Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tengger


__ADS_3

Sejarah kesaktian orang-orang Tengger sudah dimulai sejak tahun 1115 Masehi pada masa kerajaan Kadiri yang yang diperintah oleh Raja Erlangga. Di masa itu hiduplah seorang resi sakti karena memiliki pusaka bernama Kyai Gliyeng. Resi itu bernama Resi Musti Kundawa. Ia berubah nama menjadi Resi Kandang Dewa setelah diangkat menjadi senopati kerajaan.


Sang resi senopati memiliki empat orang anak bernama Jaka Lanang, Dewi Amisani, Jaka Seger dan Dani Saka. Jaka Seger lah yang mewarisi ilmu dan pusaka Kyai Gilyeng dari sang ayah sehingga ia menjadi seorang pendekar pilih tanding.


Suatu saat, ada sebuah kadipaten kerajaan Kadiri bernama Kadipaten Wengker yang dipimpin oleh Adipati Suragata memiliki seorang anak perempuan yang cantik bernama Dewi Ratna Wulan. Sayangnya, anak perempuannya ini memiliki penyakit menahun dari ia kecil.


Jaka Seger lah yang mampu menyembuhkan sang gadis sehingga kemudian menjadi istrinya. Karena telah sembuh, maka nama sang putri pun diganti menjadi Lara Anteng.


Sejarah Tengger kemudian tercatat merupakan perjalanan hidup kedua sejoli ini serta pertunjukkan kemampuan ilmu kanuragan sang suami, Jaka Seger.

__ADS_1


Tidak heran kemudian, Tengger yang berasal dari kata Anteng dan Seger itu menghasilkan banyak pendekar pilih tanding dan prajurit-prajurit berilmu tinggi.


Kesanga sang Cemeti Sakti memiliki perawakan yang berkebalikan dengan Sudiamara. Kesanga bertubuh jangkung dan bertungkai panjang. Wajahnya memiliki raut tajam, keji tetapi seperti selalu memaksakan senyuman. Akibatnya, alih-alih terlihat ramah, senyuman tersebut malah membuat wajahnya semakin mengerikan. Kesanga tak memelihara kumis dan jenggot. Wajahnya tercukur mulus. Bahkan rambutnya dipangkas pendek dan dibebat dengan selembar jarit.


Sebilah keris terselip di pinggang bagian depannya, sedangkan cemeti menggelung di pinggang bagian belakangnya. Dua pendekar pendampingnya juga merupakan peniru unggul. Mereka terlihat seperti apa yang dikatakan Sudiamara, pengabdi sejati sang pendekar. Tidak hanya pakaian, busana dan penampilan, tetapi bahkan cara berbicara dan berjalan pun mereka meniru baik-baik Kesanga.


Kesanga sendiri tidak keberatan dengan perilaku keduanya. Pada kenyataannya, sebenarnya, Kesanga malah sengaja membiarkan keduanya menirunya habis-habisan. Ini sangat berguna dalam pertarungan. Kesanga kerap menipu musuh-musuhnya dengan membuat mereka kebingungan mana Kesanga yang asli. Kalau sudah begitu, dengan mudah Kesanga akan mengambil kesempatan memberikan jurus-jurus maha dahsyatnya. Belum lagi dengan kemampuan ilmu kebal yang ia sandang sekarang ini.


Di bangunan yang dituju, para prajurit sudah siap dengan segala persiapan mereka. Para prajurit memang tidak berada di luar bangunan seperti ketiga menjaga sebuah benteng. Sebaliknya, mereka semua menunggu di dalam karena memang seperti apa yang direncanakan Sudiamara, Kesanga harus terkurung di dalam ruangan itu seperti binatang dalam jebakan.

__ADS_1


“Aku adalah hidangan utama, Kakang Sudiamara. Aku akan tetap berada di sini. Aku percaya Kakang dan Koncar bisa mengalahkan mereka,” ujar Almira.


“Mengapa kau begitu keras kepala, nduk? Aku jauh-jauh datang dari Blambangan kemari untuk memberitahukanmu akan bahaya yang bakal terjadi agar engkau bisa menghindar sejauh mungkin dari marabahaya. Sekarang malah kau hendak berdiam disini,” ujar Sudiamara kesal.


Almira bergeming. Ia memandang sang Kakang dan Koncar dengan tatapan tajam penuh niat dan semangat pantang mundur.


“Nyai, bila memang Nyai merasa tidak hendak pergi dari sini, tolong pikirkanlah calon anak Nyai, calon anak tuan Jayaseta. Ia disana juga sedang berjuang. Aku yakin ia akan terus memikirkan Nyai. Tolong bantu Nyai sendiri, calon anak Nyai dan tentunya tuan Jayaseta sendiri. Ia memang mungkin adalah seorang pendekar pilih tanding, tetapi dengan beban besar, pikiran tentang keluarganya, seorang manusia seperti tuan Jayaseta pun dapat dengan mudah kehilangan pemusatan pikiran,” ujar Koncar panjang lebar.


Sudiamara mengangguk setuju, betapapun ia dan Koncar memiliki hubungan yang tak begitu baik.

__ADS_1


Almira menghela nafas panjang. Ia menatap mata Sudiamara dan Koncar dengan seksama, kemudian mengangguk. “Baik, aku akan melakukan apa yang kalian minta, tetapi tidak sampai keadaan benar-benar genting dan hanya aku yang dapat memutuskan kapan aku pergi dari rumah ini. Aku akan melihat rumah ini dilalap api hanya ketika Kakang Sudiamara dan kau Koncar, sudah kehilangan daya dan upaya. Sebelumnya, aku akan tetap berada di tempat ini,” ujar Almira.


__ADS_2