Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertarungan di Tanah Merah


__ADS_3

Walau cerita mengenai de Jaager tak bisa dikatakan melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangkan, tetap saja jumlah keseluruhan rombongan de Jaager yang enam itu termasuk luar biasa karena membantai dua puluh orang penyerang mereka yang berlatar belakang keprajuritan dan ketentaraan serta jawara silat, tanpa sisa. Inilah cerita sebenarnya dari kemahsyuran nama de Jaager yang diketahui dengan baik oleh Badra.


Separuh cerita tentang pertarungan de Jaager memang mengandung kebenaran. Cerita lima orang bekas prajurit Banten yang bertempur dengan Devisser de Jaager sebenarnya malah berjumlah duapuluh dan yang mereka hadapi memang bukan pula seorang, namun enam, yang terdiri atas adik beradik de Jaager. Yang tertua bernama Sebastian de Jaagger dan adiknya yang bernama Devisser de Jaager. Perawakan Devisser de Jaager yang jangkung inilah yang menjadi latar belakar kisah mahsyur kehebatan ilmu silat bule Walanda.


Selain itu, keduanya juga dibantu dan dijaga oleh empat orang lain yang terdiri atas lima orang pengawal bersenjata dari Ternate dan dua orang ronin asal Jepun bernama Takizawa Hideyoshi dan Mishima Koguro.


Kedua puluh orang bekas prajurit Banten yang saat itu bekerja sebagai tukang pukul, jawara dan pendekar silat bahkan perampok itu sudah menyudutkan rombongan dari Betawi tersebut, sementara tiga orang pengawal sang perwira tentara de Jaager bersaudara, telah tewas dahulu dibokong dengan menggunakan tombak dan pedang. Kini tinggal mereka berenam melawan dua puluh orang pengeroyok mereka di sebuah tanah lapang bertanah merah yang dikelilingi pepohonan rimbun.


Keduapuluh jawara itu diketuai dua orang pendekar yang sangat dihormati oleh seluruh pengikutnya. Mereka bersenjatakan pedang panjang yang telah terhunus dan keris terselip di depang pinggang mereka. Keris yang diselipkan di pinggang bagian depan atau perut menunjukkan bahwa seseorang sedang siap untuk bertarung, berbeda dengan keris yang diselipkan di belakang yang berguna sebagai bagian dari busana, adat dan berguna untuk menunjukkan tingkatan seseorang dalam kemasyarakatan.


Keduapuluh orang tersebut mengitari keenam kelompok Betawi dengan beragam senjata. Ada yang membawa tombak bermata trisula, tombak bermata keris, golok dan tiga orang juga menenteng senapan lontak.


Melihat hal ini sepasang de Jaager bersaudara langsung menghunus saber dan rapiernya, tidak lupa mereka juga langsung mencabut pistol berpelatuk kunci. Dua orang penembak dari Ternate juga sudah bersiap meninting musuh-musuh mereka. Koguro sudah menggenggam mantap tombaknya, berbeda dengan Hideyoshi yang tidak menghunus katananya. Sebaliknya ia menempatkan tangan kanannya di gagang pedang yang bilah tajamnya menghadap ke atas. Kedua matanya yang tajam siap menebas leher musuh.


Itulah kuda-kuda jurus atau gaya battojutsu yang menekankan pada kecepatan menghunus pedang dan memapras musuh dalam sekali gebrak. Hideyoshi sudah merekam dalam otaknya gerakan musuh yang sedang dilakukan dan seakan meramalkan gerakan apa yang akan dilakukan.


Ia memiliki ki yang hebat, dimana ia mampu merasakan sampai ke dalam jiwa seseorang sehingga ia mengetahui pasti segala langkah yang akan dilakukan sang musuh. Ia juga mampu membuat musuh kikuk dan takut-takut ketika menatap matanya. Oleh sebab itu, jurus-jurus battojutsu miliknya sangat berbahaya dan memerlukan pemusatan pikiran serta latihan yang luar biasa.


Darah akan kembali tertumpah menyatu dengan tanah, mengentalkan warna merahnya.


Sebastian de Jaager mengerling dengan penuh makna kepada kedua penembaknya yang kemudian dibalas dengan anggukan kecil.


DAR!


DAR!


Dua tembakan membahana menyelip ranting-ranting pepohonan di sekitar tanah lapang berwarna merah tersebut. Tembakan yang menyasar dua dari tiga orang pengeroyok yang juga membawa senapan tersebut tepat mengenai dada mereka. Dua juru tembak Ternate lebih cepat.

__ADS_1


Asap tebal mengepul dari kedua moncong senapan lontak. Peperangan pun dimulai ketika kedua pemegang senapan dari para jawara tersebut jatuh berdebum ke bumi tanpa nyawa.


Sebenarnya, senapan lontak yang sudah mulai kerap digunakan oleh banyak prajurit di beragam kerajaan di nusantara tersebut memiliki banyak kelemahan, salah satunya adalah kesulitan untuk mengisinya kembali dengan cepat dan lancar.


Ini sebabnya untuk beberapa ahli senapan, mereka mempelajari dengan tekun dan sungguh-sungguh kelihaian untuk dapat mengisi bola peluru timah dan mempersiapkannya dengan sangat cepat dan menembakkannya kembali. Tapi kali ini para penembak Ternate itu berhadapan dengan perang muka melawan muka, bukan dilindungi benteng atau pasukan senapan dan pengisi peluru senapan lain di belakang mereka.


Melihat kedua temannya tewas, satu pemegang senapan dari rombongan para jawara tersebut meledak amarahnya. Ia langsung membidik salah satu penembak dari Ternate tersebut dan membalasnyam


DAR!


Kemampuan sang penembak ini ternyata masih jauh di bawah para serdadu Ternate yang terlatih, belum lagi ditambah pengaruh amarahnya yang meledak-ledak. Pelurunya hanya menyerempet bahu kanan salah seorang serdadu Ternate tersebut.


Namun, luka yang tak seberapa ini tetap cukup mengganggunya sehingga pengisian bola timahnya menjadi terganggu. Namun tidak begitu dengan rekannya yang sudah langsung menembakkan senapan lontaknya dan langsung menembus kepala penembak terakhir tersebut.


Kejadian ini begitu cepat, terutama ketika demi melihat tiba-tiba saja sudah tiga diantara rombongan mereka tewas, dua orang yang paling dekat jaraknya dengan serdadu Ternate langsung menghambur menyerang. Kedua pedang mereka memapras pinggang dan bahu serdadu Ternate yang terluka di bahunya. Ia belum sempat mengisi senapannya dengan baik ketika darah, teriakan dan nyawa sama-sama keluar dari tubuhnya.


Keadaan ini begitu kacau dan cepatnya. Bahkan sang penyerang yang berhasil membunuh si serdadu Ternate tadi juga entah kapan sudah jatuh bersimbah darah ketika rapier Devisser de Jaager menembus lehernya seperti tusuk sate. Jurus gerakan cepat ini dikenal oleh para ahli pedang rapier sebagai stesso tempo, atau gerakan lurus sekali serang.


Rapier yang ramping dikenal dengan gerakan satu arah dan lurus, dimana pedang ini digunakan untuk menusuk musuh dengan cepat sembari memanfaatkan jarak.


Dikala sang jawara sedang bergulat dengan sakratul maut, Devisser menembakkan pistol yang digenggam di tangan yang lain dan menghamburkan otak sang lawan.


Melihat keadaan yang sudah pecah dalam peperangan ini, sang ronin Koguro berteriak menyerang musuh dengan tombaknya. Gerakannya yang gesit berhasil menancapkan tombaknya ke salah satu jawara yang terlalu bingung dengan apa yang sedang terjadi.


Bagai seekor banteng gila, Koguro mengangkat tubuh sang jawara yang masih tertancap di tombaknya, mendorongnya juga ke arah para pengeroyok. Tujuannya untuk menghancurkan kepungan para musuh.


Gerakan ini berhasil, para jawara kocar-kacir menghindari dorongan tombak Koguro dengan tubuh salah satu anggota kelompok mereka di ujung tombak sana. Koguro kemudian mencabut tombaknya dari mayat sang korban kemudian memutar-mutarkan tombaknya tersebut ke arah kumpulan para pengeroyok. Kepungan para jawara sudah semakin tak berbentuk. Mereka kemudian mencoba menyerang siapa saja yang mungkin dengan pedang terhunus dan tombak yang teracung.

__ADS_1


Seorang jawara dengan tombak bermata trisula mencoba menghadang putaran tombak Koguro. Ia meluncur maju, menundukkan sedikit badannya dan menusukkan tombaknya ke arah perut Koguro. Koguro yang awas dengan hal ini menyilangkan tombaknya dan menepis tusukan tersebut. Tiba-tiba saja dari samping, seorang jawara lagi dengan golok kembar menghambur maju dengan membabatkan kedua goloknya secara bersamaan ke arah kepala Koguro.


SRET!


Kepala si golok kembar menggelinding di tanah. Dengan kecepatan kilat, Hideyoshi di sisi yang lain telah menghunus katana nya untuk melindungi Koguro. Katana itu sekarang telah masuk lagi ke dalam sarungnya. Battojutsu Hideyoshi dan kehebatannya inilah yang baru saja dipamerkan. Lalu bagaimana dengan si penombak bermata trisula? Koguro melemparkan tombaknya sebelum sang jawara berhasil menyerangnya. Tombak Koguro menancap di dada sang musuh, menyemburkan darah segar.


Tangkisan tombak trisula sang jawara tadi terlalu terlambat karena saking deras dan cepatnya lemparan tombak Koguro. Koguro sendiri menyelesaikan serangannya dengan menghunus kedua pedangnya, katana dan wakizashi dan menyabet musuh dengan dua sabetan menyilang ke atas, membelah tubuh musuh menjadi beberapa potongan berdarah.


***


Devisser dan Sebastian de Jaager berdiri saling memunggungi. Jari telunjuk Devisser de Jaager melingkar di quillion, yaitu bagian berbentuk palang di pangkal bilah rapier yang tidak tajam. Jari telunjuk itu dilindungi oleh pelindung jari berbentuk seperti cincin yang melingkar-lingkar. Ibu jari sang pengguna pedang ini dapat menempel di punggung bilah yang tumpul, atau juga berada di atas jari telunjuk.


Dengan bentuk pegangan seperti ini, maka penggunaan rapier terpusat pada pengaturan dan kelihaian jari telunjuk dan ibu jari. Banyak jurus-jurus rapier menekankan pada kelonggaran kedua jari tadi dibantu ketika jari lainnya yang memegang gagang sehingga rapier dapat menari-nari dengan lincah dalam menusuk, menepis serangan maupun berdesing-desing memberikan gerakan tipuan pada musuh.


Panjang rapier yang lebih dari setengah depa ini benar-benar menguntungkan dari segi jarak. Itulah sebabnya, ketika sebuah serangan seorang jawara dengan pedangnya sudah mampu ditepis dengan menggunakan pistol berpelatuk kunci yang tak berpeluru lagi tersebut, tangkisan itu disertasi tusukan mendatar dengan kuda-kuda yang rendah namun dengan langkah yang panjang.


Akibatnya sang penyerang tertancap rapier begitu dalam di perutnya, lebih dari setengah panjang rapier. Sebastian sendiri kemudian memutarkan tubuhnya sedemikian rupa dan memberikan satu tusukan lagi ke dada musuh. Serangan ini seakan memastikan bahwa musuh benar-benar tewas.


Hanya dalam waktu kurang lebih dua puluh tarikan nafas saja ke duapuluh penyerang tewas mengenaskan. Salah satu dari dua jawara pemimpin rombongan ini habis dicacah Koguro dan dipenggal oleh Hideyoshi dengan wakizashi nya, sedangkan satunya lagi tertusuk rapier tepat di mata kanan menembus otaknya, ditebas tangannya oleh saber Sebastian dan diakhiri dengan tusukan belati menembus tulang iganya.


Pasangan Koguro Hideyoshi dan de Jaager seperti dua pasang pendekar pedang maut dengan gaya berbeda. Walau bukan berarti pertarungan ini tanpa korban. Dua penembak jitu Ternate sudah tewas menyusul tiga rekan prajurit lainnya yang telah tewas dahulu karena dibokong. Hideyoshi pun sempat terserempet tombak bermata keris sebelum tebasan kata nya memapras lengan lawan dari bawah di bagian sikunya, dan tusukan katana menancap di ulu hatinya. Pasangan de Jaager juga terkena satu dua sabetan dari para jawara yang mengamuk. Pertarungan di tanah merah itu selesai dengan para jawara bergelimpangan dan darah mereka menyatu dengan tanah, semakin memerahkan bumi.


Cerita ini kemudian menjadi mahsyur dan memperkuat nama pengguna pedang asal bule Walanda itu. Perubahan cerita dalam pengurangan dan penambahan kisah tak bisa dihindarkan. Perlahan para jawara dan pendekar di seantero nusantara terutama di pulau Jawa menjadi penasaran mengenai jenis silat apa yang dipelajari orang bule tersebut. Apalagi, de Jaagger bersaudara memang sering ikut serta dalam menjajal ilmu silat para pendekar dan jawara musuh-musuh kompeni Walanda. Mereka seakan menikmati kegiatan ini sebagai bagian dari pembuktian diri.


Atasan kedua perwira ini sebenarnya tidak terlalu suka melihat sepak terjang de Jaagger bersaudara. Bagi kompeni, orang-orang Walanda cukup pintar bermain-main di siasat usaha dan kenegaraan saja. Memfitnah dan mengadu domba satu penguasa dengan penguasa lain, membayar jagoan dan pendekar untuk diadu dengan pendekar lain dari kelompok yang bertentangan dengan mereka, bukannya ikut-ikutan secara langsung terjun ke dalam pertempuran itu sendiri.


Bagi kompeni Walanda, hebat tidaknya seorang pendekar tidak jadi masalah. Bahkan mereka mengakui bahwa pendekar-pendekar dan jagoan-jagoan pulau Jawa benar-benar sulit untuk ditandingi. Mereka kuat, berani dan memiliki gaya pertarungan yang berbahaya dan tepat guna.

__ADS_1


Oleh sebab itu, kompeni cukup menggunakan iming-iming uang dan kekuasaan untuk membujuk para pendekar untuk berpihak kepada mereka. Kompeni juga merasa lebih baik menghabiskan waktu untuk meningkatkan dan mendayagunakan ilmu pengetahuan agar dapat meningkatkan keuntungan usaha dan perdagangan, serta keamanan melalui persenjataan canggih mereka.


__ADS_2