almira ketika mereka berada di penginapan di pusat kota Semarang.


Jayaseta telah berusaha bercerita selengkap mungkin tentang pengalamannya sejak terakhir bertemu dengan Almira.


"Aku maklum, kakang. Namun, aku rasa kakang tak perlu pulang ke Giri. Tinggallah barang sebentar menemaniku di Semarang. Bila masa musim angin Timur datang, kakang bisa berangkat ke Sukadana menumpang kapal barang atau ikut kapal prajurit yang ditugaskan kesana untuk mengambil upeti," ujar Almira dengan mata berbinar-binar namun sedikit sayu karena kerinduan yang dalam.


Namun beban berat Jayaseta adalah bahwa sesegera mungkin ia tetap harus meninggalkan Almira untuk kedua kalinya. Sama dengan Almira yang harus siap bila Jayaseta kembali pergi. Bahkan tanpa racun kutukan yang diderita orang yang ia kasihi itu, Almira mengerti kepribadian Jayaseta sebagai seorang pendekar dan pengelana yang selalu menjadi seorang musafir untuk menempa dirinya mendapatkan makna kehidupan dan jati diri.


Bukan tanpa alasan Almira kemudian bersemangat dan berniat menjadi seorang pedagang dan pengusaha. Ia ingin menjadi dewasa, mandiri dan kuat. Ia tak mau dilihat Jayaseta sebagai seorang perempuan yang lemah dan selalu harus dilindungi.


Dengan menjadi seorang Nyai, seorang tuan, ia memiliki kekuatannya sendiri, walau bukan dalam ilmu kanuragan. Ia dapat memutuskan menjadi orang yang seperti apa serta menempa pribadinya.


Ia akan buktikan kepada Jayaseta bahwa ia tidak cengeng, walau Jayaseta harus tetap kembali pergi dari hadapannya.


Jayaseta tertegun dengan ucapan Almira. Ia tahu bahwa Almira enggan berpisah darinya, sama seperti dirinya. Tapi dari awal ia bertemu dengannya, Almira tak pernah merengek atau mencoba mendapatkan perhatian lebih darinya. Segala yang ia lakukan selalu cukup dan tidak dilebih-lebihkan.


Jayaseta memandang sang gadis lekat-lekat. Menikmati kecantikan Almira: rambut-rambut halus di keningnya, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, serta kulitnya yang halus dan bercahaya.


"Almira, aku harus bertemu dengan pamanmu," ujar Jayaseta tiba-tiba.

__ADS_1


"Tentu, kakang. Namun, apa yang hendak kakang bicarakan dengan pamanku? Maaf, bukannya lancang, tetapi aku juga memegang peranan di dalam urusan-urusan yang pamanku pegang. Mungkin aku bisa membantumu, kakang Jayaseta."


"Baiklah. Aku akan bertanya kepadamu dulu, Almira. Setelah aku mendapatkan jawaban darimu, aku akan tetap menghadap pamanmu," ujar Jayaseta.


Ini membuat Almira menjadi semakin penasaran. Urusan apa tiba-tiba Jayaseta ingin lakukan dengan sang paman?


"Aku ingin bertemu pamanmu untuk tujuan melamarmu, Almira," jantung Almira seakan tiba-tiba berhenti. Ia tak sempat bersiap diri atas pernyataan ini.


"Tapi kau sendiri mengatakan bahwa urusan dengan pamanmu kau juga perlu tahu. Lagipula, memang ada halnya dengan dirimu juga. Nah, maukah kau kawin denganku, Almira?"


Almira menunduk dalam-dalam. Ia tak bisa menahan wajahnya yang bersemu merah. Helai-helai rambutnya jatuh dari balik kerudungnya.


"Aku mungkin akan pergi lama, cukup lama untuk membuat kau menjadi milik orang lain. Aku tak pernah berani memikirkan bahwa kau memiliki perasaan yang sama denganku, tapi inilah tindakan paling ksatria yang pernah kulakukan setelah sekian lama menjadi seorang pendekar," ujar Jayaseta.


Almira berusaha mengangkat kepalanya sedikit dan mencuri pandang ke arah Jayaseta. Hatinya mencelos.


"Bila kau menerima lamaranku, aku masih memiliki waktu yang cukup untuk benar-benar bersamamu sebagai suami dan istri sampai saatnya datang angin Timur yang membawaku berlayar ke Sukadana. Jadi, aku tak mau melepaskan kesempatan ini, kesempatan bersamamu. Bila kau menolak, aku masih akan tetap menghadap pamanmu sebagai wali, sehingga mungkin beliau dapat meyakinkanmu bahwa menikahiku adalah sebuah pilihan yang tepat."


Almira memegang tangan Jayaseta dan menggenggamnya erat, "Tidak perlu pamanku untuk meyakinkanku, kakang. Kau sudah dan selalu berhasil meyakinkanku bahwa aku pantas menjadi istrimu. Aku terima lamaranmu. Pergilah menghadap paman, kita menikah di Semarang, sekarang juga."


Awan terbelah oleh sinar mentari yang menerangi hati kedua manusia ini. Seorang pendekar setangguh Jayaseta pun takluk dalam pesona seorang Almira walau sang gadis yang merasa kalah oleh ketampanan Jayaseta dan kehangatan kasih yang ia tawarkan.


Di sisi lain pulau Jawa itu, Pratiwi terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi sang kekasih pujaan hati, Jayaseta, menikahi perempuan yang bukan dirinya. Di dalam mimpi ia melihat sang perempuan jauh kalah cantik dengan dirinya, tak memiliki ilmu kanuragan pula dan hanya bermodalkan sepasang payudara yang padat dan besar.


Mimpi konyol ini nyatanya luar biasa menyebalkan bagi seorang Pratiwi. Ia memandang dadanya sendiri, kemudian bangun dan memukul dinding batu bata di tempat ia tinggal.


Dinding itu jebol dalam sekali tinju, membuat serdadu Walanda yang berjaga di sekitar bangunan di dalam tembok kota Betawi terkejut setengah ****** melihat kejadian ini.


"Siapapun perempuan yang berani merebut kakang Jayaseta akan aku bunuh dan kubantai segenap keluarga dan orang-orang terdekatnya," ujarnya geram dan penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2