
Gemerincing lonceng-lonceng kuningan menyebarkan rasa awas, takut dan kegelisahan yang besar bagi para pasukan Biaju penyerang kampung berbenteng kayu ulin itu. Orang yang mereka pertimbangkan sebagai ancaman utama telah hadir di tengah-tengah mereka Temenggung Beruang.
Prajurit Biaju di barisan belakang kampung yang awalnya sibuk membantai penduduk, menculik dan menyekapnya, membakar bangunan dan lumbung padi serta kandang ternak, serta menghabisi prajurit Daya yang jumlahnya tak seberapa itu kini menekukkan lutut sebagai kuda-kuda rendah, mengangkat perisai tinggi-tinggi dan menggenggam tombak serta do erat-erat. Jumlah mereka mungkin lebih dari tiga puluh orang yang menyebar di berbagai tempat, walau mata mereka semua tertuju ke sosok kecil dan terlihat renta dengan kalung beruntai kuku beruang itu di tengah-tengah medan laga.
"Cari Pangling Asuam, sekarang!" perintah satu prajurit kepada prajurit lain yang lebih rendah pangkatnya. Yang diperintah segera melesat lari bagai kalap.
Perintah ini sangat bisa dimaklumi karena Panglima Asuam dianggap sebagai tokoh yang memiliki kesaktian yang mungkin dapat mengimbangi Temenggung Beruang yang kini telah dirasuki arwah leluhur kampung.
Kedua mata sang Temenggung putih seluruhnya, seakan bolanya terbalik. Setiap ia bergerak, gemerincing lonceng memancing setiap prajurit untuk ikut bergerak karena awas dan bersiap akan kemungkinan serangan.
Benar saja, sang Temenggung mengangkat do yang dipungut dari mayat salah satu prajurit Biaju yang ia bunuh sebelumnya itu ke atas kepalanya.
SYUUTTT....!!!
Dengan ajaib dan sama sekali tak bisa dicarikan alasan masuk akalnya, do tersebut lepas dari tangan Temenggung dan terbang dengan begitu cepat menyasar acak para prajurit Biaju.
Teriakan sakit dan semangat perlawanan bercampur jadi satu ketika bilah do memapras lengan, kepala, bahu atau bagian-bagian tubuh para prajurit Biaju itu. Naas bagi yang terlambat mengangkat perisai mereka. Terhitung tiga orang tewas di tempat, yang lainnya terluka parah. Bahkan yang berhasil menahan serangan itu dengan perisai kayu mereka pun juga terdorong mundur ke belakang karena saking kuatnya hantaman senjata itu.
Do kembali ke tangan Temenggung Beruang yang mengangkat serta melepaskan serangan itu lagi, mengulang gerakan yang sama.
Lawan kocar kacir berusaha berlindung dari serangan maha dahsyat tersebut. Mereka kini menjadi saksi sebuah jurus kuno yang hanya bisa digunakan dengan campur tangan roh-roh gaib di dalam tubuh penggunanya sebagai inangnya, Jurus Do Terbang!
***
"Aku tak punya waktu untuk menanggapi permintaan kalian untuk bermain-main. Aku tak memiliki masalah khusus dengan kalian, namun sebagai orang yang beradab, aku tetap meminta kalian untuk tidak menghalangi jalanku. Terutama kau, Pendekar Harimau Muda Kudangan. Jangan lupa aku pernah memberikanmu pelajaran, maka setelahnya bukanlah pelajaran lagi yang akan kuberikan, namun hasil dan akibat dari kepongahanmu," ujar Jayaseta dingin kepada kedua lawannya: Pendekar Harimau Muda Kudangan dan Yulgok.
Yulgok tersenyum tipis, sedangkan Pendekar Harimau Muda Kudangan tersenyum kecut, seakan merasa malu berada di samping Yulgok yang akhirnya mengetahui bahwa ia pernah dipecundangi pendekar tersebut.
"Maka tak ada cara lain untuk menghindari kami selain melenyapkan nyawa kami, bukan?" balas Pendekar Harimau Muda Kudangan.
__ADS_1
"Aku sudah tahu jawabanmu," ujar Jayaseta tegas. Bahkan tanpa diduga, tanpa jeda, tanpa prasangka, Jayaseta menghambur maju menebas ke arah perut Pendekar Harimau Muda Kudangan yang walau terkejut masih sempat berkelit ke samping dan berguling.
Jayaseta kemudian berbelok arah dan menyerang Yulgok. Yang diserang tidak mau kalah. Ia bergeser ke samping namun sekaligus memberikan serangan berupa tebasan jingum.
SRETT...!!
Sebuah gerakan yang ceroboh. Yulgok sama sekali tak menyangka bahwa ia tak mampu menakar kecepatan dan kelihaian lawannya.
Dalam satu serangan itu, ternyata Jayaseta sempat juga menghindar dari jingum Yulgok dengan memutar tangannya sedikit yang akibatnya menjadi dua gerakan sekaligus, yaitu hindaran dan sabetan mandau. Karena memang permainan mandau membutuhkan pergelangan tangan yang lincah, sehingga ketika mandau diputar, dalam satu jurus mengandung dua gerakan: menghindarkan tangan dari sabetan lawan, sekaligus putarannya menjadi bacokan atau sabetan.
Lengan Yulgok mengucurkan darah. Ia terpana sendiri menyaksikan ini.
Di kala itu juga, Pendekar Harimau Muda Kudangan mencoba menggunakan kesempatan untuk menyerang Jayaseta dari belakang. Ia menunduk, berputar laksana angin puyuh dan memapras ke arah leher Jayaseta dari belakang.
Seperti kebanyakan jurus kinyah yang mengincar leher atau kepala, gerakan sang pendekar ini juga merupakan gubahan dan gabungan silek harimau dan jurus Kinyah Daya.
Jayaseta menunduk, berbalik dan memutarkan tubuhnya bagai kitiran, mengikuti gerak tebas sang lawan, namun dengan waktu yang lebih lambat atau tertinggal.
CRAS!!
Lengan atas Pendekar Harimau Muda Kudangan terlepas dari badannya sepanjang ketiak, dan jatuh ke tanah bersama do yang ia genggam.
Teriakan rasa sakit bertambah ketika Jayaseta tak memberikan kesempatan lagi kepada musuhnya itu. Ia memotong kaki kiri lawan tepat si bagian betis dengan sekali tebas menggunakan mandau mantikei nya.
Tubuh pendekar dari Kudangan tersebut sontak jatuh karena kehilangan keseimbangan. Tubuhnya kejang-kejang sekarat karena darah menyembur liar dari lukanya.
Yulgok meraung menggila. Ia menerapkan jurus-jurus pedang murni Joseon karena kalap. Ia tak memikirkan lagi penggunaan ilmu pedang yang selama ini telah ia pelajari dengan baik dan disesuaikan dengan medan tempur. Maka ia memotong dengan memutarkan tubuhnya satu lingkaran penuh, kadang dua. Kemudian ketika Jayaseta ternyata lolos dari babatannya, ia kembali memutar atau memutar balik. Jingum dan do menjadi dua senjata yang mematikan.
Bila yang ia lawan bukan Jayaseta, makan satu atau paling banyak dua serangan saja dapat memotong-motong badan musuh menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
Namun Jayaseta berhasil menghindari lebih dari lima tebasan berputar Yulgok. Bahkan sang Pendekar Topeng Seribu yang wajahnya tersembunyi di balik topeng itu memancing Yulgok ke ladang pertarungan yang sempit.
Benar saja. Yulgok memapras pepohonan beranting sedang. Gerakannya terhambat. Jayaseta maju memusuk paha dan menariknya ke atas. Darah menyembur keluar bersama teriakan Yulgok. Jayaseta juga kemudian menancapkan dalam-dalam ujung mata mandau nya ke jantung Yulgok, mematahkan tulang-tulang dadanya. Sebagai sentuhan akhir, ia menarik do dan memapras putus leher Yulgok.
***
Kumang berdiri kaku. Sepasang matanya mengucurkan air mata melihat sang adik sudah tak bernyawa.
Punyan melepaskan do nya dan berlutut di depan sang istri, "Ampuni aku, maafkan aku Kumang. Aku tak bisa membiarkan ia membunuhku. Aku lancang memaksamu untuk memilih adik atau suamimu, Kumang."
Kumang tak dapat membendung kemarahan dan kehancuran hatinya. Ia menusukkan dohong yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya, tepat ke leher sang suami.
Kumang merasakan pergelangan tangannya nyeri. Punyan menggenggamnya, sejari saja jaraknya dari ujung dohong ke kulit lehernya.
Punyan mengangkat kepalanya. Kedua matanya berkaca-kaca memandang istrinya, "Andai kau tahu betapa aku mencintaimu, Kumang. Aku tak bohong," ujarnya dengan suara bergetar.
"Tapi aku tidak, tak sedikitpun!" balas Kumang.
Punyan melonggarkan pegangannya pada pergelangan tangan Kumang. Ia bahkan mengarahkan ujung belati yang lanciip itu menusuk dan menekan kulit lehernya.
Bilah dohong bengkok tanpa melukai sedikitpun kulit Punyan.
"Kau tak bisa membunuhku, Kumang. Hukuman apa yang harus aku berikan kepadamu sebagai seorang suami, Kumang?" Punyan menatap mata Kumang dalam-dalam.
Kumang sadar bahwa ia tak memperhatikan bahwa Punyan memiliki ilmu kebal yang ia bisa gunakan ketika sedang dalam keadaan perang seperti ini. Ia tertawa dan melihat tubuh tak bernyawa adik laki-lakinya yang juga tanpa kepala itu.
"Ambil nyawaku, Punyan. Itu hukumanmu atas diriku. Bila kau masih mencoba melanggar hukum dan adat kampung ini, maka kaulah yang akan menjadi korbannya. Lagipula, apa kau pikir aku akan berhenti berkeinginan untuk membunuhmu lagi setelah apa yang kauperbuat? Bunuh aku, bunuh aku sebagai budak, Punyan!" seru Kumang.
Punyan berdiri, menahan tangis untuk melihat wajah cantik istrinya itu ... Untuk terakhir kali, sebelum do nya melesak masuk ke lambung Kumang sampai nyawa lepas dari raganya.
__ADS_1