Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran Bagian Ketiga - Kepentingan


__ADS_3

Yulgok menerima dua serangan sekaligus. Satu serangan dengan tombak menyasar ke arah dadanya, sedangkan satu prajurit lain meloncat siap menebas lehernya dari udara.


Yulgok menepiskan tusukan tombak dengan jingum nya kemudian berputar menghindari serangan do. Tiga orang prajurit lain sudah siap di belakang dua penyerang yang lebih dahulu maju meski belum membuahkan hasil.


Yulgok menusukkan jingumnya melewati sela-sela tameng musuh. Teriakan tertahan terdengar dari korban yang tertusuk di pinggangnya. Serangan cepat nan sederhana ini membuat Yulgok mampu memecah tataran gelaran serangan, sehingga tubuhnya mampu menyelip ke belakang musuh.


Do di tangan kirinya menusuk masuk ke pinggang musuh dari belakang, sedangkan jingumnya membacok punggung lawan.


Yang terjadi sekarang adalah Yulgok berhasil melumpuhkan tiga orang dari lima penyerangnya membuat dua penyerang pertama menjadi kelimpungan dengan keadaan ini.


Ketiga rekan mereka yang paling akhir menyerang malah ambruk, entah terluka atau sudah tewas.


***


Jayaseta melihat lima prajurit Daya gagal mengeroyok satu orang pendekar dengan busana Daya lain yang berciri cukup berbeda serta sebuah pedang bergaya katana Jepun. Jelas pendekar itu bukan orang biasa. Ia sudah melumpuhkan tiga diantara pengeroknya dengan cepat.


Awalnya Jayaseta hendak meninggalkan mereka dan melaju langsung ke belakang kampung. Namun inilah sebuah perang.


Perang adalah pertikaian tanpa pandang bulu. Tidak ada cerita benar dan salah, yang ada adalah siapa yang menang dan kalah di akhir pertempuran. Perang melibatkan kepentingan semata. Sang pemenang mungkin dapat menciptakan sebuah cerita kepahlawanan dan ksatria. Yang kalah dapat saja menjelaskan bahwa kekuatan besar datang menjajah dan menindas mereka.


Jayaseta sudah kenal perang sejak ia masih kecil. Ia turun ke medan pertempuran dengan alasan yang paling sederhana, yaitu kepentingan.


Saat ini, ia harus membela kampung berpagar kayu ulin karena kepentingan yang jelas. Kampung ini membebaskannya dari kekuatan racun kutukan tenaga dalam yang menderanya sejak lama. Dara Cempaka juga sedang dalam keadaan terancam dan belum diketahui rimba dan kabarnya. Maka, ia harus melawan para penyerang sampai tetes darah penghabisan.


Jayaseta berlari cepat, melenting sekali ke udara dan membabat Yulgok.


Seperti yang sudah Jayaseta duga, Yulgok bukan pendekar biasa. Ia menyilangkan kedua pedang beda jenis dan ukuran itu dengan cepat menyambut serangan tiba-tiba dari orang yang tak dikenal. Bunyi dentingan besi terdengar keras beserta percikan api yabg terlihat jelas.


Yulgok merasakan kedua tangannya sedikit kesemutan akibat benturan tersebut. Jelas sang penyerang adalah seorang pendekat pilih tanding.

__ADS_1


Kini di depan Yulgok berdiri seseorang laki-laki dengan topeng perang kayu Daya bertanduk, memegang sebuah do, namun bercelana pangsi bergaya Jawa dengan jahitan benang emas di bagian ujungnya.


"Jadi, kau yang mereka sebut dengan Pendekar Topeng Seribu? Senang akhirnya bertemu langsung denganmu setelah berita mengenaimu yang telah jauh lebih dahulu sampai ke telingaku," ujar Yulgok.


Seperti biasa, Jayaseta tak pernah menganggap setiap pendekar yang menantangnya atau menunggu waktu untuk bertarung dengannya dengan alasan kemahsyurannya sebagai seorang pendekar. Ia tidak benar-benar ia acuhkan orang-orang tersebut. Ia tak peduli apa alasan orang yang berhadapan dengannya.


Kali ini tak ada bedanya. Seorang pendekar yang mengenakan busana berbeda dibanding orang-orang Daya Biaju yang menyerang, serta dua buah pedang yang salah satunya sangat serupa dengan katana, pedang asal Jepun itu, hanyalah sebuah tantangan yang harus segera diselesaikan dengan cepat.


Jayaseta tak mengacuhkan ucapan Yulgok. Sebaliknya ia berbicara kepada dua prajurit Daya yang berdiri di belakangnya, dimana tiga rekan mereka dikumpulkan sosok pendekar berpedang ganda tersebut. "Segera kembali ke garis depan untuk mengabarkan bahwa musuh berhasil menipu kalian. Mereka masuk melalui bagian belakang benteng. Rakyat sedang dalam bahaya saat ini!" perintah Jayaseta.


Tak ada rasa sangsi atau keraguan dari kedua prajurit itu. Mereka langsung saja berlari kembali ke arah mereka datang sebelumnya, untuk melaksanakan perintah dari Jayaseta.


Yulgok tersenyum.


Sebenarnya ia juga merupakan orang yang tak lebih sama dengan Jayaseta dalam melihat perang ini, kepentingan.


Bedanya, kepentingan Yulgok adalah keselamatan dan kepuasan dirinya sendiri. Di tempat asing ini, bertaruh untuk mendapatkan hormat dan kekuasaan nampaknya ada di depan mata. Membantu orang-orang Biaju dalam berperang hanyalah kepentingan semata, apalagi sampai dapat mengalahkan dan membunuh pendekar yang terkenal seantero nusantara ini. Ia tak akan menjadi orang biasa lagi, bekas budak yang tak berjatidiri.


Ini berbalik sama sekali dengan keadaan Jayaseta yang terlalu cemas pada keadaan Dara Cempaka. Ia sedang tak ingin mempelajari apa-apa kali ini dari lawannya, walau ia tahu sang musuh pastilah memiliki jurus-jurus yang aneh, baru dan menarik baginya.


Jayaseta memutarkan mandau nya sekali, kemudian tak perlu menahan lama, menderu menyerang Yulgok.


Yang diserang menarik satu kakinya ke belakang, kemudian memutarkan tubuhnya bagai sebuah kitiran angin, bermaksud melakukan sebuah serangan tipuan.


Sembari berputar, Yulgok menghindari tebasan Jayaseta sekaligus Jingum nya akan membabat bagian tubuh atas penyerang dan do pendeknya akan menyasar perut atau bagian bawah tubuh musuh.


Tentu saja rencananya dapat dibaca dengan baik oleh si Pendekar Topeng Seribu yang memiliki pengalaman ratusan perkelahian. Apalagi ia baru saja mendapatkan pengetahuan untuk memahami gerakan musuhnya.


Jadi, ketika tebasan mandau Jayaseta lolos, ia juga mengikuti gerakan berputar Yulgok sehingga kedua serangan Yulgok dengan kedua pedangnya ikut lolos pula. Keterkejutan sang pendekar dari negeri Joseon ini ditimpali dengan sebuah tendangan ke paha dan serangan lutut Jayaseta ke perutnya.

__ADS_1


Yulgok tersentak mundur ke belakang satu tombak jauhnya.


Jayaseta tak mau menghabiskan waktu sehingga ia langsung kembali menyerang Yulgok.


WUSS!!!


Desiran angin terdengar bersama sebatang tombak yang mengarah ke tubuh Jayaseta yanh sedang melesat maju menyerang.


TAK!!


Jayaseta menangkis lemparan lembing dengan mandau nya. Lembing tersebut terlempar jauh menubruk pohon.


Pendekar Harimau Muda Kudangan berdiri, tersenyum. Ia tadi yang melemparkan tembak tersebut. Sekarang ia telah menghunus do dan menggenggam karambit di tangan satunya. Ia menatap Yulgok, "Maaf, tapi aku tak bisa membiarkan kau merebut kemenangan dariku. Kau tak perlu marah, kita bisa berbagi kejayaan dalam menghabisi orang ini. Tapi bila kau tak bersedia berbagi, paling tidak kita bisa bekerjasama sekaligus bersaing siapa yang akhirnya dapat membunuhnya," ujar sang Pendekar Harimau Muda Kudangan kepada Yulgok yang akhirnya menarik nafas karena serangan Jayaseta bagaimanapun belum sempat membunuhnya.


Mau tak mau, kemunculan pendekar berdarah Daya Minang itu memberikan tawaran yang masuk akal dan menggiurkan. Pastilah Pendekar Harimau Muda Kudungan pernah mencicipi kesaktian Pendekar Topeng Seribu tersebut, karena Yulgok harus mengakui ia terlalu memandang rendah dan meremehkan Jayaseta. Ketika ternyata harus benar-benar menghadapinya, hanya dalam dua jurus, ia hampir terkena serangan mematikan dan jurusnya berhasil diredam bahkan digunakan titik lemahnya.


***


Ireng menusuk perut dan dada sang prajurit Daya Biaju itu berkali-kali dengan keris sampai darah musuh tercurah bagai genangan air. Di sisi lain, Siam juga berhasil membabat musuh yang tak awas dengan tepat, mencabut nyawanya untuk selamanya.


Sekarang keduanya berdiri saling menempelkan punggung ketika empat prajurit Daya datang mengelilingi mereka dengan nafsu membunuh yang kental.


"Kau siap mati, Siam?" tanya Ireng dengan nafas menderu-deru.


"Kau sendiri?" balas temannya itu singkat sembari sepasang mata tetap awas menunggu serangan pertama yang bisa saja terjadi secepatnya.


Siam terkekeh, "Tidak! Aku tak pernah siap mati, Siam. Aku harap kau juga begitu. Kita persilahkan musuh-musuh kita yang siap terlebih dahulu untuk mati. Kita akan antarkan mereka dahulu ke akhirat!"


Siam menyunggingkan senyum, "Kau sudah gila rupanya, Ireng. Tapi baik, aku setuju denganmu. Biarkan orang-orang ini berterimakasih kepada kita kelak karena nyawa mereka.sudah duluan sampai ke neraka."

__ADS_1


Tak lama kedua sahabat ini meraung dan memutuskan menyerang para pengeroyoknya terlebih dahulu.


__ADS_2