
Setiap pelabuhan di mana saja di penjuru dunia pasti lah ramai. Pelabuhan berlaku sebagai tempat perdagangan dan pertukaran berita dan budaya, serta segala jenis kegiatan antar bangsa. Jayaseta melihat negeri Malaka dengan bukit tinggi yang dilingkari tembok atau benteng kokoh bagai sabuk, serta bangunan yang dibangun di mana-mana.
Tapi, Jayaseta yang ilmu pelayarannya begitu cetek dan dangkal pun tak bisa menyangkal bahwasanya pelabuhan Malaka hari ini terlihat terlalu ramai dan penuh hiruk pikuk. Bahkan sebelum jung Raja Nio berlabuh dan berhenti bergerak, kapal-kapal kecil terlihat bolak-balik. Begitu juga dengan kapal angkatan perang yang berlayar ke tengah laut, melewati jung tempat Jayaseta dan rekan-rekannya berlayar.
Para prajurit bule Pranggi dan pribumi dilengkapi dengan bedil dan tombak panjang di atas kapal-kapal perang yang moncong meriam mereka pun telah siap ditembakkan, berdiri berbaris dengan rapi dan siap siaga, awas serta waspada.
Menurut cerita Narendra dan Katilapan yang disampaikan kepada Jayaseta, memang serupa dengan pelabuhan kerajaan Johor-Riau, pelabuhan Malaka yang telah dikuasai negeri bule Pranggi ini sangat ramai oleh para pedagang yang berniaga timah dan lada. Ada pula perniagaan emas, kayu gaharu, kayu kelembak, batu benzoar yang digunakan untuk bahan obat, sarang burung, gading, kapur barus, tembaga, beras, kain sutera putih dari Cina, tembikar, kuali besi Cina, kain laken merah, benang emas Jepun, serta candu. Ada pula barang dagangan utama dari kerajaan Johor-Riau, yaitu gambir, hasil hutan, lada dan juga hasil laut.
Namun keramaian ini jelas bukan keramaian perdagangan. Kapal-kapal perang Pranggi yang berlayar menyebar ke seluruh arah. Mereka nampak sedang mencari-cari sesuatu di mulut pelabuhan yang penuh dengan ratusan kapal besar kecil yang sedang menunggu giliran bersauh.
Satu kapal perang Pranggi mendekat ke jung Raja Nio dengan perlahan namun pasti. Kembali memberikan hawa ketegangan bagi para pelaut dan penumpang di atasnya yang baru saja berhenti bertarung di lautan dangkal beberapa hari yang lalu.
"Jangan khawatir, jangan gegabah. Pasti ada masalah atau sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi di daratan sana. Mereka sengaja menyasar kapal-kapal dan jung besar yang bersenjata dan memiliki pengawal. Biarkan senjata kalian di tempatnya," perintah sang nakhoda, Raja Nio, kepada Jayaseta, rekan-rekannya, serta para awak jung.
Kapal perang berbendera Pranggi yang sedikit lebih kecil dari jung Raja Nio itu pun merapat. Belasan prajurit, tamtama dan seorang perwira langsung berlompatan naik ke geladak kapal Raja Nio. Kesemuanya adalah pribumi.
"Biar aku yang bicara kepada mereka," ujar Raja Nio.
"Hei kau! Aku tak peduli kau berasal dari Timor, Flores, atau Larantuka. Jangan menggunakan alasan satu darah, satu daerah, lalu kau mau saja seenaknya bermain-main denganku!" seloroh perwira pribumi negara Malaka Pranggi tiba-tiba. Sang perwira sudah melihat Raja Nio sedari awal yang nampak sekali mengajukan diri menyambut kedatangan diri dan pasukannya.
__ADS_1
Raja Nio mencuri pandang ke arah sang perwira, namun tak lama. Ia segera menunduk, untuk menghindari masalah karena khawatir dianggap melawan atau menantang. Namun, Raja Nio sudah mendapatkan gambaran penuh akan sang perwira.
Sekali lihat dan dengar, Raja Nio tahu bahwa sang perwira adalah orang dari daerahnya berasal, salah satu negeri di Nusatenggara bagian timur. Laki-laki muda ini berkulit gelap yang dibungkus dengan pakaian bergaya Pranggi: berkancing dan dengan bagian bahu yang menggelembung, sedangkan bagian bawah tubuhnya tak berkasut, bertelanjang kaki.
Raja Nio menahan tawa memikirkan begitu tak cocok dan sesuai pakaian itu di badan sang perwira. Namun, Raja Nio tak bohong dengan mengakui bahwa perawakan sang perwira yang berotot liat memegang hulu pedang Pranggi yang menggantung di pinggang kiri serta tangan kanan yang menggenggam bedil itu terlihat mengancam dan penuh wibawa. Belum lagi wajah dengan tulang pipi keras dan rambut keriting panjang kasar yang mencuat dari sela-sela penutup kepala bergaya Pranggi tersebut. Ternyata tak hanya sang perwira, separuh dari belasan prajurit tamtama Pranggi yang naik ke geladaknya kemungkinan besar juga berasal dari Nusatenggara atau paling tidak Ambonia.
"Maafkan aku, saudara. Mana mungkin aku berani lancang menyetarakan dirimu dengan engkau. Walaupun, aku yakin engkau juga berasal dari Larantuka, negeri kampung halamanku, dilihat dari logat dan caramu berbicara," ujar Raja Nio tenang.
Bagaimanapun juga, kelihaian berbicara Raja Nio tetap menyisakan ruang untuk sang perwira sadar bahwasanya kata-katanya bertentangan dengan kenyataan. Ada rasa keakraban dan rasa percaya yang aneh pasal ketika sang perwira tahu bahwa sang nakhoda juga berasal dari daerahnya.
"Baik. Baik. Tuan nakhoda yang terhormat. Kami ada sedikit masalah si daratan sana. Untuk sementara, jung tuan tak bisa langsung bersauh. Kami harus memeriksa kapal-kapal besar yang penuh dengan persenjataan dan pengawalan seperti kapal tuan ini," ujar sang perwira jauh lebih lembut kali ini.
"Ah, aku dan seluruh awak kapal, penumpang dan pengawal di jung ini pasti dengan senang hati bekerja sama dengan engkau, tuan-tuan prajurit sekalian."
"Tapi kami tetap harus memeriksa geladak," tegas sang perwira yang kemungkinan besar memang berasal dari Larantuka tersebut.
"Oh, tentu, tentu. Silahkan tuan-tuan memeriksa kapal ini," jawab Raja Nio.
Para awak, penumpang, termasuk rombongan Jayaseta berdiri di atas geladak berjejer bersampingan dengan rapi.
"Mengapa kau membawa senjata tombak tiga mata ini? Apakah kau seorang pengawal?" tanya seorang prajurit kepada Narendra.
__ADS_1
"Bukan. Aku bukan pengawal. Aku adalah salah satu penumpang di jung ini. Tapi, engkau harusnya sudah paham tuan, bahwa orang-orang Melayu dan nusantara selalu membawa senjata ketika mereka bepergian jauh untuk menjaga diri, bukan?" jawab Narendra. Ia bahkan terkejut dengan ketidaktahuan sang prajurit akan hal-hal awam semacam ini. Apa umurnya sebelas tahun? Pikir Narendra.
"Nah, bagaimana denganmu? Mengapa kau tak melengkapi dirimu dengan senjata? Tak ada keris, tak ada parang, tak ada bedil?" tanya sang tamtama kepada Jayaseta yang berdiri di samping Narendra.
Jayaseta kebingungan. "Bukankah engkau baru saja tadi mencurigai temanku yang membawa senjata? Sekarang kau mendapati bahwa aku tak berpisau tak berbelati, namun tetap kau curigai," tutur Jayaseta dengan kening yang mengkerut heran.
"Kau dengar sendiri sejenak tadi, bukan? Temanmu yang mengatakan bahwa kalian sudah terbiasa membawa senjata. Mengapa kau tidak? Merasa jagoan dan sakti kah engkau? Apakah kau merasa mampu menjaga diri dengan tangan kosong, begitu?" sang tamtama nampak sekali menunjukkan kuasanya, meski kebodohannya juga semakin terlihat.
"Sudah, cukup! Kita pergi dari kapal ini, tak ada yang mencurigakan," suara sang perwira tiba-tiba terdengar di belakang sang tamtama yang sedang coba-coba unjuk kuasa. Ia kali ini terlihat malu, namun segera menjawab perintah alasannya tersebut, "Siap!" jawabnya tegas.
***
Letupan kecil di sana-sini mendadak terdengar. Jayaseta, Raja Nio, Narendra, Katilapan, Datuk Mas Kuning, Dara Cempaka dan para awak jung jelas paham bahwa itu adalah bunyi tembakan, letupan dari moncong bedil.
Serangan gangguan para anggota Jarum Bumi Neraka dari Betawi memang sudah benar-benar diredakan, disapu habis, yang tanpa sadar dibantu dengan kehadiran Sasangka. Dengan keadaan ini, pemerintah Pranggi langsung memerintahkan pasukan dan tentaranya untuk memeriksa dan mencari tahu kemungkinan adanya sisa-sisa gerombolan atau bahkan mungkin pasukan musuh yang sudah bersiap untuk menyerang Malaka.
Sangat kebetulan, memang ada penyusup dari sebuah kapal berukuran sedang yang sedang akan memasuki pelabuhan Malaka. Kapal ini menyamar sebagai sebuah kapal dagang, namun sebenarnya berisikan para jagoan, pendekar dan jawara dari wilayah Kesultanan Johor-Riau. Mereka datang untuk menyelinap masuk dan mempersiapkan penyerangan yang akan dilakukan oleh sekutu mereka, yaitu Kompeni Walanda.
Pada dasarnya Johor dan Riau sudah berkali-kali berusaha untuk mencari celah menyerang Malaka. Mereka sudah melakukannya berpuluh tahun karena masih merasa sakit hati atas perebutan Malaka oleh kaum bule Pranggi dahulu.
Sial bagi mereka, tiada rencana yang disusun dengan baik antar musuh Pranggi itu sehingga mereka ketahuan ingin melakukan hal yang buruk di Malaka dan mencoba menjadi perusuh di dalam kota. Rencana mereka sudah lebih dahulu dilakukan para anggota Jarum Bumi Neraka yang juga sial karena semua tewas terbunuh. Kini, mereka yang harus ikut meregang nyawa.
__ADS_1
Jayaseta menggenggam tangan Dara Cempaka dengan penuh makna. "Perjalanan kita akan sangat panjang, Dara," ujarnya sembari menatap ke arah kepulan asap kecil-kecil yang membumbung ke angkasa di suatu tempat di mulut pelabuhan dimana kejadian tembak-menembak itu berasal.
Dara Cempaka membalas genggaman tangan suaminya kemudian merapatkan tubuhnya ke bahu perkasa Jayaseta. "Tak apa, abang. Selama abang ada di sisi," ujar sang gadis perlahan.