
Ada lima perahu yang sudah berlayar terlebih dahulu dibanding beberapa perahu yang sialnya telah seluruhnya menjadi korban keganasan sang Pendekar Topeng Seribu. Mereka awalnya berangkat dari sebuah kemah besar yang disiapkan oleh anggota Dunia Baru yang berisi gabungan orang Annam dan Champa. Kemah para perompak ini jelas didukung sepenuhnya oleh orang dalam dari kerajaan Siam yang diam-diam mampu membuat keberadaan para perompak dengan tujuan besar menggabungkan duni dalam satu kesatuan tersebut tak diketahui oleh Ayutthaya. Jelas gerakan sebesar ini bukan tanpa masalah dan tidak membahayakan semua negeri.
Jalur persaudaraan dan hubungan antar anggota serta pengaruh kelompok Dunia Baru ini memang sulit untuk diketahui dengan baik. Yang jelas, sampai sekarang, kekuatan yang begitu besar ini seperti tak terbendung, menggurita dimana-mana dan masih sangat bersifat rahasia. Siapa pemimpin mereka sebenarnya dan apakah tujuan mereka masuk akal? Atau, mengapa Jayaseta dan rombongannya, termasuk orang-orang yang berhubungan dengan tokoh besar itu, menjadi sasaran utama dalam rencana-rencana gelap mereka? Adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab Jayaseta di dalam perjalanannya yang akan panjang ini.
Yang jelas, lima perahu tersebut berisi para perompak Champa. Seakan sama-sama merasa ganjil, kelima perahu berisi masing-masing tujuh sampai sepuluh perompak bersenjata lengkap itu mendayung pelan berdampingan. Masing-masing perahu saling berkabar berita dan membahas mengenai hal penting tentang rencana dan perintah yang mereka terima.
“Perahu-perahu di belakang kita tidak terlihat menyusul dengan cepat. Apa yang membuat mereka tertahan?” ujar salah satu perompak. Champa yang bersenjatakan sebuah tombak, tetapi mata berbentuk pedang atau golok melengkung serupa dha atau daap. Ia mengenakan pakaian putih kusam berlengan panjang dengan kancing menyamping dari leher ke arah dada sebelah kanan. Celana pendek hitamnya menggantung terkena cipratan air. Nampak pula dari cara bicara dan pemakaian penutup kepala berbentuk turban atau kain yang digulung-gulung itu, bisa jadi ia adalah pemimpin rombongan ini.
__ADS_1
Sosok itu berada di salah satu dari dua perahu terbesar di rombongan yang terdiri atas lima itu. Dua perahu tersebut malah hampir serupa dengan perahu perang di atas sungai milik kerajaan Champa yang terdiri atas sepuluh prajurit atau orang-orang bersenjata dengan sepuluh pendayung yang merupakan budak atau prajurit tambahan lain yang berperan sebagai pendayung. Beberapa perompak bahkan mengenakan pakaian pelindung dari kulit binatang atau logam dan rantai serta bertameng lebar.
“Atau, jangan-jangan kau berpikir yang sama denganku?” ujar salah seorang perompak lain di perahu utama satunya.
“Perintah kita untuk membantu menyerang kelompok rekan-rekan Jayaseta di kapal orang Lan Xang yang tertinggal lebih dari setengah hari di sana sepertinya terlalu konyol. Sesampainya kita di sana, pertempuran itu pasti sudah usai. Jumlah kita terlalu banyak untuk bisa mereka hadapi, lalu mengapa kita diperintahkan untuk membantu anggota-anggota kita di sana?” ujar perompak yag lain lagi. “Dan rekan-rekan kita di belakang, seperti katamu, Lâm, terlalu lama bagi mereka untuk menyusul kita. Dan bila kita berpikir yang sama …,”
__ADS_1
“Mereka mungkin malah sedang menghadapi rombongan Jayaseta sekarang!” potong sang pemimpin yang ternyata bernama Lâm tersebut. Semua mata memandang ke arah sang pemimpin perompak yang menerawang jauh itu.
“Lakukan apa yang harus kau lakukan, Lâm. Perintahkan saja kami. Rencana ini terlalu muluk-muluk menurutku. Si tua Langkah Tiga terlalu bernafsu dengan Pendekar Topeng Seribu yang katanya hebat itu. Sekarang, coba kau bayangkan sekali lagi, seperti yang pernah kita bahas, bahkan bersama teman-teman kita yang tertinggal di perahu-perahu lainnya. Bila toh Pendekar Topeng Seribu tewas, apa yang membuat Dunia Baru untung? Ia dikisahkan memang sering bertubrukan dengan anggota-anggota Dunia Baru dan mengganggu jalannya rencana. Ia kerap mengacaukan bahkan membuat anggota-anggota kita tewas. Bila memang sehebat itu ceritanya, toh, ia tidak melakukannya dengan sengaja. Bila memang ia begitu hebat, ada baiknya kita tinggalkan saja dibanding mengorbankan banyak orang, tenaga, biaya dan waktu. Kalau ternyata Jayaseta ingin mengikuti kelompok ini, yang mana jelas tidak mungkin sama sekali, aku rasa ia tak akan memberi banyak kemajuan,” ujar seorang perompak yang bercawat dna bertelanjang dada, tetapi bersenjatakan tombak panjang serta tameng lebar yang besarnya lebih dari separuh tubuhnya.
“Yang jelas, aku tak yakin Pendekar Topeng Seribu sehebat itu. Aku ingin sekali menjajal kemampuannya dan membuktikan bahwa si tua Langkah Tiga memiliki mimpi bodoh dan nafsu yang berlebihan terhadap sosok itu,” timpal Lâm. “Biarkan aku berpikir sebentar,” lanjutnya kemudian.
Perahu yang didayung di tahan. Perahu-perahu tersebut secara naluriah menepi, mengikuti arus yang lebih lambat, menunggu keputusan sang pemimpin. Kesunyian yang terjadi sebenarnya tak begitu lama, bahkan semua orang sudah tahu apa yang akan dilakukan sang pemimpin, keputusan apa yang akan diambilnya.
__ADS_1