
Pandangan Datuk Mas Kuning menerawang sampai jauh, ke bertahun-tahun sebelumnya, di masa ia masih begitu muda dan penuh dengan semangat, tujuan dan cita-cita terutama dalam penguasaan ilmu silat dan kanuragan.
Ingatan sang Datuk tertambat pada seorang tokoh bernama Ma Ying, seorang Muslim Cina Hui, keturunan salah satu dari kelompok Cina yang berlabuh di pelabuhan Sambas, pulau Tanjung Pura. Tahun 1407 Masehi, para Muslim Cina ini mendirikan kelompok muslim bermazhab Hanafi.
Di masa itu, pelabuhan Sambas menjadi pelabuhan perantara jalur perjalanan dari Campa ke Maynila, dari Kiu Kieng, Palembang, ke Majapahit. Sedangkan pejabat wangsa Ming di Cina saat itu kebanyakan adalah orang-orang Muslim yang memiliki banyak pengetahuan berbahasa, terutama bahasa Arab yang juga digunakan di dunia perdagangan. Mereka tinggal di Sambas karena telah melakukan perdagangan oleh perintah raja kerajaan wangsa Ming.
Sedangkan, pada tahun 1463 Masehi, laksamana Cheng Ho, seorang muslim Hui dari Yunnan, atas perintah Maharaja Cheng Tsu atau dikenal juga dengan Jung Lo yang merupakan maharaja keempat Wangsa Ming, selama tujuh kali memimpin ekspedisi pelayaran ke Nan Yang. Beberapa anak buahnya dan awak kapalnya ada yang kemudian menetap di pulau Tanjung Pura dan membaur dengan penduduk setempat.
Memang bila ditilik kembali jejak kedatangan orang Cina ke pulau ini, sudah sejak abad ke-3 Masehi para pelaut Cina telah berlayar ke nusantara untuk melakukan perdagangan. Jalur pelayaran mereka menyusuri pantai mancanegara di bagian timur dan pulangnya melalui Tanjung Pura bagian barat serta kepulauan Bisaya dengan mempergunakan angin musim.
Kemudian, pada abad ke-7 Masehi, hubungan Cina dengan Tanjung Pura bagian barat sudah sering terjadi, tetapi belum banyak yang bisa dikatakan menetap lama.
Catatan penting tentang kedatanaan orang-orang Cina adalah di saat pasukan Tartar atau juga dikenal dengan Mongol atau Mongolia Kubilai Khan di bawah pimpinan Ike Meso, Shih Pi dan Khau Sing dalam perjalanannya untuk menghukum raja Kertanegara dari kerajaan Singasari di pulau Jawa, singgah di kepulauan Karimata yang terletak berhadapan dengan Kerajaan Tanjungpura. Karena kekalahan pasukan ini dari angkatan perang Jawa dan takut mendapat hukuman dari Khubilai Khan, kemungkinan besar beberapa dari mereka melarikan diri dan menetap di pulau Tanjung Pura.
Mengenai orang-orang Hui Cina tersebut, bisa dikatakan mereka adalah kelompok suku di Cina yang biasanya dibedakan dengan anggota suku Cina lain, seperti Han misalnya, adalah oleh agama dan kebudayaan Islam mereka. Ini dikarenakan banyak dari orang Hui adalah keturunan langsung atau percampuran dengan para pendatang atau pedagang Jalur Sutera.
__ADS_1
Nenek moyang orang-orang Hui termasuk dari negeri Hindustan dan beragama Islam, Arab yang juga disebut sebagai Dashi, Parsi yang disebut juga sebagai Bosi, Han Cina sendiri serta Tartar. Beberapa wangsa di Cina di abad pertengahan, khususnya Wangsa Tang dan Wangsa Yuan Tartar mendorong perpindahan orang-orang dari negeri Parsi dan Hindustan yang kebanyakan adalah Muslim ini ke Cina. Ini dikarenakan kedua Wangsa Kemaharajaan Cina tersebut memiliki kepentingan dengan menunjuk pejabat di Cina dari negeri-negeri tersebut untuk segala jenis urusan yang juga berhubungan dengan negeri-negeri tersebut.
Maka pada abad berikutnya, mereka secara bertahap kawin campur dengan Tartar dan Han Cina, dan membentuk kelompok orang-orang Hui. Mereka melakukan kawin campur dan tinggal lama di Cina. Saat itu orang-orang Hui masih bebas menggunakan nama-nama Islam yang bercorak Parsi atau Arab, tergantung dari keturunan mana mereka berasal. Namun, lama kelamaan mereka juga menggunakan nama-nama Cina dan men-Cinakan nama-nama berjatidiri Islam tersebut.
Ini bisa dilihat dari nama keluarga atau marga Ma, Mu atau Han yang berasal dari kata nama Muhammad, Ha untuk Hasan, Hu untuk Hussein, Sai untuk Said, Sha untuk Shah, Zheng untuk Shams, Koay untuk Kamaruddin atau Chuah untuk Osman.
Sebuah cerita lama di Ningxia menyatakan bahwa empat marga Hui lain di wilayah ini, yaitu Na, Su, La, dan Ding, berasal dari keturunan Nasruddin yang merupakan putra Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar.
Sedangkan nama selain nama keluarga, orang-orang Cina Hui bebas menggunakan rujukan, entah sekadar meniru nama umum atau memiliki makna lain. Dalam hal ini, Ma Ying, adalah seorang pria Muslim Hui yang tinggal di Sambas dengan nama keluarga Ma untuk Muhammad dan Ying sendiri berarti Elang dalam bahasa Cina.
Mengenai ajaran agama Islam yang mereka anut, ada pula Muslim Hui di daerah tenggara Cina dan Yunnan yang memiliki kebiasaan dan kepercayaan Islam yang bercampur antara ajaran Konghucu dengan Syariat serta ajari Alquran pada masa wangsa Tang.
Selain mengenai ciri kepercayaan Islam orang Hui dari wilayah utara ini, mereka juga dikenal kental dengan ilmu kanuragan dan beladiri yang mumpuni. Para pendekar, pesilat dan jagoan Hui Cina di utara ini mengubah beladiri dari orang-orang Cina beragama Tao dengan menambahkan falsafah ajaran Islam Sufi.
Leluhur Ma Ying yang tinggal di Sambas inilah yang berasal dari suku Hui di utara Cina tersebut.
__ADS_1
Orang-orang Islam Hui Cina memang terkenal akan kemampuan ilmu kanuragan mereka yang mumpuni, selain keberanian mereka. Maka tak heran, banyak punggawa kerajaan Cina berasal dari suku Hui, begitu pula laksamana Cheng Ho yang begitu berani diperintahkan menyebrangi lautan menyambangi beragam negeri.
Awal mula kemahsyuran kanuragan orang-orang Hui ini dimulai pada tahun 756 Masehi, dimana lebih dari 4.000 tentara bayaran Arab bergabung dengan pasukan kerajaan Cina di An Lushan. Setelah peperangan, beberapa daei mereka tetap di Cina dan juga menjadi salah satu adalah nenek moyang atau leluhur orang-orang Hui.
Para prajurit yang berasal dari negeri asing atau campuran dari beragam negeri asing ini kemudian kelak disebut sebagai pasukan Semu atau Semuren.
Semu sendiri adalah semacam tingkatan masyarakat yanh diciptakan oleh Wangsa Yuan yang didirikan oleh orang-orang Tartar yang memerintah Cina. Kata Semu berarti 'warna mata', merujuk pada warna mata orang-orang dari masyarakat ciptaan ini yang merupakan orang dari negeri asing yang dianggap tak berwarna hitam murni.
Kelak, orang-orang Semu juga disebut sebagai Huihui yang menjadi dasar nama suku Hui yang diberikan kepada suku Cina beragama Islam tersebut . Kata Huihui memiliki arti orang Cina beragama Islam, atau pendeknya orang asing di Cina. Nama ini disematkan oleh kemaharajaan Cina wangsa Yuan dan semakin jelas penjabarannya di masa wangsa Ming.
Tentara Semu atau Huihui tersebut, di masa kemaharajaan wangsa Yuan, diberikan tugas memperluas wilayah taklukan dari kemaharajaan Mongol atau bangsa Tartar.
“Aku dan Temenggung Beruang belajar ilmu kanuragan pada Ma Ying sewaktu kami masih berusia sangat belia, empat belas atau lima belas tahun," ujar sang Datuk kepada para hadirin yang masih berkumpul di rumahnya.
"Awalnya, sesama orang yang memiliki ketertarikan luar biasa pada ilmu silat, aku dan Temenggung Beruang saling bermusuhan. Aku beragama Islam dari suku Melayu, sedangkan Panglima Beruang beragama suku darat pedalaman. Aku adalah anak dari pejabat keraton Sukadana, sedangkan ia adalah putra dari kepala suku yang kelak akan memimpin masyarakatnya, seperti yang dilakukan oleh ayahnya," sang Datuk meletakkan kedua lengannya di belakang punggung, berbalik arah dan menatap rombongan orang-orang Jawa, termasuk Katilapan dan Narendra.
__ADS_1
"Berkali-kali dalam pengembaraan kami terlibat pertarungan yang tidak pernah menghasilkan kemenangan. Tak sadar kami rupanya memang mencari guru yang sama di Sambas. Permusuhan semakin tak terelakkan, namun rupanya Ma Ying adalah seorang guru yang begitu bijak. Kami mendapatkan pelajaran yang begitu berharga, bukan sekedar ilmu kanuragan, namun juga ilmu kemanusiaan, persahabatan dan persaudaraan. Walau kami berbeda suku dan kepercayaan, ternyata Temenggung Beruang terbukti pantas menggantikan ayahandanya sebagai kepala suku. Ia bukan sekadar baik dan bijak, ia juga ternyata bukanlah seorang pendendam dan sangat menghargai alam serta mahluk hidup."
Sang Datuk menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Baiklah, akan kuijinkan kalian untuk menyusul sahabat kalian sekaligus muridku, Jayaseta, beserta cucuku, Dara Cempaka ke pelosok hutan menyusuri sungai. Semoga Allah melindungi kalian dan memberikan rahmat pada keputusanku ini," ujar sang Datuk diikuti anggukan semua hadirin yang ada di tempat itu.