
Moncong senapan para tentara bule Pranggi itu hampir sepenuhnya telah mengarah baik kepada Sasangka ataupun Jaka Pasirluhur. Salah satu diantaranya berseru dengan menggunakan bahasa yang tak kedua pendekar itu kenal.
Kalaupun sang prajurit bule itu berteriak dengan menggunakan bahasa Siam, Sasangka yakin ia tak mengetahui satu patah kata pun. Bisa jadi karena selain kemampuan bahasa Sasangka hanya secuil dan cenderung memahami satu dua patah kata-kata pasar, mungkin juga ai prajurit bule Pranggi itu tak mampu melafalkan kata-kata dalam bahasa Siam dengan baik. Namun, bila prajurit tersebut menggunakan bahasa Pranggi, malah akan semakin aneh. Mana mungkin orang-orang nusantara berkulit gelap macam mereka ini paham bahasa bule Pranggi.
"Kau masih yakin dengan rencana semula untuk membunuh mereka? Kalau kau pun berencana untuk membatalkan rencana itu, mungkin sudah terlambat. Kita kini yang harus berharap tak dibunuh mereka," gumam Sasangka kepada Jaka Pasirluhur.
Jaka Pasirluhur melirik ke arah lawan bicaranya. "Jangan menyindir seperti itu. Aku pun tak yakin lagi. Jangankan berusaha tak membunuh mereka, kita saja bisa-bisa dibunuh."
Sasangka menggenggam sepasang senjata dengan tiga bilah tajam di kedua tangannya erat.
"Aku bisa melemparkan senjataku sekarang juga agar kita bisa menyerang mereka. Tapi, aku tak bisa menjamin aku tidak membunuh mereka," lanjut Sasangka.
"Tunggu. Atau jangan-jangan, mereka sebenarnya meminta kita untuk menyerah dan menjatuhkan senjata kita?" balas Jaka Pasirluhur.
Sasangka mengernyit.
"Apa maksudmu? Kau mau kita menebak-nebak maksud mereka? Atau jangan-jangan malah mereka meminta kita melepas topeng dan penutup wajah kita. Mana kau bisa tahu itu, bukan?' balas Sasangka kesal.
__ADS_1
Tanpa meminta persetujuan dan melakukan pembahasan lagi dengan Sasangka, Jaka Pasirluhur melepaskan kudhi-nya. Senjata dengan bilah tajam melengkung itu jatuh ke tanah berumput.
"Heh, apa yang kau lakukan, bodoh!" seru Sasangka tertahan.
"Segera ambil senjatamu, aku akan melemparkan salah satu wedhungku. Tanpa senjata kita akan habis diberondong mereka!" lanjut Sasangka.
Beberapa prajurit Pranggi penembak kini mengarahkan senapannya ke arah Sasangka.
"Bangsat! Tetap saja, aku tak akan menyerah. Kau saja yang ditangkap mereka," ujar Sasangka kepada Jaka Pasirluhur.
"Tunggu, aku juga tak bermaksud menyerahkan diri kita begitu saja. Aku ingin membuat mereka terpancing sehingga kita dapat menyerang tanpa membunuh," balas Jaka Pasirluhur.
Namun, tak berapa lama, perhatian para pasukan bule Pranggi tersebut kepada kedua pendekar bertopeng ini buyar.
Sosok Arthit yang terbaring melengkung seperti mati itu bergerak. Dengan perlahan, Arthit menghela nafas panjang, kemudian berdiri.
Gerakannya yang terlihat santai, bukan seperti orang yang sedang terluka, membuat siapa saja yang melihatnya pasti terkejut.
__ADS_1
"Ilmu kebal? Kita berhadapan dengan orang berilmu kebal lagi?" gumam Sasangka.
"Maksudmu, kau sudah pernah menghadapi orang-orang semacam ini?" tanya Jaka Pasirluhur sembari masih terkejut.
"Aku tinggal lama di lautan. Para pelaut dan perompak biasa memiliki ilmu-ilmu semacam ini pula," balas Sasangka tanpa paham sejatinya terpotongnya salah satu tangan Jaka Pasurluhur juga karena melawan seorang pendekar yang berilmu kanuragan kekebalan pula.
"Pungut senjatamu kembali. Aku tidak mau jadi pengecut, tapi sudah cukup pertarungan aneh hari ini. Siapkan dirimu untuk membebaskan diri. Kita bertemu di kapal," perintah Sasangka.
Tanpa meminta persetujuan Jaka Pasirluhur, Sasangka menggunakan kesempatan yang membuat para prajurit bule itu lengah dengan maju menerjang.
Sasangka menebas moncong senjata musuh, bergerak dengan tiga langkah, menendang lutut. paha dan bagian bawah tubuh musuh. Ketiga lawan hilang keseimbangan dan roboh.
Kekacauan langsung merebak. Moncong senjata para prajurit Pranggi sudah sulit untuk diarahkan kemana.
Arthit yang bangkit menyeringai mengerikan. Sepasang kakinya sudah menjejak tanah dengan mantap. Tubuhnya membungkuk siap terlontar.
"Cepat pergi sekarang! Jangan terlibat dengan permasalahan ini. Ini masalah tata negara yang rumit!" seru Sasangka kepada Jaka Pasirluhur.
__ADS_1
Sosoknya kemudian menghilang dari balik rerumputan.
Jaka Pasirluhur memungut kudhi-nya, kemudian. berguling cepat sekali, menepis moncong senapan musuh sebelum meledak, kemudian ikut hilang di balik rerumputan di arah yang berbeda dari tempat Sasangka tadi pergi.