Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Atas Sungai Bagian Kedua: Yu Melaju


__ADS_3

Pratiwi meloloskan keris tanpa luknya dari sarung. Kapal milik nakhoda Cina yang pertama terlihat jelas telah terbakar api. Tadi kapal itu berusaha mengarahkan haluannya ke arah kapal lain dan menembakkan meriam, tetapi gagal.


Memang, kapal pertama berhasil ditundukkan. Para perompak membunuh semua prajurit Lan Xang yang jumlahnya tidak genap sepuluh orang tersebut. Mereka mendapatkan perlawanan yang lumayan sengit ketika mencoba mengambil alih meriam dan kapal sekaligus. Sang nakhoda harus melawan dua orang sekaligus, sedangkan dua orang perompak yang lain bertarung dengan pemantik meriam. Keduanya tewas setelah hampir berhasil merebut meriam. Yang terjadi, meriam meledak di atas haluan dan menciptakan api yang membakar geladak.


Untungnya, sebelum kapal berubah arah, sang nakhoda si Cina itu memiliki kemampuan silat yang lumayan mumpuni untuk melawan kedua perompak, sehingga kapalnya tak berhasil direbut. Sialnya, awak dan semua prajurit yang tersisa mati di atas kapalnya.


Pratiwi dan Yu menyadari dengan baik bahwa kapal ini sebentar saja akan menjadi sasaran selanjutnya dari serangan para perompak tersebut. Pratiwi celingak celinguk tetapi memindai dengan cermat keadaan kapal. Para prajurit tidak ada di buritan maupun bagian tengah kapal.


Pratiwi mendengus. “Dungu! Prajurit-prajurit itu malah sibuk menonton teman-teman mereka yang turun menyerang lawan dari bagian haluan sembari menembakkan meriam. Mereka tidak memberikan sedikit saja pertahanan.”


Yu ikut melihat sekeliling, kemudian memantapkan pandangan ke satu kapal di seberang. “Mereka sudah menyerang kapal itu, Pratiwi.”


“Mereka juga sudah sampai di kapal ini, Yu. Siapakan jarum-jarummu,” ujar Pratiwi mendadak.

__ADS_1


Ternyata memang peringatan Pratiwi itu bukan tanpa alasan. Tangan-tangan telanjang terlihat muncul dari sisi kapal. Enam orang perompak Annam, bertubuh pendek kecil, berkulit kuning mirip orang-orang Cina dan bertelanjang dada menggigit belati di mulut mereka, serta tangan kanan menggenggam pedang bergaya Cina Han.


Dua orang tanpa aba-aba langsung berlari ke bagian haluan. Tujuan mereka jelas, menyerang para peyulut meriam. Empat sisanya mengerubungi Pratiwi dan Yu. Mereka sudah memerhatikan bahwa Pratiwi yang terlihat bagai seorang laki-laki bertubuh mungil seperti diri mereka, dan seorang laki adalah laki-laki Cina. Pratiwi sendiri sudah menghunus keris tanpa luknya.


Tindakan ini dianggap para perompak sebagai sebuah sikap perlawananan. Kebencian orang-orang Annam kepada orang-orang Cina Han itu sudah cukup menjadi tambahan alasan keempat orang perompak Đại Việtuntuk mengepung Yu dan Pratiwi yang mereka anggap sebagai seorang juragan Cina dan pembantu atau pengawalnya.


Yu meraba deretan jarum di balik sabuknya. Tangannya sedikit gemetar menghadapi para perompak ini, meski bukan sekali saja ia menggunakan kemampuan membunuhnya tersebut.


Masalah pertempuran, Yu mau tidak mau harus mengakui bahwa Pratiwi adalah seorang tokoh dan pendekar yang sangat berpengalaman bahkan digdaya. Wajah perempuan itu kini telah kembali menjadi dingin dan penuh dengan nafsu membunuh.


“Maju kalian semua. Kerisku perlu dimandikan dengan darah orang-orang semacam kalian ini. Anggap saja kalian beruntung bisa mati di tanganku!” seru Pratiwi tanpa menghiraukan apakah para perompak itu paham bahasa yang ia gunakan atau tidak.


Pratiwi meminta agar Yu berdiri di belakangnya selagi keempat perompak perlahan berjalan mendekat dengan pedang dan belati di kedua tangan mereka.

__ADS_1


Yu menggeram. Tangannya terasa gregetan karena harus menghadapi hal semacam ini. Ia mencabut beberapa jarum, kemudian berteriak keras. Secara mengejutkan, tabib Cina dari Betawi itu melaju ke depan dan melemparkan jarum-jarumnya ke arah titik mematikan di tubuh musuh.


Pratiwi terkejut. Ini bukan rencana awalnya. Ia hanya memerlukan Yu untuk berada di belakang untuk mendukungnya dari serangan-serangan musuh.


Benar saja, serangan Yu itu dapat dihindari musuh. Jarum-jarum yang dilemparkan Yu melenceng dari sasaran. Meski memang dua diantaranya tetap menancap di bagian tubuh salah satu perompak Annam, luka tusukannya tidak parah dan membahayakan, layaknya tertusuk jarum biasa.


Akibatnya, perompak yang diserang membalas meraung lebih karena marah dibanding sakit.


Ia masuk menyeruduk bagai seekor banteng mengamuk ke arah Yu. Ia membabatkan pedang Hannya membacok ke arah kepala, siap membelah dua.


Yu tersentak ke belakang, Pratiwi menariknya di saat yang tepat. Ujung pedang Cina dua jengkal saja di depan wajah Yu.


Tanpa buang-buang waktu lagi, Pratiwi melompat tinggi dan memanjat di atas tubuh kecil sang penyerang dan menanamkan kerisnya di leher musuh, mencabutnya dan menusukknya lagi dengan cepat. Darah memuncrat deras dari luka tersebut sampai sang korban tumbang tewas menggelepar di atas geladak. Pratiwi langsung mengambil belati Annam sebagai pasangan senjatanya. Kembali dua jenis belati telah tergenggam di kedua tangan Pratiwi yang memang memiliki jurus-jurus silat belati kembar.

__ADS_1


__ADS_2