
Sejarah mencatat mengenai seorang Mpu keris dari pulau Jawa berlayar dan sampai ke wilayah kerajaan Melayu Pattani di sekitar penghujung abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Ia dikenal dengan nama Mpu Pande Sarah.
Sang Mpu yang tidak hanya memiliki kelihaian dan kepandaian menciptakan keris, namun juga memiliki daya cipta yang tinggi sehingga ia mengembangkan bentuk keris yang dibawanya dari pulau Jawa tanpa terpaku pada pakemnya. Bentuk keris yang dibuat berbeda dari tanah kelahiran Mpu Pande Sarah itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan keris Melayu.
Bentuk keris yang awalnya dibuat oleh Mpu Pande Sarah itu pun kemudian melebar ke seluruh Tanah Melayu. Sehingga, nama Keris Pande Sarah hingga masih sangat dikenal di Semenanjung Melayu. Para pewaris Mpu Pande Sarah pun bermunculan di tanah Melayu. Salah seorang di antaranya dikenal sebagai Sang Guna, yang merupakan Mpu pandai keris pertama di jaman Sultan Muhammad Syah raja Malaka. Ciri dari keris Sang Guna adalah keris tempa panjang yang berukuran tiga jengkal.
Salah satu ciri utama perbedaan keris Jawa dan Melayu terletak pada hulu atau gagangnya. Hulu keris Melayu berukuran sedikit lebih dari setengah jengkal. Bentuknya membengkok di bagian tengahnya untuk pegangan tusukan yang lebih mantap. Kebanyakan hulu keris Melayu dibuat dari bahan kayu atau akar pohon kayu seperti pohon kemuning, tegor, tempinis, petai belalang, lebang atau kayu hitam, meski ada juga yang dibuat dari bahan gading gajah, tanduk, gigi ikan paus, emas, perak atau besi dan logam lainnya. Hulu keris ini tidak dibiarkan polos, namun diukir dengan ukiran tangan penuh seni khas Melayu.
Hulu keris bergaya anak ayam milik Pucok Gunong sang Harimau Belang terangkat setengah siku ke atas. Darah di bilahnya melekat padat memantulkan sinar matahari dengan sendu dan kelam. Ia menghela nafas dan mengaturnya dengan perlahan.
Sang pendekar Melayu menarik satu kakinya ke belakang, menurunkan kerisnya dan memegang pangkal hulu keris dengan ibu jari dan telunjuknya sedangkan sisa jarinya yang lain terbuka bebas. Dengan begitu ia akan lebih mudah memainkan keris untuk mengubah arah tusukan dengan luwes dan cepat.
__ADS_1
"Apa guna kepuk di ladang, kalau tidak bersih padi. Apa guna keris yang panjang, kalau tidak berani mati?" seru Pucok Gunong dalam bahasa Melayu. Sudah biasa bagi orang-orang Siam dan Melayu Kedah atau Pattani berbagi bahasa. Ia tahu beberapa kalimat Siam sehingga kerap cukup untuk berbagi percakapan atau sumpah serapah. Sebaliknya, ia yakin orang-orang Siam dan Burma itu pun paham apa yang ia serukan.
Dengan melebarkan tangan kiri dan telapak tangan terbuka, sang Harimau Belang melesat maju. Satu pendekar Burma menyongsong dengan memutarkan tubuh dan menghujamkan sikutnya. Harimau Belang menepis siku itu denga telapak tangan kirinya yang terbuka dan langsung menanamkan ujung tajam bilah keris Melayu nya masuk tepat di bawah ketiak sang musuh.
Satu lawan lagi melompat begitu tinggi siap menghujamkan lututnya ke kepala Pucok Gunong.
Tentu sang pendekar Melayu tidak mau menerimanya begitu saja. Ia berniat mencabut keris nya yang tertancap di tubuh bagian samping lawan ketika ia sadar bahwa pendekar Burma yang belum mati dan tak merasakan sakit sama sekali itu menahan tangan kanannya sehingga keris itu tak bisa ditarik! Tidak hanya menahan keris agar tak tercabut, ia juga mengunci lengan dan jari-jemari sang pendekar Melayu sehingga ia tak bisa beranjak dari tempatnya berdiri.
Pucok Gunong mengangkat lengan satunya.
PRAK!
__ADS_1
Pucong Gunong mendengar derak tulang lengannya sendiri patah. Tidak sampai disitu, lutut sang pendekar dari kelompok petarung Siam itu juga menghajar kening dan membuatnya berdarah.
Sebelum Pucok Gunong tersentak mundur ke belakang, dengan segenap kekuatannya, ia mencabut keris yang tertancap di sisi tubuh musuh dan menyerang balik sembari mundur.
Pucok Gunong sang Harimau Belang terlempar ke belakang, berguling dan hampir saja terlentang. Tangan kirinya terasa begitu sakit menyengat dan tercabik-cabik dari dalam. Ia berusaha setengah mati berdiri dan memaksakan kuda-kuda silat keris Melayu Kedah nya.
Di sisi yang berlawanan, pendekar Burma yang tertancap keris akhirnya rubuh juga, mungkin karena darah mengalir keluar dengan menggila. Sedangkan pendekar Burma yang menghajarnya dengan lututnya ternyata juga oleng. Pucok Gunong sempat mengoyak otot betis sang lawan dengan keris Melayu nya.
Dengan terseok, doyong, oleng, kedua pendekar yang saling serang itu menguatkan kuda-kuda mereka. Tak lama, para pendekar Melayu, Siam dan Burma yang awalnya terkapar, ternyata kini perlahan mulai berdiri, terutama bagi yang masih sanggup.
Pemandangan aneh kini yang terhampar di padang rumput bukit di wilayah perbatasan Kedah dan Siam ini. Orang-orang berdiri, kemudian jatuh, kemudian berteriak mendorong dan memaksa tenaga mereka sendiri untuk bangun.
__ADS_1
Yang benar-benar mampu berdiri sudah siap menghabiskan tenaga bahwa nyawa mereka untuk sekali lagi untuk terakhir kali, menghancurkan lawan. Tapi sebelum pertarungan berdarah kembali terjadi, suara letusan senapan terdengar nyaring. Bukan sekali, melainkan beberapa kali, bahkan dari arah yang berbeda.