
Antonio da Silva sang nakhoda memperhatikan Jayaseta yang sedang membersihkan geladak kapal dengan giat. Ia tersenyum. Jayaseta bersikeras untuk tak diistimewakan di atas kapal. Ia akan bekerja apapun dan dibayar serta menumpang menginap. Jayaseta bahkan meyakinkan Raja Nio bahwa ia memiliki kemampuan yang cukup sehingga beragam pekerjaan yang diberikan kepadanya pasti dapat diselesaikan.
Raja Nio sama sekali tidak ragu dengan hal ini, tentu saja.
Tapi perihal lain yang membuat Raja Nio senang adalah bahwasanya Jayaseta terlihat hidup. Ia berpikir bahwa apapun urusannya di Sukadana pastilah berjalan dengan lancar.
Walau Jayaseta adalah seorang pendekar yang pilih tanding, keberaniannya berangkat berlayar ke pulau Tanjung Pura terombing-ambing di lautan dari pulau Jawa adalah sebuah kehebatan lain, mengingat ia terlihat sekali tak memiliki banyak pengalaman berlayar dan kenyataan bahwa seorang Jayaseta mabuk laut.
Raja Nio berani bertaruh bahwa urusannya ini pasti begitu penting, karena bahkan bagi seorang pendekar pun, mabuk laut sama beratnya dengan melawan lima puluh orang perompak kebal.
***
Saat ini adalah hari keenam Jayaseta mengendap-endap ke rumah kayu sang datuk di malam hari.
Sudah enam hari pula Dara Cempaka selalu hadir di sana. Walau ia lebih sering pulang ke rumah, namun Dara Cempaka selalu mencoba untuk terus meminta ijin kepada orangtuanya untuk bisa menginap di 'penjara' sang datuk.
Sang ayah, salah satu putra Datuk Mas Kuning sangat paham dengan keadaan kenegaraan ini. Awalnya ia dan dua orang saudara kandungnya jelas berkeberatan atas perilaku setengah orang penting kerajaan Sukadana yang berpihak kepada Ratu Jaintan yang memenjarakan ayah mereka.
Namun, Datuk Mas Kuning bukan orang yang patut terlalu dikhawatirkan. Sebagai tetua berilmu tinggi, sang datuk juga sangat bijak. Ia ingin anak-anaknya untuk merunduk dan berkepala dingin sampai keadaan kenegaraan yang masih panas ini mereda, toh ia masih bisa dikunjungi kapan saja. Buktinya, sang cucu juga dapat datang dan menginap kapan saja ia mau.
Jayaseta melihat alasan yang tepat mengapa sang cucu selalu hadir di sana. Tarian silat pulut nya bisa dikatakan hampir sempurna. Gemulai gerakan gadis muda itu benar-benar menggambarkan pemahaman akan tubuh dan pencapaiannya.
Jayaseta bisa dikatakan berlatih di bawah asuhan dua guru, Datuk Mas Kuning sebagai pemberi perintah dan arahan serta Dara Cempaka, pemberi contoh dan pelaksana.
Jayaseta diminta untuk mengenali tubuhnya sendiri dengan meniru segala jenis jurus yang tersembunyi dari silat pulut, maupun pengembangannya.
__ADS_1
Singkatnya, Jayaseta tidak sekadar berlatih ilmu silat baru ini sebagai sarana mengalahkan musuh, namun juga mengalahkan diri sendiri. Ia harus mampu menahan diri agar tak menggunakan tenaga dalam serta lebih mengunggulkan diri sendiri.
Tidak begitu dengan Dara Cempaka.
Ia hadir karena Jayaseta. Itu sudah jelas. Ia ingin sesering mungkin melihat wajah, tubuh dan bertukar kata dengan sang pujaan hati
Ia tak bisa berhenti terpesona dengan kemampuan Jayaseta menyerap ilmu baru yang diberikan kepadanya. Jayaseta juga begitu sabar dan telaten mendengar serta melakukan perintah dan permintaan Datuk Mas Kuning yang sekarang bisa dikatakan sudah resmi menjadi gurunya.
Bukan tanpa alasan mengapa sang datuk meminta Jayaseta untuk mempelajari ilmu silat Melayu ini, terutama juga gerakan-gerakan lembut, indah namun juga menghancurkan dari silat pulut. Sang datuk menginginkan Jayaseta kelak siap melawan tenaga dalam asing di dalam tubuhnya itu sendiri, bukan sekadar dengan tenaga dalam lain, namun dengan cara yang lebih halus dan anggun.
Jayaseta tentu tak keberatan sama sekali. Seorang pendekar seperti dirinya pantang menolak ilmu, apalagi ilmu silat dan kanuragan baru.
Jadilah Jayaseta dan Dara Cempaka dengan gerakan yang luar biasa teratur dan terkendali, gemulai di atas lantai papan tanpa keributan dan suara yang berarti.
***
Orang-orang nusantara sudah mengenal kebiasaan menyirih sejak lama. Ada tiga bahan pokok yang digunakan, yaitu buah pinang, daun sirih dan kapur. Mengunyah sirih memberikan rasa tenang si otak, terutama dari kapur yang diperoleh dari kerang yang dihancurkan.
Menyirih adalah kebiasaan ramah-tamah bangsa di nusantara. Ma Huan, seorang Cina Muslim pengikut perjalanan Cheng Ho pada abad ke-15 dan menulis kisah perjalanan itu dalam Yingyai Shenglan, menyaksikan bahwa lelaki dan perempuan di Jawa tidak pernah lepas dari sirih di mulut mereka. Bahkan ketika mereka menerima tamu yang sedang lewat, mereka menjamunya dengan sekotak sirih dan bahan-bahan pelengkap lainnya. Catatan ini dibuat pada tahun 1433 Masehi.
Begitu juga dengan para prajurit. Mereka memerlukannya guna mengembalikan kekuatan dan keberanian mereka seperti dituliskan dalam Hikayat Pocut Muhammad pada masa pemerintahan Raja Muda atau Sultan Ali Riayat Syah, Sultan Aceh ke-18 yang berkuasa singkat dari tahun 1604 sampai 1607 Masehi.
Kadang menyirih juga ditambahkan dengan tembakau. Tembakau sendiri sampai ke Jawa tahun 1601 Masehi, dibawa oleh kaum bule. Tembakau digunakan dengan cara dihisap sudah tercatat pada tahun 1602 tersebut di kalangan priyayi Mataram, 1603 Masehi di kelangan penguasa kerajaan Aceh serta 1604 Masehi di kerajaan Banten.
Intinya, menyirih adalah sebuah kebiasaan yang penting bagi banyak orang di perbagai lapisan masyarakat, termasuk para prajurit atau tentara. Ini pula yang dilakukan para prajurit pada hari keenam kedatangan Jayaseta ke rumah Datuk Mas Kuning.
__ADS_1
Seperti yang diminta sang datuk, Jayaseta tidak menggunakan tenaga dalam sama sekali untuk ilmu meringankan tubuhnya, atau untuk memperkuat tolakan di kaki serta jari-jari tangannya untuk memanjat bangunan kayu.
Ia harus menggunakan seluruh kemampuan badaniyah dan indra serta kepekaannya sendiri secara murni.
Sebuah tantangan yang merupakan suatu kesenangan sendiri bagi Jayaseta. Seorang pendekar seperti dirinya tentu tetap memiliki kebanggaan dan cinta diri, walau sedikit dan tak membantunya menjadi seorang pendekar pongah. Maka, melakukan semua hal ini sama saja menguji kemampuan dirinya, sebagai bukti, apa benar ia pantas dikatakan pilih tanding?
Jayaseta merunduk-runduk, bergulingan dan berlari cepat tanpa suara. Memilih dan memilah pijakan diantara ranting dan dedaunan. Sebelumnya mungkin ia bisa saja meloncat-loncat memainkan tenaga dalam di sini dan sana untuk meringankan tubuhnya.
Sialnya, Jayaseta mungkin memang belum menguasai ilmu yang Datuk Mas Kuning ajarkan, karena kepekaan dirinya masih belum sempurna.
Ada sosok tak dikenal yang sudah memperhatikan kunjungannya selama beberapa hari terakhir. Sosok itu berjongkok di atas sebuah ranting pohon yang kokoh, tersembunyikan dedaunan yang lebat.
Tubuh renta kurus keringnya tak terbalut pakaian. Ia hanya menggunakan sehelai cawat berwarna hitam dan rambutnya digelung tak beraturan. Namun terasa sekali ilmu kanuragan tingkat tinggi yang ia kuasai. Bahkan Jayaseta dengan kepekaan kependekarannya masih tak mampu mengetahui bahwa ada sosok tak dikenal yang memperhatikannya dengan cermat.
Setelah Jayaseta masuk ke lantai teratas bangunan itu, sang sosok tua itu meludahkan cairan kental berwarna merah, sirih.
Sudah berhari-hari ia hanya memburu tupai di pepohonan, ular di daratan dan memakannya mentah-mentah. Baru dua hari ini ia mencuri sekotak sirih-pinang dari salah satu prajurit yang berjaga di sekitar rumah kayu itu.
Sang sosok tua memegang lehernya yang dihiasi bekas luka sayat melingkar. Ia jengah merasa tak enak makan dan minum, bahkan mengunyah sirih ini. Pandangan penuh dendam kesumat membara ditujukan kepada dua orang yang sedang berperan sebagai guru dan murid, yaitu bekas sahabatnya sendiri di masa muda dahulu, Datuk Mas Kuning dan seorang pendekar muda yang belum sempat mencicipi ilmu kanuragannya, Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu.
"Cuiih ...," sang sosok renta itu kembali meludahkan cairan sirih.
"Tak kusangka Mas Kuning berlagak menjadi seorang guru bijak yang memberikan ilmu kepada murid teladannya," ujarnya perlahan kepada diri sendiri.
"Dan kau, anak muda, tak segampang itu kau dapat menghindari dan mengenyahkan Sang Penyair Baka. Aku akan ambil kerisku kembali dan menanamkan bilahnya ke dalam otakmu yang lembut itu!"
__ADS_1